BANK NASKAH

 

 

 

SALAM, SELAMAT DATANG

TERIMAKASIH TELAH MENGUNJUNGI RUMAH KAMI

UNTUK MENDAPATKAN NASKAH DRAMA YANG BERADA DALAM BANK KAMI

SILAH ANDA MENULIS PESAN DI BAWAH INI;

TERIMAKASIH

 

 

1.    Mak Comblang

; Karya : Nikolai Gogol        ; Adaptasi dari “ The Marriage “

 

2. SEBUAH SALAH PAHAM’’

; KARYA ;  SAMUEL BECKETT ALIHBAHASA  :MAX ARIFIN

 

3. PRABU MAHA ANU

; KARYA: ROBERT PINGET

 

4. JURU KUNCI

; Karya : Rene Yves Duvalier

 

5. MAINAN GELAS

;KARYA: TENNESSEE WILLIAMS

 

6. Hari  Terakhir Seorang  Terpidana  Mati

: Karya  Victor  Hugo  Terjemahan  M. Lady  Lesmana

 

7.      BUNGA DALAM MULUT

Karya : Luigi Pirandello Terjemahan teater_matahari Penerjemah: Lady Lesmana

 

8.      Pinangan

Karya Anton Chekov Saduran Suyatna Anirun

 

9.    BADAK BADAK

Disadur dari “RHICONEROS” Karya: Eugene Ionesco  Penyadur: Jim Lim

 

10.  RACUN TEMBAKAU

karya : Anton Chekov Terjemahan : Jim Adhi Limas

 

11.  KERETA KENCANA

( Les Chaises ) Karya : Eugene Ionesco Terjemahan : W.S. Rendra

 

 

12.  ARWAH-ARWAH

KARYA W.B. YEATS TERJEMAHAN SUYATNA ANIRUN

 

13.  TIDAK GERAK

Karya ; Emmanuel Darley erjemahan Teater_Matahari penerjemah; Lady Lesmana

 

14.  Pagi Bening

Karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero

Terjemahan Drs. Sapardi Joko Damono

 

15.  MALAM (NIGHT)

KARYA: HAROLD PINTER

16.  PACAR (THE LOVER)

KARYA: HAROLD PINTER

 

17.  PAMAN VANYA

KARYA: ANTON CHEKOV TERJEMAHAN OLEH: SUYATNA ANIRUN

 

18.  MENJELANG AKHIR MUSIM GUGUR

KARYA : Jean-Louis Bourdon

 

19. ORANG KASAR

Karya ANTON CHEKOV Saduran WS RENDRA

 

 

 

20.  PRITA ISTRI KITA

 

KARYA : ARIFIN C . NOER

 

21.  MALAM JAHANAM

KARYA : MOTINGGO BOESJE

 

22. Tubuh Melayoe

Karya :BenJon

 

23.  ROBOHNYA SURAU KAMI

Karya : AA. Navis Penyadur/Adaptasi : Hermana HMT

 

24.  TOKEK

Karya : Vredi Kastam Martha

 

25.  TANAH AIR MATA

Karya ; Burhanuddin Soebely

 

26.  BULAN DAN KERUPUK

KARYA YUSEP MULDIANA

 

27.  MATINYA TOEKANG KRITIK

Karya Agus Noor

 

28.      KEBENARAN YANG MEMBUNUH “

BERANGKAT DARI NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL

KARYA NAWAL EL SAADAWI

 

29.  MASMIRAH

Karya : Artur S Nalan

 

30.       KOTAK SURAT TERAKHIR

Kayra : Mochammad Asrori

31.

M.S. Nugroho

32. SEKUNTUM MELATI BUAT RIMA

KARYA: YAPI TAMBAYONG

 

33. GODLOP

Karya : Danarto , Disadur : Uje Lelono

 

34. “ PETANG di TAMAN ”

K a r y a: Iwan Simatupang


35. T E R K A P A R
      Monolog Hermana HMT

 

36. S A R I M I N

 

Karya Agus Noor

 

37. KARTINI BERDARAH

AMANATIA JUNDA .S

 

38. BERSAMA WAJAH SETAN

KARYA: YUSEF MULDIANA


39. KAUS KAKI BOLONG
      MONOLOG Hermana HMT

 

40. PANGGIL AKU AZIZA

Oleh :M. Ahmad Jalidu

41. MALIN The End Scene

M.S. Nugroho

42. CINTA is NOT a GAME

Hermanjoyo

 

43. “ MELAWAN  KUTUKAN.”

Penulis  naskah  :  Harwes.

44. PAMBAKAL IBAD 3 ( Pilbakal Kampung Malingkung )

Karya: Erhammudin, S.H.

 

45. Lakon Sidang Susila

(karya Ayu Utami dan Agus Noor)

46.  Sang Mandor”

Karya : Rahman Arge

 

47. OBROK OWOK – OWOK EBREG EWEK – EWEK

Oleh : D A N A R T O

 

48.TAPLAK MEJA

Karya Herlina Syarifudin

49. KEBO NYUSU GUDEL

(Naskah lakon satu babak) Dheny Jatmiko

50. TAK ADA BINTANG DI DADANYA

Oleh: Hamdy Salad

51. S A K S I   M A T I

R. GENDEL MAYEV

 

52. KEBO NYUSU GUDEL

Dheny Jatmiko

53.HRR!

Naskah: Eko Ompong

 

54. TAWUR MUNYUK (PERANG MONYET)

OLEH: EKO OMPONG

 

55. Perang Banjar

Karya : H. Adjim Arijadi

 

56. DEMANG LEHMAN

Karya : H. Adjim Arijadi

 

57. PRAHARA

(dari “The Death Trap” Saduran Muhammad Diponegoro)

ADAPTASI : H. ADJIM ARIJADI

 

58. PANGERAN ANTASARI

Sumber : Drs. Helius Syamsuddin M.A  Karya: H. Adjim Arijadi

 

59. “HALILINTAR” (Perang Banjar)

KARYA : H. Adjim Arijadi

 

60. Bulan Emas Di Jendela Kakek

Karya : H. Adjim Arijadi

 

61. MAYAT MAYAT CINTA

Agung Wijaya

 

62. MEMBUNUH MATAHARI

Naskah           : Andi Sahludin

 

63. KIBLAT TANAH NEGERI 

Gondhol Sumargiyono

64. AENG

Karya; Putu Wijaya

65. NYANYIAN ANGSA

Karya;ANTON CHEKOV

 

 

 

 

 

 

 

9 Komentar

  1. OK saya kirim ke alamat sampean, maaf terlambat, ada pekerjaan yang harus cepat dituntaskan, persiapan pertunjukan baru.

  2. Put, berdomisili dimana? apa punya koleksi naskah drama? kalau boleh atau bisa kita kerjasama.

  3. Tentu boleh, naskah siapa yang mau dilihat, judul????????????????????????????????????????????????/

  4. sudah diterima naskahnya,

  5. naskah sudah dikirim tolong info, sudah menerima naskahnya? semoga bisa dicipta dipangung dengan sukses besar

  6. boleh kenal, kami akan bisa mengirim naskah bila memberikan penjelasan identitas, siapa, dari kelompok mana dan dimana domisili, erimakasih

  7. PRABU MAHA ANU
    KARYA: ROBERT PINGET

    Lakon ini dipentaskan untuk pertama kali di Comedie de Paris pada tahun 1964
    Tokoh-tokoh ;
    RAJA.
    BAGA, MENTERI.
    KOKI.
    MAUT.

    Sebuah kamar sederhana dengan perabotan yang memperlihatkan bahwa penghuninya seorang yang sok. Disebelah kanan,sebuah tempat tidur berlangit-langit, sebuah kursi malas, sebuah meja dan kulit seekor beruang di lantai. Di tengah dinding belakang, sebuah pintu. Di sebelah kanan bagian belakang, sebuah penyekat permanen menutupi kamar mandi kecil. Di ujung kiri, sebuah lemari dinding. Di tengah-tengah ruangan, sebuh tanaman hias dalam pot bersarung penutup.
    Pada saat tirai diangkat, raja sedang duduk di kursi malas. Dikepalanya terdapat mahkota. Ia berpakaian kamerjas. Ia memeriksa dirinya, merapikan kerah baju, menggaruk noda dibalik kerahnya ,menepiskan debu dari lengan bajunya mengenakan selopnya. Kemudian ia mengambil cermin kecil, memandangi dirinya, merapikan rambutnya, mengeluarkan lidah. Ia menyeringai. Ia meletakan kembali cermin dan mengambil gunting kuku. Ia menggunting kukunya.

    RAJA :
    (Kepada Baga yang diam di balik penyekat). Sudah?
    SUARA BAGA:
    Hampir. Semenit lagi.
    RAJA :
    Apa sih yang sedang kamu lakukan? Kitakan sudah setuju akan memainkan yang sederhana. Kamu menyamar sebagai apa?
    SUARA BAGA :
    Duta. Harus tampak mirip.
    RAJA :
    Duta sungguh! Kamu menyedihkan saya, Baga.
    SUARA BAGA :
    Biarkan saya mengerjakannya.

    (Interval. Raja tetap menggunting kukunya. Baga menyenandungkan sebuah lagu. Raja memperlihatkan gerakan seakan-akan mau berdiri).

    RAJA :
    Coba saya lihat.
    SUARA BAGA :
    Jangan. Saya hampir selesai.
    (Interval. Terdengar Baga menyiram toilet).
    RAJA :
    Kamu lagi buang air?

    SUARA BAGA:
    Bukan, hanya kapas.
    RAJA :
    (Ia berteriak). Untuk yang keseribu kalinya, jangan buang apapun ke dalam toilet! Ongkos buka sumbatnya mahal sekali.
    SUARA BAGA :
    Maaf Baginda.
    RAJA :
    Tentu saja bukan kamu yang bayar.
    SUARA BAGA :
    Kamu juga tidak. Rakyat kamu bisa diperas seenaknya.
    RAJA :
    Jangan ikut campur urusan rakyat saya dan keluar kamu dari situ.
    SUARA BAGA :
    Sebentar lagi. Nah.
    (Interval yang agak panjang. Raja merapikan benda-benda di atas meja).
    RAJA :
    Sudah?
    SUARA BAGA:
    Sudah.
    (Baga muncul dengan pakaian yang menggelikan, ala mousquetaire. Dengan jubah, sebilah pedang, topi dengan bulu burung onta. Kumis palsu. Tata rias berlebihan. Ia memberi hormat dengan penuh tatakrama).
    BAGA :
    Baginda raja, hamba menghaturkan hormat.
    RAJA :
    (Ia memberi salam tanpa mengangkat tubuhnya). Inilah saya, Pak. Anda perlu
    apa?
    BAGA:
    Jangan katakan Anda perlu apa, sepantasnya kamu menjawab: Kami
    dengarkan.
    RAJA :
    Kami dengarkan.
    BAGA :
    Sayang sekali, setelah sekian tahun kamu belum hapal kalimat- kalimat itu. Kamu
    tidak pernah berusaha.
    RAJA :
    Bosan. Tapi kita telah memutuskan untuk main sandiwara. Teruskan.
    BAGA :
    (Ia memberi hormat lagi). Baginda Raja. Baginda tentu mengetahui bahwasanya
    majikan hamba, raja Novocordie, mempunyai hak sebagai pewaris tahta
    Baginda. Nenek Baginda telah mengesyahkan hukum.
    RAJA :
    Kamu jangan lagi memulai hal itu dengan hal ini. Bahkan dengan alasan
    samaranmu itu. Saya melarang kamu membicarakan hal itu.
    BAGA :
    Baik, baiklah. Saya ulangi lagi. (Ia kembali memberi hormat). Baginda Raja.
    Baginda pasti mengetahui…
    RAJA :
    Sebaiknya kamu cari kalimat lain.
    BAGA :
    Kalau begitu, kamu saja yang mencari kalimat lain.
    RAJA :
    (Ia berdiri, memberi hormat dengan mengangkat mahkotanya). Baginda Raja.
    Baginda menyukai makanan yang enak. Kami memberanikan diri untuk
    menawarkan kepada Paduka Yang Mulia sebuah menu untuk makan malam.
    BAGA :
    Seorang duta, menawarkan menu kepada kamu!
    RAJA :
    Kenapa tidak? Sebuah menu pasti akan menyenangkan hati seseorang. Dengan
    menerima tawaran seperti itu, ia cenderung lebih baik hati, adil, dan…
    BAGA :
    Lalu, ia meminta apa kepadamu?
    RAJA :
    Ia meminang putri saya untuk rajanya.
    BAGA :
    Bukan main!
    RAJA :
    Kenapa, kamu tak suka?
    BAGA :
    Bukan, tapi seharusnya kamu punya putri dulu.
    RAJA :
    Kita main, iya atau tidak?
    BAGA :
    Seharusnya semuanya tampak masuk akal.
    RAJA :
    Masuk akal! Kamu membuat saya kasihan padamu.
    BAGA :
    Tapi seandainya saya tidur melulu seperti kamu, siapa yang akan memungut
    pajak? Kamu membuang-buang seluruh uangmu untuk makan.
    RAJA :
    Sebab saya tidak punya kesibukan lain. Saya tidak perduli lagi dengan ocehanmu. (Interval). Kita makan apa hari ini?
    BAGA :
    Kita sudah memutuskan untuk menangguhkannya selama satu jam. Apa yang diucapkan harus ditaati. Saya teruskan, (Ia memberi hormat lagi). Baginda Raja. Baginda tentu mengetahui…
    RAJA :
    Lalu?
    BAGA :
    bahwa majikan hamba ingin menikah. Melalui kabar angin, kami mendengar bahwa putri Baginda adalah gadis tercantik diantara semua gadis kerajaan ini.
    RAJA :
    Hei, saya baru ingat bahwa Sang Putri belum disiram.
    (Ia berdiri, mengambil gembor kecil dari sudut ruangan, dan mengisinya di kamar mandi. Sementara itu Baga duduk dan berpikir. Ia menghitung dengan jarinya).
    RAJA :
    (Ia keluar dari kamar mandi dengan gembornya dan menyiram tanaman). Jangan sekali-kali menyiram Sang Putri. Ia jenis tanaman langka…
    BAGA :
    (Ia mengatakannya di luar kepala)…yang diberikan oleh Bibinda Estelle kepadaku yang pernah dibelinya seharga seribu rupiah dan yang betina mempunyai empat daun berbulu dan alat kelamin yang tidak tampak yang…
    RAJA :
    Terus?
    BAGA :
    …yang sangat peka sehingga disimpan di dalam pada musim dingin…
    RAJA :
    Bukan itu. Duta itu!
    BAGA :
    (Ia berdiri dan memberi hormat lagi). Baginda Raja. Baginda tentu mengetahui bahwa…
    RAJA :
    (Ia meletakkan gembornya di atas meja dengan kasar). Sialan! Cari kalimat lain dong.
    BAGA :
    Saya kehabisan ide. Kamu bikin saya jengkel. Sebenarnya saya lebih suka pada ibumu.
    RAJA :
    Kamu pernah menidurinya, ya?
    BAGA :
    Kadang-kadang. Tak begitu hebat. Namun untuk urusan pemerintahan ia membiarkan saya berinisiatif. Kalau sekarang kamu masih mengenakan mahkota, jangan lupa bahwa itu berkat saya.
    RAJA :
    (Ia duduk kembali). Bukan main!
    BAGA :
    (Ia mondar mandir di ruangan). Betul. Saya sendiri yang menggagalkan komplotan. Dan saya pernah berperang di Chancheze. Dan saya menandatangani sebuah perjanjian perniagaan.
    RAJA :
    Mahakaryamu! Mari kita membicarakannya! Akhir-akhir ini kita terus kekurangan pangan.
    BAGA :
    Kita harus belajar menghemat. Demi kepentingan negara. (Interval). Bagaimanapun juga kamu tidak perlu dikasihani.
    RAJA :
    Teruskan.
    BAGA :
    Kamu gemuk seperti babi, kamu tambah lima…
    RAJA :
    Bukan itu. Duta itu!
    BAGA :
    Saya sudah bilang, saya kehabisan ide.
    RAJA :
    Kalau begitu kita bicarakan soal menu.
    BAGA :
    Jangan, saya mau memerankan tokoh lain.

    RAJA :
    Pola kamu berubah-ubah terus, bagaimana kita bisa senang?
    BAGA :
    Kita tidak pernah bicara soal senang. Kita hanya bicara soal sandiwara. Kalau ingin senang…
    RAJA :
    Oh Bapak mengomel?
    BAGA :
    Kamu membuat saya pusing. Dari tadi…
    RAJA :
    Jangan pusing-pusing.
    BAGA :
    Saya mau menyamar lagi.
    RAJA :
    Sana menyamar lagi.
    (Baga masuk kembali ke dalam kamar mandi. Raja tampak bingung tanpa kesibukan. Ia mengambil sepucuk surat di atas meja, membacanya setengah berbisik, menunjukkan tanda-tanda tak sabar, meletakkan kembali surat di atas meja, mengambil cermin, meletakkannya kembali. Waktu panjang berlalu. Kemudia ia berdiri dan mendekati kamar mandi)
    RAJA :
    Saya lihat?
    SUARA BAGA:
    Jangan! Saya ingin kasih kejutan.
    RAJA :
    Kamu sebagai apa?
    BAGA :
    Nanti kamu lihat. Baca saja surat cintamu.
    RAJA :
    Saya sudah bosan. (Ia kembali ke meja. Ia berjongkok dan membelai-belai kulit beruang di lantai) Kasihan ayahku. Kasihan ayahku yang suka berburu beruang. Ia mempunyai masalah rumah tangga. Apakah ia tidak sebosan saya? (Interval). Apa yang bisa kita perbuat lagi? (Kepada Baga). Kita ke dapur, yuk? (Interval.) Saya boleh ambil wiski?
    SUARA BAGA:
    Jangan!
    RAJA :
    Untuk sekali ini saja, kamu tidak mau? Sekali saja.
    SUARA BAGA:
    Tidak dan tidak.
    RAJA :
    Hanya sekali ini sambil menunggu kamu!
    SUARA BAGA:
    Ya sudah, kali ini boleh. Tapi hanya seperempat gelas.
    RAJA :
    Asyik! (Ia bertepuk tangan. Ia menuju lemari dinding, membukanya, mengambil sebuah gelas dan botol lalu mengisi gelasnya di atas meja. Ia mencampur minumannya dengan air dari gembor). Kamu juga mau?
    SUARA BAGA:
    Nanti saja.
    RAJA :
    (Ia duduk. Ia minum). Mmm, nikmat. (Ia mengangkat gelasnya). Kamu ingat waktu kita di Fantoine, kita terus minum wiski! Kita ke sana lagi, yuk?
    SUARA BAGA:
    Ini bukan musim libur.
    RAJA :
    Kita toh bisa berlibur juga.
    SUARA BAGA:
    Urusi pemerintahan dulu. Dan berikan saya ketenangan, saya kan tidak bisa mengurusi dua hal sekaligus.
    RAJA :
    Kamu tidak perlu menjawab. (Ia minum terus. Ia sudah sedikit mabuk, ia berdiri, gelas ditangan, dan meniru gaya Duta). Baginda Raja, hamba menghaturkan hormat. (Interval. Kepada Baga). Begitukah? (Interval). Saya bicara kepadamu.
    SUARA BAGA:
    Saya tak peduli.
    RAJA :
    (Ia meneruskan permainannya). Hormat hamba kepada ananda Putri Raja. (Ia tertawa. Interval. Kepada Baga) Kamu berperan sebagai Duta lagi? (Interval). Dengar saya bicara padamu! Interval). Kamu berperan sebagai apa? Seorang raja? Seekor kuda? (Interval). Oh, saya tahu. Sebagai koki. (Sambil berbicara ia telah mendekati kamar mandi).
    SUARA BAGA:
    Jangan mengintip.
    RAJA :
    Kalau itu tipu muslihatmu, teruslah kamu di sana. Atau saya menghitung sampai tiga dan masuk? Satu…dua…
    (Baga ke luar dari kamar mandi. Ia berperan sebagai seorang wanita gaya tahun1900. Rok melembung di belakang, topi lebar, kain renda penutup muka, selendang dari bulu burung onta, payung kecil. Ia mondar-mandir dengan genit)
    RAJA :
    Lumayan! kamu mirip Bibi Estelle. (Sambil meniru gaya Baga, raja menuju kursi malas dan duduk.)
    BAGA :
    (Suara wanita). Kemenakanku tersayang, aku suka sekali kamar Anda. Semuanya diatur dengan selera tinggi dan tanpa begitu intim! Dan begitu nyaman, sayangku! Ada juga kamar mandi dan segalanya. Anda mewarisi seleraku untuk luks, Prabu Maha Anu.
    RAJA :
    Sebenarnya perutnya, tidak segendut perutmu.
    BAGA :
    (Suara wanita). Oh Anda ,masih menyimpan tanaman yang pernah kuberikan! Baik sekali.
    RAJA :
    Ya, Bibinda. Saya memberinya nama Sang Putri. Saya menyiraminya setiap hari.
    BAGA :
    (Suara wanita). Anda benar-benar kemenakanku. Aku mewarisinya dari
    sepupuku yang negro, yang sekarang sudah meninggal dunia. Kasihan dia. Ia
    mewariskan kepadaku tanaman ini dan dompetnya yang berisi lima rupiah.
    Namun…Anda pernah bertemu dengannya, bukan?
    RAJA :
    Ya, wanita pendek dan gemuk.
    BAGA :
    (Suara wanita). Bukan.Tinggi dan kelaki-lakian.
    RAJA :
    Ya, begitu.
    BAGA :
    (Suara wanita). Nah, kemenakanku. Mari kita bicarakan pemerintahan Anda. Ceritakanlah mengenai… mengenai menteri Anda si Baga.
    RAJA :
    Ia benar-benar goblok, Bibinda.
    BAGA :
    (Suara wanita). Prabu Maha Anu, Anda tidak pernah berubah! Bicara seperti itu kepada seorang seperti aku! Tahukah Anda bahwa aku hampir menjadi ibu Anda?
    RAJA :
    Bagaimana itu terjadi Bibinda?
    BAGA :
    (Suara wanita). Ayah Anda pernah mencintaiku. Kami menjadi sangat intim. Ia meninggalkanku untuk menikahi kakakku yang konyol itu…
    RAJA :
    Jangan menghina almarhumah.
    BAGA :
    (Suara wanita). Sudahlah! (Interval). Tapi…di mana Baga?
    RAJA :
    Dia lagi ke belakang, Bibinda.
    BAGA :
    (Suara wanita). Betul? Lucu sekali. Ternyata kefasihan bicara Anda sudah meninggkat. (Interval). Oh, ya. Raja Novocordie.
    RAJA :
    Kamu mengerti apa yang saya katakan padamu? (Interval). Apa kabar Pamanda, Bibinda?
    BAGA :
    (Suara wanita). Sang Pangeran sangat lelah. Tanahnya merupakan beban yang sangat berat. Saya…tunggu dulu, apa ini? Bukankah wiski?
    RAJA :
    (Ia berdiri dengan penuh perhatian). Bibinda mau? Saya segera tuangkan segelas untuk Anda. (Ia mengambil segelas di lemari dinding, kemudian mengisinya dan ingin mengisi gelas sendiri).
    BAGA :
    (Suara biasa). Awas!
    RAJA :
    Segelas saja! Yang terakhir!
    BAGA :
    (Ia merampas botol dari tangan raja. Suara biasa). Tak usah.
    RAJA :
    Kalau begitu, saya tidak main lagi. (Ia membelakangi Baga).
    BAGA :
    (Suara biasa). Bagus sekali. Saya sebenarnya ingin membicarakan keuntungan yang kita peroleh di daerah Chancheze.
    RAJA :
    (Ia tiba-tiba berbalik). Betul? Ceritakan dong!
    BAGA :
    (Suara biasa). Hanya kalau kamu main terus.
    RAJA :
    Saya main terus.
    BAGA :
    (Suara wanita). Katakan padaku kemenakanku, bagaimana pendapat Anda mengenai menteri Anda?
    RAJA :
    Seorang menteri yang sangat baik, Bibinda. (Baga mengangguk-angguk). Saya sangat sayang padanya. Kami sangat akrab sekali. (Baga mengangguk lagi). Namun ia bersikeras melarang saya minum wiski. Tanpa alasan sama sekali.
    BAGA :
    (Suara wanita). Betul. Tentu ia punya alasan yang baik. Hati Anda barangkali? Bukan? Mungkin ginjal Anda? Ya pasti ginjal Anda. Apa boleh buat Prabu Maha Anu, kita semua memang semakian tua. (Interval). Jadi menurut anda ia seorang menteri yang baik?
    RAJA :
    Sangat baik. Akan kamu ceritakan mengenai keuntungan itu?
    BAGA :
    (Suara biasa). Nanti saja. (Interval. Ia seperti seorang yang sedang berpose. Suara biasa). Sekarang saya merayu kamu. Kita lanjutkan. (Ia mendekati raja dan menggodanya. Suara wanita.) Oh hidungnya manis sekali!
    RAJA :
    Tolol!!!
    BAGA :
    (Suara wanita.) Dan matanya manis juga! Dan spirnya kecil mungil! (Ia meraba-raba raja untuk menggelikannya. Raja tertawa.)
    RAJA :
    Cukup!
    BAGA :
    (Suara wanita). Dan pahanya manis! (Interval. Suara biasa). Bilang sesuatu! Berbuatlah sesuatu kepada saya! (Ia membelai-belai susu dan pahanya. Suara wanita). Mari sayang, aku tak bisa menunggu lagi. (Ia mengangkat tangan raja dan menariknya ke arah tempat tidur).
    RAJA :
    Sakit. Kamu tidak lucu sama sekali.
    BAGA :
    Ya ya.
    RAJA :
    Ceritakan dong mengenai keuntungan itu.
    BAGA :
    (Suara biasa). Saya tidak akan menceritakan apa-apa.
    RAJA :
    Dan kalau saya teruskan permainan kamu akan menceritakannya? Tapi jangan bermain cinta.
    BAGA :
    (Suara biasa). Dasar kamu kelewat sok suci! (Ia melihat jamnya). Oke, kita masih punya setengah jam. Saya mau memerankan tokoh lain lagi.
    RAJA :
    Sebagai apa?
    BAGA :
    Sebagai Tuhan!
    RAJA :
    Astagfirullah!
    BAGA :
    (Ia menuju kamar mandi). Tunggu saya dan jangan mengintip. (Ia masuk kamar mandi).
    RAJA :
    Maksudmu Tuhan Allah atau Tuhan Putra?
    SUARA BAGA :
    Lihat saja nanti.
    (Tanpa berpikir raja mengambil surat di atas meja, membacanya kembali, mengangkat kepala, menggaruk-garuk badannya, mengangkat bahu. Interval).
    RAJA :
    Pemerintahan dulu! Pemerintahan yang mana? Masing-masing dengan urusannya. (Kepada Baga). Kamu mengejek saya?
    SUARA BAGA;
    Saya? Kenapa?
    RAJA :
    Pemerintahan yang mana? Pemerintahan yang mana?
    SUARA BAGA;
    Ya rakyatmu.
    RAJA :
    Rakyatku! Kamu pernah melihatnya?
    SUARA BAGA:
    Saya mencium baunya. Itu cukup bagi saya.
    RAJA :
    Apa?
    SUARA BAGA:
    Tidak ada apa-apa.
    RAJA :
    Benarkah rakyat masih membayar? (Interval). Kita seperti dua orang dungu pada usia kita. (Interval). Keuntungan besar? (Pada dirinya sendiri). Tapi keuntungan untuk berbuat apa? (Kepada Baga). Sudah?
    SUARA BAGA:
    Sudah.
    (Baga ke luar dari kamar mandi. Ia berpakaian hakim. Penampilan berwibawa. Ia mengernyitkan dahinya).
    RAJA :
    Apa ini? Kamu berubah pikiran?
    BAGA :
    Ini Pengadilan Terakhir. Saya Hakim Tertinggi yang akan menghukummu.
    RAJA :
    Sialan. Saya pikir akan lebih lucu.

    BAGA :
    Orang tidak main-main dengan Tuhan. Orang hanya mendengar keputusan –Nya saja. Berlututlah kamu.
    RAJA :
    Kenapa saya harus berlutut kalau saya jelas akan dihukum?
    BAGA :
    Sebagai ketaatan. Berlututlah.
    RAJA :
    Saya lelah! Lagipula saya tidak suka hukuman.
    BAGA :
    Kamu memang tengil.
    RAJA :
    Mungkin. Saya tidak mau main lagi.
    (Terdengar ketukan di pintu).
    BAGA :
    Masuk!
    (Masuklah sang koki, dengan topi di tangan).
    KOKI :
    Baginda yang mulia, santapan sudah siap.
    RAJA :
    Apa? Bagaimana dengan janggut saya?
    KOKI :
    Tuan Baga yang memerintahkan.
    RAJA :
    Siapa yang memerintah di sini?
    BAGA :
    Saya telah memerintah untuk mempersilahkan jika makanan sudah siap.
    RAJA :
    Apakah saya sudah siap?
    BAGA :
    Untuk kali ini, kamu tidak perlu mencukur janggutmu.
    RAJA :
    Bagaimana dengan tata krama? Bagaimana dengan pemerintahan? (Ia memberi tanda kepada koki untuk beranjak). Pergilah!
    (Koki ke luar).
    RAJA :
    Seenaknya saja! Saya tidak bebas lagi! Saya menjadi budak hamba-hamba saya! Saya diperintah!
    BAGA :
    Tenang dong. Saya ambilkan peralatan cukurmu.
    RAJA :
    Kamu boleh beranjak kalau saya perintahkan.
    BAGA :
    Oke oke.
    RAJA :
    Ambilkan peralatan cukur.
    (Baga masuk kamar mandi. Tetap berpakaian hakim ia keluar dengan membawa peralatan cukur yang kemudian diletakkannya di atas meja. Raja tampak sangat lelah di kursi malasnya).

    BAGA :
    Kamu sakit?
    RAJA :
    Kurang enak badan. Saya ingin tidur.
    BAGA :
    Kamu mau saya panggilkan dokter?
    RAJA :
    Tidak. (Interval). Rasanya penyakit saya kambuh.
    BAGA :
    Ahhh lengkap sekarang.
    RAJA :
    (Menerawang). Baga, kamu percaya akan pemerintahan?
    BAGA :
    Apa saya percaya? Ada apa dengan kamu?
    RAJA :
    Penyakit saya kambuh. (Interval). Kenapa kamu tidak turun tahta? Kita dapat tinggal di desa. Kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Rakyat saya selalu menyusahkan. Orang-orang bau busuk yang hidup dalam lubang mereka. Kamu pernah melihat rakyat saya?
    BAGA :
    Saya mencium bau mereka, seperti yang telah saya katakan, uang mereka bau.
    RAJA :
    (Ia menunjukkan sudut kiri ruangan dengan kepalanya). Kamu masih ingat waktu tempat tidur masih di sana? Saya rasa lebih enak demikian.
    BAGA :
    (Ia memperlihatkan gerak keputusasaan dan duduk di tempat tidur). Terserah, silakan sakit lagi.
    RAJA :
    Ya, saya rasa lebih enak. Ruang tampak lebih gembira.
    BAGA :
    Kitalah yang lebih gembira.
    RAJA :
    Kamu pikir begitu?
    BAGA :
    Sudah begitu lama kita tidak berbuat apa-apa. Perang kecil pun tidak. Kita mulai berkarat.
    RAJA :
    Apa kita sudah banyak begitu berubah? (Interval). Baga saya ingin menceritakan masa kanak-kanak saya kepadamu.
    BAGA :
    (Betul-betul putus asa.) Jangan. Saya mohon jangan!
    RAJA :
    Saya ingin sekali. (interval. Baga mengangkat bahunya). Saya tidak tahu darimana harus mulai.
    BAGA :
    Mulai dari awal saja.
    RAJA :
    (Interval. Ia berpikir). Lucu ya, semua masa kanak-kanak selalu sama. (Interval). Saya ingin menceritakannya padamu tapi tidak seperti biasanya. Saya ingin mengubahnya sedikit. (Interval). Saya ingin…Saya ingin mengutarakan jiwa saya kepadamu.
    BAGA :
    Gusti!
    RAJA :
    Mengutarakan jiwa saya ya…Dan kehidupan.
    BAGA :
    Kehidupan yang mana?
    RAJA :
    Kehidupan…Kehidupan.
    BAGA :
    Memang ada kehidupanmu. Yaitu apa yang kamu perbuat, apa yang telah kamu perbuat, pemerintahanmu dan…
    RAJA :
    Hanya sebegitu?
    BAGA :
    Memangnya apalagi?
    RAJA :
    Tidak mungkin. Kalau begitu saya tidak punya kehidupan?
    BAGA :
    Kamu pikir saya punya? Saya Cuma mengurusi segala yang akan kamu tandatangani dan saya memesan menu.
    RAJA :
    Kamu tidak menyukainya?
    BAGA :
    Saya tak tahu lagi.
    RAJA :
    Saya pun demikian. (Interval). Kadang-kadang saya berpikir mungkin kita bisa mengubahnya.
    BAGA :
    Mengubah apa?
    RAJA :
    Entahlah…Meletakkan kembali tempat tidur di sana mengganti kain kursi malas.
    BAGA :
    Sadarlah Maha Anu, itu bukan perubahan.
    RAJA :
    Apa itu perubahan?
    BAGA :
    Tidak tahu saya…Pergi jalan-jalan?
    RAJA :
    (Tiba-tiba ia bereaksi). Baga itu ide cemerlang! Kita pergi jalan-jalan!
    BAGA :
    Ke mana?
    RAJA :
    Ke mana saja! Kita siapkan koper, kita bersihkan taksi tua ayah dan kita berangkat!
    BAGA :
    Ke mana, saya tanya kamu.

    RAJA :
    Mmm…Ke daerah Chanceze, misalnya.
    BAGA :
    Ke daerah Chanceze? Lembah yang penuh dengan tikus? Kita mau bikin apa di sana?
    RAJA :
    Ke daerah Dualie?
    BAGA :
    Agar kita beku? Jangan harap saya ikut.
    RAJA :
    Mmm…Ah saya tahu. Kita ke Estellouse. Pemugarannya sudah selesai, kan?
    BAGA :
    Saya pergi ke sana minggu kemarin. Puri perlu dipugar kembali. Langit-langit runtuh semuanya dan air membanjiri ruang bawah tanah.
    RAJA :
    Sudah begitu lagi? Jadi kerja mereka serabutan! Kapan sih mereka menyelesaikan pemugaran itu? Kenapa kamu tak pernah mengatakannya kepada saya?
    BAGA :
    Sahabatku yang malang! Sudah seabad yang lalu selesai. Cukup lama untuk berjamur.
    RAJA :
    Seabad! Saya telah melupakan puri itu selama seabad!
    BAGA :
    Itulah yang disebut lupa. (Interval. Ia bangkit dan membantu raja). Dengar, berbaringlah agar lebih sehat sedikit.
    (Raja berbaring di tempat tidur. Baga menyelimutinya kemudian duduk di kursi malas).
    RAJA :
    Kamu ingat ketika saya banyak bertanya kepadamu. (Interval). Saya bicara padamu.
    BAGA :
    Apa?
    RAJA :
    Ketika saya menanyaimu mengenai alam semesta.
    BAGA :
    Oh, jangan, saya masih lebih suka jika kamu membicarakan masa kanak-kanakmu.
    RAJA :
    Saya sudah tidak ingat apa-apa lagi. (Interval). Alam semesta itu untuk apa sih?
    BAGA :
    Untuk memerintah kita.
    RAJA :
    Ya? Laut, pepohonan, pegunungan? (Interval). Saya justru berpikir sebaliknya. Sebenarnya saya tak begitu perduli…Tapi saya ingat saya pernah berpikir bahwa saya ingin menukar semua pemandangan alam untuk mendapatkan sebuah kamar di ruang belakang. (Interval). Asal ada orang di dalamnya.
    BAGA :
    (Ia menunjukkan seluruh ruangan dan dirinya). Ya inilah.

    RAJA :
    Bukan kamu Baga…Maksud saya…
    BAGA :
    Tak perlu dilanjutkan, saya mengerti.
    RAJA :
    Bukan, bukan itu maksud saya. Maksud saya adalah seseorang…
    BAGA :
    Seseorang yang kamu cintai?
    RAJA :
    Kamu tahu persis bahwa saya mencintaimu Baga.
    BAGA :
    Siapa kalau begitu?
    RAJA :
    Bukan siapa-siapa.
    BAGA :
    Seorang wanita, dengan siapa kamu bermain cinta?
    RAJA :
    Saya…
    BAGA :
    Dalam sebuah kamar di ruang belakang bermain cinta setiap saat? Kamu pikir orang tidak akan menjadi bosan setelah lewat tiga hari?
    RAJA :
    Katakan sebuah kamar dengan balkon menghadap ke laut.
    BAGA :
    Paling lama kamu akan bertahan dua hari lebih lama. Lalu bagaimana?
    RAJA :
    Mungkin bisa bertahan sepanjang umur. Kamu tahu apa?
    BAGA :
    Apa yang saya tahu? Saya tahu bahwa sejak seabad kita bosan bersama-sama.
    RAJA :
    Teatapi kita tidak berbuat apa-apa.
    BAGA :
    Tidak ada bedanya.
    RAJA :
    Pendapatmu bagaimana?
    BAGA :
    Yakin. (Interval). Kita butuh perubahan.
    RAJA :
    Kamu tahu sendiri kan.
    BAGA :
    …perubahan selama kita masih percaya akan kegunaannya. Selebihnya tak ada kegunaannya lagi.
    RAJA :
    (Menerawang). Sebuah kamar di ruang belakang…
    BAGA :
    Seandainya saya katakan kepadamu bahwa saya ingin menjadi seorang menteri?
    RAJA :
    Menteri? Kamu kan menteri.

    BAGA :
    Nah kamu mengerti kan.
    RAJA :
    Kamu membuat saya lelah. (Interval). Saya lelah. Badan saya kurang enak.
    BAGA :
    Kamu mau tidur?
    RAJA :
    Tidak, terimakasih.
    BAGA :
    Bagaiman kalau saya menceritakan sebuah dongeng?
    RAJA :
    Kamu tahu dongeng?
    BAGA :
    Akan saya coba. (Interval. Ia mengingat-ingat). Alkisah pada suatu hari Tuhan bersabda…Tidak. (Interval). Alkisah pada suatu hari ada seorang raja dengan menterinya.
    RAJA :
    Saya tahu kelanjutannya.
    BAGA :
    Jangan selang cerita saya. (Interval). Sang raja tidak tahu harus berbuat apa, begitu pula menterinya. Mereka mencari-cari, namun mereka tidak menemukan apa-apa. Demikian Tuhan berbicara pada diriNya sendiri bahwa Ia harus berbuat sesuatu untuk kedua orang itu. Ia mencari-cari, namun Ia tidak menemukan apa-apa. Ia memanggil penasehatnya seekor ular. Ia mengatakan kepadanya: kau lihat raja dan menteri itu? Saya memberikan ide kepada mereka. Carilah sesuatu. Sang ular…
    RAJA :
    Kenapa seekor ular?
    BAGA :
    Jangan selang cerita saya. Sang ular pergi mencari kantungnya dan membawanya ke hadapan Tuhan. Ia mengatakan kepadaNya ambilah ini. Apa yang harus saya lakukan? Tanya Tuhan. Kamu ambil sesuatu dari dalam kantung ini. Apa pun? Ya barang pertama yang kamu pegang. Tuhan merogohkan tangannya ke dalam kantung dan menarik…
    RAJA :
    Itu cerita simbolis?
    BAGA :
    dan menarik…Sebentar saya ingat-ingat dulu. (Interval). Oh ya. Seorang anak. Dan Tuhan berkata kepada sang ular bahwa raja itu merasa bosan karena ia seorang diri dan ia memprihatinkan penerusnya. Anak merupakan ide cemerlang. Saya kirimkan kepadanya. Itu akan menyibukkannya. Dan Tuhan melemparkan anak itu ke bumi.
    RAJA :
    Itu cerita simbolis?
    BAGA :
    Anak itu jatuh di atas tempat tidur raja yang terbangun dan bertanya, makhluk apa ini? Menterinya berkata kepadanya, Paduka Yang Mulia itu adalah berkah dari langit, Paduka harus memeliharanya.
    RAJA :
    Kamu lagi main apa sih?
    BAGA :
    Jangan selang cerita saya. Sang raja berkata: setuju, bagaimana kita menamainya? Sang menteri berpikir sejenak dan berkata: Sang Putra. Kita akan memberinya pendidikan yang borjuis dan ia akan menjadi pewarismu. Sang raja sangat gembira ia lupa kedukaannya, ia hanya menyibukkan diri dengan putranya. Anak itu tumbuh, menjadi seorang tokoh, membuat cerah masa tua ayahnya yang kemudian wafat dalam ketenangan.
    RAJA :
    Bagus. (Interval.) Jadi kamu menasehati saya untuk menikah?
    BAGA :
    Tidak.
    RAJA :
    Jadi saya harus bikin seorang anak?
    BAGA :
    Bukan. Anak-anak hanya menyakiti hati orang tuanya. Tapi kamu mungkin bisa mengangkat seorang. Saya telah memikirkannya sejak dahulu. Penerusmu.
    RAJA :
    Di mana kita bisa menemukannya?
    BAGA :
    Di panti asuhan.
    RAJA :
    Jaminan apa bahwa ia tidak akan menjadi penjahat?
    BAGA :
    Harus memilih antara resiko ini dan Raja Novocordie sebagai penerus.
    RAJA :
    Tidak akan pernah! Saya lebih suka mengangkat anak. (Interval.) Tapi apa yang membuatmu resah tiba-tiba? Kamu takut saya kabur?
    BAGA :
    Tidak. Saya memikirkan kebahagiaanmu, ketenangan hidupmu.
    RAJA :
    Dan kamu merasa bosan bersama saya dan seorang putra mungkin akan menyibukkan dirimu…
    BAGA :
    Tepat sekali.
    RAJA :
    Kamu tidak baik, Baga.
    BAGA :
    Saya menteri Paduka Yang Mulia.
    RAJA :
    (Interval). Seorang putra membuatku was-was untuk membesarkannya. (Interval). Kamu tidak mau kalau ia juga menjadi milikmu?
    BAGA :
    Saya akan menjadi bapak pelindungnya. Kita tempatkan untuknya sebuah tempat tidur di sini beserta mainan-mainannya di lemari dinding. Dan saya akan berikan kepadanya pengajaran kepemerintahan.
    RAJA :
    Berapakah usianya?
    BAGA :
    Tujuh tahun. Pada usia itu, anak tidak mengompol lagi di tempat tidur dan dapat mengerti apa yang kita katakan kepadanya.
    RAJA :
    Saya berani bertaruh bahwa kamu sudah mulai melaksanakan rencana ini tanpa mengatakannya kepada saya.
    BAGA :
    Tidak. Tapi masalah ini memprihatinkan saya. (Interval). Bila kesehatanmu membaik besok kita pergi membeli seorang anak di panti asuhan.
    RAJA :
    Berapa harganya?
    BAGA :
    Sekitar seribu rupiah. Tergantung.
    RAJA :
    Kamu punya uang?
    BAGA :
    Kita bisa ambil dari kas negara.
    RAJA :
    Ada berapa?
    (Baga menarik dari bawah tempat tidur sebuah peti. Ia melongok ke dalamnya kemudian menghitung).
    BAGA :
    Seribu…dua ribu…tiga ribu…lima ribu. Lima ribu rupiah.
    RAJA :
    Wow! Kita juga bisa memugar puri Estellouse, dan akan menjadi tempat tinggal saya di musim panas! (Interval). Ah saya merasa mendingan! Saya boleh bangun?
    BAGA :
    Tidak. Besok.
    RAJA :
    Apa yang akan kita lakukan sambil menunggu waktu?
    BAGA :
    Apa yang akan kita lakukan? (Interval). Kita mungkin bisa berlatih.
    RAJA :
    Berlatih apa?
    BAGA :
    Perananmu sebagai ayah. Bagaimana kamu akan memainkannya?
    RAJA :
    Benar juga.
    BAGA :
    Ya kita akan berlatih. Saya menjadi sang putra dan kamu sang ayah.
    RAJA :
    Ayah angkat.
    BAGA :
    Ayah angkat. (Ia bangkit). Begini. Katakanlah saya datang dari taman. Naik otopet. Saya masuk dan berputar di dalam kamar ini. (Ia meniru gerakan seorang anak di atas otopet dan berputar diseputar ruangan. Suara lugu anak-anak). Selamat pagi ayah! Saya suka sekali otopet baru ini!
    RAJA :
    Aha, siapa yang memberikannya padamu?
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Kamu. Tapi saya lebih suka motor.

    RAJA :
    Motor untuk seusiamu? Kamu gila?
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Saya bukan anak kecil lagi ayah. Saya sudah tujuh tahun.
    RAJA :
    Kamu kira umur tujuh tahun saya sudah punya motor?
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Tentu saja tidak! Kamu terlampau dungu.
    RAJA :
    Begitukah bicaramu pada ayahmu?
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Kamu akan memberikan motor bila saya sudah delapan tahun?
    RAJA :
    Tidak sebelum lima belas tahun.
    BAGA :
    Saya akan minta satu pada bapak pelindung.
    RAJA :
    Siapa bapak pelindungmu?
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Kamu bahkan sudah tidak ingat lagi! Namanya Baga.
    RAJA :
    Apa yang diajarkannya kepadamu hari ini?
    BAGA :
    (Suara anak-anak. Ia tetap berputar-putar). Bagian-bagian.
    RAJA :
    Aha…! (Interval). Berapakah tujuh dibagi tiga?
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Sama dengan…sama dengan…Delapan
    RAJA :
    Bukan dong. Sama dengan…sama dengan dua koma tiga tiga tiga tiga.
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Sampai berapa kali?
    RAJA :
    Sampai tak terhingga.
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Tidak mungkin.
    RAJA :
    Kenapa tidak mungkin?
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Hanya Tuhan Maha Kuasa yang tak terhingga.
    RAJA :
    Tapi…
    BAGA :
    (Suara biasa. Mulai kehabisan nafas. Ia tetap berputar-putar). Kamu tidak mau menyuruh saya berhenti? Tidakkah ini melelahkan kamu?
    RAJA :
    Ya. Sang Putra berhentilah saat saya bicara.

    BAGA :
    (Suara anak-anak. Tetap berputar-putar). Tidak, saya sedang berlomba untuk tour de France.
    RAJA :
    Berhentilah, kamu dengar?
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Tidak, saya dalam etape panjang.
    RAJA :
    Jadi sekarang saya harus bilang apa?
    BAGA :
    (Suara biasa). Kamu melarang saya makan gula-gula.
    RAJA :
    Sang Putra kamu tidak boleh makan gula-gula nanti.
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Ada gula-gula apa nanti?
    RAJA :
    Mmm…Ada gula-gula apa nanti?
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Saya tidak tahu. Saya tanya kepadamu.
    RAJA :
    Saya yang bertanya kepadamu!
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Tapi kan saya tidak tahu ayah!
    RAJA :
    Kepada kamu. Baga, keledai dungu!
    BAGA :
    (Suara biasa. Tetap berputar-putar). Bagaimana kalau kita anggap bahwa saya tidak ada di sini?
    RAJA :
    Bagaimana mungkin kamu tidak di sini?
    BAGA :
    (Suara biasa). Anggap saya ada di dapur. Jadi kamu jawab apa saja kepada anakmu?
    RAJA :
    Pergilah ke dapur.
    BAGA :
    (Suara biasa). Prinsip pendidikan yang bagus!
    RAJA :
    Jadi saya harus bilang apa?
    BAGA :
    (Suara biasa). Kamu bilang tidak boleh makan gula-gula, kamu dengar?
    RAJA :
    Tidak boleh makan gula-gula, kamu dengar?
    BAGA :
    (Suara anak-anak. Tetap berputar-putar). Kebetulan saya tidak suka gula-gula, ayah.
    RAJA :
    Baiklah…Oh, sialan.
    BAGA :
    (Suara anak-anak). Oh, ayah bilang sialaaan, ayah bilang sialaaan!
    RAJA :
    (Ia berteriak). Baga, hentikanlah!
    BAGA :
    (Ia berhenti. Suara biasa). Kamu tengil. (Ia kehabisan tenaga dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur).
    RAJA :
    Seharusnya saya bilang apa? Apa semua anak bersikap begitu?
    BAGA :
    Semua. Kita harus bertindak keras.
    RAJA :
    Dan setelah gula-gula ada apa?
    BAGA :
    Cukup untuk hari ini.
    RAJA :
    Bukan salah saya. Bagaimana kalau kita pilih seorang anak yang lebih tenang?
    BAGA :
    Seorang tukang tidur? Kamu ingin seorang anak yang lembek.
    RAJA :
    Bukan tapi…
    BAGA :
    Anak itu bisa anak laki-laki atau anak lembek.
    RAJA :
    Kalau begitu kenapa kita tidak mengangkat seorang anak perempuan? Perempuan lebih tenang kan?
    BAGA :
    Bagaimana dengan masalah hukum waris?
    RAJA :
    Kita hapus saja hukum itu.
    BAGA :
    Tak mungkin.
    RAJA :
    Baga kamu dapat melakukannya untuk saya.
    BAGA :
    Saya sudah katakan itu tidak mungkin. Kita perlu seorang anak laki-laki.
    RAJA :
    Oke. (Interval yang agak panjang). Saya sedih Baga. Semua yang kita lakukan menyedihkan, kamar ini menyedihkan, kehidupan.
    BAGA :
    Jangan mulai lagi, ya?
    RAJA :
    Jiwa saya sedih.
    BAGA :
    Sudahlah!
    RAJA :
    Kita berpura-pura terus. Dulu saya kira semua akan berubah-ubah. Saya berpikir…(Interval). Seandainya kita bisa mengundurkan diri. Itupun kita tak ingin melaksanakannya…Kamu tahu yang membuat orang ingin hidup adalah keinginan. Kalimat ini kedengaran seperti lelucon. (Interval). Lelucon mengenai maut juga. Bila kita tak punya keinginan kita tinggal mati seperti seekor anjing.

    BAGA :
    Kamu sudah selesai? Kamu tidak usah memikirkan hal itu. Dan saya kan berada di sebelahmu.
    RAJA :
    Kamu berada di sini ya…(Interval). Perjalanan panjang! Kamu tidak ikut? Kenapa kamu tidak mau?
    BAGA :
    Saya sih mau. Ke mana?
    RAJA :
    Kamu jangan tanya. Kita membereskan koper-koper dan kita berangkat besok.
    BAGA :
    Ayo kita bereskan koper.
    RAJA :
    (Tampak cerah). Ah! (Interval.) Ah saya merasa sehat!
    (Baga mengambil sebuah koper dari kolong tempat tidur. Ia membuka koper dan menuju lemari dinding).
    BAGA :
    Berapa kaus kaki? Tiga pasang? Empat?
    RAJA :
    Lihat! Kita akan pergi jauh.
    BAGA :
    Jadi lima celana dalam juga?
    RAJA :
    Dan lima kemeja dan lima sapu tangan! Dan setelan dari wool lengkap dengan topinya. Cocok untuk berjalan-jalan. (Interval). Jangan lupa halsduk dan kacamata hitam. Kita berjalan-jalan inkognito.
    BAGA :
    Kamu selalu ingin inkognito! Bagaimanpun juga semua orang mengenal kita.
    RAJA :
    Tapi dengan begitu kita tidak perlu menaati tata krama.
    BAGA :
    (Ia bolak-balik antara lemari dinding dan koper, ia mengepak barang-barang). Bagaimana dengan Sang Putri?
    RAJA :
    Kita titipkan di dapur. Mereka akan menyiraminya.
    BAGA :
    Kamu tidak takut ia mati?
    RAJA :
    Biarkan ia mati.
    BAGA :
    Rasanya saya betul-betul tidak mengenalimu lagi.
    RAJA :
    (Ia tampak angkuh). Kita harus tahu bagaimana bereaksi! (Interval). Jangan lupa selop saya. (Interval). Besok! Besok kita tidur di kamar yang lain!
    BAGA :
    Kamar di bagian belakang mungkin.
    RAJA :
    Kamar yang lain, dinding yang lain, cakrawala yang lain! Cakrawala yang luas…luas sekali, tak terhingga!

    BAGA :
    (Ia masih sibuk membereskan koper). Kita harus bilang apa kepada para pembantu? Siapa yang akan mengawasi mereka? Mereka pasti akan berfoya-foya.
    RAJA :
    Syukurlah! Silakan bersenag-senang!
    BAGA :
    Bagaimana dengan kas Negara?
    RAJA :
    Kita membawanya. (Interval). Baga.
    BAGA :
    Apa?
    RAJA :
    Masa depan tidak pernah seburuk yang kita bayangkan.
    BAGA :
    Kita bawa kamera?
    RAJA :
    Mencekik leher masa depan! Menipu masa depan habis-habisan!
    BAGA :
    Kamu menjadi agresif sekarang!
    RAJA :
    Baga, kita berganti kulit.
    BAGA :
    Akhirnya.
    RAJA :
    Kita belum terlambat. Kita akan mengejar waktu yang pernah dibuang-buang, kita akan hidup! Semua uang dari kas negara, kita korbankan! Membebaskan diri kita, tak ada ikatan lagi, tak ada pemerintahan lagi, tak ada apa-apa lagi! Kita akan berpetualang! Ah Baga, kemerdekaan!
    BAGA :
    Jangan terlalu bersemangat, kawan. (Interval). Di mana kacamata hitammu?
    RAJA :
    Matahari! Telanjang di bawah matahari! (Ia mengambil cermin kecil yang ada di dekatnya dan memandang dirinya). Apa saya nampak sangat tua?
    BAGA :
    (Ia merampas cermin dari tangan raja). Biarkan itu dan tenanglah dulu. Kamu kelewat bersemangat.
    (Ketukan di pintu).
    BAGA :
    Masuk!
    (Masuklah koki, dengan topi di tangan).
    KOKI :
    Baginda Raja, bukan mengenai hal makan siang.
    RAJA :
    Sayang sekali. Mengenai apa?
    KOKI :
    Ada…Saya rasa ada…sebenarnya…
    RAJA :
    Bicaralah mengenai apa?

    KOKI :
    Saya kurang tahu, ada orang di sini Baginda Raja…Saya rasa seseorang yang mengirim utusannya…
    RAJA :
    Siapa utusannya?
    KOKI :
    Seorang pesuruh.
    RAJA :
    Pesuruh?
    KOKI :
    Ya pesuruh bersepeda.
    RAJA :
    Ia masih ada di sini?
    KOKI :
    Tidak, ia sudah pulang.
    RAJA :
    Ia mengatakan apa?
    KOKI :
    Ia mengatakan itu…Ia mengatakan…
    RAJA :
    Selesaikan kalimatmu!
    KOKI :
    Saya tidak tahu Baginda Raja, saya kurang mengerti.
    RAJA :
    Sebenarnya koki, ia berbicara mengenai apa, kira-kira?
    KOKI :
    Saya…saya rasa ia pernah menyebut sebuah menu yang luar biasa…Kalimatnya mirip dengan kalimat itu.
    RAJA :
    Untuk siapa? Untuk saya?
    KOKI :
    Saya tidak tahu, Baginda Raja.
    RAJA :
    Seharusnya kamu melarang dia pergi, kamu minta penjelasan! (Kepada Baga). Apa arti semua ini?
    BAGA :
    Saya tidak tahu. (Kepada Koki). Ia tidak bilang apa-apa lagi?
    KOKI :
    Ya saya rasa…Tidak, ia pernah menyebut banyak hal tetapi saya tidak mengerti.
    BAGA :
    Ia tidak pernah mengatakan darimana ia datang? Dan atas nama siapa? Kenapa kamu menganggap bahwa ia seorang pesuruh?
    KOKI :
    Saya kurang tahu…Ia mengatakan itu…sebuah menu yang luar biasa, kemudian ia pergi.
    (Raja memberi tanda kepada Baga untuk memberi tahu bahwa sang koki kurang waras).
    RAJA :
    Sudah koki, sudah. Pergilah.
    (Koki keluar).
    RAJA :
    Kasihan orang itu. Apa ia cukup makan?
    BAGA :
    Yang pasti ia cukup minum.
    RAJA :
    Seusia dia? Apakah ia patah hati karena cinta?
    BAGA :
    (Mengangkat bahu. Ia mulai lagi membereskan koper). Tadi saya bilang kacamata hitam…(Ia mengambil sebuah buku catatan di atas meja dan mulai mencatat) dan makanan ringan.
    RAJA :
    Pesuruh bersepeda? Sebuah menu yang luar biasa? (Interval). Kamu kenal dengan koki itu?
    BAGA :
    Apa saya kenal dengan dia?
    RAJA :
    Kamu tahu masalah cintanya?
    BAGA :
    Sejak kapan saya menjadi mandor di sini, Baginda Raja?
    RAJA :
    Saya tidak akan percaya bahwa kamu…
    BAGA :
    Tidak, kamu salah. Saya tidak tahu masalah cinta koki itu.
    RAJA :
    Berarti kamu salah.
    BAGA :
    Salah? Kamu sudah menjadi pikun.
    RAJA :
    Saya adalah ayah bagi rakyat saya, jadi saya harus mengenal mereka.
    BAGA :
    Kalau begitu panggilah koki itu dan tanya rahasianya.
    RAJA :
    Saya punya seorang menteri biarkan dia yang mengerjakannya.
    BAGA :
    Saya tak akan pernah. Rahasia orang lain. Saya membersihkan pispotmu dan itu cukup bagi saya.
    RAJA :
    Baiklah, sangat baik. (Interval) Kita bawa apa sebagai makanan untuk di jalan?
    BAGA :
    Menu yang luar biasa.
    RAJA :
    Kamu benar-benar sialan.
    BAGA :
    Saya benar-benar menteri Baginda Raja.
    (Raja berbaring di tempat tidur. Ia berbalik ke arah dinding. Baga menutupi koper, mengambil lagi gembor di atas meja dan masuk kamar mandi. Ia keluar dengan gembor dan menyirami tanamannya).
    RAJA :
    (Tanpa berbalik). Apa yang kamu lakukan?

    BAGA :
    Saya menyirami Sang Putri.
    RAJA :
    Kamu baik hati. (Ia berbalik dan duduk. Ia tersenyum lebar). Baga.
    BAGA :
    Ya?
    RAJA :
    Kita berangkat. Ah saya merasa enak! (Interval.) Bagaimana kalau kita bermain sandiwara lagi? Hanya sekali saja?
    BAGA :
    Kamu istirahat dulu.
    RAJA :
    Saya akan istirahat tetapi kamu rias dulu dirimu, hanya satu kali ini saja.
    BAGA :
    (Ia mengangkat bahu). Terserah.
    RAJA :
    Peranmu sebagai apa?
    BAGA :
    Itu kejutan saya. Kamu berbaring dan menunggu.
    (Raja berbaring, menghadap ke arah dinding).
    RAJA :
    Kamu akan bilang kalau sudah selesai?
    BAGA :
    Ya.
    (Baga masuk kamar mandi. Interval yang agak panjang. Raja tidak bergerak. Pintu di belakang ruangan dibuka sedikit. Maut muncul. Maut lebih tinggi dibandingkan Baga. Maut berupa sebuah tengkorak dan kerangka manusia yang dibalut dengan kain kafan. Ia membawa arit besar.Ia memasuki ruangan secara diam-diam. Tiba-tiba lantai dari kayu berderit. Raja berbalik).
    RAJA :
    (Ketakutan). Kamu menakut-nakuti saya! (Interval). Lumayan kostummu! Kamu tampak lebih tinggi.
    SUARA BAGA :
    Apa?

    TAMAT

    CATATAN;
    Mousquetaire ; pasukan raja berkuda di Perancis abad XVII yang mahir berperang dengan pedang.

    ROBOHNYA SUARAU KAMI
    Karya : AA. Navis
    Penyadur/Adaptasi : Hermana HMT

    SEJENAK MUSIK BERGEMURUH.
    PERLAHAN TERDENGAR GESEKAN BIOLA ATAU LANTUNAN SERULING DIBARENGI GEMERCIK AIR DAN DESIR ANGIN.
    SAYUP-SAYUP TERDENGAR KUMANDANG ADZAN SUBUH. ORANG-ORANG MUNCUL DARI BERBAGAI ARAH, BERBARIS DI PANGGUNG SEPERTI MAU MELAKUKAN SHALAT.
    ADZAN USAI SESEORANG MELAPALKAN DOA SETELAH ADZAN, LALU ORANG-ORANG MENDENDANGKAN LAGU ” AL-ITIRAF “.

    PEMBACA DOA 1
    Ya Allah, ya Tuhan kami jangan Engkau jadikan kami condong pada kesesatan Sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami,dan karuniailah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ( QS. Al-Imran: 8 )

    PEMBACA DOA 2
    Ya Allah, ya Tuhan kami, Engkau masukan malam pada siang, Engkau masukan siang pada malam dan Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati,Engkau mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau memberi rizki kepada siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak terkira. ( QS. Al-Imran : 27 )

    PEMBACA DOA 3
    Ya Allah yang mempunya kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki., Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ( Al-Imran : 26 )

    TIBA-TIBA SEORANG PEREMPUAN MUNCUL DAN MENANGIS SEPERTI ANAK KECIL.

    SEORANG PEREMPUAN
    Kini kakek itu sudah tidak ada lagi. Ia sudah meninggal. Dan tinggalah surau itu tanpa penjaganya. Sekarang hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Orang-orang itu semakin masa bodoh. Dan biang kebodohan itu ialah sebuah dongeng yang tidak dapat disangkal kebenarannya.

    PIMPINAN PENTAS
    Hei,hei,hei ! Berhenti ! Apa-apaan sih kamu ? Orang lain berdoa ini malahan menangisi yang tidak jelas. Sudah, tidak baik banyak bersedih hati. Yang sudah berpulang biarlah pulang dengan tenang, kita-kita yang akan mengikutinya nanti, dari sekarang lebih baik mempersiapkan bekal kepulangan kita itu. Agar nanti tidak tersesat atau masuk ke tempat yang tidak kita sukai. Sekarang lebih baik memperbaiki hidup daripada meratapi yang sudah mati. Sudah ya,jangan menangis lagi malu tuh sama orang-orang. Oh ya, penonton. Selamat berjumpa dengan kami. Maaf tadi saya memotong dulu. Pertunjukan sebenarnya belum dimulai.

    SEORANG PEREMPUAN
    Loh,loh. Yang barusan adegan apa ?

    PIMPINAN PENTAS
    Itu baru sambutan awal dan doa.

    SEORANG PEREMPUAN
    Jadi belum,ya ?

    PIMPINAN PENTAS
    Belum.

    ORANG-ORANG
    Huhhhh.

    PIMPINAN PENTAS
    Sudah, sudah ! Sekarang kalian duduk dulu yang rapi….Maaf pemirsa, barusan itu kesalah pahaman. Begini…eeeh.. tapi sekali lagi saya menghaturkan mohom maaf. Anu…eeh.. sebelum cerita dimulai, saya ingin sekali menyampaikan sepatah kata pada anda semua. Kenapa saya ingin sekali berkata-kata ? Tentu, karena saya kuatir setelah pertunjukan ini tiba-tiba ada gelombang protes besar-besaran. Maklumlah zaman reformasi. Jadi, sebelum cerita ini kami lanjutkan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila nanti ada kelancangan-kelancangan yang tidak berkenan dihati para pemirsa. Ini cerita bukan cerita sesungguhnya, tapi dongeng yang kebenarannya sangat bisa diragukan. Dongeng adalah dongeng. Dongeng bukan kenyataan, walau kadang ada nyatanya. Agar lebih jelasnya silahkan simak dengan hati yang lapang.begitu saja dari saya. Ayo anak-anak lanjutkan dongengannya, tapi jangan pakai tangis-tangisan lagi kesannya seperti telenovela. Siapa tadi yang nangis ?

    ORANG-ORANG
    Dia pak.

    PIMPINAN PENTAS
    Oh kamu. Awas ! Jangan pakai nangis lagi, ya ! Ayo mulai.

    TIBA-TIBA EMPAT ORANG PEREMPUAN MUNCUL DENGAN JERITAN DAN TANGISAN.

    PEREMPUAN SATU
    Tapi kakek itu sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggal surau itu tanpa penjaganya, hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar seing mencopoti papan dinding lantai di malam hari.

    PEREMPUAN DUA
    Jika kalian datang sekarang,hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh.

    PEREMPUAN TIGA
    Dan kecerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya.

    PEREMPUAN EMPAT
    Dan terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang,yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaganya lagi.

    PIMPINAN PENTAS
    Aduh, aduh, aduh, aduh ! Sudah saya bilang jangan pakai sedih-sedihan, malahan makin banyak yang bersedih. Bagaimana kalian ini ? Hei ! Negeri kita ini sedang bersedih.jangan ditambah-tambah lagi kesedihannya.Sudah, sudah ! Lebih baik sekarang kalian bernyanyi. Mau enggak ?

    ORANG-ORANG
    Mauuuu.

    PIMPINAN PENTAS
    Bagus. Bagaimana musik, siap ?

    PEMUSIK
    Siap bos. Nyanyi apa ?

    PIMPINAN PENTAS
    Katanya siap. Lagunya anu.. eh.. ” Ajo Sidi “. Mulai.

    ORANG-ORANG BERNYANYI.

    Ajo Sidi oh Ajo Sidi
    Pendongeng dari sebrang sana
    Tak henti-henti berceloteh
    Hingga orang terpana bualannya
    Ajo Sidi oh Ajo Sidi
    Kerjaannya sidir menyindir
    Mejerat hati tiap orang
    Jadi sumber ejekannya

    PINPINAN PENTAS MEMBERHENTIKAN ORANG-ORANG YANG SEDANG ASIK BERYANYI DAN MENARI. ORANG-ORANG GUSAR, TAPI SEMUMUANYA DAPAT DITERTIBKAN.
    SAYUP-SAYUP TERDENGAR SUARA SERULING DIBARENGI GESEKAN BIOLA, GEMERCIK AIR DAN DESIR ANGIN .
    SEORANG KAKEK SEDANG TERMANGU SAMBIL MEMENGANG PISAU CUKUR.

    LAKI-LAKI
    Assalamualaikum… assalamualaikum… assalamualaikum. Biasanya kakek gembira menerima kedatanganku, karena aku suka memberinya uang, tapi sekali ini begitu muram.Tidak pernah aku melihat kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat ini.

    LAKI-LAKI ITU MENGAMBIL SALAH SATU PISAU CUKUR YANG TERGELETAK DI SAMPING SI KAKEK.

    LAKI-LAKI
    Pisau siapa, Kek ?

    KAKEK
    Ajo Sidi !

    LAKI-LAKI
    Ajo Sidi ? ( KAKEK TIDAK MENYAHUT. HENING SEJENAK ) Apa Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek ?

    KAKEK
    Siapa ?
    LAKI-LAKI
    Ajo Sidi.
    KAKEK
    Kurang ajar dia.
    LAKI-LAKI
    Kenapa, Kek ?
    KAKEK
    Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya.
    LAKI-LAKI
    Kakek marah ?
    KAKEK
    Marah ? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tidak marah-marah lagi. Takut kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadah, bertawakal kepada Allah. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepadaNya. Dan Allah akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.
    LAKI-LAKI
    Bagaimana katanya, Kek ? ( KAKE DIAM SAJA. BERAT HATI BICARA ). Bagaimana katanya, Kek ?
    KAKEK
    Kau kenal padaku, bukan ? Sedari kecilkau aku sudah di sini. Sedari muda, bukan ? Kau tahu apa yang aku lakukan semua, bukan ? Terkutuklah perbuatanku ? Dikutuki Tuhan kah semua pekerjaanku ? DIAM SEJENAK. Sedari muda aku di sini, bukan ? Tak kuingat punya istri, punya anak, penya keluarga seperti orang lain, tahu ? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tidak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku,lahir batin, kuserahkan pada Allah subhanahu wata’ala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu ? Akan dikutukiNya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepadaNya ? Tak kupikirkan hari esok,karena aku yakin Allah itu ada dan pengasih penyang kepada umatNya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk, membangunkan setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca kitabNya. Apa salah pekerjaanku itu ? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.
    LAKI-LAKI
    Ia katakan Kakek begitu ?
    KAKEK
    Ia tidak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kira.
    LAKI-LAKI
    Ajo Sidi memang kurang ajar. Apa lagi yang dikatakan Ajo Sidi, Kek ?
    KAKEK
    Pada suatu waktu dia bicara padaku. Dia bialang.
    MUSIK BERGEMURUH.
    AJO SIDI
    Di akhirat Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di sampingNya. Ditangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Bigitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah di mana-mana ada perang. Dan diantara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia dinamai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukan ke surga. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyuman ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk surga, ia melambaikan tangannya,seolah hendak mengatakan “sampai ketemu nanti “. Begitu tak habis-habisnya orang yang berantri, begitu panjangnya. Susut di muka bertambah di belakang. Akhirnya sampai giliran Haji Saleh.
    MUSIK BERGEMA, ANGIN BERGEMURUH.
    SUARA
    Engkau siapa?
    HAJI SALEH
    Aku Saleh. Karena aku sudah ke mekah Haji Saleh namaku. Tuan ini siapa ?
    SUARA
    Jangan banyak bertanya. Apa kerjamu di dunia ?
    HAJI SALEH
    Aku menyembah Tuhan.
    SUARA
    Lain ?
    HAJI SALEH
    Setiap hari, setiap malam, bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Nya.
    SUARA
    Lain ?
    HAJI SALEH
    Segala larangan-Nya kuhentikan. Tidak pernah aku berbuat jahat, walau dunia seluruhnya penuh oleh dosa-dosa yang dibisikan iblis laknat itu.
    SUARA
    Lain ?
    HAJI SALEH
    Tak ada pekerjaanku selain beribadat padaNya, menyebut-nyebut namaNya. Bahkan ketika aku sakit namaNya menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hatiNya untuk nginsafkan umatNya.
    SUARA
    Lain ?
    LAMPU MENYINARI AJO SIDI YANG MELANJUTKAN DONGENGANNYA.
    AJO SIDI
    Haji saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segalanya yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, bahwa pertanyaan yang dilontakan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Hawa panas api neraka tiba-tiba menghembus ketubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap airmatanya mengalir, di isap kering oleh hawa panas neraka itu.
    MUSIK BERGEMA. HAJI SALEH MENGIGIL KETAKUTAN. ORANG-ORANG BERGERAK SEPERTI JOMBI.
    SUARA
    Lain lagi ?
    HAJI SALEH
    Sudah saya ceritakan semuanya. Oh, Tuhan yang Maha Besar, lagi pengasih dan penyayang, Adil dan Maha Tahu.
    SUARA
    Tidak ada lagi ?
    HAJI SALEH
    Oh, o, oo, aku selalu membaca kitabNya.
    SUARA
    Lain ?
    HAJI SALEH
    Sudah kuceritakan semuanya. Tapi kalau ada yang aku lupa aku mengatakannya, aku pun bersyukur karena yang maha tahu itu Tuhan.
    SUARA
    Sungguh tidak ada lagi yang kau kerjakan di dunia selain yang kau ceritakan tadi ?
    HAJI SALEH
    Ya, itulah semuanya.
    SUARA
    Maksud kamu ?
    MUSIK BERGEMURUH.
    AJO SIDI
    Haji saleh tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti mengapa ia dibawa ke neraka. Ia tidak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.
    PENDONGENG 1
    Alangkah tercengangnya Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tak tambah mengerti dengan keadaan dirinya, karena yang dilihatnya di neraka itu tidak kurang ibadahnya dari diri dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke mekah dan bergelar Syekh pula.
    PENDONGENG 2
    Lalu haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya pada mereka kenapa berada di neraka semuanya. Tapi sebagaimana haji Saelah orang-orang out pun tak mengerti juga.
    SEMUA ORANG BERISTIGFAR.
    HAJI SALEH
    Bagaimana ini ? Bukankah kita disuruhNya taat beribadah, teguh beriman ? Dan itu semua telah kita kerjakan selelama hidup kita. Tapi kita kini dimasukan ke dalam neraka.
    TOKOH LAIN
    Ya kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat.
    HAJI SALEH
    Ini sungguh tidak adil.
    ORANG-ORANG
    Memang tidak adil.
    HAJI SALEH
    Kita harus mengingatkan Dia, kalau-kalau Ia silap memasukan kita ke neraka ini.
    ORANG-ORANG
    Benar, benar, benar.
    TOKOH LAIN 2
    Kalau dia tidak mau mengakui kesilafanNya, bagaimana ?
    HAJI SALEH
    Kita protes. Kita resolusikan.
    TOKOH LAIN 3
    Apa kita revolusikan juga ?
    HAJI SALEH
    Itu tergantung kepada keadaan. Yang penting sekarang, mari kita berdemontrasi mengadapNya.
    TOKOH LAIN
    Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demontrasi saja, banyak yang kita peroleh.
    ORANG-ORANG
    Setuju, setuju, setuju.
    SEMUA ORANG BERGERAK. MUSIK BERGEMURUH.
    HAJI SALEH
    Oh, Tuhan kami Yang Maha Besar. Kami menghadapMu. Ini adalah umatMu yang paling taat beribadat, yang pang taat menyembahMu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut NamaMu, memuji-muji kebesaranMu, mempropagandakan keadilanMu, dan lain-lainnya. KitabMu kami hapal di luar kepala kami. Tidak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi Tuhanku Yang Maha Kuasa, setelah Engkau kami panggil kemari, Engkau masukan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tidak diingini, di sini, atas nama orang-orang yang cinta kepadaMu, kami menuntut agar hukuman yang Kau jatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan memasukan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam kitabMu…. Mari kita menghadap Dia.
    ORANG-ORANG BERGERAK SEPERTI AKAN DEMONTRASI.
    SUARA
    Kalian mau apa lagi.
    HAJI SALEH
    Kami ingin bertemu Tuhan.
    SUARA
    Tidak bisa.
    HAJI SALEH
    Harus ini sangat penting. Ini menyangkut nasib kami.
    SUARA
    Kamu mesti tahu. Tuhan telah menugaskan aku untuk menuntut kalian.
    HAJI SALEH
    Kamu ini sebenarnya siapa ?
    SUARA
    Tadi kan sudah kukatakan, aku adalah dirimu sendiri dan kalian semua.
    HAJI SALEH
    Aku tidak peduli…
    SUARA
    Sudah jangan banyak cingcong. Sekarang aku bertanya lagi pada kalian. Kalian di dunia tinggal di mana ?
    HAJI SALEH
    Kami ini adalah umat Tuhan yang tinggal di Indonesia.
    SUARA
    Oh, di negeri yang tanahnya subur itu ?
    HAJI SALEH
    Ya, benar.
    SUARA
    Tanah yang kaya raya, penuh dengan logam, minyak dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan ?
    ORANG-ORANG
    Benar, benar, itulah negeri kami.
    SUARA
    Di negeri yang tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa di tanam ?
    ORANG-ORANG
    Benar, benar itulah negeri kami.
    SUARA
    Di negeri di mana penduduknya sendiri meralat ?
    ORANG-ORANG
    Ya, Ya, itu negeri kami.
    SUARA
    Negeri yang di perbudak orang lain ?
    TOKOH LAIN
    Ya sungguh laknat penjajah itu.
    SUARA
    Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkutnya, dijarah, bukan ?
    TOKOH LAIN 2
    Benar. Hingga kami tidak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.
    SUARA
    Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan ?
    HAJI SALEH
    Benar. Tapi bagi kami soal harta benda itu tidak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Tuhan.
    SUARA
    Engkau rela tetap meralat, bukan ?
    ORANG-ORANG
    Benar kami rela sekali.
    SUARA
    Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga meralat, bukan ?
    TOKOH LAIN
    Sungguhpun anak cucu kami meralat, tapi mereka semua pintar mengaji. Alkitab mereka hapal di luar kepala.
    SUARA
    Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semuanya. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengagambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antar kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Tuhan beri negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedangkan Tuhan menyuruh engkau beramal disamping beribadah. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira Tuhan suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak ! Karena itu kamu semua masuk neraka dan di letakan di keraknya.
    ORANG-ORANG TIDAK BERGERAK APA-APA LAGI. MEREKA TERMANGU, TAPI HAJI SALEH MASIH SAJA TIDAK PUAS.
    HAJI SALEH
    Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia ?
    SUARA
    Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau telah mementingkan diri sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaumu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kocar-kacir selamanya. Itulah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egois. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun.
    MUSIK TERDENGAR MEMILUKAN.
    TERDENGAR SESEORANG BERTERIAK.
    SAYUP-SAYUP SESEORANG SEDANG MENGAJI.
    SESEORANG
    Bunuh diri. Ada yang bunuh diri.
    ORANG-ORANG
    Di mana ?
    SESEORANG
    Di surau. Ia menggorok lehernya dengan sebilah pisau cukur.
    ORANG-ORANG
    Astagfirulahal’adzim.
    ORANG-ORANG BERGERAK.

    PEREMPUAN
    Mas. Mas. Mas. Apa tidak menjenguk ?

    LAKI-LAKI
    Siapa yang meninggal ?

    PEREMPUAN
    Kakek.

    LAKI-LAKI
    Kakek ?

    PEREMPUAN
    Ya, tadi subuh kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur.

    LAKI-LAKI
    Astagfirulahal’adzim. Ini pasti gara-gara Ajo Sidi.

    SEMUA DIAM.

    PIMPINAN PENTAS

    Ternyata kita tidak bias lepas dari kenyataan. Hidup dan mati bukanlah milik kita. Kita di sini hanya mengembara dan kita semua akan kembali. Kematian memang menyedikan, tapi yangpiling menyedihkan jika kerja keras kita hasilnya sia-sia.

    MUSIK BERGEMURUH.

    WASSALAM
    TAMAT

    Catatan :
    Cerita ini diambil dari sebuah cerpen ” Robohnya Surau Kami ” karya AA. Navis.

  8. Itu naskah pilihan vestipal yang penyelenggaranya taman budaya kalsel, bulan oktober. kami teater matahari membantu untuk pemlihan naskah. jadinya kalau temen-temen sampan hendak umpatan, bisa ae daptar dari sekarang ke taman bdaya, ke pak Heriyadi.
    kami teater matahari ada pertunjukan bulan agustus, ada 3 refortoar, kena di kabari. dan tanggal 19 juni 2009 ada pertunjukan di balairung sari dari bubuhannya teater Cermin, sutradara andi solehudin. dan tanggal 20 juni 2009 ada lagi pertunjukan dari bubuhannya Dapur_Teater Sendratasik, DRAMA MUSIKAL dengan Judul SAPUTANGAN BUAT MAKENSI karya / Sutradara:Edi Sutardi Asisten sutradara Tika Sugiarto, kalonya sempat, bisa ikut mengapresiasinyalah.
    terimakasih. Salam

  9. Ami, dari komunitas mana? kalo boleh tau.
    terimakasih atas kunjungannya.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.