10 NASKAH DRAMA PILIHAN FESTIVAL TEATER TINGKAT SMA/SEDERAJAT ( TAMAN BUDAYA KAL-SEL)

ORANG KASAR

Drama Komedi Satu Babak

Karya ANTON CHEKOV

Saduran WS RENDRA

 

Pelaku:

NYONYA MARTOPO         : Janda muda, gundik seorang pemilik tanah

BAITUL BILAL                    : Seorang pemilik perkebunan

MANDOR DARMO              : Yangan Kanan Nyonya Martopo

TIGA ORANG PEKERJA

 

Kejadian : Masa kini

Tempat kejadian :

DI SATU TEMPAT DAERAH PERKEBUNAN KOPI DI JAWA TIMUR. SUATU DAERAH YANG BERALAM INDAH, SEGAR DAN KAYA. DI SINILAH PEMILIK-PEMILIK PERKEBUNAN MEMPUNYAI RUMAH-RUMAH YANG BESAR, BAGUS DAN MEWAH.

MEREKA SUKA MEMELIHARA KUDA DAN WAKTU SENGGANG SUKA BERBURU TUPAI ATAU BURUNG. MEREKA SUKA PULA BERTAMASYA DENGAN KERETA DAN KUDA MEREKA YANG BAGUS.

KETIKA LAYAR DIBUKA, NAMPAKLAH KAMAR TAMU DI RUMAH TUAN MARTOPO YANG MEWAH ITU. PERABOTAN DI KAMAR ITU SERBA BAGUS. DI DINDING TERDAPAT TUPAI-TUPAI YANG DIISI KAPAS, TERPAKU DENGAN LUCU. JUGA TERDAPAT TANDUK-TANDUK RUSA, BURUNG-BURUNG BERISI KAPAS DIJADIKAN HIASAN DISANA-SINI. SEDANG DI LANTAI BEREBAHLAH SEEKOR HARIMAU YANG DAHSYAT YANG TENTU SAJA JUGA BERISI KAPAS.

BERMACAM GOLOK, PEDANG DAN SENAPAN ANGIN TERSIMPAN DI SEBUAH LEMARI KACA YANG BESAR.

PADA SUATU SIANG HARI, KIRA-KIRA JAM 12.00, DI KAMAR TAMU YANG MEWAH ITU, NYONYA MURTOPO, SANG JANDA, DUDUK DI ATAS SOFA SAMBIL MEMANDANG DENGAN PENUH LAMUNAN KE GAMBAR ALMARHUM SUAMINYA YANG GAGAH, BERMATA BESAR DAN BERKUMIS TEBAL ITU. MAKA MASUKLAH MANDOR DARMO YANG TUA ITU.

DARMO                     :  Lagi-lagi saya jumpai nyonya dalam keadaan seperti ini. Hal ini tidak bisa dibenarkan, nyonya Martopo. Nyonya menyiksa diri! Koki dan babu bergurau di kebun sambil memetik tomat, semua yang bernafas sedang menikmati hidup ini, bahkan kucing kitapun tahu bagaimana berjenakanya dan berbahagia, berlari-lari kian kemari di halaman, berguling-guling di rerumputan dan menangkapi kupu-kupu, tetapi nyonya memenjarakan diri nyonya sendiri di dalam rumah seakan-akan seorang suster di biara.

                                       Ya, sebenarnyalah bila dihitung secara tepat, nyonya tak pernah meninggalkan rumah ini selama tidak kurang dari satu tahun.

NYONYA                  :  Dan saya tak akan pergi ke luar! Kenapa saya harus pergi keluar? Riwayat saya sudah tamat. Suamiku terbaring di kuburnya, dan sayapun telah mengubur diri saya sendiri di dalam empat dinding ini. Kami berdua telah sama-sama mati.

DARMO                     :  Ini lagi ! Ini lagi ! Ngeri saya mendengarkannya, sungguh! Tuan Martopo telah mati, itu kehendak Allah, dan Allah telah memberikannya kedamaian yang abadi. Itulah yang nyonya ratapi dan sudah sepantasnya nyonya menyudahinya. Sekarang inilah waktunya untuk berhenti dari semua itu. Orang toh tak bisa terus menerus melelehkan air mata dan memakai baju hitam yang muram itu! Istri sayapun telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Saya berduka cita untuknya, sebulan penuh saya melelhkan air mata, sudah itu selesai sudah.

                                       Haruskah orang berkabung selama-lamanya? Itu sudah lebih dari yang sepantasnya untuk suami nyonya!

                                       (IA MENGELUH)

                                       Nyonya telah melupakan semua tetangga nyonya. Nyonya tidak pergi keluar dan tidak menjamu seorangpun juga. Kita hidup, maafkanlah, seperti laba-laba, dan kita tak pernah menikmati cahaya matahari yang gemilang.

                                       Pakaian-pakaian pesta telah dikerikiti tikus, seakan-akan  tak ada lagi orang baik di dunia ini. Tetapi di daerah ini penuh dengan orang-orang yang menyenangkan. Di desa ini Perfini mengadakan location, wah, bintang-bintang filmnya kocak! Orang tak akan puas-puas melihat mereka. Setiap malam minggu mereka mengadakan malam pertemuan, bintang-bintang yang cantik pada bernyanyi dan Raden Ismail bermain pencak. Oh, nyonyaku, nyonyaku, nyonya masih muda dan cantik. Ah, seandainya memberi kesempatan pada semangat nyonya yang remaja itu… Kecantikan toh tak akan abadi. Jangan sia-siakan. Apabila sepuluh tahun lagi nyonya baru mau keluar ke pesta, ya, sudah terlambat!

NYONYA                  :  (TEGAS)

                                       Saya minta, jangan bicara seperti itu lagi. Pak Darmo telah tahu, bahwa sejak kematian mas Martopo, hidup ini tak ada harganya lagi bagi saya. Bapak kira aku ini hidup? Itu hanya nampaknya saja, mengertikah Pak Darmo? Oh, saya harap arwahnya yang telah pergi itu melihatbagaimana aku mencintainya. Saya tahu, ini bukan rahasia pula bagimu, suamiku sering tidak adil terhadap saya, kejam, dan ia tidak setia, tetapi saya akan setia, kepada bangkainya dan membuktikan kepadanya betapa saya bisa mencinta. Di sana, di akhirat ia akan menyaksikan bahwa saya masih tetap sebagai dulu.

DARMO                     :  Apakah faedahnya kata-kata semacam itu, bila lebih patut nyonya berjalan di kebun atau memerintahkan orang memasang kuda kesayangan kita si Tobby dan si Hero di depan kereta, dan kemudian pergi pesiar ataupun mengunjungi para tetangga?

NYONYA                  :  (MENANGIS)

DARMO                     :  (SETELAH KEHERANAN SEJENAK) Nyonyaku, nyonyaku, ada apa? Nyonya Martopo, demi Tuhan ada apa?

NYONYA                  :  Suami sangat mencintai kuda itu, si Tobby itu. Ia selalu tahu mengendarainya apabila meninjau kebun-kebun. Bahkan ia pernah pula membawanya mendaki gunung Bromo. Ia sangat gagah kalau naik kuda. Alangkah gayanya apabila ia menarik kekang kuda dengan tangan-tangannya yang perkasa itu. Tobby, Tobby, berilah ia rumput dua kali lipat hari ini.

DARMO                     :  Baiklah, nyonya, baik.

BEL DIBUNYIKAN ORANG DENGAN KERAS

NYONYA                  :  (GUGUP) Siapa itu? Saya tak mau terima tamu!

DARMO                     :  Ya, nyonya. (PERGI KELUAR, KE PINTU TENGAH)

NYONYA                  :  (MENATAP GAMBAR SUAMINYA)

                                       Engkau akan melihat, Martopo, betapa aku dapat mencintai dan mengampunimu. Cintaku bisa mati hanya bila akupun telah mati. (IA TERSENYUM MELEHKAN AIR MATA) Dan tidakkah engkau baik dan setia, aku telah memalu? Aku adalah istri yang mengurung dirku sendiri  dan saya akan tetap tinggal setia sampai mati, dank au, kau, kau tak punya malu, monyet yang tercinta. Kau selalu mengajak bertengkar dan meninggalkan aku berminggu-minggu lamanya.

DARMO MASUK DENGAN GUGUP

DARMO                     :  Oh, nyonya, ada orang ingin bertemu dengan nyonya, mendesak untuk bertemu dengan nyonya…

NYONYA                  :  Sudah bapak katakana bahwa sejak kematian suami saya, saya tak mau menerima seorang tamupun?

DARMO                     :  Sudah, tetapi ia tidak mau mendengarkannya, katanya urusannya sangat penting.

NYONYA                  :  Sudah bapak katakana tak menerima tamu!?

DARMO                     :  Saya sudah berkata begitu, tetapi ia orang yang ganas, ia mencaci maki dan nekad saja masuk ke dalam kamar, ia sekarang sudah menerobos ke kamar makan.

NYONYA                  :  (MARAH SEKALI)

                                       Baiklah! Bawa dia kemari! Orang tak tahu adat!

DARMO KELUAR KE PINTU TENGAH

NYONYA                  :  Orang-orang tanpa guna! Apa pula yang mereka kehendaki dari saya! Kenapa mereka mengganggu ketentramanku? (MENGELUH) Ya, sekarang sudah tenang, saya harus masuk biara. (MERENUNG) Ya, biara.

BILAL MASUK DIIRINGI DARMO

BILAL                        :  (KEPADA DARMO)

                                       Orang goblog! Engkau terlalu banyak omong! Engkau keledai! (MELIHAT NYONYA MARTOPO, SOPAN)

                                       Nyonya, saya merasa terhormat untuk memperkenalkan diri saya. Mayor Lasykar Rakyat di jaman revolusi, sekarang mengundurkan diri dan menjadi pengusaha perkebunan, adapun nama saya: Baitul Bilal. Saya terpaksa menggangu nyonya untuk suatu urusan yang luar biasa mendesak.

NYONYA                  :  (RINGKAS) Tuan mau apa?

BILAL                        :  Almarhum suami nyonya, denga siapa saya merasa beruntung bisa bersahabat, meninggalkan kepada saya dua buah bon yang jumlahnya duabelas ribu rupiah. Berhubung saya harus membayar bunga untuk sebuah hutang di Bank Rakyat besok pagi, maka saya akan memohon kepada nyonya, hendaknya nyonya suka membayar hutang tersebut, hari ini.

NYONYA                  :  Dua belas ribu, suami saya ngebon apa saja pada tuan?

BILAL                        :  O, macam-macam, beras, kacang, kedelai, minyak dan oh, ya –dan juga rumput untuk kuda-kudanya.

NYONYA                  :  (DENGAN MENGELUH, KEPADA DARMO) Oh, rumput, Pak Darmo jangan lupa bahwa si Tobby harus diberi rumput duakali lipat hari ini.

DARMO KELUAR

Nyonya                       :  (KEPADA BILAL) Bila mas Martopo berhutang kepada tuan, tentu saya akan membayarnya, tapi sayang hari ini uangnya tidak ada pada saya. Besok pagi bendahara saya akan kembali dari kota, dan saya akan memintanya untuk membayar apa yang sepantasnya harus tuan terima, tapi, pada saat ini saya tidak bisa memenuhi permintaan tuan. Lebih daripada itu, baru tepat tujuh bulannya suami saya meninggal dunia dan saya tidak bernafsu untuk membicarakan masalah uang.

BILAL                        :  Dan saya sangat bernafsu untuk bunuh diri bila saya tak bisa membayar bunga hutang saya besok pagi. Mereka akan menyita perkebunan saya.

NYONYA                  :  Besok lusa tuan akan menerima uang itu.

BILAL                        :  saya tak membutuhkannya besok lusa, tapi hari ini.

NYONYA                  :  Saya menyesal, tapi hari ini saya tak bisa membayar.

BILAL                        :  Dan saya tak bisa menunggu sampai besok lusa.

NYONYA                  :  Tapia pa daya saya kalau memang tak punya uang hari ini?

BILAL                        :  Jadi nyonya tak bisa bayar.

NYONYA                  :  Tak bisa!

BILAL                        :  Hm, itukah kata nyonya yang terakhir?

NYONYA                  :  Yang terakhir.

BILAL                        :  Sungguh-sungguh.

NYONYA                  :  Sungguh-sungguh.

BILAL                        :  Terima kasih (MENGANGKAT BAHU)

                                       Dan mereka mengharapkan saya untuk menahan diri. Penagih Pajak di jalan tadi bertanya kepada saya, kenapa saya selalu kuatir? Saya membutuhkan uang, saya merasa leher saya terjerat. Sejak kemarin pagi saya meninggalkan rumah saya di waktu hari masih subuh dan menagih hutang kesana kemari. Seandainya ada saja yang membayar hutangnya kan lumayan juga! Tapi tidak! Saya telah berusaha keras. Setanpun menyaksikan bagaimana aku terpaksa menginap di penginapan terkutuk itu. Di dalam kamar yang sempit dengan balai-balai penuh kepiding! Dan akhirnya sekarang saya mengharap untuk menerima uang sekedarnya dan nyonya Cuma bilang “tidak bernafsu”.

                                       Kenapa saya tidak boleh khawatir begini halnya?

NYONYA                  :  Saya kira saya telah cukup menjelaskannya, bahwa bendahara akan kembali dari kota, dan kemudian tuan akan mendapatkan uang tuan kembali!

BILAL                        :  Saya datang tidak untuk bertemu  dengan bendahara nyonya, saya datang untuk bertemu dengan nyonya. Saya tak peduli pada bendahara itu! Demi syetan tidak peduli! – Maafkan bahasa saya ini!

NYONYA                  :  Sesungguhnyalah tuan, saya tak biasa dengan bahasa seperti itu, ataupun tingkah laku seperti itu, saya tidak bernafsu untuk berbicara lebih lanjut.

NYONYA MARTOPO PERGI KE KIRI

BILAL                        :  Apa bisa kukatakan sekarang? Tidak bernafsu. Tepat tujuh bulan setelah suaminya mati! Saya harus membayar bunga bukan? Suaminya mati begitu saja, bendaharanya pergi entak kemana – semoga ditelan syetan dia! Sekarang, terangkanlah, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus lari dari penagih dari Bank itu dengan helicopter. Ataukah saya harus membenturkan kepala saya ke tembok batu?

                                       Ketika saya datang ke Sudargo itu untuk menagih hutangnya, ia pakai taktik “tak ada di rumah” dan Irwan itu terang-terangan saja lari sembunyi, saya telah pula bertengkar dengan si KArto dan hampir-hampir saya lempar ia keluar jendela, Marno pura-pura sakit, dan wanita ini, “tak bernafsu” katanya! Tak seorangpun diantara mereka mau membayar hutang mereka! Dan semuanya ini sebab saya terlalu memanjakan mereka, saya terlalu ramah dan terlalu sopan santun. Saya terlalu lembut hati terhadap mereka! Tapi tunggulah! Saya tak akan membiarkan seseorangpun memperdayakan saya, syetan akan menghajar mereka! Saya akan tinggal di sini dan tak akan beranjak sebelum ia membayar utangnya!

                                       Brrr! Betapa marah saya! Betapa heibat marah saya! Segenap urat saya gemetar, karena marah dan saya hampir-hampir tak bisa bernafas! Oh, sampai-sampai saya hampir sakit. Syeitan! (MEMANGGIL)

                                       Mandor! Pak Mandor!

DARMO                     :  Ada apa?

BILAL                        :  Ambilkan saya kwas dan sitrun.

                                       (DARMO KELUAR)

                                       Nah, apa yang bisa kita perbuat. Ia tak punya uang kontan di dompetnya? Logika macam apa ini? Saya merasa terjerat leher saya, membutuhkan uang dengan sangat, dan hampir-hampir bunuh diri, dan ia tak mau membayar utangnya sebab ia tak bernafsu untuk memperbincangkan masalah uang. Inilah logika perempuan! Itulah sebabnya saya benci bicara dengan perempuan dan sekarang ini benci saya luar biasa. Lebih baik saya duduk di atas kotak dinamit daripada berbicara dengan perempuan!

                                       Brrr! Saya merasa dingin seperti es. Soal ini menyebabkan saya sangat marah. Melihat mahluk romantis seperti dia itu dari jauh saja sudah cukup untuk membuat orang berteriak minta tolong.

DARMO MASUK

DARMO                     :  (MEMBERIKAN SEGELAS AIR KWAS)

                                       Nyonya Martopo sakit dan tidak mau bicara dengan tamu.

BILAL                        :  Minggat!! (DARMO PERGI)

                                       Sakit dan tak mau bicara dengan tamu! Baiklah, boleh saja. Sayapun juga tak mau bicara! Saya akan duduk di sini dan tinggal di sini sampai kau bayar hutang saya. Kalau kau sakit seminggu, saya akan duduk di sini seminggu. Kalau kau sakit setahun, saya akan duduk di sini setahun. Seluruh isi sorga menjadi saksinya, saya harus mendapatkan kembali uang saya! Kau tidak akan mengguncangkan saya dengan duka citamu itu—dan juga tidak dengan alis matamu yang bagus itu! Bah! Aku tak lagi heran melihat alis matamu itu!

                                       (IA BERTERIAK KELUAR JENDELA)

                                       Ali! Lepaskan kuda dari kereta. Kita tak akan buru-buru pulang. Saya akan tinggal di sini. Katakana pada orang-orang di kandang itu supaya memberinya rumput. Dua kali lipat! Kuda yang kiri itu rewel sekali. Jangan dipukul, goblog! Ya, ya, boleh juga dipukul tapi pelan-pelan saja! Nah, begitu. (MENINGGALKAN JENDELA) Jahanam betul! Puasnya tak terkira, tak ada uang semalam tak bisa tidur dan sekarang, baju berkabung yang hitam dan “tidak bernafsu”.

                                       Kepala saya sakit, mungkin saya harus minum.

                                       Ya, saya harus minum.

                                       (MEMANGGIL)

                                       Mandor! Mandor!

DARMO MASUK

DARMO                     :  Ada apa?

BILAL                        :  Saya minta minum!

                                       (DARMO KELUAR. BILAL DUDUK LAGI DAN MELIHAT PADA PAKAIANNYA) Ugh, gagalnya sudah nyata. Tak bisa dibantah lagi. Debu, sepatu kotor, belum mandi, belum bersisir, jerami mengotori pakaian – nyonya itu barangkali mengira saya ini seorang garong. (IA MENGUAP)

                                       Memang agak kurang sopan masuk ke ruang tamu seperti pakaian seperti ini. Nah, ya, ya tak ada salahnya sampai sekarang. Saya datang kemari tidak sebagai tamu. Saya penagih hutang, dan taka pa pakaian yang khusus bagi penagih hutang !

DARMO                     :  (MASUK DENGAN SEGELAS KWAS)

                                       Wah, tuan tampak bebas betul di sini.

BILAL                        : (MARAH) Apa?

                                       Kepada siapa kau tujukan ucapanmu itu? Diam! Tak usah ngomong!

DARMO                     :  (MARAH) Kacau! Kacau! Orang ini tak mau pergi! (KELUAR)

BILAL                        :  Ya, syeitan, betapa marahnya saya! Cukup marah untuk melempari seluruh dunia ini dengan Lumpur! Sampai saya merasa sakit! – Mandor!

NYONYA MARTOPO MASUK DENGAN MATA MEREDUP KE BAWAH

NYONYA                  :  Tuan, selama hidup saya sepi ini saya tak bisa mendengar suara manusia dan saya tak bisa tahan mendengar bicara orang keras-keras. Saya minta kepada tuan, sukalah hendaknya supaya tidak menggangu kedamaian saya.

BILAL                        :  Bayarlah saya dan saya akan pergi.

NYONYA                  :  Tadi sudah saya katakana dengan jelas, dalam bahasa Indonesia bahwa saya tak punya uang kontan, tunggulah sampai besok lusa.

BILAL                        :  Dan sayapun merasa terhormat untuk menerangkan kepada nyonya, juga dalam bahasa Indonesia, bahwa saya membutuhkan uang sekarang tidak besok lusa.

NYONYA                  :  Tapi apa daya saya, bila saya tak punya uang?

BILAL                        :  Jadi nyonya tak akan membayar segera? Begitu bukan?

NYONYA                  :  Saya tak bisa.

BILAL                        :  Kalau begitu saya akan duduk di sini sampai saya mendapat uang. (IAPUN DUDUK)

                                       Nyonya akan membayar besok lusa? Bagus sekali! saya akan tinggal di sini sampai besok lusa. (MELOMPAT BANGKIT) Saya Tanya kepada nyonya, saya harus membayar bunga besok pagi, bukan? Ataukah nyonya kira saya Cuma berolok-olok?

NYONYA                  :  Tuan, saya minta tuan jangan berteriak. Ini bukan kandang kuda!

BILAL                        :  Saya bukannya sedang membicarakan kandang kuda, saya sedang bertanya, saya akan membayar bunga besok pagi bukan?

NYONYA                  :  Tuan tak tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita.

BILAL                        :  Tentu saja saya tahu.

NYONYA                  :  Tidak! Tuan tidak tahu! Tuan ini orang kampung, orang tak tahu adat! Seorang tuan yang terhormat tak akan bicara seperti itu di depan seorang wanita!

BILAL                        :  Wah, hebat betul! Nyonya tau, bagaimana seharusnya orang bicara kepada nyonya dalam bahasa Inggeris, barangkali? Dear lady, would yau like to lend me your beautiful eyes? Pardon me for having disturb you! What a beautiful wheather

                                       We are having today! Shell we meet again tomorrow?

                                       (MEMBUNGKUK MEMBERI HORMAT DENGAN CARA MENGEJEK)

NYONYA                  :  Sama sekali tak lucu, biadab namanya!

BILAL                        :  (MENIRU)

                                       Sama sekali tak lucu, biadab!

                                       Saya tak tahu bagaimana bersikap terhadap orang-orang wanita. Nyonya yang terhormat, sepanjang umur saya ini, saya telah melihat wanita lebih banyak daripada nyonya melihat burung gereja. Sudah tiga kali saya berkelahi karena urusan wanita, dua belas wanita telah saya tinggalkan dan sembilan wanita telah meninggalkan saya. Memang pernah pada saya bertingkah bagaikan bahasa yang bermadu, membungkuk-bungkuk, dan kemalu-maluan. Saya pernah mencinta, menderita, mengeluh kepada bulan, melelh disiksa oleh cinta. Saya pernah mencinta dengan dahsyat, mencinta sampai gila, mencinta dalam semua tangga nada, berkicau sebagai burung ketilang tentang emansipasi, mengorbankan separo dari harta bendaku dalam pengaruh nafsu yang lembut, tetapi sekarang, demi syeitan, itu semua telah cukup.

                                       Hambamu yang patuh ini tak mau lagi ditarik-tarik kesana kemari seperti lembu yang bodoh. Cukup! Mata yang hitam mata yang bergairah, bibir yang mungil, dekik di pipi, bisikan di terang bulan, keluh kesah yang menawan.

                                       Bah Untuk semua itu, nyonya, aku tak mau membayarnya setalen! Yang saya maksud bukannya teman saya berbicara sekarang, tetapi wanita pada umumnya, dari yang kecil sampai yang besar, mereka itu sombong hipokritis, cerewet, menjengkelkan, tak setia dari kaki sampai kepala, pongah tanpa guna, picisan, kejam dengan logika yang memusingkan, dan … (MEMUKUL DAHINYA) dalam hal ini, harap dimaafkan keterusterangan saya ini, seekor burung gereja dapat mengalahkan sepuluh filsuf yang memakai kebaya, apabila orang melihat seorang wanita yang romantis di depan matanya, maka ia lalu membayangkan bahkan yang dilihatnya itu suatu mahluk yang suci, begitu hebat sehingga apabila ia tersentuh oleh nafas mahluk itu maka iapun merasa dirinya terapung dalam lautan pesona yang mengagumkan, tetapi apabila orang melihat ke dalam jiwanya, tak lain tak bukan hanya buaya!

                                       (MENGHANTAM SEBUAH KURSI)

                                       Tetapi yang lebih buruk dari semuanya ialah bahwa buaya ini menganggap dirinya sebagai mahluk yang sangat artistik, seakan-akan mengambil monopoli sebagai mahluk yang menggiurkan. Biarlah syeitan menggantung diriku jungkir balik kalau memang ada yang pantas dicinta pada wanita!

                                       Apabila ia jatuh cinta, apa yang ia tahu Cuma mengaduk dan melelehkan air mata. Apabila lelakinya sudah mulai menderita dan suka berkorban, maka si wanita mulai melagak dan mencoba menyeret lelaki itu seperti keledai.

                                       Nyonya mempunyai nasib yang malang karena lahir sebagai seorang wanita, dan tentu saja nyonya tahu bagaimana sifat wanita itu, coba katakana pada saya, demi kehormatan nyonya apakah nyonya pernah menjumpai wanita yang benar-benar jujur dan setia? Tak pernah, tentu saja! Hanya wanita yang tua dan jelek saja yang bisa setia. Lebih gampang mencari kucing yang bertanduk atau gagak yang berbulu putih daripada mencari wanita yang bisa setia.

NYONYA                  :  Tapi ijinkanlah saya bertanya, siapakah yang jujur dan setia dalam bercinta? Lelaki, barangkali?

BILAL                        :  Ya, tepat sekali! Lelaki tentu saja!

NYONYA                  :  Lelaki ! (IA TERTAWA KASAR)

                                       Lelaki bisa jujur dan setia dalam bercinta! Nah, inilah suatu berita yang baru!

                                       (PAHIT)

                                       Bagaimana tuan sampai bisa berkata begitu?Lelaki jujur dan setia! Sementara sola ini sudah sampai begitu jauh, saya bisa menyatakan di sini bahwa dari segala lelaki yang saya kenal, suami saya adalah lelaki yang terbaik, saya mencintainya dengan hangat, dengan segenap jiwa saya, seperti yang hanya bisa dilakukan oleh seorang wanita yang muda dan bijaksana, saya serahkan kepada kemudaan saya, kebahagiaan saya, kekayaan saya dan hidup saya. Saya menyembah kepadanya sebagai seorang kafir. Dan apakah yang terjadi?

                                       Lelaki yang terbaik ini mengkhianati saya pada segala macam kesempatan….

                                       Setelah ia meninggal dunia, saya temukan laci mejanya penuh dengan surat-surat cinta. Ketika ia masih hidup ia suka meninggalkan saya berbulan-bulan lamanya, memikirkannya saja sudah ngeri. Ia bercinta-cintaan dengan wanita lain dihadapan saya, ia memboroskan uang saya, dan memperolok-olokkan perasaan saya, tetapitoh saya masih tetap jujur dan setia kepadanya. Dan lebih daripada itu, ia sudah mati dan saya masih tetap setia kepadanya. Saya kuburkan diri saya di dalam empat tembok ini dan saya akan tetap memakai baju hitam ini sampai keliang kubur saya.

BILAL                        :  (TERTAWA KAMPUNGAN)

                                       Berkabung! Nyonya berkabung! Nyonya kira saya ini apa? Jangan dikira saya tak tahu kenapa nyonya memakai baju bagus yang hitam ini dan mengubur diri nyonya diantara empat dinding ini! Rahasia macam itu. Betapa romantisnya! Nyonya mau meniru dongeng!

                                       Seorang bangsawan berkuda akan lewat di depan puri, ia akan berkata dalam hatinya: “Di sinilah tinggal sang putrid Candra Kirana, yang demi cintanya kepada suaminya telah mengubur dirinya dalam empat dinding kamarnya”.

                                       Oh, saya sudah mengerti akan sandiwara ini!

NYONYA                  :  (MELONCAT)

                                       Apa? Apa maksud tuan dengan mengatakan kata-kata itu kepadaku?

BILAL                        :  Nyonya telah mengubur hidup-hidup diri nyonya, tetapi sementara itu nyonya lupa tak lupa membedaki hidung nyonya!

NYONYA                  :  Alangkah lancangnya mulut tuan!

BILAL                        :  Saya mohon untuk tidak membentak saya, saya bukannya bendahara nyonya! Ijinkanlah saya menyebutkan kenyataan-kenyataan. Saya bukannya seorang wanita, dan saya sudah biasa serba berterus terang mengeluarkan apa isi hati saya. Maka dari itu dengan hormat saya minta, jangan menjerit.

NYONYA                  :  Saya tidak menjerit. Tuanlah yang menjerit. Saya minta tuan meninggalkan rumah ini!

BILAL                        :  Bayarlah dan saya akan pergi.

NYONYA                  :  Saya tak mau bayar!

BILAL                        :  Nyonya tak mau?1 Nyonya tak mau membayar uang yang menjadi hak saya?

NYONYA                  :  Saya tak perduli tuan mau bertindak apa? Satu rupiahpun saya tak mau membayar! Pergi dari sini!

BILAL                        :  Sebab saya bukan suami nyonya atau tunangan saya, maka janganlah nyonya membikin rebut.

                                       (DUDUK)

                                       Saya tak tahan lagi.

NYONYA                  :  (MENARIK NAFAS JENGKEL)

                                       Apakah tuan berniat akan duduk?

BILAL                        :  Saya memang sudah duduk.

NYONYA                  :  Dengan hormat, pergilah!

BILAL                        :  Dengan hormat, bayarlah uang saya!

NYONYA                  :  Saya tak sudi bicara dengan orang biadab. Pergi !

                                       (PAUSE)

                                       Pergi, atau tidak.

BILAL                        :  Tidak.

NYONYA                  :  Tidak ?

BILAL                        :  Tidak.

NYONYA                  :  (MENGEBEL, DARMO MASUK)

                                       Pak Darmo, antarkan tuan Baitul Bilal ini pergi.

DARMO                     :  (DENGAN GAGAH MENGHAMPIRI BILAL)

                                       Tuan, mengapa tuan tidak pergi kalau memang diminta pergi? Mau apa sebenarnya tuan ini?

BILAL                        :  (MELONCAT BANGUN)

                                       Kau kira kau bicara dengan siapa? Kugilas lumat-lumat kau nanti.

DARMO                     :  (MEMEGANG JANTUNGNYA) Ya Tuhan. (JATUH DI KURSI) Oh, saya sakit, saya tak bisa bernafas.

NYONYA                  :  Dimana Suto?

                                       (MEMANGGIL) Suto ! Suto !Amat ! Amat ! (MENGEBEL)

DARMO                     :  Mereka sedang pergi semua! Dan saya mendadak sakit. Oh, air!

NYONYA                  :  Tuan Baitul Bilal! Pergilah… Oh, pergi! Keluar!

BILAL                        :  Dengan hormat, agak sopankah sedikit!

NYONYA                  :  (MENINJU UDARA MENGHENTAKKAN KAKI)

                                       Engkau kasar! Engkau biadab! Engkau monyet!

BILAL                        :  Apa katamu?

NYONYA                  :  Engkau biadab, engkau monyet!

BILAL                        :  (CEPAT MENHAMPIRINYA)

                                       Ijinkanlah saya bertanya, atas hak apa nyonya menghina saya?

NYONYA                  :  Habis, mau apa lagi? Tuan kira saya takut pada tuan?

BILAL                        :  Nyonya kira karena nyonya ini mahluk yang romantis lalu nyonya bebas menghina saya tanpa mendapat balasan? Saya menentang nyonya!

DARMO                     :  Ya, Robbi! Air!

BILAL                        :  Ini harus diselesaikan dengan duel.

NYONYA                  :  Apakah tuan mengira karena tuan begitu gagah, lalu saya takut kepada tuan?

BILAL                        :  Saya jelaskan di sini bahwa saya tak mengijinkan seorangpun menghina saya, dan saya tak akan mengecualikan nyonya hanya semata-mata karena nyonya seorang wanita, seorang “sex yang lemah”, katanya.

NYONYA                  :  (MENCOBA MENGALAHKANNYA DENGAN TANGIS)

                                       Badak ! Kamu badak ! Badak!

BILAL                        :  Inilah saatnya untuk membuang tahyul lama yang beranggapan bahwa hanya lelaki saja yang harus memberi kepuasan. Bila ada persamaan antara laki dan wanita, mestinya persamaan itu dalam segala hal. Emansipasi wanita! Bah! Akhirnya toh ada batasnya! Inilah buktinya!

NYONYA                  :  Jadi tuan betul-betul menantang duel atau bagaimana? Baiklah…

BILAL                        :  Segera.

NYONYA                  :  Segera. Aku kurang berlatih tinju, tapi suamiku punya banyak senapan di sini. Beberapa tupai dan burung saja sudah gugur karenanya, dan sekarang senapan itu dengan mudah akan menggugurkan tuan juga.

BILAL                        :  Oh, senapan angin! Boleh saja!

NYONYA                  :  Dengan gembira saya akan menembus kepala tuan. Semoga tuan dimakan syeitan! (MENGAMBIL SENAPAN, MASUK)

BILAL                        :  Akan saya tembak alis matanya yang bagus itu. Saya bukan orang banyak cincong, bukan pula pemuda hijau yang sentimental. Bagi saya tak ada “sex yang lemah”.

DARMO                     :  Oh, tuan! (BERLUTUT) Kasihanilah saya, seorang tua seperti saya ini. Pergilah. Tuan sudah menakut-nakuti saya sampai hampir mati, dan sekarang tuan ingin berduel pula.

BILAL                        :  (TAK PERDULI) Ya, duel! Itulah persamaan, itulah emansipasi. Dengan begitu lelaki dan wanita sama. Saya akan menembaknya demi prinsip ini. Apalagi yang harus saya katakana terhadap wanita semacam dia.

                                       (MENIRUKAN) “Dengan gembira saya akan menembus kepala tuan. Semoga tuan dimakan syeitan!”

                                       Apalagi yang bisa dikatakan tentang ini? Ia marah, matanya berkilauan, ia menerima tantangan. Demi kehormatan saya, baru inilah pertama kalinya saya jumpai wanita seperti itu!

DARMO                     :  Oh, tuan. Pergilah. Pergi!

MASUK NYONYA MARTOPO, MEMBAWA DUA SENAPAN ANGIN

NYONYA                  :  Inilah senapannya. Tetapi sebelum kita berduel, saya minta ajarilah dulu caranya menembak.

                                       Saya agak kurang biasa dengan senapan tadinya.

DARMO                     :  Ya robbi, kasihanilah kami! Saya akan pergi dan memanggil orang. Oh, kenapa malapetaka ini menimpa kepala kami! (PERGI KELUAR)

BILAL                        :  (MEMERIKSA SENAPAN)

                                       Ini namanya senapan angin. Ya, ini pelurunya, memang bagus untuk menembak burung, tetapi ini lain dari senapan biasa, ya, ya, boleh juga.

                                       Lihatlah, BSA, caliber 5,5. Dua senapan ini harganya tak kurang dari dua belas ribu. Beginilah cara memakai.

                                       (KESAMPING)

                                       Aduh, alis matanya! Sungguh wanita sejati!

NYONYA                  :  Sudah ?

BILAL                        :  Ya, beginilah, lalu tariklah bila ditembakkan.

                                       (MENGAJAR)

                                       Begini – bidiklah. Coba miringkan sedikit kepala nyonya. Popornya harus tepat di bahu ini. Ya, begitu. Tangan hendaknya jangan kaku. Lemas tapi kuat – coba – ya, jangan gemetar. Pelan-pelan bernafas. Bidiklah baik-baik. – aha, enak bukan?

NYONYA                  :  Tak enak menembak di dalam rumah, marilah kita keluar kebun.

BILAL                        :  Ya, tapi saya belum selesai mengajar, saya beri contoh dulu. Saya ajar cobanya menembak ke udara.

NYONYA                  :  Terlalu! Itu tak perlu! Kenapa?

BILAL                        :  Sebab.. sebab. Itu urusan saya.

NYONYA                  :  Tuan takut? Ya, memang! Aaaah! Jangan begitu, tuan terhormat jangan gila-gilaan.

                                       Ayo, ikut saya. Saya belum merasa tentram sebelum membuat lubang di dahi tuan yang saya benci itu. Apakah tuan takut?

BILAL                        :  Ya, saya takut.

NYONYA                  :  Bohong! Kenapa tak mau bertempur?

BILAL                        :  Sebab…, sebab…, sebab…, saya suka kepada nyonya.

NYONYA                  :  (TERTAWA MARAH)

                                       Tuan suka saya! Begitu berani ya bilang kalau suka saya! (MENUNJUK) Pergi!!

BILAL                        :  (MELETAKKAN SENAPAN PELAN-PELAN DI ATAS MEJA, MENGAMBIL TOPINYA DAN PERGI KE PINTU. DI PINTU IA BERHENTI SEBENTAR DAN MENATAP NYONYA MARTOPO, LALU IA MENGHAMPIRINYA AGAK BIMBANG)

                                       Dengarlah! Apa nyonya masih marah? Saya begitu gila seperti syeitan, tetapi saya harap nyonya bisa mengerti, ah, bagaimana saya akan menyatakannya? Soalnya adalah begini…, soalnya ialah…, (MENINGGIKAN SUARA) Lihatlah apakah salah saya bahwa nyonya berhutang kepada saya? Saya tak bisa disalahkan bukan? Saya suka kepada nyonya! Mengertikah? Saya… saya hampir jatuh cinta.

NYONYA                  :  Pergi! Saya benci kepada tuan!

BILAL                        :  Ya, Robbi! Alangkah hebatnya wanita ini! Saya belum pernah melihat wanita yang sehebat ini. Saya kalah, remuk redam! Saya seperti tikus yang kena perangkap.

NYONYA                  :  Pergilah, atau saya tembak nanti!

BILAL                        :  Tembaklah! Nyonya tak tahu bagaimana bahagia rasanya mati di depan pandangan mata sepasang mata yang berkilauan itu. – ah, alisnya! – Mati ditembak oleh senapan angin yang dipegang oleh tangan yang halus dan mungil itu! Saya gila! Cobalah pertimbangkan baik-baik, dan cepatlah putuskan, sebab bila saya pergi sekarang, itu artinya kita tak akan pernah berjumpa lagi. Putuskanlah, bicaralah, — saya masih priyayi, orang terhormat, penghasilan saya sebulan tak kurang dari sepuluh ribu, saya bisa menembak burung yang sedang terbang. Saya banyak punya kuda yang bagus. Maukah nyonya menjadi istriku?

NYONYA                  :  (MEMBIDIK) Saya tembak!

BILAL                        :  Ah, saya bingung, saya kurang mengerti! – Mandor, air!

                                       Saya telah jatuh cinta seperti anak sekolahan saja.

                                       (IA MENJAMAH TANGAN NYONYA MURTOPO DAN WANITA ITUMENANGIS)

                                       Saya cinta kepadamu!

                                       (BERLUTUT)

                                       Saya belum pernah mencinta wanita seperti ini. Dua belas wanita telah saya tinggalkan dan sembilan meninggalkan saya, tetapi tak seorangpun pernah saya cintai sebagaimana saya mencintaimu. Saya sudah kalah, tunduk seperti orang tolol, saya meniarap dilantai memohon tanganmu.

                                       Terkutuklah saya ini! Sudah lima tahun saya tidak jatuh cinta, saya seperti sebuah kereta yang terkait pada kereta lain. Saya mohon pertolonganmu! Ya, atau tidak? Sudikah nyonya? –Baiklah!

                                       (IA BANGKIT DAN CEPAT-CEPAT MENUJU PINTU)

NYONYA                  :  Tunggu dulu!

BILAL                        :  (BERHENTI) Ya?

NYONYA                  :  Tidak apa-apa. Tuan boleh pergi. Tetapi tunggu dulu. Tidak, pergilah, pergi. Saya bensi kepada tuan. Atau… tidak, jangan pergi, oh,kalau tuan tahu bagaimana marah saya! (MEMBUANG SENAPAN)

                                       Jari saya linu-linu memegang barang seperti ini.

                                       (MENHAPUS AIR MATA DENGAN MARAH)

                                       Untuk apa tuan berdiri di situ? Keluar!

BILAL                        :  Selamat tinggal!

NYONYA                  :  Ya, pergilah

                                       (MENANGIS)

                                       Kenapa pergi? Tunggu! – Tidak, pergi! Oh alangkah marahnya saya ini!

                                       Jangan mendekat…, oh…, kemarilah…, jangan!… jangan dekat-dekat.

BILAL                        :  (MENGHAMPIRI)

                                       Saya marah kepada diri saya sendiri. Jatuh cinta seperti anak sekolah, berlutut dan menghiba-hiba. Saya merasa demam. (TEGAS) Saya cinta kepadamu. Ini sehat.

                                       Apa yang saya butuhkan, ialah jatuh cinta. Besok pagi saya harus membayar bunga ke bank, panen kopi sudah tiba, dan kemudian muncullah nyonya!

                                       (MENCIUM TANGAN NYONYA MARTOPO)

                                       Tak akan saya maafkan diri saya ini.

NYONYA                  :  Pergilah! Ngan cium di tangan saya!

                                       O, saya benci… saya benci… saya…

                                       (TANGANNYA YANG SATUNYA MEMBELAI KEPALA BILAL)

MASUK DARMO DAN DUA ORANG YANG LAINNYA.

MEREKA MEMBAWA SAPU, SABUT DAN SEKOP.

DARMO                     :  (TERPESONA)

                                       Ya, Tuhan! Ya, Robbi!

 

Yogyakarta, Februari 2007

Diketik ulang oleh studio teater PPPG Kesenian Yogyakarta

TAPLAK MEJA

TAPLAK MEJA

 

Karya Herlina Syarifudin

 

 

 

 

2008

 

 

 

 

 

PARA PELAKU

 

 

 

  1. PAKDE KEMPUL
  2. BUDE KIRANTI
  3. KEMPRUT
  4. WIRID
  5. GENTING
  6. JANTHIL
  7. SOWER
  8. PENGHULU
  9. ORANG TUA GENTING
  10. ORANG TUA KEMPRUT
  11. IBUNYA JANTHIL
  12. MAMANYA WIRID
  13. BEBERAPA FIGURAN UNTUK PERAN PARA UNDANGAN

 

 

PEMBUKA

Para aktor dengan kostum motif taplak meja dan hand prop taplak meja warna-warni dengan berbagai motif, membentuk koreografi gerak. Diiringi alunan musik dari bunyi-bunyian yang diambil dari perangkat sederhana. Misal perangkat rumah tangga, perangkat bengkel, dll. Tarian usai, mereka semua tertidur.

LAMPU BERUBAH

 

ADEGAN 1

Ruang kamar bersama di sebuah rumah singgah penampungan

anak-anak broken home, pagi hari.

PAKDE KEMPUL   : Woi…woi…bangun..bangun…!! Hobi kok begadang. Lupa ya? Hari ini hari apa? 

ANAK-ANAK         : (nada malas, kompak) Mingguuuuu….

WIRID                      : Iya Pakde. Insya Allah hari Minggu.

PAKDE KEMPUL   : We’ik. Weleh, weleh. Kalian ini, setiap ditanya hari ini hari apa, jawabnya selalu hari Minggu lagi, hari Minggu lagi.

SOWER                    : Lha iya toh, Pakde. Bagi kita, semua hari itu serasa lebih indah jika dibilang hari Minggu. Karena biar setiap hari bisa libur, bisa santai, bisa begadang, terus bisa bangun molooooorrrrr…

PAKDE KEMPUL   : (sewot manja) Lha iya toh, Wer. Biar bibirmu semakin ndoweeeerrr. Karena tiap hari ngileeerrr melulu, bikin pulau abstrak di sarung bantal buluk tercintamu itu. Sana, mumpung matahari sedang tersenyum manis, cepat dijemur bantal kamu itu.

SOWER                    : Sebentar, Pakde. Boleh tidak aku minta waktu 10 menit saja ?

PAKDE KEMPUL   :  Mau apa? Pasti mau nambah waktu ngorok 10 menit lagi. Iya kan? Untuk kali ini, permintaanmu tidak Pakde penuhi. Maaf ya, Wer.

SOWER                    : (menggerutu) Yach, Pakde. Ya sudah kalau begitu. Nanti malam aku mau balas dendam, tidur duluan.

PAKDE KEMPUL   : (senyum) Nah, begitu. Tidak baik anak muda kebanyakan tidur. Bakal banyak kehilangan peluang. Kata Mbah Buyutku dulu, kalau kita bangun keduluan ayam berkokok, rejeki kita bakal jauh.

KEMPRUT               : Tapi tidak ada hubungannya dengan kalau kebanyakan kentut kan, Pakde?

JANTHIL                  : Yee…takut ya…mentang-mentang itu angin cueknya tidak bisa direm.

GENTING                : Eh, tapi bisa jadi lho. Sekali kentut, akan mengurangi suhu badan sekitar 0,5 derajat celcius. Itu berarti, badan kita terasa lemas dalam waktu kurang lebih sekitar 1 menit.

WIRID                      : Ting, Ting. Bikin teori ngawur kok ya kebangeten. Kalau sampai teori ngawurmu itu didengar Engkong Einstein, bisa dirujak kamu.

PAKDE KEMPUL   : Rujak? Ouw, dari pagi tadi Pakde sudah ngidam rujaknya Mbok Cingur pojok. Sepertinya tamu kita dijamu rujak tolet dan rujak cingur saja. Pasti ketagihan.

GENTING                : Memang ada tamu siapa sih, Pakde? Sepertinya Pakde sumringah sekali. Pasti pacar baru ya?

PAKDE KEMPUL   : Pacar? Pakde belum sempat berpikir untuk pacaran lagi. Takut nanti trauma lagi.

WIRID                      : Subhanallah, Pakde. Tidak baik trauma berkepanjangan. Apa Pakde

                                     tidak ingin hidup bahagia? Punya anak, punya keluarga sakinah mawadah warohmah?

PAKDE KEMPUL   : Wirid, sebenarnya kamu itu ngomong buat Pakde apa buat dirimu sendiri? Apa kamu sendiri tidak rindu sama keluargamu?

WIRID                      : (sedih) Astaghfirullah, Pakde. Kumohon, jangan ungkit-ungkit lagi masalah itu. Kepalaku jadi pening. Kita kan sedang membicarakan Pakde. Kenapa jadi berbelok arah?

PAKDE KEMPUL   : Ok, maaf. Akan tiba masanya, kalian semua pasti akan merasakan rindu pulang, kangen keluarga. Balik lagi ke masalah Pakde, secara hati kecil, keinginan itu pasti ada. Tapi belum untuk saat ini. Karena Pakde sudah cukup merasa bahagia memiliki kalian semua. Kalian inilah keluarga Pakde.

JANTHIL                  : Tapi kita semua kan bandel-bandel, Pakde. Apa Pakde tidak bosan menghadapi keonaran kita?

KEMPRUT               : Eh, enak saja kamu bilang, Thil. Kamu itu yang suka bikin onar. Kalau aku kan onarnya alami. Dalam sehari, tidak mungkin kalian tidak kentut. Coba, kalau kalian tiba-tiba susah kentut? Pasti masalahnya makin runyam. Kemarin aku baca di surat kabar, gara-gara tidak bisa kentut dalam seminggu, akhirnya dirawat di rumah sakit. Makanya, kentut itu anugerah. Jadi wajib dipelihara baik-baik.

ANAK-ANAK         : Prrreeeeettttt….prut tuprut tuprut….preeetttt…

PAKDE KEMPUL   : (tertawa) Sudah, sudah. Tidak usah bertengkar. Justru kenakalan wajar kalian itu, hiburan bagi Pakde. Tanpa kalian, Pakde sepi. Terkadang di kala suntuk, godaan untuk kembali mangkal di jalanan selalu menghantui. Pakde tepis bayangan buruk itu. Pakde munculkan wajah-wajah kacau kalian. Akhirnya Pakde bisa tidur nyenyak.

GENTING                : Ngomong-ngomong masalah tamu tadi, kira-kira siapa gerangan tamunya, Pakde?

PAKDE KEMPUL   : Oh ya. Pakde kan tadi mau beli rujak buat tamu kita, jadi kepotong ngerumpi. Berbahagialah kalian. Karena sebentar lagi, kalian akan kedatangan guru baru.

ANAK-ANAK         : (serempak) Guru baru ?

SOWER                    : Guru buat apa, Pakde?

PAKDE KEMPUL   : Sudah lama Pakde punya cita-cita ingin buka sekolah gratis buat anak-anak broken home yang putus sekolah seperti kalian. Puji Tuhan, doa Pakde terkabul.

GENTING                : Sekolah? Asyik…aku mau cepat-cepat lulus dan dapat ranking biar dapat beasiswa.

WIRID                      : Masya Allah, Genting… Sekolah belum jalan, sudah ngomong lulus. Mentang-mentang dirimu yang paling pintar.

KEMPRUT               : Iya nih. Aku saja malah lupa cara menyontek yang baik dan benar.

JANTHIL                  : Dasar Kemprut. Yang diingat malah contekannya. Kamu niat ingin pintar tidak?

SOWER                    : Pintar dari hasil contekan itu juga tidak afdol.

GENTING                : Sower, Sower. Kamu tidak sadar kalau sudah membicarakan diri sendiri?

SOWER                    : (tersipu malu) Tapi Sower memang tidak terlalu ingin pintar. Bisa baca tulis saja, Sower sudah senang.

PAKDE KEMPUL   : Eh, eh, kok malah to be continue adu ayamnya. Mau tidak, Pakde datangkan guru buat kalian? Kalau tidak mau, tidak apa-apa. Nanti Pakde bisa cari anak-anak yang mau saja.

ANAK-ANAK         : (Serempak) Mau pakde…mauuuuu….

WIRID                      : Insya Allah pasti mau, Pakde.

GENTING                : Namanya siapa Pakde? Laki-laki atau perempuan? Kalau laki-laki, ganteng tidak? Terus kalau perempuan, cantik tidak?

WIRID                      : Inalillahi, Genting. Kamu ini niat sekolah apa niat cari jodoh?

KEMPRUT               : Iya nih, Genting. Dari tadi bibirnya seperti lubang pantatnya si Kemprut. Susah diremnya.

PAKDE KEMPUL   : Eits, mulai lagi. Nanti tak ambil kentongan lho. Biar sekalian Pakde jadi wasit. Yang kalah, nanti malam harus memijat Pakde. Bagaimana? Sepakat? 

ANAK-ANAK         : He..he…sudah Pakde. Maaf. Kapok.

GENTING                : Iya, Pakde. Silahkan dilanjut lagi soal guru barunya itu.

 PAK KEMPUL       : Guru baru itu seorang wanita. Lumayan cantik dan lembut hatinya. Namanya Tuti Kiranti. Biasa dipanggil Bude Kiranti. Dia teman SMA Pakde.

ANAK-ANAK         : Oh, Bude Kiranti.

WIRID                      : Semoga saja Bude Kiranti kerasan dan sabar menghadapi kita semua ya, Amiinnn.

PAKDE KEMPUL   : Tenang saja. Temanku itu sudah terbiasa dengan tipe-tipe anak selevel kalian. Karena dia juga punya rumah singgah seperti ini. Bedanya, anak-anak yang dia bina adalah anak jalanan yang benar-benar sudah tidak punya keluarga, apalagi rumah. Mereka semua benar-benar sebatang kara. Masih lebih beruntung kalian.

JANTHIL                  : (memotong) Ehm, Pakde…katanya mau beli rujak. Nanti keburu habis lho. 

PAKDE KEMPUL   : Ya sudah. Kalian juga cepat mandi dan beres-beres. Pokoknya Pakde ingin, pulang dari beli rujak, rumah sudah bersih dan rapi. Ok? (pergi)

ANAK-ANAK         : Siiipp, beres boosss..

KEMPRUT               : (teriak) Jangan lupa, Aku cabenya biasa Pakde. Yang paling pedaaas…!!

ANAK-ANAK         : Kemprruuuutt !!!

KEMPRUT               : He…he…iya..iya.. Yuk kita basah-basah.

GENTING                : Eh, aku dulu. Enak saja.

SOWER                    : Tidak bisa ! Aku dulu.

Anak-anak saling berebut masuk kamar mandi. Mengambil handuk masing-masing. Ada yang bawa gayung, ada yang bawa sikat gigi, ada pula yang bawa ember. Nyanyian Kamar Mandi disenandungkan dengan koreografi gerak unik yang mencerminkan karakter masing-masing peran.

Kemprat, kemprut, kemprat, kemprut

Gentang, genting, ewer…ewer…

Tang ting tang wer

Janthil…liwil…liwil…liwil…

Rit, irit, irit…weeerr

Gebyar, gebyur, gebyar, gebyur

Sok osok..osok… Sik..isik…isik…

Bersih badan, bersih hati

Bersih mulut, bersih ucap

Bersih rambut, bersih otak

Meski bandel, jago usil, raja nyontek, gemar ngiler, klemar-klemer

Tapi punya tampang lumayan, baik hati dan tidak sombong

Ayo…ayo…siapa mau daftar

Ketik reg spasi nama spasi foto….kirim ke bak sampah….ha…ha…ha….

Ah, ngawuuurrr…..jaka sembung bawa bubur..Mau dong…lapar nih…

LAMPU BERUBAH

 

ADEGAN 2

Teras depan rumah singgah Pakde Kempul, siang hari

Genting, Sower, Janthil, Wirid dan Kemprut berbaris di depan pintu, menyambut kedatangan Bude Kiranti. Tampak Bude Kiranti bersama Pakde Kempul, tak kuasa menahan tawa melihat gerakan unik dan nyanyian anak-anak itu.

Lagu Selamat Datang :

Selamat datang Bude Kir..Bude Kir..Bude Kiranti

Selamat datang di gubug reot tapi bikin nyaman hati

Selamat datang….selamat datang…selamat datang…

BUDE KIRANTI     : Ternyata kalian jago menyanyi dan menari juga. Bude salut. Ini pasti hasil karya Mas Kempul.

ANAK-ANAK         : (mencibir) Ihh, bukan Bude. Ini murni hasil karya kita.

GENTING                : Tapi memang sih, hasil didikan Pakde…

ANAK-ANAK         : (malu-malu) Iya…he…he…

WIRID                      : Insya Allah memang iya, Bude.

PAKDE KEMPUL   : Nah, anak-anak. Bude Kiranti telah hadir diantara kita. Hidangan istimewanya tadi mana? Tolong dikeluarkan sekarang. Pakde juga sudah lapar.

BUDE KIRANTI     :  Kamu ternyata tidak berubah. Kalau masalah makanan, pasti nomor satu. Ingat tidak, waktu kamu mentraktir teman-teman dulu?

PAKDE KEMPUL   : Ah, sudahlah. Tak bagus diungkit-ungkit. Kesannya jadi pamrih.

BUDE KIRANTI     : Bukan masalah pamrihnya. Cara kamu mentraktir teman-teman itu lho, yang sampai sekarang masih terkenang di benakku. Kau selalu urut abjad nama julukan unik teman-teman pada saat membagi makanan. Ingat tidak kamu, julukanku dulu apa?

PAKDE KEMPUL   : Pastilah aku masih ingat. Wondor Wongkang kan? Dan nasibmu selalu yang paling belakang. Trus, karena tidak tahan menunggu lama, kau selalu mondar-mandir ke toilet. Iya kan? (tertawa)

BUDE KIRANTI     : (tertawa) Ssstt!! Tidak enak, kamu ceritakan alasannya. Tidak sopan di depan anak-anak.

KEMPRUT               : Tenang saja Bude. Kita sudah terbiasa mendengar cerita-cerita yang paling parah sekalipun, kok.

JANTHIL                  : Iya Bude. Nanti Bude juga jangan kaget mendengar kisah-kisah kita. Pasti lebih kacau lagi.  

PAKDE KEMPUL   : Baiklah anak-anak, sebagai pembuka tak ada salahnya Bude Kiranti sedikit mendongeng pada kalian tentang apa dan bagaimana yang akan beliau lakukan di gubug reot kita ini. Silahkan, Ran.

BUDE KIRANTI     : Ok. Pasti Mas Kempul sudah sedikit cuap-cuap pada kalian, tentang tujuan Bude datang kesini. Sebenarnya sederhana saja. Dulu semasa di SMA, kita berdua bersahabat, cukup dekat. Dan tanpa sengaja, ternyata kita berdua sama-sama punya cita-cita ingin bergelut dengan para remaja yang bermasalah, baik dengan keluarganya maupun dengan lingkungan pergaulannya. Karena kita merasa kasihan jika melihat remaja-remaja berkualitas, harus putus harapan di tengah jalan karena faktor x yang sebenarnya masih bisa dicari solusinya. Mungkin karena masalah kematangan pola pikir yang masih jadi kendala. Tidak adanya sosok yang tepat yang mau mengerti kemauan mereka. Tekanan dan tuntutan berlebihan para orang tua dalam hal masa depan anaknyapun bisa membuat para remaja itu jadi frustasi. Masa remaja adalah masa pertumbuhan yang menurut Bude cukup unik. Proses pertumbuhan dan perubahan pola pikir itu ada pada masa remaja. Makanya hati-hati dengan usia remaja. Kalau benteng kita tidak kuat, maka kita akan mudah rapuh. Kalau benteng kita kuat, kita tinggal memilih. Mengikuti jalur yang ditentukan atau membuat pilihan sendiri. Pada saat Mas Kempul bercerita perihal keseharian dan kepribadian kalian semua, terus terang aku cukup tertarik dan tertantang untuk segera bertemu dengan kalian.

SOWER                    : (memotong) Maaf Bude. Dari tadi perut saya sudah berkeroncong ria terus. Boleh tidak, jika Bude…

PAKDE KEMPUL   : Sower, sstt!! (sedikit menggugam) Kamu itu mbok dijaga bibirnya !

SOWER                    : Maaf, Pakde. Maksud saya, boleh tidak jika Bude Kiranti mencicipi rujak toletnya barang sepotong? Soalnya, dari tadi perutku sudah gonjang-ganjing.

JANTHIL                  : Iya, Pakde. Kepalaku juga terasa pening mendengar apa yang diungkapkan Bude Kiranti. Terlalu berat.

WIRID                      : Subhanallah, maklum Bude. Kita semua memang anti yang panjang-panjang. Jaman sekarang semua serba praktis dan cepat.

KEMPRUT               : Seperti halnya angin cuekku. Tanpa kompromi, tiba-tiba wuusss..

GENTING                : Kemprut ! Yang sopan sedikit dong.

PAKDE KEMPUL   : Aduh, jadi tidak enak aku. Maafkan perilaku anak-anak ini ya, Ran. Memang ini salah satu kelemahan mereka yang masih susah aku taklukkan.

GENTING                : Kalau tidak enak, mendingan makan nasi kucing saja Pakde.

PAKDE KEMPUL   : Huss! Genting. Sekarang ini kita forumnya sedikit agak serius. Ada kalanya bercanda, tapi kalian juga harus menghormati yang serius walau kalian tidak suka. Sepertinya kalian memang masih harus banyak belajar. Maka itu, tepat kiranya jika Pakde datangkan Bude Kiranti.

BUDE KIRANTI     : Tidak apa-apa kok, Mas. Saya sangat paham psikologis anak-anak tipe mereka. Tenang saja. Resiko pekerjaan kita, harus jauh-jauh dari kamus tersinggung atau sensitif. Semua harus disikapi dengan ringan dan jiwa besar. Tidak sadarkah dirimu, bagaimana masa remaja kita dulu? Aku rindu dengan masa remajaku sendiri. Kehadiran anak-anak ini semoga bisa jadi nostalgia masa remaja kita dulu.

WIRID                      : Ahlan wa sahlan… kok jadi seperti nonton sinetron. Judul sinetronnya Nostalgia Bude Kiranti dan Pakde Kempul.

Semua tertawa terbahak-bahak sambil sesekali diam-diam si Sower mencomot potongan buah rujak tolet di hadapannya.

GENTING                : Pakde, Sower mengambil kesempatan dalam keriuhan nih…

SOWER                    : Enak saja. Aku kan cuma sekedar coba-coba. Siapa tahu rasanya berubah.

KEMPRUT               : Dasar, alasan. Bilang saja kalau dari tadi sudah tidak kuat menahan godaan.

PAKDE KEMPUL   : Ya sudah, sudah. Sekarang, sedikit lagi ya mohon sabar. Ran, langsung saja kau beritahu tentang CBSA itu.

BUDE KIRANTI     : Siip. Jadi begini anak-anak, disini nanti Bude akan menemani kalian dalam proses CBSA. Yaitu proses Cara Belajar Siswa Aktif dengan metode PAKEM. Yaitu pembelajaran kreatif, aktif dan menyenangkan. Kalian akan mendapatkan pelajaran seperti halnya yang didapatkan teman-teman seusia kalian di sekolah. Istilah keren masa kini adalah Home Schooling.

WIRID                      : Masya Allah? Home Schooling? (diucapkan sesuai dengan bunyi vokal aslinya) Dengar-dengar, biayanya kan mahal itu Bude.

GENTING                : Iya. Itu kan yang pernah muncul juga di televisi. Kalau tidak salah waktu itu ada Kak Seto sama Kak Hughes.

BUDE KIRANTI     : Ternyata, kalian cukup brilliant juga ya.

SOWER                    : Bri..li..an? Maksud ibu ber..li..an? Lidah ibu keblibet ya, bilang berlian jadi brilian? Kalau kita berlian, berarti kita bisa dijual mahal dong.

KEMPRUT               : Iya. Nanti masuk surat kabar. Judulnya Kasus Jual Beli Anak Semakin Merajalela.

BUDE KIRANTI     : (senyum, geleng-geleng kepala) Brilliant itu salah satu kata dalam bahasa inggris. Yang artinya cerdas atau cemerlang.

GENTING                : Cerdas? Jelas, pasti itu Bude. Kalau tidak, mana mungkin Pakde Kempul mau terima kita. Iya kan Pakde?

JANTHIL                  : Dasar egois. Promosi diri terus. Mendingan kamu buka warung jamu saja. Atau buka lapak obat tradisional di pinggir jalan yang pakai toak. Pasti laku keras.

PAKDE KEMPUL   : Perhatian, perhatian..!! Sepertinya rujak tolet dan rujak cingurnya sudah mulai teriak-teriak ingin segera dimangsa.

Anak-anak langsung berebut mencomot rujak. Tapi dicegah oleh Pakde Kempul.

PAKDE KEMPUL   : Eits, tunggu dulu. Lupa ya dengan tradisi makan di rumah ini?

ANAK-ANAK         : Oh, iya ya. (menyanyi) Mangan ora mangan, sing penting ngumpul. Penak opo ora penak, sing penting wareg. (membaca doa sebelum makan) Ji… lu… nem… nang…ning, ning… nang… ning… gong… nyam.. nyam… Biyuh, uenaak tenaaann…

WIRID                      : Alhamdu…

ANAK-ANAK         : lillah…

PAKDE KEMPUL   : Ayo, Ran. Langsung tancap. Jangan bengong.

BUDE KIRANTI     : (senyum bahagia) Ada ada saja anak-anakmu ini.

PAKDE KEMPUL   : Ini masih babak permulaan. Nanti kamu akan menemukan ritual-ritual kita yang lain. Ayo, sekarang kamu tidak perlu menunggu giliran traktiran dariku.

BUDE KIRANTI     : (genit) Ih, Mas Kempul. Jadi kangen aku dengan suasana saat itu.

PAKDE KEMPUL   : (berpantun) Buru-buru makan rujak, karena perut sudah teriak. Rujak tolet, rujak cingur. Lidah melet, pedas sesak bagai makan sambal ubur-ubur.

BUDE KIRANTI     : (tertawa) Bikin pantun kok maksa. Norak ah, kamu.

PAKDE KEMPUL   : Pelan-pelan saja anak-anak. Tidak usah berebut.

BUDE KIRANTI     : Eh, itu si Kemprut. Hati-hati. Awas, jangan miring-miring piringmu. Tuh, kan. Yach..taplak mejanya ketetesan bumbu rujak.

ANAK-ANAK         : (serempak)Hayo, Kemprut, hayo Kemprut. Cuci, cuci. Cuci, cuci. Cucian deh kamu, wek…wek…wek…

Suasana ramah tamah berlangsung cair.

LAMPU BERUBAH

 

ADEGAN 3

Ruang tamu di rumah singgah Pakde Kempul, 1 tahun kemudian, siang hari.

Tampak beberapa meja kecil ditata sederhana dialasi tikar agak buluk. Uniknya, semua meja diberi alas taplak meja.

SOWER                    : Bude, kenapa semua meja diberi alas taplak meja? Seperti pertemuan ibu-ibu PKK saja.

WIRID                      : Mamaku juga kalau ada acara arisan di rumah, pasti langsung pamer taplak meja baru.

KEMPRUT               : Hati-hati, Wer. Jangan sampai taplak mejanya ternoda sama tetesan ilermu.

JANTHIL                  : Aku tahu, kenapa Bude Kiranti memberlakukan sistem ini.

GENTING                : Aku juga. Tapi aku sengaja diam saja. Biar Bude Kiranti saja yang menjelaskan. Takutnya, alasanku salah dan dibilang sok tahu.

BUDE KIRANTI     : Tidak apa-apa, Genting. Kalau salah kan, nanti Bude arahkan.

GENTING                : (sok malu-malu) Bude saja. Biar lebih akurat.

KEMPRUT               : Alaahh, mancing-mancing. Bilang saja, kalau memang tidak tahu. Tidak usah pakai lagak akting sok tahu.

BUDE KIRANTI     : Sudah, sudah. Baiklah, Bude akan jelaskan. Bude sangat paham kebiasaan buruk kalian waktu di sekolah dulu. Dan hampir semua siswa punya kebiasaan buruk itu. Hal itu memang wajar. Tapi apa kalian bisa bangga dan puas dengan prestasi kalian yang ternyata diperoleh tidak murni dari jerih payah belajar kalian? Sekarang memang tidak akan terasa dampaknya. Tapi nanti, jika kalian terjun di masyarakat. Semuanya akan terbongkar. Banyak lulusan sarjana yang indeks prestasi kumulatifnya 3 koma lebih. Tapi ternyata, aplikasi di lapangan, nol besar.

SOWER                    : Jadi inti alasannya kenapa Bude?

PAKDE KEMPUL   : Soweeerr! Lagi-lagi ya, bibirmu sepertinya juga harus disekolahkan.

BUDE KIRANTI     : Tenang, Mas. Tidak apa-apa. Santai saja. Intinya, kalian dilarang mencontek. Maka itu Bude pasang taplak meja. Ingat tidak, waktu kalian di sekolah dulu? Di bangku-bangku sekolah kalian, pasti banyak coretan contekan. Walau ada juga yang via tulisan di lembaran tissue, atau kertas yang dilinting kecil. Akting-akting tolah-toleh juga kan? Atau duduk bersandar, tapi mata memandang ke bawah, ke dalam laci bangku, kemudian membuka pelan-pelan lembar demi lembar contekan di buku.

PAKDE KEMPUL   : Sekarang, terserah kalian. Pakde dan Bude cuma ingin berbuat yang terbaik demi masa depan kalian. Itu juga kalau memang kalian masih punya impian ke depan. Tapi kalau kalian ingin begini-begini saja, juga tidak apa-apa. Tapi penyesalan kemudian, jangan sampai menyusahkan banyak orang. Taplak ini juga Pakde dapat pinjam dari perkumpulan PKK Kelurahan. Kalau ujian kalian usai, harus segera dikembalikan.

KEMPRUT               : Terus, kalau kita nanti ujian lagi, Pakde pinjam lagi? Begitu?

BUDE KIRANTI     : Semalam saya coba usul sama Mas Kempul, bagaimana jika kalian semua berusaha mendapatkan taplak meja masing-masing dengan cara kalian masing-masing. Strategi ini juga salah satu ilmu yang mengajarkan pada kalian, bahwa jika ingin meraih segala sesuatu baik prestasi, cita-cita, keinginan, dan lain-lain itu jalur tidak mudah. Butuh perjuangan dan pengorbanan. Dari jaman Indonesia belum merdeka sampai sekarang pun yang sebenarnya juga belum merdeka, tidak ada kata usai dalam sebuah perjuangan. Di hari kiamatpun, kita masih berjuang terhadap buah tingkah laku kita selama di dunia.

GENTING                : Mencari taplak meja sendiri? Wah, asyik itu. Permainan yang menyenangkan.

WIRID                      : (keceplosan) Insya Allah, aku bisa minta salah satu taplak meja mamaku nanti.

Mendengar jawaban Wirid, Pakde Kempul dan Bude Kiranti saling pandang dan tersenyum penuh arti.

BUDE KIRANTI     : Ok, untuk sementara diskusi taplak mejanya kita tutup sampai disini. Ayo anak-anak, siapkan kertas dan pensil masing-masing. Kita mulai dari ujian mencongak. Setiap pertanyaan, Bude beri waktu 1 menit untuk menuliskan jawabannya. Mas Kempul, stopwatchnya sudah siap kan?

PAKDE KEMPUL   : Mantan wasit timer, tenang saja Ran. Sudah digenggaman, tinggal pencet saja.  

BUDE KIRANTI     : Sudah siap semua?

ANAK-ANAK         : (serempak) Siaaappp…

WIRID                      : Insya Allah siap.

BUDE KIRANTI     : Nomor satu. Berapakah hasil akhir 25 x 3 – 25 : 2 ? Jawab dari… sekarang !

LAMPU BERUBAH

 

ADEGAN 4

Teras depan rumah singgah Pakde Kempul, malam hari

GENTING                : Bagaimana hasil pencarian taplak meja kalian? Apa sudah ada yang dapat?

KEMPRUT               : Nihil.

JANTHIL                  : Aku juga. Bingung mau cari kemana.

SOWER                    : Bukankah waktu itu Wirid pernah cerita perihal mamanya yang hobi beli taplak meja?

WIRID                      : Na’udzubillah, itu dia yang aku juga bingung. Bagaimana caraku minta sama mama. Pasti yang ada aku dimarahi dan disuruh pulang nantinya. Males ah.

KEMPRUT               : Aku punya ide. Tapi agak gila sih dan beresiko tinggi.

GENTING                : Aku tahu jalan pikirannya si Kemprut. Pasti kamu mau kita semua diam-diam mencuri taplak meja di rumahnya si Wirid. Iya kan?

KEMPRUT               : Apa boleh buat. Uang saja, sepeserpun kita tak pegang. Apa kita mau ngamen lagi? Aku lagi alergi bus kota sekarang-sekarang ini.

JANTHIL                  : Aku juga. Nanti wajah kita malah ketahuan publik. Ada yang lapor, trus kita dipulangkan ke rumah masing-masing. Males, ah. Aku masih belum siap untuk pulang.

WIRID                      : Astaghfirullah, ampuni dosa-dosa kami, Tuhan. Apa tidak ada jalan lain teman-teman?

GENTING                : Susah juga ya. Aku sendiri tumben hari ini agak lambat otak.

KEMPRUT               : He, eh. Biasanya kamu kan paling cepat dapat ide…. apa kata Bude Kiranti waktu itu? Bril….ber…aduh, susah juga lidahnya.

GENTING                : Brilliant.

KEMPRUT               : Ya…bril…li…an..

SOWER                    : (menguap) Ngantuk nih. Sepertinya lebih baik aku tidur dulu ya. Siapa tahu nanti dapat mimpi ide bril..li..an..

JANTHIL                  : Dasar tukang ngiler, hobinya molor terus. Eh, awas ya, jangan lagi-lagi kamu usik bantalku.

SOWER                    : Beres, Thil. Paling-paling juga aku cuma numpang bikin kepulauan saja kok. (tertawa menyindir sambil lari masuk ke kamar)

JANTHIL                  : (teriak) Soweeeeerrr !! Awas kamu ya, pembalasan lebih kejam. Lihat saja nanti !

WIRID                      : Masya Allah….Janthil, sudah dong. Jangan teriak-teriak. Sudah malam. Nanti terdengar Pakde Kempul bisa runyam kita. Bagaimana ini? Aku benar-benar buntu ide nih.

KEMPRUT               : Ya sudah. Daripada semua nihil, mendingan kita pikirkan saja matang-matang ideku itu.

WIRID                      : Astaghfirullah….Kemprut. Maafkan Kemprut, Tuhan. Sepertinya aku tidak setuju.

JANTHIL                  : Aku juga.

GENTING                : Me too.

KEMPRUT               : Lha, kok semua pada mundur. Dasar pengecut kalian. Ya sudah, mendingan aku curi taplak meja di rumahku sendiri saja. Tidak peduli masih bagus atau tidak, yang penting aku sudah dapat taplak meja.

GENTING                : Tidak kasihan kamu pada Pakde Kempul? Akibat perbuatan konyolmu itu, jika ketahuan, Pakde akan ikut menanggung akibatnya. Aduh Kemprut, kamu itu sudah kerasukan setan jail darimana sih, sampai hati punya ide sebodoh itu?

KEMPRUT               : Habis, kalian sih. Tenang-tenang saja dari kemarin-kemarin. Tidak ada gerakan sedikitpun yang memperlihatkan hasil.

JANTHIL                  : Apa boleh buat. Aku menyerah saja. Biarkan aku tidak ikut ujian lagi karena tidak punya taplak meja. Aku juga tidak butuh ijasah kok. Aku kerja apa saja oks, yang penting halal. Toh, profesi tukang parkir saja tidak pakai ijasah formal. Kalau perlu usaha sendiri. Entah usaha apa saja. Kok, jadi ngelantur begini aku.

WIRID                      : Taplak meja. Taplak meja. Benda sederhana tapi ternyata juga bisa bikin puyeng kepala.

Tiba-tiba terdengar suara dari ruang tengah (Voice Offer). Overlap anak-anak langsung hening sambil mengendap-endap mendengarkan pembicaraan antara Pakde Kempul dan Bude Kiranti.

 PAKDE KEMPUL  : Ternyata idemu tentang taplak meja boleh juga. Aku yakin, mereka tidak bakal berani mencari uang untuk beli taplak meja baru dengan jalan mengamen lagi.

BUDE KIRANTI     : Tapi kamu juga harus hati-hati lho. Foto-foto mereka sudah mulai banyak tersebar di luar sana.

PAKDE KEMPUL   : Itu juga yang bikin aku khawatir dan deg-degan. Sebenarnya aku ingin memulangkan mereka dalam waktu dekat ini. Tapi aku belum menemukan waktu sekaligus cara yang tepat.

 BUDE KIRANTI    : Yach, semoga ide taplak meja ini adalah cara jitu agar mereka bisa segera kembali pada keluarganya masing-masing tanpa embel-embel kamu sebagai korban salah paham.

PAKDE KEMPUL   : Ssstt !! Aku curiga, jangan-jangan anak-anak mendengar pembicaraan kita. Kita ke teras depan saja, yuk.

Meneruskan dialog sambil berjalan menuju teras depan. Anak-anak pelan-pelan bersembunyi di balik tembok samping rumah.

BUDE KIRANTI     : (mengalihkan pembicaraan) Mas, ingat tidak waktu kamu main ke rumahku? Terus kamu dimarahi mamaku karena tak sengaja taplak meja di rumahku lobang, terkena puntung rokokmu.

PAKDE KEMPUL   : (tertawa) Iya…iya…aku ingat sekali peristiwa itu. Sampai sekarang aku juga masih ingat raut wajah mamamu waktu marahi aku. Gara-gara taplaknya bolong, akhirnya aku tidak boleh lagi main ke rumahmu. Lagak marahnya sudah seperti menolak calon menantu saja. Sedih sekali rasanya waktu itu.

BUDE KIRANTI     : Tapi sekarang kau bisa bebas main ke rumah tanpa kena omel mamaku lagi. Beliau sudah almarhum, 5 tahun yang lalu karena penyakit lamanya, tekanan darah tinggi.

PAKDE KEMPUL   : Inalillahi wa inna ilaihi roji’un. Turut berduka cita ya, Ran.   

 BUDE KIRANTI    : Terima kasih, Mas. Kita semua pasti akan kembali pada-Nya. Jadi sudahlah, tidak usah terlalu bersedih. (Ekspresi berubah, tersipu malu) Bagaimana kabar hatimu saat ini? Kapan menikah?

PAKDE KEMPUL   : Menikah? Sama siapa jeng? Mana ada yang mau sama bencong seperti aku. (diam sesaat) Jujur saja, semenjak kita putus hubungan beberapa tahun yang lalu, kehidupan pribadiku jadi berantakan. Godaan untuk kembali suka pada sesama jenis, tiap malam selalu muncul dalam mimpiku. Bersyukur, Tuhan masih sayang padaku. Akhirnya aku bisa melampiaskan pada hal-hal positif di rumah singgah ini. Sepi hatiku hanya anak-anak ini yang bisa menghibur. Kamu sendiri bagaimana? Aku dengar, tahun depan kamu akan menikah?

BUDE KIRANTI     : Kabar yang kamu dengar itu memang benar adanya. Tapi anehnya, semakin dekat waktu menuju ke persiapan pernikahan, tiba-tiba bayang wajahmu muncul begitu saja. Gejala apakah ini? Tiap malam aku tahajud dan istikharoh. Sampai akhirnya skenario Tuhan membuat alur pertemuan kita ini.

PAKDE KEMPUL   : Itu berarti?

BUDE KIRANTI     : Aku juga tidak tahu. Hatiku kini bimbang. Entah mengapa, perasaanku padamu tiba-tiba muncul kembali dan begitu kuat mendominasi hatiku saat ini.

PAKDE KEMPUL   : Benarkah itu? Mengapa kita mengalami hal yang sama? Hanya saja aku belum berani mengatakannya. Karena aku tahu, pasti akan ada waktu yang tepat untuk itu. Dan mungkin saja waktu itu adalah saat ini.

BUDE KIRANTI     : Bisa jadi. So…

PAKDE KEMPUL   : Ranti…

BUDE KIRANTI     : Mas…

Tiba-tiba anak-anak keluar dari persembunyiannya dan mengejutkan mereka berdua.

ANAK-ANAK         : Uhuy…uhuy…ciee…cieee…cieee…(menyenandungkan lagu Kebo Giro)

GENTING                : Wah, kapan nih rame-ramenya?

KEMPRUT               : Pasukan pagar betis..eh…salah..pagar ayu dan pagar bagus siaaap….

PAKDE KEMPUL   : (salah tingkah) Kalian ini bicara apa sih?

BUDE KIRANTI     : Iya… Ramai-ramai apa? Kok pakai pagar ayu dan pagar bagus segala? Siapa yang mau menikah?

SOWER                    : Cieee, sekarang Bude Kir yang jadi sok polos.

PAKDE KEMPUL   : Eh, dengar ya, Pakde tahu kok kalau kalian tadi mendengar pembicaraan kita. Wong tadi itu Pakde sedang latihan drama sama Ranti.

BUDE KIRANTI     : (salah tingkah) Iya, he, eh. Minggu depan ada pementasan teater. Kebetulan kita berdua terlibat, jadi dimanapun mumpung ketemu harus dimanfaatkan buat latihan.

JANTHIL                  : Ya jelas, lah. Orang menikahpun butuh latihan, biar tidak kaku waktu mengucapkan akad di hadapan penghulu.

WIRID                      : Alhamdulillah. Akhirnya Pakde temukan juga si jantung hati yang selama ini menghilang.

GENTING                : Dari awal aku sudah curiga. Karena mimik muka Pakde waktu menceritakan bahwa kita akan kedatangan tamu, benar-benar sumringah. Seperti menunggu kedatangan putri impiannya. Ternyata, dugaanku tidak meleset kan?

PAKDE KEMPUL   : Ayo, ayo…hari sudah makin larut. Kalian masih punya PR taplak meja karena minggu depan Bude Kiranti akan mengadakan ujian lagi. Sudah, sekarang kalian semua tidur. Awas, ti-dur. Tidak pakai embel-embel begadang lagi walau cuma 10 menit saja, ok. Sudah sana, ke kamar kalian. Pakde mau mengantarkan Bude Kiranti pulang dulu. Awas ya, kalau Pakde pulang nanti ternyata hawanya belum terasa kalian seperti tidur pulas, awas! Seperti biasa, sanksi umum tetap berjalan. Mumpung badan pakde terasa pegal-pegal nih.

ANAK-ANAK         : (serempak) Beres Pakde. (berjalan menuju ke kamar beriringan sambil menyenandungkan musik Kebo Giro)

LAMPU BERUBAH

 

ADEGAN 5

Suasana rumah singgah berubah menjadi suasana akad nikah. Hiasan sederhana hasil karya Genting, Sower, Kemprut, Janthil dan Wirid menghiasi seluruh ruangan. Di atas pintu depan tertempel tulisan ”Mohon Doa Restu”

GENTING                : Orang tuaku mungkin agak terlambat datang. Karena ambil raport adikku dulu di sekolah.

SOWER                    : Kalau mama papaku tadi telpon, katanya pesawat untuk hari ini sudah penuh. Jadi mereka baru sampai di Indonesia besok. Katanya titip salam saja. Trus kadonya sudah dipaketkan, mungkin nanti sore sampai.

JANTHIL                  : Ibuku sudah dalam perjalanan, bareng sama orang tuanya Kemprut. Soalnya mobilnya dipakai bapakku buat meeting ke luar kota.

KEMPRUT               : 10 menit lagi sampai kok. Ini baru sms.

WIRID                      : Pasti kado yang paling indah adalah buatan mamaku. Nanti kalian lihat ya, baju pengantin yang dibuatkan mama untuk Bu Kiranti. Bahannya unik lho. Mamaku yang mendisain sendiri. Paduan motif-motif taplak meja. Rencananya Bude Kiranti sekalian dijadikan model mama buat launching peragaan busana terbarunya. Teman-teman desainer mama cukup terkejut dengan ide busana pengantin dari taplak meja itu.

KEMPRUT               : Oh, ya. Sebentar, aku mau telpon mama dulu. Hallo, Mama. Mas kawin taplak mejanya dapat kan, yang modelnya persis seperti yang aku bilang?

MAMA KEMPRUT : (voice offer) Tenang, sayang. Mama bikin hampir mirip dengan aslinya. Sudah ya sayang, ini mama sudah mau sampai. Mau cari parkiran dulu. Daagghh, sayang..

JANTHIL                  : Memang taplak meja yang persis bagaimana sih Prut?

GENTING                : Dasar Janthil bolot. Masa kamu lupa pembicaraan Pakde dan Bude Kir waktu kita intip bareng-bareng?

JANTHIL                  : (berlagak mikir) Oh….ya…ya…ingat aku sekarang. Terkadang Kemprut bril…bril…aduh apa sih Ting? Lupa lagi aku.

ANAK-ANAK         : (serempak) Bril…li..ant !!

JANTHIL                  : Ya..ya..maksudku itu. Ya, itu maksudku.

GENTING                : Ayo, ayo…kita siap-siap. 10 menit lagi acara akad nikah mulai. Tapi, ngomong-ngomong, dari tadi kok Pakde tidak kelihatan. Kemana ya?

ANAK-ANAK         : Iya, yuk kita cari. Pakde…Pakde…

Ada suara muncul dari dalam kamar mandi (Voice Offer).

PAKDE KEMPUL   : Sebentaaar. Lagi tanggung nih. Sedikit lagi selesai.

KEMPRUT               : Walah, Pakde rupanya bisa grogi juga.

WIRID                      : Iya. Sampai-sampai betah berjam-jam mendekam di kamar mandi.

GENTING                : Pakde… (mengetuk pintu kamar mandi)…Pakde…5 menit lagi acara dimulai lho. Apa tidak bisa ditunda sebentar, buat stock nanti setelah akad nikah? Buang air kalau diburu-buru juga tidak akan nyaman di perut.

SOWER                    : Gentiiing ! Ceramahnya nanti saja. Lebih baik aku minta perpanjangan waktu sekitar 10 menit lagi sama Pak Penghulu.

JANTHIL                  : Ya sudah sana. Kasihan juga Pakde. Nanti malah tidak konsentrasi pada saat akad karena menahan sakit perut. Aku mau cari minyak kayu putih atau minyak telon dulu ya. Siapa tahu bisa sedikit meringankan perutnya Pakde.

KEMPRUT               : Rombongan keluarga Bude Kiranti sudah ditelpon belum? Sudah sampai dimana posisi mereka?

SOWER                    : Tenang. Berhubung jalanan macet, kemungkinan 15 menit lagi baru sampai.

GENTING                : Syukurlah, jadi pakde masih bisa ada waktu menenangkan diri sejenak. Eh, nanti yang kompak ya lagunya. Jangan sampai memalukan para undangan. Atau sambil menunggu waktu, sekarang kita latihan sebentar saja, tapi jangan keras-keras, ok.

ANAK-ANAK         : Boleh. Yuk. (agak berbisik) Ji…lu…nem…

Suara 1 : Taplak meja, taplak meja, taplak meja..

Suara 2 : tap, tap, taplak mej..mej..mejaa…

Suara 3 : Taaaaplaaaaaak meeeeejaaaaa…

(suara 1, 2, 3 dinyanyikan bersamaan, boleh diulang 2 atau 3 x)

Taplak meja dan wanita

Dua sosok berbeda tapi selaras

Taplak meja simbol indah dan anggun

Penutup noda, tapi bisa juga ternoda

Taplak meja benda multi fungsi

Orang ngungsi, bawa baju dibalut taplak meja

Maling TV, kalau kepepet takut ketahuan,

TV-nya dibungkus taplak meja asal sabet

Taplak meja sumber keberuntungan juga sumber masalah

Taplak meja juga bisa jadi saksi sejarah asmara

Antara Pakde Kempul dan Bude Kiranti

Oh, taplak meja

Benda sederhana tapi punya banyak cerita

Suara 1 : Taplak meja, taplak meja, taplak meja..

Suara 2 : tap, tap, taplak mej..mej..mejaa…

Suara 3 : Taaaaplaaaaaak meeeeejaaaaa…

PAKDE KEMPUL   : (keluar dari kamar mandi) Siapa yang bikin liriknya? Lucu juga.

ANAK-ANAK         : Rahasia dong…tapi bagus kan Pakde?

PAKDE KEMPUL   : Pakde terharu dengan niat baik kalian semua. Sebenarnya, walau satu sisi Pakde merasa bahagia, tapi di sisi lain Pakde sedih karena harus berpisah dengan kalian semua.

WIRID                      : Subhanallah, Pakde. Tidak baik omong begitu. Siapa juga yang akan berpisah dengan Pakde? Subhanallah…

GENTING                : Pakde ini kok jadi ngaco ngomongnya.

KEMPRUT               : Sudahlah. Sekarang Pakde konsentrasi sama acara special Pakde ini. Masalah kita, nanti kita masih punya kejutan lain buat Pakde.

SOWER                    : Iya, Pakde. Pokoknya kejutan kita ini akan semakin melengkapi kebahagiaan Pakde sekarang. Karena Pakde layak dapatkan itu.

JANTHIL                  : Pokoknya, tidak akan ada kata berpisah antara kita berlima dengan Pakde dan Bude Kir, ok.

GENTING                : Ayo, Pakde. Cepetan siap-siap. Pengantin wanitanya sudah sampai.

Prosesi akad nikah dimulai. Sengaja dibuat terbalik dari prosesi yang sebenarnya berlaku, yaitu pengantin laki-laki bertandang ke rumah pengantin wanita. Prosesi adat pengantin wanita memasuki rumah bisa memakai adat daerah mana saja (yang penting menunjukkan keragaman prosesi adat pernikahan masing-masing daerah di Indonesia). Beberapa buah tangan penghantar mas kawin, semua beralaskan taplak-taplak mungil. Gaun pengantin kedua mempelai dirancang dari taplak-taplak meja yang dijahit menjadi motif yang unik. Ending dari prosesi akad nikah adalah hiburan lagu TAPLAK MEJA.

T A M A T

Bintaro, 310708

BIODATA PENULIS

 

 

Nama lengkap            : HERLINA SYARIFUDIN

Nama panggilan         : LINA

TTL                            : Malang, 7 Desember 1978

Agama                        : Islam

Kewarganegaraan       : Indonesia

Alamat surat              : Jl. Cempaka Raya No. 15 Bintaro – Kesehatan

                                    Jakarta Selatan 12330

Mobile phone             : 0817 961 1519 / 021 – 9280 8285

Email                          : bravosag@yahoo.com

                                     Herlina.Syarifudin@gmail.com

 

 

 

 

MEMO : Apabila ada kelompok teater yang berkeinginan memainkan naskah ini, dimohon untuk ijin atau setidaknya memberi kabar si penulis naskah. Kebutuhan ini lebih kepada untuk silaturahmi sekaligus sharing antar insan pelaku seni. Terima kasih. 

DEMANG LEHMAN

DEMANG LEHMAN

Karya : H. Adjim Arijadi

 

 

SPACE A: MERUPAKAN SEBUAH RUANG KERJA PERWIRA BELANDA BERPANGKAT LETNAN KOLONEL DENGAN JABATAN RESIDEN.

Di ruangan ini mengesankan bentuk dan gaya Eropah, dengan peralatan yang terdiri dari: satu meja kerja lengkap dengan korsinya, ada beberapa kursi lainnya untuk para tamu menghadap Residen.

Di atas meja kerja itu, terdapat sebuah Globe, sebuah tongkat upacara, botol tinta lengkap dengan tangkai pena yang terbuat dari bulu burung anggang.

Beberapa map berkas surat-surat dokumentasi.

SPACE B: ADALAH TEMPAT KERANGKENG YANG MEMBERI KESAN KAMAR TAHANAN. Di atas kerangkeng sekaligus bisa dirombak menjadi level untuk menghukum mati seseorang. Itulah tiang gantungan tempat menghukum gantung.

Pada balok palang tempat tali tergantung, terdapat kain tergulung warna putih, yang pada saat-saat tertentu, kain itu bisa diuraikan kebawah. Untuk menaiki level tempat gantungan itu, tersedia trap atau anak tangga.

SPACE C: BERKESAN SEBAGAI RUANG TUNGGU TEMPAT PARA TAMU DUDUK-DUDUK MENANTI GILIRAN MASUK KE RUANG KERJA RESIDEN.

ADA SATU PAGAR YANG MEMISAHKAN RUANG INI DENGAN RUANG DALAM.

SPACE D: ADALAH RUANG YANG AGAK MENINGGI, TERLETAK AGAK JAUH DI BELAKANG. Ada anak tangga yang memberi kesan untuk turun naik rumah yang bertiang tinggi. Di dalam ruangan ini terdapat beberapa peralatan musik tradisional Banjar.

WAKTU, Di dalam abad ke-XIX yakni pada tahun 1864 dengan tempat kejadian di kota tempat berdirinya kerajaan Banjar, yakni Martapura di belahan selatan Pulau Borneo, atau Kalimantan Selatan sekarang ini.

DALAM SOLILOQUE, SETIAP TOKOH YANG BERHUBUNGAN DENGAN RUANG-RUANG INI, HADIR DALAM EXPRESSI AWAL DARI PERKEMBANGAN WATAK.

 

  1. 1.   SOLILOQUE PADA MASING-MASING SPACE

 

Dalang                     :     (Pada SPACE B) Pemerintah Gubernemen Belanda telah menjatuhkan putusannya, hukum gantung.

Wanita                      :     (Pada SPACE D) Yang digantung itu adalah salah seorang dari tokoh pejuang kami.

                                        Demang Lehman namanya.

Pesuruh                   :     Saya kenal baik, dulu ketika kami masih jadi petani, namanya bukan Demang Lehman. Tapi Idis.

Residen                   :     Sebuah alun-alun di Martapura. Alun-alun Bumi Selamat. Kepala Pemberontak Riam Kiwa dan Riam Kanan itu akan digantung,pada waktu sholat maghrib.

Syarif Hamid           :     (Pada SPACE C Tempat Pesuruh Bertugas)

                                        Masya Allah. Penghinaan!

 

  1. 2.   MASIH PADA SPACE MASING-MASING.

 

Demang Lehman       :   Hakim Gubernemen, menurut pengakuan pribadinya, Saya dan pengikut-pengikut saya dinyatakan tidak salah. Dan Hakim menjatuhkan vonisnya, saya telah dibebaskan dari tuntutan jaksa.

 Pesuruh                      :   Bagaimanapun juga, saya harus mengulur-kan lidah saya sepanjang-panjangnya dan tidak akan berbuat sebagaimana tuan hakim yang agung itu. Saya merindukan hakim itu. Semoga saja arwah hakim itu mau mengerti, bagaimana  perasaan saya.

Demang Lehman       :   Hakim itu memaksakan perasaannya tapi tidak mau tahu apa kehendak pemerintah Militernya Verspijk. Aspirasi rakyat di Banua Banjar ini,  seharusnya tidak usah diperhatikan saja.

Wanita Satu                :   Perkiraan cuaca hari ini bersuhu tinggi. Hakim yang memutuskannya. Kami semua tahu, memang hakim yang memutuskannya Dan hakim itu adalah hakimnya pemerintah.

Residen                       : Ya! Yang namanya Pemerintah Gubernemen itu, ialah Saya! Dan yang memutuskan hukum gantung itu, memang Saya!

 Syarif Hamid              :   Memang sulit. Dan dari sudut manakah agar putusan Verspijck ini dapat dibenarkan oleh penduduk pribumi. Yang terdengar rakyat, bahwa hukum gantung itu, memang dilakukan oleh  Belanda. Rakyat tidak mau tahu bagaimana  putusan seorang Hakim dan bagaimana maunya Residen.

 Residen                      :   Ya. Kita lihat saja nanti.

 

  1. 3.   MASIH SOLILOQUE PADA SPACE MASING-MASING, TAPI EKSPRESI LEBIH BERKEMBANG DENGAN MELIBATKAN SELURUH SARANA FISIK.

 

Demang Lehman       :   (Muncul dari dalam kerangkeng dengan segulung tali di tangan-nya. Dinaikinya anak tangga dan langsung menggantungkan tali itu pada palang balok yang sudah tersedia. Tali itu siap menantikan leher orang yg akan digantung. Demang lehman menguji kekuatan tali gantungan itu)

                                          Sebentar lagi. Waktu antara Ashar dengan Maghrib menurut perkiraan saya, tidak begitu  lama. Kata Residen yang Letnan Kolonel itu,  bahwa saya akan digantung, apabila bedug di  mesjid sudah berbunyi.

 Syarif Hamid              :   Masya Allah!

 Demang Lehman      : (Mencoba mengalungkan jeratan tali itu pada lehernya, cuma sebentar lalu dilepas kembali ).

                                          Alternatif yang disodorkan Residen kepada Saya adalah suatu kemustahilan.Memang aneh tapi tidak lucu.Saya punya alternatif tersendiri.  Hanya ada satu pilihan yaitu mati digantung.

 Dalang                        :   Saudara-saudaraku satanah banyu dan sabanua  Tidak usah takut, apabila alternatif ini saya  Lemparkan ketengah-tengah forum mufakat dan musyawarah tingkat nasional. Latar belakangnya tidak begitu banyak, yakni berkisar dari kesalahan penguasa tanah banyu kita yang mendahului kita. Kesalahan para penghibah  waris kita sendiri. Baiklah kita buka saja forum  ini. Pembicara dalam termiyn pertama cukup  untuk beberapa orang saja. Beberapa orang itu  ialah mereka yang memang pernah membeli  saham dengan mata uang Fortugis, Inggris,  Cina, saudi Arabia dan Belanda itu sendiri.

                                          Maaf kalau dua negara Adikuasa kami tempat kan sebagai petugas keamanan saja. (Kembali menguji coba tali gantungan).

 Demang Lehman      :   Dangar-dangar barataan, banua Banjar kalau  kahada dipalas lawan banyu mata darah, marikit dipingkuti Kompeni Walanda.

 Wanita Satu               :   Haram Manyarah

 RAKYAT                     :   Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing!

 

  1. 4.   SOLILOQUY MENJELAJAH SELURUH LOKASI

 

SESEORANG            :   Dangar-dangar urang kampung subarang manyubarang….. Dangar-dangar urang kampung barataan, nang disubarang menyubarang batang banyu, isuk hari Jumahat sahabis bada, diparintahakan bakumpul dialun-alun Bumi salamat Martapura.

                                          Sabab pamarintah Wolanda, handak manampaiakan dihukum gantungnya saikung panghianat, bangaran Demang Lehman…… Dangar-dangar urang kampung subarang manyubarang batang banyu…..Dangar-dangar…….

 Wanita Satu               :   Kita akan buktikan keberanian kita. Besok akan kita buktikan, bahwa belanda tidak akan berhasil menghukum mati tokoh pejuang kita itu.

 Wanita Dua                : Siapa? Hei urang diseberang sana. Siapa yang akan digantung? Uuui, siapa yang akan digantung. Kok  tak ada yang menyahutnya. Saya hanya mendengar canang yang dipukul orang. Dan antara kedengaran dan tiada, bahwa seseorang akan digantung. Siapa. Siapa yang akan digantung?

 

  1. 5.   UNTUK SEMUA DALAM AREAL AKTING.

 

Wanita Dua             :     Uuui. Siapa yang akan digantung ? Uuui ……..

Wanita Tiga             :     (Muncul dengan buru-buru)

Wanita Dua             :     Hei, mau kemana buru-buru?

Wanita Tiga             :     Maaf. Mau cepat. Nanti keburu senja.

Wanita Dua             :     Sebentar. Kau mendengar pengumuman kemarin sore

Wanita Tiga             :     Justeru itu, Saya harus berangkat secepatnya.

Wanita Dua             :     Nanti dulu. Siapa yang akan digantung?

Wanita Tiga             :     Bubuhan kita di banua.

Wanita Dua             :     Siapa?

Wanita Tiga             :     Itu, Demang Lehman.

Wanita Dua             :     Demang Lehman?

Wanita Tiga             :     Sudahlah. Tidak perlu tahu.

Wanita Dua             :     Apakah dia keluargamu?

Wanita Tiga             :     Bukan.

Wanita Dua             :     Lantas kamu akan melihatnya.

Wanita Tiga             :     Semua kita harus melihatnya.

Wanita Dua             :     Tapi Demang Lehman itu, kan bukan keluargamu?

Wanita Tiga             :     Iyya. Bukan keluarga.

Wanita Dua             :     Kalau bukan sanak keluarga, untuk apa pergi  melihatnya. Yang menggantung itu siapa?

Wanita Tiga             :     Wolanda. Maaf saya harus pergi sekarang.

Wanita Dua             :     Sebentar. Apa kau Demang lehman itu? Bekal suamimu? Tapi jelaskan dulu, Demang Lehman  yang mana?

Wanita Tiga             :     Beberapa tahun yang lalu, beliau sering ke istana.  Pengawal pribadi Pangeran Hidayat. Dulu selagi  beliau tinggal dikampung, namanya Idis.

Wanita Dua             :     U, si Idis?

Wanita Tiga             :     Iya, suaminya Siti Zubaidah.

Wanita Dua             :     Asytagfirullah. Kalau begitu aku akan melihatnya Juga.

Wanita Tiga             :     Mau sama-sama?

Wanita Dua             :     Berangkat saja duluan. Aku menyusul.

Wanita Tiga             :     Baik. Saya duluan.

                                        (buru-buru melanjutkan jalan).

Wanita Dua             :     Astaga. Lupa lagi menanyakannya. Apa sebab ia  digantung.

 

  1. 6.   DI DALAM SPACE A DAN C

RESIDEN YANG LETNAN KOLONEL ITU, SUDAH LAMA MENYIBUKKAN DIRINYA DENGAN BERKAS DOKUMENTASI. SATU BERKAS BARU SAJA DIKOREKSI KEMUDIAN MENYUSUL BERKAS YANG LAIN LAGI. DIANTARA KESIBUKANNYA ITU, TANGAN KIRINYA MERAIH BELL, LALU MENGGOYANGKANNYA.

 

Pesuruh                   :     (Beranjak dari tugas jaganya)

Syarif Hamid           :     (Hampir mendekati kebosanannya dalam menunggu)

Pesuruh                   :     Tuan mendengarnya?

Syarif hamid            :     Ini kesempatanmu yang baik. Katakan saja bahwa saya sudah sejak siang tadi menunggu.

Pesuruh                   :     Kalau bell itu memang berfungsi, ini berarti termiyn buat saya.

Residen                   :     Termiyn ini buat saya. (Kembali menggoyangkan bell).

Pesuruh                   :     Nah. Ini jelas. Termiyn buat saya.

Residen                   :     (Kembali Menggoyangkan Bell)

Pesuruh                   :     Siap! (Dari Ruang Tunggu Menuju Ruang  Kerja)

Residen                   : (Sambil mengepulkan asap pipanya, tidak peduli dengan munculnya pesuruh)

Pesuruh                   :     (Agak ragu apakah dia dipanggil tuannya)

Residen                   :     (Masih Menggoyangkan Bellnya)

Pesuruh                   :     (Meyakinkan Tuannya) Saya, saya sudah ada  dihadapan tuanku. Apakah tuan memerlukan saya?

Residen                   :     (Masih tidak peduli) 

Pesuruh                   :     Tuan memerlukan saya?….. (Mendekat sedikit) Saya selalu disamping tuanku. Tuan memerlukan saya? (Lebih dekat lagi dan bersuara lebih  keras) Apakah tuan memerlukan saya!

Residen                   :     Yah! (Geram terhadap kebodohan pesuruh)

Pesuruh                   :     (Dengan segala pasrah dan ketaatannya  bersujud dan memohon ampun atas  kesalahannya)

 Residen                  :     Berapa kali sajakah, kamu orang bertanya, hah? Dan berapa kali pula bel ini, memerintahmu? Untuk apa, ini bel hah? Coba kamu orang, jawab! Untuk apa?

Pesuruh                   :     Sudah tentu untuk saya.

Residen                   :     Ya, untuk seorang pribumi yang paling bodoh. Tentu, (Menggoyangkan bel sebagai penjelasan kepada pesuruh)

                                        Hai Bodog! Tanpa bell ini, kau orang tidak akan berguna bagi saya. Harus tahu itu. Mengerti .

Pesuruh                   :     Dan saya sudah berada dihadapan tuan, tuan mau apa?

Residen                   :     Bangsat kamu orang. Bahasa apa itu hah? Itu bahasa kami sehari-hari yang kami gunakan untuk bangsat-bangsat seperti Demang Lehman itu. Kamu orang telah berani, pakai itu bahasa untuk saya, hah?

Pesuruh                   :     Ampun beribu ampun tuanku. Dengan jujur, saya mentaati tuan. Kalau bahasa itu saya pakai, karena saya menganggapnya, bahwasanya, bahasa tuan itu, memang bagus. Saya senang dengan bahasa tuan.

Residen                   :     Begitukah? Senang dengan bahasa kami. Gud, Gud.

Pesuruh                   :     Hop Perdom!

Residen                   :     Betul-betul bangsat! Tubab!

Pesuruh                   :     Saya tuan.

Residen                   :     Kamu orang selalu salah gunakan itu kami punya bahasa.

Pesuruh                   :     Kami orang, memang tolol tuanku.

Residen                   :     Masih ingat bahasa bell ini?

Pesuruh                   :     Sudah mendarah daging tuanku.

Residen                   :     Gud, gud. Saya akan coba menguji kamu orang.

Pesuruh                   :     Saya orang coba akan menjawab tuan punya bunyi bell.

 

RESIDEN DALAM PERINTAHNYA MELALUI BELL DITANGANNYA.

 

BELL 1 KALI           :     Pesuruh Hormat Mendekat Dan Mengulur Kan Tangan Menerima Sesuatu.

BELL 2 KALI           :     Mundur Menjalankan Tugas Mengantar  Sesuatu.

BELL 3 KALI           :     Urung Dan Kembali Menghadap Ingin Tahu.

BELL 1 KALI           :     Kembali Hormat Mendekat Menerima  Sesuatu.

BELL 2 KALI           :     Mundur

BELL 3 KALI           :     Segera Menghadap.

BELL 2 KALI           :     Mundur Dan Menghilang.

BELL 3 X 2              :     Buru-Buru Menghadap.

 

DENGAN BERMACAM KODE BELL, SI PESURUH DIBUAT TERENGAH-ENGAH SAMPAI KEHILANGAN TENAGA DAN MERAYAP LEMAS DI ATAS LANTAI.

 

Residen                   :     (Akhir Goyangan Bell Ditutup Dengan Hentakan Sepatu Botnya)

Pesuruh                   :     (Mencoba merangkak dan menciumi ujung sepatu tuannya)

Syarif Hamid           :     (Dari kejemuannya, lalu mengetuk pintu)

Bell 2 kali                 :     (Pesuruh hampir kehilangan tenaga  menuju ruang tunggu).

Residen                   :     (Pelan-pelan melihat alun-alun lewat jendela).

Syarif Hamid           :     (Membantu pesuruh yang lelah itu) Kamu dipukuli?

Pesuruh                   :     Tidak.

Syarif Hamid           :     Habis? …. kamu berkeringatan. Disiksa tuanmu?

Pesuruh                   :     Tidak.

Syarif Hamid           :     Kalau bukan disiksa, kenapa mau mati?

Pesuruh                   :     Saya tidak disiksa. Dan saya tidak akan mati!

Syarif Hamid           :     O, ya. Saya mengerti.

Pesuruh                   :     Kalau tuan sudah mengerti, kenapa mesti bertanya.

Syarif Hamid           :     Kamu kira saya takut ? Laa, laa (Mau Masuk).

Pesuruh                   :     Jangan. Jangan tuan lakukan itu.

Syarif Hamid           :     Kalau begitu, bilangkan kepada tuanmu. Saya datang kemari, karena ada janji. Bilangkan sama tuanmu, saya ini Syarif hamid datang dari Batu licin.

Residen                   :     (Penuh Perhatian) Syarif Hamid?

                                        (Menggoyang Bell 3 X 2)

Pesuruh                   :     (Bangkit Dan Masih Lemas) Terlalu. Sekarang  tuanlah yang menyiksa saya.

                                        (Memasuki Ruang Kerja , Masih Lelah)

Residen                   :     Suruh orang diluar itu masuk.

Pesuruh                   :     Dia musuh saya.

Residen                   :     (Dengan abah-abah membolehkan masuk).

Pesuruh                   :     (bertenaga kembali) Disuruh masuk?

Residen                   :     Ya, suruhlah.

Pesuruh                   :     Dia musuh saya tuan. Dia juga musuh tuan! Orang itu bersenjata besi tua. Dia berbahaya tuan!

Residen                   :     (Ngotot….. lalu bell perintah lagi)

Pesuruh                   :     (Hampir lemas menjalankan perintah)

                                        Baik!  Baik!

Residen                   :     (Kode bell perintah cepat)

Pesuruh                   :     (Setengah berlari menuju ruang tunggu)

Syarif Hamid           :     Apa kata tuanmu.

Pesuruh                   :     Karena ruang kerja Boss saya, tidak dilindungi oleh dinding anti peluru, maka saya minta agar tuan menyerahkan besi tua milik tuan itu.

Syarif Hamid           :     (dengan rasa jengkel, lalu menyerahkan kerisnya yang terselip dipinggangnya) Keris ini bukan untuk berkelahi tahu?

Pesuruh                   :     Saya tidak mau tahu. Yang jelas, di sini tidak diperbolehkan membawa senjata tajam. Ada punya KTP.

Syarif Hamid           :     Terlalu! Buka matamu. Lihat cincin ini.

Pesuruh                   :     Ini bukan KTP. Ini cap stempel.

Syarif hamid            :     Kau tahu. KTP diwilayah kami, baru bisa dianggap syah, kalau memakai cap kerajaan ini.

Pesuruh                   :     Satu lagi. Ada membawa ganja.

Syarif Hamid           :     Saya bukan penyelundup. Ganja barang haram. Sama haramnya dengan kumpul kebo.

Residen                   :     (Bell Perintah Cepat)

Pesuruh                   :     Mmmhh! Mentang-mentang kenal baik dengan atasan saya.

Syarif hamid            :     Boleh masuk nggak?

Pesuruh                   :     Boleh. Tapi selama tiga menit saja.

Syarif Hamid           :     Permisi (Berolok-olok membuat pesuruh jengkel).

Pesuruh                   :     (Merasa dipojokkan) Tunggu saatnya. Diluar jam dinas, toh nanti akan ketemu juga.

Syarif Hamid           :     Selamat sore.

Residen                   :     Sore. Syarif hamid (Menjabat tangan Syarif Hamid). apa kabar?

Syarif Hamid           :     Baik.

Residen                   :     Kenapa baru datang sekarang?

Syarif Hamid           :     Sudah tiga hari bertutur-turut saya datang kemari dan menunggu giliran diruang tunggu.

Residen                   :     O, ya.

Syarif Hamid           :     Residen, sebagai orang yang bertugas ikut memelihara stabilitas keamanan didaerah ini, justru senjata saya harus dirampas.

Residen                   :     Kamu orang, terkena razia?

Syarif Hamid           :     Sebagai seorang bangsawan, saya harus membawa senjata pusaka bukan?

Residen                   :     Kemudian disita oleh petugas saya? Kamu lihat sendiri. Saya seorang residen. Pangkat saya Letnan Kolonel. Apakah saya harus membawa senjata api?

Syarif Hamid           :     Kita kan sudah sama meyakini. Dengan terbekuknya Kiai Demang Lehman itu, tanah Borneo ini sudah bisa dikatakan aman.

Residen                   :     Tapi dengan gerombolan Pegustian di hulu Barito itu?

Syarif Hamid           :     Cuma daerah tanah rawa. Gusti Mat Seman, tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Residen                   :     Saya akan basmi itu gerombolan bangsat. Berapa ribu saja prajurit kami yang tewas. Terbilang sejak mereka menghancurkan benteng dan sumber perekonomian kami di Pengaron lima tahun setengah yang lalu, sudah hampir dua ratus oarang opsir kami yang dibikinnya mati konyol! Dan sekarang, dendam itu harus saya tunjukkan  kepada mereka!

Syarif Hamid           :     Saya ikut prihatin, dengan tenggelamnya kapal perang Onrust di Sungai teweh itu.

Residen                   :     Kerugian itu, tidak akan terulang lagi. Kolonel Andersen, bukan orang seperti saya. Dia lembek seperti bakecot. Tapi saya akan musnahkan itu benteng-benteng mereka. Akan kami bumi hanguskan itu tanah banua mereka. Kalau hutan  rimba Aceh dapat kami jelajahi, kenapa hutan Borneo ini tidak.

Syarif Hamid           :     Lalu, apakah dengan bantuan yang saya berikan itu, mempunyai arti bagi tuan?

Residen                   :     Tentu, tentu. (mengambil sepucuk surat  diantara tumpukan berkasnya). Kau tahu  isinya ini bukan?

Syarif Hamid           :     Saya sudah tahu. Dia akan digantung sore ini?

Residen                   :     Kamu sudah lihat bukan. Disekeliling alun-alun itu, sudah dipenuhi orang-orang.

Syarif hamid            :     (Melihat ke luar jendela) Orang tua, anak-anak, laki-laki dan wanita. Sudah sejak pagi mereka berada disekeliling alun-alun itu. Tapi kapan?

Residen                   :     Masih ada waktu dua jam lagi.

Syarif Hamid           :     Dua jam lagi? (Mengambil arloji sakunya)

                                        Sekarang sudah jam empat.

Residen                   :     Tepat!

Syarif Hamid           :     Di saat sholat maghrib?

Residen                   :     Begitu bedug dimesjid sudah ditabuh. Dan suara azan sudah berkumandang, saat itulah ia harus mati!

Syarif Hamid           :     Saya keberatan.

Residen                   :     Apakah keberatan kau orang, mengatas namakan  persekutuan dagang bangsa Arab?

Syarif Hamid           :     Tidak sama sekali.

Residen                   :     Pribadi?

Syarif Hamid           :     Juga bukan.

Residen                   :     Lalu apa?

Syarif Hamid           :     Tuan Residen. Pemerintah Gubernemen hanya didukung oleh senjata dan mesiu. Dan pusat pemerintahan hanya berupa selingkar pulau Tatas di Banjarmasin. Tapi semua itu, tidak akan mampu mengambelaskan penduduk pribumi yang seluruhnya beragama Islam.

Residen                   :     Persoalan ini berkisar mengenai hukum gantung. Lantas apa sangkut pautnya dengan agama?

Syarif Hamid           :     Mengapa harus diwaktu sholat maghrib?

Residen                   :     Kamu orang ikut merasakannya, bahwa tindakan yang akan saya lakukan ini, adalah suatu tindakan yang kurang wajar bukan.

Syarif Hamid           :     Bukannya kurang wajar. Tapi tidak wajar sama sekali.

Residen                   :     Timing yang tepat. Saya gembira.

Syarif Hamid           :  Tuan akan puas sendiri. Tapi sementara itu, berpuluh ribu ummat Islam merasa terhina.

Residen                   :     Syarif Hamid. Ini kebijaksanaan pemerintah Gubernemen.

Syarif Hamid           :     Tapi persekutuan ummat Islam sedunia, akan mencela  bangsa tuan.

Residen                   :     Kamu orang bukan orang kami. Dan tidakkah kamu tahu, bahwa cara ini, adalah suatu bled. Tapi kalau toh ingin dipandang dari sisi agama, semua ulama sudah mulai akrab dalam pemerintahan kami. Dengan Enam Ribu Sembilan  Ratus Enam Puluh empat Gulden yang disumbangkan untuk kepentingan Mesjid Jami di Banjarmasin, adalah satu sisi untuk perhatian kami pada agama.

Syarif Hamid           :     Dan rasa simpati itu, segera akan lenyap apabila Tuan menggantung Demang Lehman yang kiyai dan yang alim itu, disaat ummat Islam menjalankan ibadahnya.

Residen                   :     Tapi rakyat sudah tahu, siapa Demang Lehman itu. Para ulama dan seluruh penduduk telah mengutuknya.

 

  1. 7.   PADA LOKASI D TAMPAK KERUMUNAN PRIBUMI, YANG MULAI  RESAH DAN BANGKIT MENGARAH PADA KEMARAHAN.

 

Wanita Satu            :     Perlawanan di daerah Martapura bisa dilumpuhkan. Dan seorang Demang Lehman bisa saja Walanda gantung. Tapi yang bernama pahlawan haram Manyarah Waja Sampai Kaputing, masih banyak kita miliki.

                                        Haram Manyarah, Waja sampai Kaputing…!!!

Orang-orang            :     Haram manyarah, Waja Sampai Kaputing!!!

LOKASI LAIN

Wanita Tiga             :     Kita tidak akan biarkan Demang Lehman itu digantung. Kita harus protes. Apabila kita diam, berarti kita kalah dan menyerah. Dan menyerah itu haram.

Wanita dua              :     Hei, cara seperti itu berbahaya. Jangan terang-terangan.

Wanita Tiga             :     Sekarang inilah saat yang cocok bagi kita. Kita tidak boleh bungkam. Kita harus unjuk rasa kepada Wolanda. Biar mereka tahu siapa kita. Ayoh mari kita bergerak.

Wanita Dua             :     Jangan. Ayoh, jangan ikut-ikutan. Berbahaya buat kita. Kita akan ditembak mati.

Wanita Tiga             :     Saya tidak akan mengajak seorang penakut seperti kamu. Bebaskan Demang lehman. Bebaskan Demang Lehman.

Orang-Orang           :     Bebaskan Demang Lehman. Bebaskan Demang Lehman.

Wanita Dua             :     Tenang! Tenang!

Wanita Tiga             :     Kamu takut?

Wanita Dua             :     Ini bukan soal takut. Tapi kita Cuma orang kampung.

Wanita Tiga             :     Lantas karena kita merasa sebagai orang bodoh, lalu kita harus membisu? Di mata penguasa, kita orang kecil.

Wanita Dua             :     Tapi bila kita datang dengan adat leluhur kita?

Wanita Tiga             :     Takaran kehormatan bagi penguasa, bukan terbatas pada adat. Saya akan lakukan sebisa saya.

Wanita Dua             :     Kamu akan korbankan harga dirimu?

Wanita Tiga             :     Yang akan kulakukan, Cuma memohon keampunan pada penguasa.

Wanita Dua             :     Lantas apa yang bisa kau berikan kepada penguasa sebagai imbalannya?

Wanita Tiga             :     (Kepada yang lain) Hei kamu….. Apakah kamu  bersedia membantu saya?

Wanita Lain             :     (Menggelengkan kepalanya) Saya ingin hidup,  dengan cara saya sendiri.

Wanita Tiga             :     Kamu rela bila orang kamu puja-puja itu, mati digantung hari ini?

Wanita Lain             :     Bila Demang Lehman harus mati hari ini, maka saya harus hidup bersama semangatnya.

Wanita Tiga             :     Mmmhhh….Omong kosong. Kanapa tidak seorangpun yang membantu Demang Lehman? Apa kalian tidak sadar, bahwa Demang lehman akan dibunuh hari ini .

Wanita Dua             :     Semua orang sudah tahu. Saya juga sudah kamu beri tahu. Dan, dan saya ingin lihat, bagaimana wajah seorang pahlawan menghadapi tiang gantungan itu.

Wanita Tiga             :     Kamu kira, kejadian sedih hari ini, Cuma sebuah sandiwara? orang tak punya perasaan. Kita harus menyematkannya. Kita harus menyelamatkannya.

Wanita Dua             :     Bisa saja. Demang Lehman bisa asaja selamat dari tiang gantungan. Semua kita sudah mengetahui. Dan semua kita sudah bisa menebaknya. Yang menjadi masalah sekarang, apakah Demang Lehman bersedia digantung atau tidak. Nah, kalau tidak apa akibatnya. Tapi kalau Demang Lehman  siap dengan kepahlawanannya, dengan memilih mati umpamanya,apa pula keburukannya bagi perlawanan rakyat.

Wanita Tiga             :     Bagiku Demang Lehman harus tetap hidup. Dan saya akan beranikan diri menghadap penguasa.

Wanita Dua             :     Bisa saja. Tapi kamu harus ingat, iming-iming sang penguasa, Cuma sebuah siasat dalam merekatkan pantatnya dibantalan korsi jabatannya. Tapi setelah itu, kamu Cuma sebiji pasir ditanah gurun.

Wanita Tiga             :     Tidak usah berdalih macam-macam. Ayoh, siapa yang punya kasih sayang kepada pahlawan kita, ikut bersama saya. (Semua diam).

                                        Bebaskan Demang Lehman (Diam tak bersambut) Baik-baik. Kalian akhirnya menyukai kematian Demang Lehman itu.

Wanita Dua             :     Kita bisa teriak, bebaskan Demang Lehman……. Bebaskan Demang Lehman, tidak berarti ia mesti lepas dari tiang gantungan. Tapi dengan kematiannya, justru Demang Lehman bebas menyusupkan semangatnya ke setiap pembuluh nadi masyarakat Banjar yang tidak ingin  diperintah dan diatur oleh orang-orang yang bukan miliknya dan pilihannya.

Wanita Tiga             :     Saya tidak mau tahu, dengan bahasa yang tidak dimengerti itu. Baik. Saya akan maju sendiri (EXIT)

Wanita Dua             :     Saya berani bertaruh, dia akan menyesal…………….

                                        (Kepada Yang Lain) Kalian mengerti maksud saya? Kita boleh teriak, bebaskan Demang Lehman, tapi arti dari itu semua, bukan bersandar pada kulitnya. Kita berteriak sepuas hati kita, dengan maksud agar semangatnya segera kita miliki. Kita tidak ingin mendapatkan pemimpin yang diperoleh lewat suara terbanyak, kalau pemimpin itu tidak siap menerima kejatuhannya lewat suara terbanyak pula. Nilai suara kita tidak sama dengan harga sebiji permata. Suara bukan barang dagangan. Nah sekarang, mari kita teriak dengan memanipulasi suara kita,agar sang penguasa mengira bahwa suara kita telah dibayar mahal oleh pemimpin kita yang hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Bebaskan Demang Lehman!

Orang-orang            :     Bebaskan Demang Lehman! Bebaskan Demang Lehman!

 

  1. 8.   PADA SPACE RUANG KERJA. TUBAB BURU-BURU MEMBUBARKAN KEKACAUAN DI SEKELILING ALUN-ALUN

 

Pesuruh                   :     Tuanku. Penonton di sekeliling Alun-alun itu pada marah tuanku. Mereka teriak; Bebaskan Demang Lehman, Bebaskan Demang Lehman!! (Seperti kesurupan).

Residen                   :     (Marah Dan Membentaknya)

                                        Diam…..!!!

Syarif Hamid           :     (SINIS) Apa benar semua pribumi itu, mengutuk orang kesayangan mereka?

Residen                   :     Saya tidak butuhkan ucapan seperti itu (Dongkol)

Syarif Hamid           :     Lebih-lebih dengan hukum gantung di saat Sholat Maghrib.

Residen                   :     Syarif Hamid, kamu orang tidak usah campuri kami punya pemerintahan.

 

  1. 9.   PADA LOKASI LAIN. ORANG-ORANG MAKIN BERGOLAK

 

Wanita Satu            :     Bebaskan Demang Lehman!

Orang-orang            :     Bebaskan Demang Lehman, Bebaskan Demang Lehman….!!!

 

10.  DI SPACE RUANG KERJA

 

Pesuruh                   :     Tuanku!

Residen                   :     Tubab! (Menulis perintah dan menyerahkannya pada pesuruh) Surat Perintah, Menembak Mati!

Syarif Hamid           :     Tidakkah Tuan akan menyesal?

Residen                   :     Siapa saja yang melanggar pos penjagaan, Tembak Mati..!!

Pesuruh                   :     (Diam saja)

Residen                   :     Tubab!

Pesuruh                   :     Siap menunggu Bell Tuanku.

 

WANITA TIGA DENGAN MENDADAK MUNCUL DI RUANG KERJA

 

Residen                   :     Siapa pula Kamu orang, hah?

                                        (Menggoyangkan bell untuk pesuruh)

Pesuruh                   :     (Taat menjalankan perintah)

Residen                   :     (melihat kelembutan wajah wanita itu, amarahnya agak mereda) Kamu orang perlu saya?

Wanita Tiga             :     Betul tuan.

Residen                   :     Saya kagum. Kamu orang sungguh berani, masuk ke tempat ini. Kamu orang tidak mungkin tahu, bahwa tempat ini, tempat terlarang.

Wanita Tiga             :     Saya tahu Tuan.

Residen                   :     Kamu orang perlu apa, hah?

Wanita Tiga             :     Tuan akan menggantung orang kami bukan?

Residen                   :     Saya kurang tahu, dengan orang yang kamu maksudkan itu.

Wanita Tiga             :     Nama kecilnya Idis.

Syarif Hamid           :     Ooo, yaa. Namanya yang benar, memang Idis. Maksud dia, Kiai Demang Lehman.

Residen                   :     Syarif Hamid. Belajarlah dengan tata cara yang baik dan sopan. Saya tidak bicara dengan kamu orang bukan?

Syarif Hamid           :     Saya yakin unjuk rasanya wanita ini, akan menyuarakan aspirasi pribumi yang terluka.

Residen                   :     (Diam sejenak sambil memandang syarif hamid dengan rasa dongkol. Kemudian mengambil sebuah amplop berisi surat)

                                        Tuan Syarif Hamid. Kamu orang sudah tahu isinya ini bukan?

Syarif Hamid           :     Itu soal nanti.

Residen                   :     Syarif Hamid! Apa maumu sebenarnya, hah?

Syarif Hamid           :     Kalau tidak mungkin dibatalkan, maka saya mohon janganlah menggantung dia, di saat sholat maghrib.

Wanita Tiga             :     Rupa-rupanya, Tuan punya keinginan yang sama.

Residen                   :     Keinginan apa yang Kamu maksudkan?

Wanita Tiga             :     Hukuman gantung itu.

Residen                   :     Kamu orang menghendaki, agar segera dilaksanakan?

Wanita Tiga             :     Bukan. Berilah dia keampunan.

Residen                   :     Saya sudah suruh dia, agar memilihnya.

Wanita Tiga             :     Tuan telah memberi kesempatan kepada Dia?

Residen                   :     Tapi Demang Lehman itu, seorang bangsat yang teramat tolol.

Syarif Hamid           :     Tuan adalah sahabat Saya

Wanita                      :     Agaknya keramahan Walanda, jauh berbeda dengan kenyataan yang tersiar di kalangan penduduk.

Residen                   :     O, ya. Begitu?

Syarif Hamid           :     Legalah jadinya perasaan saya.

Residen                   :     Dan kamu orang akan lebih lega lagi, menandatangani surat kesepakatan ini.

Syarif Hamid           :     Yang jelas saya akan terlepas dari dosa-dosa yang selama ini menghantui saya.

Residen                   :     Kamu orang boleh baca, baru ditanda tangani, Okey?

Syarif Hamid           :     Terima kasih. (Menerima surat itu lalu meneliti isinya dsan duduk di tempat yang disediakan oleh residen).

Residen                   :     Boleh saya tahu, siapa nama kamu?

Wanita Tiga             :     Komalasari Tuan, Siti Komalasari.

Residen                   :     Ou…Nama yang bagus!

Wanita Tiga             :     Ee, Tuan Residen

Residen                   :     Tidak perlu sebutkan itu……Residen. Nama saya Verspijck

Wanita Tiga             :     Ee, Tuan Verspijck. Jadi tuan telah memberinya keampunan?

Residen                   :     Saya selalu berbuat baik terhadap dia. Tapi kita tidak usah dulu bicara tentang dia. Kita punya waktu masih cukup banyak.

Wanita Tiga             :     Tuan telah melihat di sekeliling alun-alun itu bukan?

Residen                   :     Saya melihatnya. Saya melihat orang-orang yang haus sekali dengan hiburan.

Wanita Tiga             :     Tuan kira mereka akan menghibur diri?

Residen                   :     Tentu saja mereka ingin tahu, bagaimana cara orang mati digantung.

Wanita Tiga             :     Kekejian seperti itu Tuan katakan hiburan?

Residen                   :     Kamu tidak menyukainya?

Syarif Hamid           :     Sikap yang bagaimana pula, yang Tuan maksudkan itu?

Residen                   :     Kamu sudah baca?

                                        (Mendekati meja kerjanya dan mengambil tangkai pena kemudian menyerahkannya kepada syarif hamid)

                                        Kalau isinya sudah cocok, silahkan menandatanganinya.

Syarif Hamid           :     Sebentar. Kita akan selesaikan terlebih dahulu, mengenai janji pengampunan itu.

Wanita Tiga             :     Itu betul!

Syarif Hamid           :     Tuan Residen. Saya ingin tahu, bentuk bentuk pengampunan yang tuan berikan itu.

Residen                   :     Syarif Hamid. Jangan dulu Kamu campuri urusan kami dengan perempuan ini. Kamu toh tidak punya kepentingan.

Syarif Hamid           :     Kenapa Tuan harus berkata seperti itu. Tuan harus menyadari, kalau bukan karena saya, tidaklah akan terjadi surat kesepakatan itu. Ketahuilah, Kiai Demang Lehman itu, adalah urusan Saya juga.

Wanita Tiga             :     Saya tidak  mengira, bahwa seoranmg Bangsawan Arab telah mendahului saya untuk membebaskan orang kesayangan kami.

Syarif Hamid           :     Kalau Nona mau tahu, Saya sudah tiga hari yang lalu datang ke tempat ini. Dan pada hari kedua, saya juga gagal. Baru sekarang saya bisa bertemu dengan Tuan Residen.

Wanita Tiga             :     Saya sangka   , Cuma rakyat Banjar yang membutuhkan tokoh Kiai Demang Lehman. Tetapi dari bangsa Arab pun rupanya punya rasa simpati yang menggembirakan.

Residen                   :     Kami juga punya rasa kasihan kepada orang yang kamu rindui itu. Bukan itu saja, tetapi untuk seluruh anak negeri Banjar ini.

Wanita Tiga             :     Kalau Kiai bisa dilepaskan dan dibebaskan sekarang ini, maka semua anak negeri kami akan bersuka hati. Apakah mungkin dapat dibebaskan sekarang?

Residen                   :     Saya sudah tawarkan kebebasan

Wanita Tiga             :     Tuan seorang yang baik.

Residen                   :     Tapi Dia menolak persyaratan yang saya sodorkan.

Wanita Tiga             :     Syarat apakah itu, tidak berat bukan?

Residen                   :     Enteng sekali.

Syarif Hamid           :     Kalau sekedar uang tebusan atau berupa upeti misalnya, saya akan membantu nona.

Residen                   :     Itu tidak kami butuhkan. Dengan garapan hasil hutan, hasil kebun dan hasil tambang di negeri ini, sudah cukup menguntungkan bagi Hollandia.

Wanita Tiga             :     Lantas, kehendak Tuan? Ee, maksud Saya persyaratan yang Tuan minta itu.

Residen                   :     (Menunjuk pulau pada globe). Mari mendekat. Ini kepulauan Nusantara. Java, Selebes dan ini Borneo.

                                        Borneo ini kelihatannya saja seperti sebuah hutan rimba. Kami kira kami bangsa Belanda datang ke pulau ini, hanya akan berperang dengan orang hutan dan gerombolan bekantan. Di sini tanah Kutei. Borneo Barat. Dan ini daerah yang dulunya cuma Onder Afdeeling, yang sekarang ini menjadi Residentie Zuider-en Ooster Afdeeling van Borneo. Di sini Benteng Pengaron pernah dihancurkan oleh gerombolan Antasari dan Hidayat. Sumber perekonomian kami berupa tambang batu bara Oranye Nassau dan Yuliana Hermina, telah amblas. Dalam peristiwa yang mendatangkan korban oran kami itu, adalah pangkal dakwaan dan tuntutan yang memberatkan Demang Lehman yang kamu bela ini. Dalam putusan kami, semua orang pribumi yang terlibat dalam awal perang Banjar itu, harus dihukum mati! Banjermasin Sechkrej yang gila! Tapi baiklah, kita lewatkan saja.

                                        Sekarang, Antasari yang mengaku pemimpin Haram manyarah Waja Sampai Kaputing itu, sampai ia mati tua, tidak juga mau menyerah. Hidayat telah kami tipu, dan kami lempar ke tanah Cianjur. Tamjid, kami turunkan sebagai Sultan dan juga telah kami buang. Kemudian Banjar sebagai salah satu kerajaan besar di Borneo ini, telah kami hapuskan. Tapi Gusti Muhammad Seman dan Gusti Mat Said Putra dari Antasari itu, malah melanjutkan berdirinya kerajaan Banjar yang telah didirikan oleh Antasari itu sendiri di Hulu Sungai Teweh. Gila! Dan kini pemberontakan masih ada saja. Mau apa? Tumenggung Surapati dengan puteranya Jidan yang Dayak itu, masih juga mengamuk di Barito. Penghulu Rasyid di Tabalong. Tumenggung Antaluddin di Amandit. Naro di Amuntai. Si Wangkang di Bakumpai. Dan si Kancil Haji Buyasin di Tanah Laut. Mau apa mereka sebenarnya. Dan kenapa mesti berbuat gila. Tapi itu bukan problem. Toh, mereka itu satu satu akan kami gantung juga.

Wanita Tiga             :     Artinya tuan akan tetap menggantung Kiai Demang Lehman?

Residen                   :     Harga Demang Lehman ini, hampir sama dengan harganya Pangeran Antasari. Antasari sampai dia mati, tidak pernah kami temukan. Tapi yang menemukan Demang Lehmanini, sudah kami beri sebuah wilayah kerajaan di daerah Batu Licin, yang kaya dengan hasil hutannya.

Syarif Hamid           :     Coba tuan katakan, persyaratan itu.

Residen                   :     Kamu orang mau menghindarinya, hah?

 

11.  DARI LOKASI SPACE D, RAKYAT MULAI BERGOLAK LAGI. WANITA SATU BERSAMA RAKYAT BANGKIT SETELAH MENDENGAR OCEHAN WANITA DUA.

 

Wanita Dua             :     Katanya ingin membebaskan Demang Lehman. Tapi ia sendiri tenggelam entah dimana. Mungkin juga akan…….atau mungkin sedang atau barangkali sudah.

                                        Saya dapat memastikannya. Perempuan itu pasti seorang jalang. Dia telah ambil kesempatan menjual nama seorang pahlawan. Dia rupa-rupanya telah berhasil menjajakan kehormatannya. Dia seorang maling, berpura-pura seperti orang alim.

                                        Omong kosong! Penghianat hati nurani rakyat! Saya harus bergerak sendiri. Bebaskan dia. Bebaskan Demang Lehman.

RAKYAT                  :     Bebaskan Demang Lehman. Bebaskan…!!!

 

12.  DI DALAM SPACE A DENGAN SEBUAH MERIAM LILA

 

Pesuruh                   :     Coba saja kalau berani maju. Saya hamburkan otaknya.

                                         

13.  KEMBALI PADA SPACE A DI RUANG KERJA ASISTEN RESIDEN. SYARIF HAMID MAKIN TAMPAK GELISAH, SEMENTARA WANITA TIGA AGAK KEHERANAN.

 

Residen                   :     Syarif hamid, kamu orang jangan banyak mendesak saya. Dan kamu Komalasari, tidak perlu tercengang, apalagi bercuriga pada Syarif Hamid ini.

Syarif Hamid           :     Barangkali Tuan, tidak merasa kasihan terhadap nenek-nenek dan ibu-ibu yang menggendong anak-anaknya di sepanjang keliling alun-alun itu. Berapa orang saja yang pingsan dan luka-luka terkena injak dan saling berjejal.

Wanita Tiga             :     Apakah Tuan perkenankan, apabila saya berbicara dengan Kiai Demang Lehman?

 

14.  PADA SPACE RUANG TUNGGU: PESURUH MENERIMA KEDATANGAN SEORANG PRIBUMI YANG MENYERAHKAN SEPUCUK SURAT BALASAN.

 

Pesuruh                   :     (Menerima Lalu Mengusir Pribumi Itu. Selanjutnya Surat Itu Ia Sampaikan Kepada Asisten Residen)

Residen                   :     Kamu orang tidak saya panggil bukan? Apa kamu mendapat perintah Bell? Tubab, apa keperluanmu, hah?

Pesuruh                   :     Ada ini Tuan.

Residen                   :     Bawa kemari…….Tubab. Kenapa diam.

Pesuruh                   :     Belum ada perintah bellitu Tuan.

Residen                   :     Bodog…!!! (Langsung menghentakkan bell)

Pesuruh                   :     (Setelah menyerahkan surat langsung menuju pintu ruang jaga)

Residen                   :     (Membaca surat)

                                        Kepala Pemerintahan, atas nama Kepala Agama dan atas nama Panglima Perang. Gusti Mat Seman, Raja Banjar. (SINIS). Seperti apa Mat Seman itu. Dan sampai dimana kecerdasan dan keahliannya, sampai begitu banyak jabatan yang dimilikinya. Atau memang orang banua banjar, tidak memiliki orang pinter, yang menyebabkan si Mat Semat itu menyandang banyak jabatan. Mungkin juga karena memang tidak ada orang lain.

                                        Itu berarti, kerajaan Banjar. (Membaca Lagi)……….Mmmmhhh. Orang keras kepala. Kenapa begini? Kerajaan banjar di hulu Puruk Cahu, telah menempatkan kepentingannya di atas pundak Demang Lehman? Tetapi mereka tetap tidak akan mau menyerah, sekalipun Demang Lehman itu digantung. Apakah begini ini dinamakan Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing?

                                        Mat Seman tidak akan mau menyerah, kalau tidak Demang Lehman itu sendiri yang membuat pengakuan menyerah?

                                        Baik. Kalau memang si Berandal Mat Seman akan mematuhi semua bentuk pengakuan Demang Lehman itu, maka kepada kamu Komalasari saya berikan kesempatan untuk berbicara dengan Demang Lehman itu. Tapi ingat bedug di Masjid sebentar lagi akan berbunyi. Kamu harus mampu meruntuhkan pendiriannya yang keras seperti batu itu. Demang Lehman harus mengakui kesalahannya. Demang Lehman harus mau meminta maaf dan mengomandokan dibubarkannya pemberontakan rakyat. Mengerti?

Wanita Tiga             :     Terima kasih. Saya akan penuhi keinginan Residen

Residen                   :     Lagi-lagi Residen, masih juga lupa, hah?

                                        (Memerintahkan tubab)         Tubab. Seret Berandal Demang Lehman itu kemari.

Tubab                       :     Bagaimana dengan bahasa bel itu?

Residen                   :     Masa bodoh dengan bell itu! Laksanakan!

Tubab                       :     Siap! (Surut menuju karangkeng)

Syarif Hamid           :     Residen. Kalau Demang Lehman itu akan dibawa ke ruangan ini, tidakkah lebih baik kalau saya menghindar dulu?

Residen                   :     Kamu takut?

Wanita Tiga             :     Mungkin dengan nasihat dan dorongan Tuan, akan lebih menguntungkan. Saya lebih suka kalau Tuan ikut menasihatinya.

Syarif Hamid           :     Yah, Saya akan menasihatinya. Tapi nanti. Maaf Residen. Nona, saya menunggu giliran di luar sana. (EXIT)

Residen                   :     Ha ha ha……. Ternyata dia tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri.

Tubab                       :     (Muncul) Berandal Demang Lehman, siap dihadapkan.

Residen                   :     Gud! Bawa Dia masuk.

Tubab                       :     (Agak kasar) Kamu orang jangan kurang ajar. Hei, Berandal, jangan bercekik pinggang di sini!

Demang Lehman       :   (Tiba-tiba marah) Bangsat (Meludahi) Anjing Kompeni…!!!     

Tubab                           :   (Ingin bertindak, tapi dicegah residen)

Residen                       :   Tubab. Biarkan dia kurang ajar! Demang Lehman….

Demang Lehman       :   Saya sudah tahu, apa kehendak kamu.

Residen                       :   Baik. Saya telah tawarkan untuk yang terakhir kalinya.

Demang Lehman       :   Tembaklah dia di hadapan saya.

Residen                       :   Saya tidak akan memaksamu, dengan cara yang sudah saya lakukan.

Demang Lehman       :   Berapa kau bayar dia.

Residen                       :   Sepeserpun dia tidak punya harga bagi saya. Dia datang kemari dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Mungkin ada harganya bagi kamu.

Demang Lehman       :   Seretlah saya ke tiang gantungan, sekarang juga.

Residen                       :   Itu pekerjaan yang gampang. Nah, saya masih berikan kesempatan. Tubab, jaga dia. (EXIT)

Tubab                           :   Tugas yang mengasikkan. (Mengambil tempat duduk residen)

Wanita Tiga                 :   Demang

Demang Lehman       :   Bicaralah seperlunya.

Wanita Tiga                 :   Demang Lehman. Saya, saya Komalasari.

Demang Lehman       :   (Setelah memandang) Banua banjar ini, harus dipalas dengan banyu darah!

Komalasari                  :   Demang Lehman pahlawanku

Tubab                           :   (Berbuat sebagai wayang kulit banjar)

Demang Lehman       :   (Mengancam tubab) Engkau kira saya ini sebuah boneka mainan kanak-kanak?! (Merenggut kerah leher tubab) Anjing Kompeni! Kau tidak mau sadar, bahwa engkaulah boneka mainan itu! (Melepasnya) Saya kasihan melihatmu. Bagaimana nasibmu nanti, apabila Walanda yang kamu pertuan itu, sudah angkat kaki dari Bumi Haram Manyarah ini! Keluar!

Tubab                           :   (Agak ketakutan. tapi ia malah tidak mematuhi perintah demang lehman. diambilnya tempat duduk yang lain)

Wanita Tiga                 :   Demang Lehman, Bersabarlah.

Demang Lehman       :   Dan Engkau, ada keperluan apa datang ke ruangan haram ini?

Wanita Tiga                 :   Saya hanya ingin tahu, apakah benar Tuan Residen telah memberikan keampunan atas diri Demang?

Demang Lehman       :   Memilih dari salah satu alternatif, yakni digantung atau mengomandokan dihentikannya perang.

Wanita Tiga                 :   Lalu bagaimana dengan Demang?

Demang Lehman       :   Engkau toh tidak punya kepentingan dalam pilihan saya ini.

Wanita Tiga                 :   Demang, barangkali belum tahu isi surat Raja Gusti Mat Seman dari Hulu Sungai Teweh.

Demang Lehman       :   Kau banyak tahu dalam soal-soal pemerintahan kerajaan Banjar? Siapa Kamu sebenarnya?

Wanita Tiga                 :   (Mengambil surat yang terletak di atas meja)

                                          Ini Surat itu (Menyerahkannya)

Demang Lehman       :   Surat ini kau sendiri yang membawanya?

Wanita Tiga                 :   Bacalah

Demang Lehman       :   (Membaca) Kenapa mesti begini? Gila!

Wanita Tiga                 :   Paduka Raja Gusti Mat Seman, punya pandangan jauh ke depan. Nah, apabila Demang memilih jalan kompromi, tentunya rakyat tidak akan dibinasakan oleh Versvijck. Keadilan, kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan yang merata, yang selama ini kita buru-buru, pasti akan menjadi suatu kenyataan.

                                          (Lirih) Korban di pihak kita sudah terlalu banyak. Mayat di atas mayat, air mata dan darah. Kelaparan, kemiskinan dan malapetaka lainnya silih berganti menerkam kita. Pilihlah kompromi itu, Demang.

Demang Lehman       :   (Matanya jalang sekilas hampir curiga)

Wanita Tiga                 :   Demang masih ingat peristiwa senja di sungai batang? (Meredup dan susuk terhenyak)

                                          Tapi peristiwa senja itu, sudah lama berlalu. Lama sekali. Satu peristiwa remaja kita yang dimabuk cinta…….Idis.

Demang Lehman       :   Engkau………

Wanita Tiga                 :   Ya, Akulah Sari itu

Demang Lehman       :   Sari,

Wanita Tiga                 :   Idis

Demang Lehman       :   (Baru sadar bahwa orang yang berada di belakangnya adalah Syarif Hamid dan Residen) Kamu Syarif Hamid?

Residen                       :   Betul sekali. Dia sekarang Raja. Raja di negeri kaya. Batulicin tempat istananya.

Demang Lehman       :   Penghianat….!!!

Syarif Hamid               :   Anta jangan dendam pada Ana, percayalah Anta, apa sebab Ana berbuat begitu. Ini semata untuk kepentingan rakyat dan kepentingan Islam itu sendiri.

Demang Lehman       :   Para arwah leluhurku, akan mengutukmu! Orang seperti kamu, tidak pantas diberi ampun!

Wanita Tiga                 :   Demang, jangan salah tuduh Demang. Pangeran ini justru membelamu.

Demang Lehman       :   Dialah yang menipuku. Dialah yang memperalat rakyat untuk menangkapku. Dijebaknya aku, di saat Aku payah dan sakit. Kedua senjataku dirampasnya. Singkirkan kerisku, dan kalibelah tombakku. Padahal kedua senjata itu, adalah pusaka warisan yang diberikan oleh Raja Banjar yang syah, Pangeran Hidayatullah yang terbuang ke Cianjur.

Wanita Tiga                 :   Kesampingkan dulu dendam itu Demang. Diri Demang kan sudah dianggap bebas. Ayolah Demang. Anak istri Demang sedang menunggu, sedang Aku sudah siap menjadi istrimu.

Residen                       :   Ayolah. Kita ke alun-alun. Saya akan umumkan bahwa kamu orang tidak jadi digantung. Rakyat tentu akan senang.

Syarif Hamid               :   Bedug maghrib, sebentar lagi akan berbunyi, tanda shalat akan dilaksanakan. Maafkan atas kesalahan Ana.

Demang Lehman       :   Itu bukan suatu penyelesaian. Dan saya akan membuat perhitungan. Kalau tidak di dunia, di akhirat pasti akan selesai.

 

15.  DI PINTU LUAR TELAH TERDENGAR KERIBUTAN ANTARA TUBAB DENGAN WANITA LAIN.

 

Wanita Dua                 :   Saya harus ketemu dia. Lepaskan. Lepaskan Saya.

Residen                       :   Tubab. Ada apa?

Tubab                           :   Ada satu lagi, Tuan.

Residen                       :   Lepaskan Dia…….Kau minta ditembak lagi hah?

Wanita Dua                 :   (Masuk dengan mata jalang)

Wanita Tiga                 :   Hei Mastaniah. Kau bisa masuk ke tempat ini?

Wanita Dua                 :   Kau kira masuknya aku ke sini, licik seperti kamu? Dan saya tidak ditembak mati, tanpa menjual kehormatan seperti Kamu. Pelacur!

Wanita Tiga                 :   Hati-hati dengan mulutmu itu!

 

16.  DENGAN KETUKAN-KETUKAN TONGKATNYA SAMBIL BERKOMENTAR SENDIRI, MENYEBABKAN SI TUBAB DIMARAHI DAN DIBENTAK RESIDEN.

 

Tubab                           :   Dan ternyata memang benar. Pertentangan itupun berawal dari adu argumentasi, antara dua orang wanita pribumi saja. Entah iri, entah dengki. Entah cemburu, entah pahitnya empedu. Semua kita memang belum tahu.

Residen                       :   Tubab!

Tubab                           :   Siap menunggu Bell

Residen                       :   Diam di tempatmu!

 

Wanita Tiga                 :   Aku bangga, kamu bisa menerobos barisan serdadu Marsose di pos jaga itu. Aku benar-benar bangga, sekalipun kewanitaanku telah kau corengi arang.

Residen                       :   Saya sudah mengerti duduk persoalannya. Baik. Tenang saja. Tidak usah bertengkar. Orang yang kalian anggap pahlawan itu, adalah kesayangan kalian. Dan saya cukup memahaminya. Tidak usah sedih dan tidak usah risau. Dia toh tidak akan digantung. Dia akan segera di bebaskan.

Wanita Dua                 :   Saya tidak sependapat.

Residen                       :   Apa kamu bilang? Tidak sependapat?

Wanita Dua                 :   Demang, jadilah pahlawan yang mati di tiang gantungan Demang.

Residen                       :   Ternyata kamu orang seorang perempuan gila.

Wanita Dua                 :   Demang tidak boleh tergoda oleh janji-janji.

Residen                       :   Kamu orang jangan membuat pendiriannya goyah kembali. Dia sudah meminta maaf kepada kompeni.

Wanita Dua                 :   Demang tidak boleh meminta maaf. Demang tidak pernah bersalah. Sebab apabila Demang gentar menghadapi tiang gantungan itu, berarti Demang akan mencelakakan anak cucu di Banua Banjar ini.

Residen                       :   Omongan apa pula itu, hah?

Wanita Dua                 :   Demang tidak boleh mewariskan nilai-nilai kepengecutan. Percayalah Demang. Generasi nanti, akan menjadi generasi banci. Demang, hadapilah kematian di tiang gantungan itu dengan gagah dan berani. Sebab dengan kematian berarti suatu kebebasan.

Residen                       :   Tutup mulut kamu itu!

Wanita Dua                 :   Darah dan air mata rakyat, adalah harta warisan yang paling mulia. Demang, Demang tidak boleh takut. Haram Manyarah! Waja Sampai kaputing!

Residen                       :   (Mengancam) kau minta ditembak, hah?!

Demang Lehman       :   Residen. Jangan ancam dia. Kamu boleh menggantung saya, tapi jangan perlakukan dia dengan kekejaman.

Residen                       :   Ohoo, akhirnya kamu punya perasaan juga. Gud. Saya tidak akan menembak dia, kalau kamu menghendakinya.

Wanita Dua                 :   Saya rela dengan kematian saya, tapi Demang tidak boleh menghentikan perlawanan.

Residen                       :   Kamu masih juga lancang, hah?

Demang Lehman       :   Semua ini, berpangkal dari ambisi dan nafsu serakahmu, Syarif Hamid (Berang).

Wanita Tiga                 :   Demang, jangan salah faham. Syarif Hamid ini, justru berpihak pada Demang.

Wanita Dua                 :   (Kepada Wanita Tiga)         Kamu juga pembunuh! Pembunuh hati nurani.

Demang Lehman       :   Kita harus mati bersama hari ini. Kubunuh Kamu! (Mencekik leher Syarif Hamid)

Wanita Tiga                 :   Demang. Jangan membunuh sekutu Walanda! Berbahaya! Lepaskan Dia! Residen. Selamatkanlah Syarif Hamid.

Residen                       :   (Buru-burru mengambil pistolnya) Hentikan! Lepaskan Dia! Tidak melepasnya, berarti kamu memilih mati di sini!

Demang Lehman       :   Baik. Saya tidak akan membunuhnya. Dan Saya pun tidak ingin mati di ruang tertutup ini.

Wanita Dua                 :   Tapi wanita murah ini, harus mati di ruangan ini! (Mencekik lehernya)

Residen                       :   Atau kamu orang yang harus saya tembak? Lepaskan dia!

Demang Lehman       :   Benar. Lepaskan Dia.

Wanita Dua                 :   Tidak akan saya lepaskan dia! Wanita munafik! Hibah warisnya, justru akan melunturkan rasa kebangsaan! Memalukan! Kau harus mati!

Residen                       :   Kurang ajar! (Menembaknya)

Wanita Dua                 :   (Terhuyung-huyung, karena  salah satu punggungnya ditembus peluru)

Demang Lehman       :   Residen. Kau tembak Dia?! (Proses dengan tempo yang panjang).

Residen                       :   Saya harus berbuat apa Demang? Saya, saya justru bermaksud tidak menghendaki  kematian Demang.

Wanita Tiga                 :   Demang Lehman (Mengambil Naskah Pernyataan). Kita akan meraih masa depan yang lebih baik bukan? Dan Demang tidak menghendaki kematian rakyat yang tidak berdosa tentunya.

Syarif Hamid               :   Dengan ditandatanganinya surat pernyataan itu, akan tentramlah persahabatan antar bangsa.

Demang Lehman       :   Tapi dibalik itu, isi perut bumi kami terkuras untuk mempercantik negeri bangsa-bangsa itu. Dan kamu (kepada Syarif hamid) telah menyembunyikan bisa taringmu itu, di balik gunung mesiu serdadu Belanda. Penjilat! Penipu! (Merobek Naskah Pernyataan)

Residen                       :   Demang lehman! Kamu robek itu surat pernyataan? Penghinaan! Kurang ajar!

 

  1. SPACE RUANG TUNGGU

 

Tubab                           :   Saya bingung. Semua orang juga bingung! Bingung, bingung dan bingung!

  1. SPACE RUANG KERJA

 

Residen                       :   (Marah Hampir Tak Terkedalikan) Tubab………..!!

                                          (Bell)

Tubab                           :   Siap! (Muncul) saya siap di samping tuanku!

Residen                       :   Demang Lehman. Kami akan catat, tidak kenal arti kompromi. Dan saya salah satu pengikut dan pewarisnya yang patuh.

Residen                       :   Borgol kembali!

Demang Lehman       :   Tidak perlu, dan saya tidak akan lari! Tuan Residen. Aksi teror Tuan hari ini, akan membuat senjata tuan memakan tuan sendiri. Giringlah saya ke tiang gantungan itu.

B E D U G                    :   (Terdengar dari kejauhan)

Wanita Tiga                 :   Demang lehman, Kau akan digantung?

Wanita Dua                 :   Kau tidak akan mati, pahlawanku. Percayalah….semangatmu,…….(Mati)

Residen                       :   Seret Dia!

Tubab                           :   (memperlakukan dengan tidak wajar)

Demang Lehman       :   Jangan perlakukan saya, seperti hewan. Sana. Siapkan tali gantungan itu! Anjing Walanda!

Tubab                           :   (Tampak seperi seorang kerdil)

 

19.  PADA SPACE B DI TIANG GANTUNGAN.

DI ANTARA DUA TIANG GANTUNGAN, SEORANG PETUGAS MENUTUP MUKA DEMANG LEHMAN, KEMUDIAN MEMASANGKAN KALUNG TALI KE LEHERNYA!

 

Residen                       :   Untuk ucapanmu yang terakhir, masih saya beri kesempatan. Silahkan!

Demang Lehman       :   (Melepaskan Tutup Mukanya)

                                          Panambahan Amiruddin Khalifatullah Mu’minin Pangeran Antasari almarhum telah menghibahkan rasa jijiknya kepada setiap unsur penjajahan di muka bumi ini. Dan dengan kematian saya hari ini, saya telah buktikan hibah waris itu. Semua  kita harus bebas dari najis. Harus bebas dari kemunafikan!

                                          Dangar-dangar barataan….

                                  Banua Banjar Kalo Kahada Dipalas Lawan Banyu Mata Darah

                                  Marikit Dipingkuti Kompeni Walanda!

                                  Haram Manyarah! Waja Sampai Kaputing!

                                          (Begitu Residen Memberi Abah-abah menarik trap berpijaknya Demang Lehman, layarpun tergelar ke bawah. Tampak bayangan tubuh terkulai di tali gantungan)

 

20.  PADA SPACE PRIBUMI TERJADI KEHARUAN DAN PERGOLAKAN

 

Wanita Satu                :   Tidak benar dia mati. Tidak benar dia mati! (Tersedu sedan karena haru) Tidak benar dia mati, Jiwanya dan semangatnya selalu ada pada kita. (tertangis) Kita harus lanjutkan perjuangan ini…….

                                          Tapi kita tidak boleh menangis. Yah, kita tidak boleh menangis. Lebih baik kita susun barisan Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing! Kita susun serapi-rapinya. Kita akan lawan serdadu, marsose, walau kita sampai mati…………..!!!!

                                          (Semua Pejuang Bergerak)

                                          Haram Manyarah,

Orang-orang                :   Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing!

 

==SELESAI==

 September 1986

Penulis H. Adjim Arijadi

PETANG DI TAMAN

 

“ PETANG di TAMAN ”

K a r y a                                   : Iwan Simatupang

Para Pemain

Orang Tua, OT             :

Lelaki Separuh Baya, LSB       :

Penjual Balon, PB                    :

Wanita, W                                :

Pemuda, Pa                             :

Pemudi, Pi                               :

 

Berlaku        :    Di sebuah taman, dalam jangka waktu kurang lebih                 satu jam, terus menerus.

Lelaki              Mau hujan.

 

Orang Tua        Apa ?

 

Lelaki              Hari mau hujan. Langit mendung.

 

Orang Tua        Ini musim hujan ?

 

Lelaki              Bukan. Musim kemarau.

 

Orang Tua        Dimusim kemarau, hujan tak turun.

 

Lelaki              Kata siapa ?

 

BUNYI GURUH

 

Orang Tua        Ini bulan apa ?

 

Lelaki              Entah.

 

Orang Tua        Kalau begitu saya benar. Ini musim hujan.

 

Lelaki              Bulan apa kini rupanya ?

 

Orang Tua        Entah.

 

Lelaki              Kalau begitu, saya benar, ini musin kemarau.

 

Orang Tua        Salah seorang dari kita mesti benar.

 

Lelaki              Kalau begitu, baiklah saya kalah. Ini musim hujan.

 

Orang Tua        Tidak, tidak !  Yang lebih tua mesti tahu diri, dan mengalah. Ini musim kemarau.

 

BUNYI GURUH

 

Orang Tua        Kita sama-sama kalah.

 

Lelaki              Maksudmu, bukan musim hujan, dan bukan pula musim kemarau ?

 

Orang Tua        Habis mau apa lagi ?

 

Lelaki              Beginilah, kalau kita terlalu gila hormat.

 

Orang Tua        Maumu bagaimana ?

 

Lelaki              Ah, kita boleh lebih kasar sedikit.

 

Orang Tua        Lantas.

 

Lelaki              Akan lebih jelas, musim apa sebenarnya kini.

 

Orang Tua        Dan kalau sudah bertambah jelas ?

 

Lelaki              (DIAM)

 

Orang Tua        (MERENUNG)  Dan kalau segala-galanya sudah ber-tambah jelas, maka kitapun sudah saling bengkak-bengkak, karena barusan saja telah cakar-cakaran. Dan siapa tahu, salah seorang dari kita tewas pula dalam cakar-cakaran itu. Atau keduanya kita. Dan ini semua, hanya oleh karena kita telah mencoba meng-ambil sikap yang agak kasar terhadap sesama kita (TIBA-TIBA MARAH) Bah ! Persetan dengan segala musim! Dengan segala musim !

 

BUNYI GURUH. TAK BERAPA LAMA MASUK PENJUAL BALON, BALON-BALONYA BERANEKA WARNA.

 

Orang Tua        (KEPADA PB)  Silahkan duduk.

 

Penj. Balon      (BIMBANG, MASIH SAJA BERDIRI)

 

Orang Tua        Ayo, silahkan duduk ! (MENEPI DI BANGKU)

 

Lelaki              Tentu saja dia menjadi ragu-ragu bapak buat.

 

Orang Tua        Kenapa ?

 

Lelaki              Pakai silahkan segala !  Ini kan taman ? (TIBA-TIBA MARAH) Dia duduk, kalau dia mau duduk. Dan tidak duduk kalau  dia memang tidak mau duduk. Habis perkara !  Bah! (MELIHAT DENGAN GERAM KEPA-DA PB)

 

Penj. Balon      (DUDUK)

 

Lelaki              (MASIH MARAH) Mengapa kau duduk ?

 

Penj. Balon      Eh… karena saya mau duduk.

 

Orang Tua        (TIBA-TIBA TERTAWA TERPINGKAL-PINGKAL)

 

Lelaki              (SANGAT  MARAH) Mengapa bapak ketawa ?!

 

Orang Tua        (DALAM TAWA) Karena… saya mau ketawa…. (TER-BAHAK-BAHAK)

 

BUNYI GURUH. BERHEMBUS ANGIN, BALON-BALON KENA HEMBUS, SEBUAH BALON TERLEPAS, CEPAT PENJUAL BALON MENANGKAPNYA. LELAKI MENERKAM BALON ITU SUPAYA IA TERLEPAS TERBANG KEUDARA. PENJUAL BALON DAN LELAKI BERGUMUL, BALON-BALON LAINNYA KINI LEPAS SEMUA DARI TANGAN PENJUAL BALON TERBANG KEUDARA, SEBUAH BALON ITU DAPAT TERTANGKAP OLEH ORANG TUA YANG KEMUDIAN BERMAIN-MAIN GEMBIRA, KEKANAK-KANAKAN DENGAN.

 

Lelaki              (LEPAS DARI PERGULATAN DENGAN PB, BER-DIRI NAFASNYA SATU-SATU)

 

Penj. Balon      (DUDUK DI TANAH, MENANGIS)

 

Orang Tua        (MASIH DENGAN GEMBIRANYA BERMAIN-MAIN DENGAN BALON TADI)

 

Lelaki              (KEPADA PB)  Mengapa… Hei….. mengapa kau menangis ?

 

Penj. Balon      (TAK MENYAHUT TERUS DUDUK DI TANAH, MENANGIS)

 

Lelaki              (TIMBUL MARAHNYA) Hei……..!  Mengapa kau menangis !

 

Orang Tua        (SAMBIL BERMAIN-MAIN TERUS DENGAN BALONNYA)  Karena di memang mau menangis.

 

Penj. Balon      (TIBA-TIBA)  Bukan ! Bukan karena itu.

 

ORANG TUA DAN LELAKI TERCENGANG

 

Lelaki              Kalau begitu kau menangis karena apa?

 

Penj. Balon      Karena balon-balon saya terbang.

 

Orang Tua        Oh! Dia pedagang balon yang merasa dirugikan.

 

Lelaki              Ooo, itu ! (MEROGOH DOMPET)  Nah, sekedar peng-ganti kerugianmu.

 

Penj. Balon      (BERDIRI) Tidak ! (DUDUK DI BANGKU, TANGIS- NYA MENJADI) Saya tidak mau dibayar !

OT dan LSB     (SEREMPAK) Tak mau ?!

 

Penj. Balon      (MENGGELENGKAN KEPALA)

 

Lelaki              Mengapa ?

 

Penj. Balon      Saya lebih suka balon.

 

Lelaki              (TAK MENGERTI) Tapi kau kan penjual balon ?

 

Penj. Balon      Itu hanya alasan saya saja untuk dapat memegang-megang balo. Saya pencinta balon.

 

Lelaki              Apa-apaan ini ?

 

Orang Tua        Mengapa merasa heran ? Dia pencinta balon, titik. Seperti juga orang lain, pencinta harmonika, pencinta mobil balap, pencinta perempuan-perempuan cantik. Apa yang aneh dari ini semuanya ?

 

Lelaki              (MASIH BELUM HABIS HERANNYA) Jadi kau ini sebenarnya bukan penjual balon ?

 

Orang Tua        (KEPADA PB)  Ini, terima balonmu kembali.

 

Penj. Balon      Tidak, bapak pegang sajalah terus.

 

Orang Tua        (HERAN) Saya pegang terus ?

 

Penj. Balon      Karena saya lihat bahwa bapak juga menyukainya. Saya suka melihat orang yang suka.

 

Orang Tua        (TERTAWA) Ah, ini bukan lagi kesukaan namanya, tapi kenangan. Kenangan pada dulu. Tidak nak, sebaiknya bila kau sudi, terima kembali balonmu ini.

 

Penj. Balon      Saya tak sudo, dan tak berhak menerima kenangan orang (MENOLAK BALON).

 

MASUK WANITA DENGAN MENDORONG KERETA BAYI

 

Wanita             (MENGGAPAI KEARAH BALON) Berikan kepada saya, kalau tak seorang pun menghendakinya.

 

Orang Tua        (TIBA-TIBA MEMECAHKAN BALON ITU, LALU MELIHAT GELI KEPADA W)

 

Lelaki              (SANGAT MARAH) Mengapa bapak pecahkan ?

 

Orang Tua        Karena saya memang mau memecahkannya. Jelas ? (TERTAWA)

 

Lelaki              Jahanam !  Orang Tua keparat !  (MENERKAM OT)

 

Wanita             (MELERAI) Sudah, sudah! Jangan berkelahi hanya karena itu. Bukan itu maksud saya tadi dengan meminta balon itu.

 

Lelaki              Lepas ! Lepaskan saya ! Biar saya hajar dia dulu !

 

Wanita             Jangan !  Jangan ! (MENANGIS)

 

Lelaki              (KESAL MELIHAT W MENANGIS)  Akh, air mata lagi !  Persetan ! Mengapa nyonya datang kemari !

 

Wanita             (TIBA-TIBA MARAH) Siapa bilang ssya nyonya !

 

Lelaki              Ooo, baik, baik ! Jadi, nyonya bukanlah nyonya ?  kalau begitu, nyonya apa ?  Nona barangkali….?

 

Wanita             (GUGUP)  Ti…… (MENANGIS)

 

Orang Tua        Ahaa…! Nyonya bukan, nonapun bukan…. Ahaaa…! (TERTAWA)

 

Penj. Balon      Sungguh kasar….! Sungguh biadab kalian………! (MENUNTUN WANITA DUDUK DI BANGKU) Sudahlah , bu ! Jangan hiraukan mereka. Sebaiknya ibu lekas-lekas pergi dari sini, sebelum mereka menghina ibu lebih parah lagi. Pergilah !

 

Orang Tua        (KEPADA PB)  Aha, pergi dengan kau ?  Ahaaai….. Akhirnya sang puteri bertemu dengan pangerannya di tengah sebuah taman. Dan, Ahaa ! Si anakpun akhir-nya bertemu dengan sang ayahnya…. (TERBAHAK-BAHAK)

 

Penj. Balon      (TIBA-TIBA MENYADARI MAKNA KATA-KATA DARI OT) Siapa bilang saya… (MELIHAT SILIH BERGANTI KEPADA OT, W, DAN KEDALAM KERETA) Tidak ! Tidak ! Saya bukan…

 

Orang Tua        (CEPAT MENYELETUK) Bukan apanya, nak ?

 

Penj. Balon      (KEPADA OT) Bapak mau menuduh saya ?

 

Lelaki              Menuduh apa bung ? Kau tampaknya begitu bernafsu berbincang tentang suatu tuduhan yang sebenanya tak ada. Kemudian, kau tampaknya begitu bernafsu menolak suatu tuduhan yang sebenarnya tak ada itu, ingat! Tuduhan yang tak ada itu, hingga, (TERTAWA) Saya kini benar-benar mulai curiga dan benar-benar menuduh kau tentang sesuatu yang dengan terus terang saja kukatakan belum jelas bagiku sendiri.

 

Penj. Balon      (BINGUNG)  Tidak !  Tidak !

 

Wanita             (DENGAN BERNAFSU SEKALI DATANG MEN-DEKAT KEPADA PB, MEMPERHATIKAN WAJAH-NYA DENGAN SANGAT TELITI)

 

Penj. Balon      (SEMAKIN GUGUP OLEH SIKAP W)  Tidak ! Tidak ! Bukan saya ! (MENCOBA MENUTUP MUKANYA DENGAN KEDUA TANGANNYA)

 

Wanita             (GERAM) Ayo, buka tangamu. Aku mau malihat kau ! Ayo !(MERENGGUT TANGAN PB DARI MUKANYA)

 

Penj. Balon      Tidak ! Bukan saya ! Bukan Saya !

 

Wanita             Jahanam ! Ayo, buka kataku ! Buka, Bukaaaa..!

 

Penj. Balon      Bukan saya ! Bukan saya !

 

Wanita             Kurang ajar ! Kau telah lari, ha ! Lari, dan kau tinggalkan aku sendirian dengan seluruh keadaan kedalam mana kau tempatkan aku dengan per-buatanmu. Aku sendirian harus menanggung semua-nya. Aku, seorang wanita, sendirian, hah ! (ME RENGGUT  KEDUA TANGAN PB DARI MUKA-NYA DENGAN SANGAT KUAT) Ayo, Bukaa !

 

Penj. Balon      Buka saya ! Bukan saya ! Saya Cuma berbuat sekali saja !

 

Orang Tua        (NYELETUK)  Itukan sudah cukup tolol !

 

Lelaki              (MENINGKAHI) Belum tentu. Menurut ilmu kedokte- ran modern…

 

Wanita             Ayo, buka tanganmu ! (KEPADA OT DAN L) Tolong- lahh saya tuan-tuan !

 

Lelaki              Bukan saya tak mau menolong. Tapi saya secara prinsipil tak sudi ikut-ikut campur dalam urusan yang bukan urusan saya.

 

Wanita             (KEPADA OT) Ayo pak, tolonglah saya !

 

Orang Tua        Saya orang tua…

 

Lelaki              Bah !  Apa pula maksudmu dengan kalimat datar serupa itu. Saya Orang Tua. Semua kami melihat, bahwa bapak memang seorang tua, dan sedikitpun tak ada memperlihatkan tanda-tanda, bahwa bapak adalah kebalikan dari ucapan itu.

 

Orang Tua        (GELI)  Katakanlah saya hanya ingin mempertegas kedudukan saya dalam peristiwa yang sedang kita hadapi ini, yakni, ketuaan saya melarang saya terlibat sedikitpun didalamnya. Dan kalau kalian tanya bagaimana pendirian saya  dalam peristiwa kalian yang sedikit rumit ini, maka jawab saya ; Saya pro kalian berdua, terlepas dari pertanyaan apakah benar atau tidak peristiwa itu telah benar-benar terjadi. Tegasnya saya pro setiap peristiwa beginian.

 

Lelaki              Kata-kata, hanya kata-kata yang muluk-muluk ! Sedang yang diminta sekarang ini dari bapak adalah perbuatan !

 

Orang Tua        Kata-kata saya yang mengemukakan pendirian saya itu adalah perbuatan saya !

 

Lelaki              Bagus ! Bagus !  Berkata-katalah terus, dan persaksi- kanlah betapa kedua mereka ini sebentar lagi bakal saling telan menelan. (MAJU MENOLONG WANITA MERENGGUT TANGAN KEDUA TANGAN PB DARI MUKANYA).

 

Penj. Balon      (SANGAT DAHSYATNYA)  Bukan saya! Bukan saya! Sungguh mati, saya Cuma melakukannya sekali saja, tak lebih…

 

Orang Tua        (GELI)….dan tak kurang !

 

Lelaki              Diam, bangsat !  Cuma sekali… Itukan sudah cukup ? Maumu berapa kali, ha ?  Serakah !  Jadi, kau menga-ku sekarang ?

 

Wanita             (HISTERIS) Aku, aku ditinggalkannya, dan dia meng- hilang meninggalkan aku menghadapi semua akibat- nya, (BUAS) Ayo, buka tanganmu !

 

Lelaki              (SANGAT DAHSYAT) Buka ! Buka !

 

SETELAH BERGUMUL SEBENTAR, L BERHASIL MERENGGUT- KAN TERBUKA KEDUA BELAH TANGAN PB. DARI WAJAHNYA, KEDUA TANGANNYA TERUS DIKEPAT L KEBELAKANG PUNG-GUNGNYA)

 

Penj. Balon      Bukan saya ! Bukan saya !

 

Wanita             (MAJU DEKAT SEKALI MALIHAT KEWAJAH PB) Bangsat !  Laki-laki jahanam ! Kurangaj…(TIBA-TIBA MEMEKIK) Bukan ! Bukan !  Ya Tuhan, bukan dia…

 

L dan OT         (SEREMPAK) Bukan dia !

 

Wanita             Bukan… (PINGSAN, TAPI CEPAT DIPEGANG OT)

 

Penj. Balon      (TERUS MERAUNG-RAUNG PUTUS ASA)  Bukan saya ! Cuma sekali !

 

Lelaki              (GEMAS MELEPASKAN KEDUA TANGAN PB) Huh, bukan kau…!

 

Penj. Balon      Bukan, bukan, bukan sayaaaaa ! Cuma sekaliiiii…..

 

Orang Tua        (REPOT MENGIPASI W) Sudah, cukup ! Biar kau melakukannya lebih dari sekali, sekarang ini soal soal itu sudah tak penting lagi. Ayo mari, daripada kau berteriak-teriak tak berguna begitu, lebih baik kau, (MELIHAT L) kalian menolong saya dengan dia ini (TERUS MENGIPASI)

Lelaki              Menolong bagaimana ?

Orang Tua        (SANGAT KESAL) Ya, menolong dengan melakukan apa yang lazimnya dilakukan pada setiap orang yang pingsan seperti dia ini.

Lelaki              Saya merasa agak segan.

Orang Tua        Segan ? Kenapa ?

Lelaki              Dia, eh…. perempuan….

Orang Tua        ….dan kau laki-laki. Bah ! Lagi-lagi ucapan cemplang. Semua orang melihat, bahwa  dia ini wanita dan kau memang laki-laki. Lalu, mau apa ?

Lelaki              Maksud saya, saya…. eh, segan bersentuhan dengan tubuh wanita.

Orang Tua        Apa ? Apa-apaan ini ! Ayo, lupakan kelaki-lakianmu dan tolong aku !

Lelaki              Saya adalah jenis laki-laki yang bila bersentuhan dengan tubuh wanita bisa terus…

Orang Tua        (MEMOTONG) Saya tahu, saya tahu. Tapi, laki-laki mana yang tidak…?

Lelaki              Oo, jadi bapak juga menganut prinsip yang sama ?

Orang Tua        (SANGAT TERCENGANG) Prinsip ? Ah, kata siapa ini soal prinsip. Aku malah lebih cenderung menye- butnya sebagai penyakit. Ah, persetan dengan semuanya. Bukankah setiap prinsip adalah penyakit juga ? Dan sekarang kuminta dengan hormat pada kau; hentikan kesukaanmu yang berlebih-lebihan pada, dan dengan, kata-kata itu. Sadarlah, bahwa dalam peristiwa seperti ini yang sangat segera dibutuhkan adalah perbuatan, tindakan cepat. Dan tindakan cepat itu disini adalah menolong aku ber-buat sesuatu dengan wanita pingsan ini.

Lelaki              Kalau tak salah, dengan orang pingsan… entah  dia perempuan, entah dia laki-laki… kita tak dapat ber-buat apa-apa selain daripada menantikan pingsannya lewat dengan sendirinya.

Orang Tua        Ya, ya, tapi bagaimana bila pingsannyaini tak bakal lewat ?

Lelaki              Dalam hal yang demikian, maka dalam arti yang sesungguhnya kita tak lagi berhadapan dengan seorang wanita pingsan, tapi…

Orang Tua        (SANGAT TAKUT) Tapi apa ?

Lelaki              Ya, bisa saja; dengan wanita yang…

Orang Tua        (SANGAT TAKUT) Yang….?

BAYI DALAM KERETA MENANGIS.

Wanita             (MENDENGAR BAYINYA MENANGIS, TIBA-TIBA W BERDIRI, DENGAN CEPAT MENUJU KERETA BAYI ITU) Anakku ! Anakku ! (BERUSAHA MENYU- RUH DIAM BAYINYA DENGAN CARA MENGO-YANG-GOYANGKAN KERETA BAYI ITU ) Kalian telah membuat dia bangun ! Bah ! Laki-laki kasar kalian semua ! (BAYI TERUS MENANGIS).

OT, L, DAN PB SALING BERPANDANGAN

Wanita             Sungguh laki-laki kasar, kasaar… (KEPADA BAYI) Sstt, sstt, sstt… diamlah nak, diam. Laki-laki semua-nya sama saja tanpa kecuali (MENANGIS)

BAYI DALAM KERETA ITU TAMBAH KUAT MENANGISNYA

Lelaki              (MENYERBU KE KERETA BAYI) Stop menangis ! Stooooop…!

Wanita             (MENCEGAH L) Jangan… jangan kau apa-apakan anakku !

Penj. Balon      (BERHASIL MENAHAN L) Apa-apaan ini ? Kau mau membunuh bayi ini barangkali ! Gila, benar-benar telah gila kau !

Lelaki              (DALAM RANGKULAN KASAR PB) Sudah kukata-kan stop ! Berhenti ! Jangan menangis, jangan ada yang menangis ! Jangan ada agi yang menangis… Aku tak kuat melihatnya…Tak kuat, Tak kuat melihatnya

Penj. Balon      (KEPADA W) Sebaiknya ibu pergi saja sekarang.

Orang Tua        Ya, kau sebenarnya telah menyebutkan kata yang setepatnya. Yakni Ibu (KEPADA W) Ya, sebaiknya ibu pergi saja.

Wanita             (AGAK GUGUP) Ibu… Saya Ibu… (MELIHAT BAYI-NYA DALAM KERETA) Baik, baik, saya kira juga lebih baik bila saya pergi.

Orang Tua        Nah, bagus, dan jagalah dia (MELIHAT KEDALAM KERETA) baik-baik. Dia (OT LALU BERDIRI DI SAMPING W, MELIHAT KEPADA BAYI) sungguh manis, anak yang sehat. (MENGITIK-NGITIK BAYI, KEDENGARAN SUARA BAYI TERTAWA-TAWA)

Penj. Balon      (BERDIRI DI SAMPING OT DAN W, IKUT MELI-HAT LUCU KEPADA BAYI DALAM KERETA ITU)

Lelaki              (BERHENTI ISAKNYA, PELAN-PELAN BERDIRI DI SAMPING OT, W, DAN PB, MELIHAT DENGAN TERSENYUM KEPADA BAYI DALAM KERETA)

Orang Tua        (TERUS MENGITIK BAYI DALAM KERETA)

BUNYI GEMURUH

Orang Tua        Nah, dengar tuh. Hujan bakal datang. Lekaslah ibu pulang.

Penj. Balon      Nanti dia (MENUNJUK BAYI) basah, bisa sakit.

Lelaki              Kalau ibu berjalan cukup cepat, ibu masih bisa kering sampai di rumah.

Wanita             Baiklah (MELIHAT TERHARU KEPADA KETIGA-NYA)  Terima kasih, kawan-kawan ! Berkat kalian bertiga, aku telah menemukan diriku kembali. Per- temuan dengan kalian ini tak akan mudah dapat kulupakan. (MENJABAT TANGAN PB) Maafkanlah aku, aku telah menempatkan diri saudara tadi dalam kedudukan yang sangat memalukan. (MENJABAT L, KEMUDIAN OT) Harap saudara-saudara memaafkan aku. Dan semoga kita saling bertemu lagi (PERGI LENYAP DARI PENTAS)

L, OT dan PB   Sampai bertemu lagu, Bu… (KEMUDIAN MEREKA SALING BERPANDANGAN PENUH ARTI).

BUNYI GURUH + ANGIN

Lelaki              Langit telah gelap benar. Hari mau hujan.

Orang Tua        (JENAKA) Kata siapa ?

Lelaki              Alaa, mau main pencak dengan kata-kata lagi ?

Orang Tua        Siapa yang mau main kata-kata ?  Lihat tuh, langit justru mulai terang.

L, OT DAN PB, SAMA-SAMA MELIHAT KE LANGIT.

Penj. Balon      Sungguh ajaib ! Langit benar-benar mulai terang sekarang.

Lelaki              (HERAN) Dan guruh yang barusan ?

Orang Tua        (TAMBAH JENAKA) Ya tetap guruh. Soalnya sekarang adalah, bahwa guruh yang barusan saja kita dengar itu sedikitpun tak ada mempunyai sangkut paut apa-apa dengan hujan. Hujan tak bakal turun, Jelas…!

Lelaki              Sungguh saya tak memahaminya lagi (GELENG KE-PALA, DUDUK).

Penj. Balon      Dan saya… sekiranya ditanyakan secara jujur kepada saya sedikitpun tak memahami persoalan apa yang sebenarnya yang ada antara kalian berdua. (DUDUK DI BANGKU. MEMUNGUT BALON YANG DIPECAHKAN OT DARI TANAH, MENIUP SOBEK-AN-SOBEKANNYA MENJADI BALON KECIL)

Orang Tua        Itulah celakanya dari tiap taman. Setiap orang yang datang ataulewat taman, menganggap dirinya mer-deka untuk mencampuri setiap pembicaraan, ya setiap pembicaraan, ya setiap penghidupan, yang ke-betulan sedang berlaku disitu.

Lelaki              Habis, inikan taman ?! Ini adalah tempat terbuka untuk umum. Disetiap tempat umum, ada pembicara-an umum. Oleh sebab itu, setiap orang boleh saja terus ikut bicara. Demi pendapat umum ! Kalau bapak mau punya pendapat tersendiri, yah… jangan datang ke taman !

Orang Tua        Lalu saya harus kemana ?

Lelaki              Kemana saja, asal jangan ke taman.

Orang Tua        Kau enak saja bicara. Kemana saja ! (SEDIH, PILU) Saya tak dapat kemana-mana.

Lelaki              Mengapa ?

Orang Tua        (TIBA-TIBA MENANGIS) Tak ada orang yang meng-inginkan saya. Seorangpun tidak.

Lelaki              Anak-anak bapak ?

Orang Tua        Delapan orang. Tapi, tak seorangpun dari mereka yang menyukai saya.

Lelaki              Terlalu ! Dan isteri bapak bagaimana ?

Orang Tua        (MERAUNG) Minah ! Minah !

Penj. Balon      (SELESAI MEMBUAT BALON) Siapa Minah ?

Lelaki              Ssst, Ibu… maksud saya ; isteri bapak ini.

Penj. Balon      (TERPERANJAT) I – b – u ?

Lelaki              Ssst, ibu… maksud saya ; isteri bapak kita ini

Penj. Balon      Oo, katakan begitu sejak tadi, dong. Hh, saya benar- benar dibikin kaget oleh perkataan “ Ibu “ tadi… Ehh, mengapa ibu, eh isteri bapak ini rupanya ?

Lelaki              Ssst, jangan kuat-kuat. Saya belum tahu.

Orang Tua        (MERAUNG-RAUNG) Minah, minaaah !

Lelaki              Siapa minah, pak ?

Orang Tua        Minah ! Minah !

Lelaki              Apakah minah isteri bapak ?

Orang Tua        Minah, minah mengapa kau tinggalkan aku ?

Lelaki              (KEPADA PB) Oo, jadi minah adalah memang isteri-nya, dan rupanya ia minggat.

Orang Tua        Minah, minah mengapa kau tinggalkan aku, setelah kita hidup bahagia delapan tahun.

Lelaki              Wah, delapan tahun. Kalau begitu, dia setiap tahun dapat seorang anak.

Penj. Balon      Hebat juga si Minah, eh isteri bapak kita ini, maksud saya.

Lelaki              Hebat ? Itu kau katakan hebat ? Huh, begitu rupanya tanggapanmu tentang manusia dan kemanusiaan ya ? Itu tafsiranmu rupanya tentang wanita, ya ? Aku me-nyebutnya ; iseng ! Manusia lelaki yang tak punya fantasi, lalu merongrong tubuh manusia perempuan.

Penj. Balon      Merongrong gimana, ah ! Kalau si perempuan tidak mau dirongrong, saya kira seluruh persoalan dan filsafat iseng itu tak aka pernah ada.

Lelaki              Ah, kau tahu apa ! Seolah filsafat iseng itu hanyalah filsafat ranjang dan hormon yang berlebihan saja. Seandainya bapak kita yang terhormat ini punya fantasi sedikit, maka apa yang hendaj kukatakan adalah ; alangkah baiknya, sekiranya selama delapan tahun di berumah tangga dengan isterinya yang bernama minah itu, dia cukup membuat dua anak saja  dan enam novel misalnya, (DENGAN SIKAP YANG SANGAT MENYANGSIKAN) Tunggu dulu pak ! Minah ini sebenarnya siapa ?

Orang Tua        (SUARA DATAR) Kucing betina saya. Kucing yang saya sayangi.

L dan PB          Kkkk… Kucing ?!

Orang Tua        Dia senatiasa pulang kembali. Tapi kali ini, dia telah menghilang lebih dari seminggu (MERAUNG) Minah, minah…!

Lelaki              (KESAL) Kucing !  Dan isteri bapak sendiri dimana ?

Orang Tua        Ada, di rumah.

Lelaki              Di rumah ? Rumah siapa ?

Orang Tua        Rumah saya, sudah tentu.

Penj. Balon      (YANG SEJAK TADI MENDENGARKAN) Sudahlah, hentikan segala kebohongan ini, tak sadarkah bapak, dan kau bung… Kita telah merangkai “ ambigu “ kita menjadi tontonan di taman indah ini. Saya tidak mau terlalu jauh terlibat, dan memilih menarik diri, maaf-kan saya. Permisi, pak tua… bung… Semoga Tuhan berkenan untuk tidak mempertemukan kita lagi dalam keadaan yang serupa ini, disini… selamat tinggal……

OT dan L         Selamat…tinggal….Nak…Bung…! (KEDUANYA KEMUDIAN DUDUK DI BANGKU, SALING PANDANG DAN MELIHAT PAKAIAN MASING-MASING).

Lelaki              Pulanglah, pak. Taman ini diadakan kotapraja untuk dapat sekedarnya menghibur warga kotanya yang letih, yang risau. Apapula kata mereka nanti di koran, bila esok pagi mereka dapati bapat di sini mati kedinginan ?

Orang Tua        (TERISAK-ISAK KECIL)  Mati adalah lebih baik bagiku dalam keadaanku seperti sekarang ini, minah tak ada lagi, minah…..

Lelaki              Benar, dan akupun sependapat dengan bapak. Hanya kematian bapak dirumah, akan lebih menyamankan kotapraja daripada di sini.

Orang Tua        Mati di taman lebih indah.

Lelaki              (TERTAWA)……Indah, ya…. bagi para pecinta roman picisan, yang menyukai judul-judul seperti “ Mati di Tengah Taman “ atau “ Taman Maut “. Pulanglah, Pak. Nantikanlah dengan tawakal di rumah apakmu yang penuh dengan cecunguk dan tikus itu di hari penghabisanmu. Sungguh sagat menyedihkan ! Tapi sayang sekali… jalan lan memang tak ada lagi bagi bapak.

Orang Tua        (MERENUNG) Cecunguk, tikus…..

Lelaki              …….dan kesepian

Orang Tua        Dan kau nak, bagaimana dengan kau sendiri ?

Lelaki              (TERSENYUM) Tak lebih baik sedikitpun dari bapak. Habis, kita mau berbuat apa lagi ? Seperti kata Penjual balon tadi ; aku mencoba menjadikan dari kegagalanku suatu barang tontonan indah di taman. Bapak lihat kembang api itu, di sana, bagus, Bukan ? Dan bapak baca tulisan dipapan yang dipancangkan oleh kotapraja dihadapannya ? Dilarang memetik bunga. (TERSENYUM).

Orang Tua        Ya, kau pengarang dan mahir benar kau membenam-kan deritamu dibalik kata-kata yang sewaktu-waktu dapat kau hamburkan. Tapi bagaimana nak dengan kesunyianmu ? Ikutlah saya kerumah saya yang apak itu. Agar adan teman saya. Dan agar ada teman anak.

Lelaki              Lalu… Isteri bapak…?

Orang Tua        Maafkan saya…isteri saya sudah delapan tahun meninggalkan saya, tepatnya dua minggu, setelah saya membawa minah dari jalanan…Oh… minah…! minaaah ! (SADAR DARI KETERHANYUTANNYA, MEMEGANG TANGAN L, SUARANYA MENINGGI) Ayo, anak ikut saja kerumah saya…

Lelaki              Terima kasih pak. Kebersamaan kita seperti yang bapak gambarkan tadi lebih parah lagi daripada kesendirian kita masing-masing.

Orang Tua        Naluri saya…dan ingat ! Ini naluri orang tua, lho…. berkata keadaan anak tak jauh bedanya dari keadaan saya.

Lelaki              Saya tak akan meningkahinya. Tapi telah saya katakan : Usia yang lebih muda ada pada saya. Ke-mungkinan-kemungkinan dari kesepian saya jauh lebih banyak.

Orang Tua        Artinya, anak tak mau ikut saya ?

Lelaki              Selamat malam, pak (MENYALAM DGN SANGAT MESRANYA PADA OT) Siapa tahu, besok kita akan bertemu lagi.

Orang Tua        Besok !

Lelaki              Ya, besok. Mengapa bapak sangsi akan hari esok ?

Orang Tua        Dengan keadaan kita seperti ini ?

Lelaki              Justru karena keadaan kita seperti inilah !

Orang Tua        (TERTAWA RAGU) Tidak, tidak !  Aku tak mau ber-temu kau lagi. (TERSENYUM) Selamat malam, Nak ! Mudah-mudahan tidurmu nyenyak dimana sata kau akan tidur malam ini (SAMBIL BATUK-BATUK, PERGI PELAN-PELAN, LENYAP DARI PENTAS)

L MENAIKKAN LEHER BAJUNYA. BANGKU DIBERSIHKANNYA DENGAN TANGANNYA. SEMUAGERAK-GERIKNYA MENANDA-KAN, IA MAU TIDUR MALAM ITU, SEPERTI JUGA MALAM-MALAM SEBELUMNYA, DAN MALAM-MALAM YANG BAKAL DATANG LAGI, DI BANGKU ITU

Lelaki              (MELIHAT KE LANGIT) Syukurlah, hujan tak bakal turun. Atau…mudah-mudahan hujan tak bakal turun malam ini. Tidur di bawah jembatan  dengan udara yang kotorannya bertumpuk di situ, membuat bengekku semakin jadi (IA MELIHAT SEKELILING, KALAU-KALAU ADA ORANG YANG DATANG. KEMUDIAN DIA MEREBAHKAN DIRINYA DI BANGKU ITU).

SUARA-SUARA BINATANG MALAM MULAI KEDENGARAN. ANGIN MENGHEMBUS DEDAUNAN DITAMAN, GEMERISIK. DI KEJAUHAN TERDENGAR SUAR MOBIL LEWAT, ANJING ME-NYALAK KEMUDIAN SUARA KERETA API YANG LEWAT SANGAT JAUH, JAUH SEKALI. TEK BERAPA LAMA KEMUDIAN, KEDENGARAN SUARA SEORANG PRIA DAN SEORANG WANITA TERTAWA GENIT, SEMAKIN MENDEKAT. MMASUKLAH KE-PENTAS SEPASANG MUDA MUDI BERPEGANGAN TANGAN ERAT SEKALI.

Gadis               (MELIHAT L DI BANGKU) Ssst, ada orang !

Lelaki              (GELAK TIBA-TIBA) Ya, ya. Bangku ini sudah ada orangnya (DIA DUDUK DI BANGKU) tapi ini kan taman. Di sana ada bangku kosong (TERTAWA) Kesanalah kalian. Saya tak akan melihat, sungguh… (GELAK) Lagi pula, saya sangat mengantuk.

GADIS DAN PEMUDA NAMPAK MALU

Lelaki              Ayo, pergilah kesana, jangan sia-siakan kesempatan, selagi kalian masih muda. (GELAK) Saya benar-benar tak akan melihat. Lagi pula saya amat letih, amat mengantuk….

GADIS DAN PEMUDA, SETELAH RAGU-RAGU SEBENTAR, PERGI KE ARAH YANG TELAH DITUNJUKKAN OLEH L

Lelaki              (TERTAWA MENGERTI, SEJENAK IA MENGIKUTI DENGAN MATANYA, KEMUDIAN IA REBAHKAN KEMBALI TUBUHNYA DI BANGKU ITU) Lagi pula, saya amat mengantuk… amat letih…. letih……………

SUARA – SUARA BINATANG MALAM SEMAKIN KENTARA. ANGIN BERHEMBUS, DIKEJAUHAN ANJING MENYALAK DAN SUARA KERETA API YANG LEWAT………..

                                                T A M A T

MALAM JAHANAM

 

MALAM JAHANAM

KARYA : MOTINGGO BOESJE

 

DIPINGGIRAN LAUT KOTA KAMI, PARA NELAYAN TAMPAK SELALU GEMBIRA MESKIPUN MISKIN. RUMAH MEREKA TERDIRI DARI GUBUK, TIANG BAMBU BERATAP DAUN KELAPA. SUARA MEREKA YANG KERAS DAN GURAUAN KASAR MEREKA, SEOLAH MENGESANKAN BAHWA MEREKA KURANG AJAR. BEGITU PULA PAKAIAN MEREKA, YANG LELAKI BERCELANA KATOK DAN BERBAJU KAOS HITAM DENANG GOLOK DIIKAT DI PINGGANG.

 

KAIN SARUNG TERSELEMPANG, BERKOPIAH DAN MATA YANG TAJAM MENGESANKAN DARAH YANG KERAS.

 

PERERMPUAN DISINI BERBICARA PEDAS, PENUH GAIRAH DAN PAHIT. PAKAIAN MEREKA MENCOLOK DI TUBUH PADATNYA, MENCOLOK SEPERTI KETAWANYA YANG KERAS, SAMBIL BIBIR BERGINCU ITU MELEMPARKAN SENYUM YANG SEOLAH-OLAH KURANG AJAR.

 

TETAPI BETAPUN SEBENARNYA, MEREKA, SEPERTI DIMANA-MANA MEMPUNYAI JUGA KELEMBUTAN HATI DAN KETULUSAN, BIARPUN MUNGKIN KETULUSAN YANG AGAK BODOH.

 

MALAM INI SEMUA ITU TERJADI.

 

I

 

MALAM INI, PERKAMPUNGAN NELAYAN ITU, DIRUMAH MAT KONTAN DAN SOLEMAN TAMPAK SEPI. BARANGKALI HAMPIR SEISI KAMPUNG MELIHAT  UBRUK, SEBAB BUNYI UBRUK DISEBELAH TIMUR BEGITU SAYU MENIKAM-NIKAM.

 

HANYA UJUNG ATAP DAN TONGGAK BAMBU RUMAH SOLEMAN SAJA YANG TAMPAK DIKIRI. DEKAT TONGGAK BAMBU ITU TERGANTUNG SEBUAH LENTERA YANG DIOMBANG-AMBING ANGIN BARAT. ADA SEBUAH BANGKU DIBAWAH LENTERA ITU, BIASA DIPAKAI OLEH SOLEMAN UNTUK DUDUK-DUDUK, TAPI MALAM INI BANGKU ITU KOSONG.

 

RUMAH YANG DIHADAPAN RUMAH SOLEMAN ITULAH RUMAHNYA MAT KONTAN, SEORANG YANG TERKENAL SOMBONG DI KAMPUNG ITU. PINTU RUMAHNYA TERTUTUP. BIASANYA, DISEBELAH KANAN PINTU ITU IA DUDUK DI SEBUAH BANGKU BAMBU PANJANG. DENGAN MENAIKI BANGKU ITU IA SERING BERSIUL MEMPERMAINKAN PERKUTUTNYA  DI DALAM  SANGKAR YANG TERGANTUNG PADA UJUNG ATAP. DIKIRI PINTU ADA BEBERAPA PELEPAH KELAPA TERONGGOK. SEBUAH TIANG JEMURAN DI DEPAN RUMAH MASIH DISANGKUTI PAKAIAN, PERLAHAN TERHEMBUS OLEH BIAS YANG BERHEMBUS DARI BALIK RUMAHNYA BERSAMA KERTAS-KERTAS.

DIKEJAUHAN KELAM, SAMAR BUNTUT PERAHU, BEBERAPA TIANG TEMALI PERAHU MENGABUR. SUNYI MAKIN TERTEKAN KARENA SUARA UBRUK DIKEJAUHAN ITU SEMAKIN MENGERAS.

 

II

 

TIBA-TIBA SUNYI ITU DIPECAHKAN OLEH SUARA TERTAWA PENDEK GELI DARI SI UTAI SETENGAH PANDIR YANG BARU KELUAR DARI PINTU RUMAH MAT KONTAN. IA TERUS BERLARI DAN BERSEMBUNYI DI DEKAT POJOKAN RUMAH SOLEMAN. TERTAWANYA TERTINGGAL DI SANA. TAK LAMA SESUDAH ITU KELUAR PAIJAH ISTRI MAT KONTAN BERTERIAK SAMBIL MENCARI-CARI.

 

PAIJAH                :   Kurang ajar! Kurang ajar! Kurang ajar, si Utai sinting! (MATANYA MELIHAT JEMURAN DAN MENGAMBIL SATU PERSATU JEMURAN ITU, TETAPI IA MASIH JUGA MENCARI-CARI SI UTAI. KETAWA SI UTAI MELEDAK)

UTAI                    :   Ampun! Ampun! (MUNCUL DARI PERSEMBUNYIANNYA SAMBIL MENGGARUK KEPALA)

PAIJAH                :   Babi! (TAPI KEMUDIAN TERTAWA LUCU). Ayo bawa pakaian si kecil ini ke jemuran! Eh, edan! Eh, ke jemuran (LATAH), Eh, bukan! Ke dalam!

UTAI                    :   Saya kira saya mau dipukul tadi! (MENGAMBIL PAKAIAN) Saya sudah panas dingin (SAMBIL TERTAWA IA MASUK)

 

PAIJAH BERJALAN MENUJU BANGKU DI MUKA RUMAHNYA, DUDUK, BERNAFAS  LEGA. TAK LAMA KEMUDIAN KELUAR UTAI TERTAWA GELI.

 

UTAI                    :   Si kecil tidur lagi biarpun kepalanya panas. (TAK DIHIRAUKAN), He, kau anggap batu saja mulut saya ya?

PAIJAH                :   (DENGAN NADA MENGAMBANG) Sudah malam belum pulang.

UTAI                    :   Siapa?

PAIJAH                :   Mat Kontan!

UTAI                    :   Dia itu orang paling repot di kampung kita. Tidak? Tidak ha?

PAIJAH                :   Dari pagi belum pulang.

UTAI                    :   He eh! Dari pagi saya belum merokok sebab dia nggak ada. Kemana sih dia?

PAIJAH                :   Mestinya beli burung ke Kalianda! (MELENGOS KE GANTUNGAN SANGKAR DI SAMPING). Nggak cukup satu dua. (DIAM SEBENTAR) kalau tidak, mestinya pergi taruhan. Kalau tidak …………

UTAI                    :   (MELIHAT SESUATU TERBANG) Kalau tidak,  menangkap kumbang (MELOMPAT DAN BERPUTAR-PUTAR DI HALAMAN SAMBIL TANGANNYA MENANGKAP SESUATU TAPI TIDAK KENA-KENA).

PAIJAH                :   Bangsat. orang omong benar dia main-main.

UTAI                    :   (KECEWA KARENA TIDAK MENDAPATKAN). Apa tadi mpok? Apa?

PAIJAH                :   Si Kontan, lakiku. Mat Kontan.

SUARA TANGIS BAYI DI DALAM MENGANGETKAN PAIJAH

 

PAIJAH                :   Duuuuh! Si Kontan kecil nangis lagi, tuh! Kau sih ribut tertawa saja!

 

PAIJAH MASUK. UTAI KECEWA, PERGI PERLAHAN KE SUDUT RUMAH MENGAMBIL PELEPAH DAUN KELAPA. BERJINGKAT DIA PERGI, MENGHILANG DI BALIK KELAM DALAM SIUL SINTINGNYA.

 

III

 

SOLEMAN MUNCUL DARI RUMAHNYA. IA TAHU KEMANA UTAI PERGI. KEMUDIAN IA MELIHAT SEKELILING. IA DUDUK-DUDUK DI BANGKUNYA DENGAN LUTUT MENUTUP MUKANYA, TAPI ASAP ROKOK MENGEPUL DARI BALIK LUTUT ITU. KINI MATANYA MENATAP KE PINTU RUMAH MAT KONTAN LAMA-LAMA SAMBIL MEMBETULKAN SARUNG YANG MELINGKARI LEHERNYA. SEBENTAR-BENTAR KOPIAHNYA DITEKAN-TEKAN, TAPI KEMUDIAN MENOLEH MENDENGAR SUARA DIKEJAUHAN. SUARA ITU ADALAH SUARA TUKANG PIJAT, SEORANG BUTA YANG SERING MELINTAS SAMBIL MENYERET KALENG BEKAS SUSU. BARU KEMUDIAN IA MUNCUL DISAMPING RUMAH MAT KONTAN, TAPI TAK BEGITU JELAS KARENA DISANA AGAK GELAP.

 

TUKANG PIJAT :   ( ANEH DAN SPESIFIK SEKALI) Jaaaaat………pi, jaaaaat….pi          ( BERULANG-ULANG DAN MEMBUAT KESAL SOLEMAN KARENA BUNYI KALENGNYA MEMBUAT BERISIK)

SOLEMAN          :   Hei ! Sudah berapa kali dibilang, jangan kelewat keras kalau lewat disini!

TUKANG PIJAT :   Hee, kau Leman ? Ngak melihat pertunjukan ubruk?

SOLEMAN          :   Ngak. Pergi sana!

TUKANG PIJAT :   (KEMBALI DENGAN SUARA KHASNYA PERGI MENGHILANG)

SOLEMAN          :   (BERNAFAS LEGA DAN MENGELUARKAN PISANG DARI KANTONGNYA. TAPI…)

UTAI                    :   (DATANG DENGAN KETAWA PENDEKNYA YANG MENJENGKELKAN) Man. Bagi Man.

SOLEMAN          :   Ini satu lagi biang keladi. Pergi sana!

UTAI                    :   (MEMPERHATIKAN DENGAN SEDIH KULIT PISANG YANG DIBUANG). Kalau begitu, bagi dong rokoknya!

SOLEMAN          :   (MENGAMBIL ROKOK KRETEKNYA DAN MELEMPARKAN SEBATANG) Pergi sana! Nanti kutendang kau!

UTAI                    :   (SETELAH MEMUNGUT ROKOK) Terimakasih pak. (IA PUN MENGHILANG, PAIJAH MUNCUL DI PINTU RUMAHNYA).

PAIJAH                :   Ada apa Man?

SOLEMAN          :   Jahanam betul mereka!

PAIJAH                :   (DUDUK DI BANGKUNYA. SOLEMAN MEMANDANG PAIJAH, TAPI PAIJAH MENGHINDARI PANDANGAN ITU DENGAN MELIHAT KEARAH KEGELAPAN. SUARA KERETA API DARI JAUH SEMAKIN DEKAT, LALU MELINTAS DERUNYA DIBALIK RUMAH SOLEMAN, DISINI PANDANGAN MEREKA BERTEMU).

SOLEMAN          :   (MASIH MEMANDANGI PAIJAH, MEMASANG ROKOK DAN BERKATA ACUH TAK ACUH) Kau ngak keluar malam ini Jah?

PAIJAH                :   (TERKEJUT, MEMBALAS PANDANGAN). Ngak.

SOLEMAN          :   Begini gelap malamnya.

PAIJAH                :   Ya, gelap. Hati saya juga ikut gelap.

SOLEMAN          :   Kau susah Jah!

PAIJAH                :   Tahu sendiri saja! Ya, memang saya susah, Man.

SOLEMAN          :   Kau dengar suara ubruk di sana?

PAIJAH                :   (ANGGUK). Kudengar. Kau ngak pergi?

SOLEMAN          :   Ngak! Capek! Semalam suntuk saya  dan lakimu main empat satu. (MELIHAT PAIJAH MURUNG). Kau murung benar!

PAIJAH                :   Si Kecil sakit. Kontan belum pulang. Panas saja badannya seharian ini!

SOLEMAN          :   Ngak dibawa ke dukun!.

PAIJAH                :   Dukun! Dan punya laki yang asik dengan perkutut, kepala haji, beo dan kutilang? Mana bisa jadi!

SOLEMAN          :   Tiap hari kau mengumpat begitu.

 

SUARA TANGIS BAYI MENYEBABKAN PAIJAH TERKEJUT BEGITU JUGA SOLEMAN. PAIJAH MASUK RUMAH DAN DIIKUTI OLEH SOLEMAN, DI KEJAUHAN TERDENGAR TAWA MAT KONTAN. SOLEMAN KELUAR, LEWAT SAMPING RUMAH DAN MENGHILANG).

 

IV

 

DENGAN MEMBAWA SANGKAR BURUNG MAT KONTAN TERTAWA KESENANGAN. SETIBA DI DEPAN RUMAH SOLEMAN, IA BERHENTI.

 

MAT KONTAN   :     Hei,  Man! Kau masih tidur ha? (KARENA TIDAK DIJAWAB IA KETAWA LAGI) Kalah cuma lima puluh kok susah! (MENUJU SANGKAR BURUNG PERKUTUT YANG BERGANTUNG DAN BERSIUL MENIRUKAN BURUNG ITU). Hiphooo (MENGAMBIL SANGKAR DAN MELIHAT SEKELILING) Sudah hampir malam nih! Kau musti tidur, tut. Sekarang kau sudah kucarikan bini. Nih! (IA MENUNJUKKAN SANGKAR YANG BARU DIBAWA). Jah? (IA KETAWA LAGI). Paijah? (KARENA TAK DIJAWAB MAKA IA MASUK RUMAH, TAPI KEMUDIAN IA KELUAR KEMBALI DAN DUDUK DI BANGKU BAMBU SAMBIL MENGGARUK KUDIS KAKINYA. MATANYA SILAU KENA SOROT BATERI DARI TEMPAT KELAM).

MAT KONTAN   :     Siapa itu! Siapa itu!

SOLEMAN          :     (MUNCUL MENDEKAT DAN MEMPERMAINKAN CAHAYA SENTERNYA). Baru pulang Tan?

MAT KONTAN   :     ( TERTAWA GEMBIRA DAN MELOMPAT). Kau tahu?

SOLEMAN          :     Apa? Burung lagi?

MAT KONTAN   :     (MELEDAK TERTAWANYA). Ha! Bagaimana kau bisa menebak? Darimana kau tahu itu?

SOLEMAN          :     (DUDUK). Saya kira kau tadi ngobrol dengan haji Asan di tikungan gudang lelang. Betul ngak? Ha?

MAT KONTAN   :     Ha, kali ini kau salah tebak! Matamu sudah lamur barangkali! Bukan haji Asan, tapi Pak Pijat! Tapi itu tidak penting Man. Kau tahu perkutut yang kubawa tadi? Itu adalah perkutut yang paling mahal harganya di dunia. Uang ikan yang kita dapat kemarin dari borongan itu, saya belikan semua buat perkutut. Dan kekalahan kau yang berjumlah lima puluh itu buat ongkos mobil. (MEMANDANG SOLEMAN TERDIAM DISANGKANYA TAK MEMPERHATIKAN) Ha? Kau tak percaya ha? Mau liha? Mau lihat?

SOLEMAN          :     Percaya sih percaya. Tapi anakmu, si kecil, sakit kan?

MAT KONTAN   :     Persetan si kecil! (SADAR)  O, anakku! Maksud saya tadi persetan penyakit. Mudah-mudahan ia lekas sembuh!

SOLEMAN          :     Kalau sembuh. Kalau tidak sembuh bagaimana?

MAT KONTAN   :     Ha ? Maksudmu…………..mati?

SOLEMAN          :     (MENGANGGUK)

MAT KONTAN   :     Kau kira si kecil bisa mati? Mat Kontan kecil bisa mati, begitu?

SOLEMAN          :     Sedang Nabi bisa mati?

MAT KONTAN   :     Jangan takuti saya Man. Itu satu-satunya kebanggaan saya disamping burung dan bini saya Paijah. Saya telah terlanjur berdo’a pada Tuhan agar Cuma dikaruniai satu anak. Kalau si kecil mati tentu hilanglah kebanggan saya sepotong.

SOLEMAN          :     (TERTAWA MENGEJEK)

MAT KONTAN   :     Kau mengejek saya ya?

SOLEMAN          :     Bukan mengejek, tapi kau ngak kasihan sama satu nyawa?

MAT KONTAN   :     Ya kasihan!

SOLEMAN          :     Kau ngak kasihan sama binimu?

MAT KONTAN   :     Ya kasihan!

SOLEMAN          :     Dari tadi ia tunggu kau datang.

MAT KONTAN   :     Benar? Masa! Ah, tak usah repot-repot perkara perempuan.

SOLEMAN          :     Kau terlalu mengutamakan burung daripada binimu dan si kecil.

MAT KONTAN   :     Memang!

SOLEMAN          :     Memang. Kau tidak bangga punya bini cantik ha?

MAT KONTAN   :     Bangga? Sudah saya bilang tadi saya bangga. Saya kan sudah lama ngak ke kota Agung? Tadi saya ke sana. Saya bilang bahwa saya sudah punya anak satu sekarang. Anak, yang keluar dari rahim bini saya yang cantik.

SOLEMAN          :     Tapi kebangggaan itu tak pernah terasa oleh binimu.

MAT KONTAN   :     (MEMANGGIL) Paijah, Paijah!

PAIJAH                :     (MUNCUL). Ada apa?

MAT KONTAN   :     Saya akan mengatakan kepadamu bahwa saya tadi ke kota Agung dan bertemu dengan kawan-kawan lama.Saya bilang, bahwa kau sudah punya anak sekarang.

PAIJAH                :     Tapi sudah itu kau terus cari burung.

MAT KONTAN   :     (SALAH KIRA). Ha, Ijah!

PAIJAH                :     Tanpa memikirkan kami.

MAT KONTAN   :     Hah? Ah masuklah kau! Tidak mengerti urusan lelaki. Masuklah. Kami mau ngobrol.

 

PAIJAH MASUK

 

MAT KONTAN   :     Biniku memang manis.

SOLEMAN          :     (HANYA MENGANGGUK)

MAT KONTAN   :     Kau tahu apa yang terjadi sesudah saya bilang bahwa saya sekarang sudah punya anak? (DIAM SEBENTAR, KEMUDIAN TERTAWA). Mereka yang dulu sering mengejek saya sebagai lelaki mandul jadi konyol.

SOLEMAN          :     (MEMPERMAINKAN UJUNG KAKINYA, LALU MALAS MEMPERHATIKAN MAT KONTAN). Saya pulang dulu. Pintu belum dikunci.

MAT KONTAN   :     Nanti dulu. Hei, kan kita ada nih?

 

SOLEMAN TETAP PERGI KERUMAHNYA. DEPAN PINTU RUMAHNYA IA BERDIRI, SEPERTI ADA YANG DIPIKIRKANNYA. TIBA-TIBA.

 

MAT KONTAN   :     Man! (SOLEMAN TAK MENOLEH). Kau ngak enak mendengar saya ngomong sekarang ya? Kalau kau mau diganti kembali uang kekayaanmu kemarin. Baiklah!

SOLEMAN          :     Sesuatu yang sudah kita serahkan, sukar untuk ditarik kembali.

MAT KONTAN   :     Apa maksudmu? Apa maksudmu Man?

SOLEMAN          :     Ya, sesuatu yang sudah kau punyai sekarang, biar bagaimanapun, bukan milik saya lagi.

MAT KONTAN   :     Saya tak mengerti Man.

SOLEMAN          :     Memang kau tak pernah mengerti.

MAT KONTAN   :     Ha? Saya tak pernah mengerti? Saya pikir, sayalah  orang yang paling mengerti tentang sesuatunya di dunia ini.

 

MAT KONTAN LALU PERGI KETENGAH HALAMAN, LALU MELIHAT KE LAUT DAN BERKATA SAMBIL MENUNJUK-NUNJUK.

 

MAT KONTAN   :     Saya mengerti angin, ikan, burung, wayang dan agama.

SOLEMAN          :     Kau juga mengerti tentang pasir? Pasir boblos?

 

MAT KONTA MERASA SESUATU, SEHINGGA IA TERSENTAK. DENGAN CEPAT IA MELOMPAT KE SOLEMAN, KETIKA MUKANYA TIBA-TIBA DISENTUH TRAGEDI SEHINGGA IA BERKERINGAT . DIDEKAPNYA KAWANYA ITU.

 

MAT KONTAN   :     (TAKUT). Jangan bilang tentang itu, Man. Saya paling takut kalau kau bilang perkara itu. (MELEPASKAN). O, aku takut  kalau kau ulangi cerita lama itu. Saya adalah orang yang kepingin panjang umur, Man. He, kau masih ingat peristiwa itu, Man?

SOLEMAN          :     Masih.

MAT KONTAN   :     Kau masih ingat bagaimana saya kejeblos dalam pasir dan berteriak minta tolong ketika hampir mati?

SOLEMAN          :     (MENGANGGUK)

MAT KONTAN   :     Saya harap sungguh, hal itu jangan kau ceritakan lagi.

 

MAT KONTAN KEMBALI KE PEKARANGAN RUMAHNYA, DUDUK DIBANGKU, LAMA TERMENUNG KARENA TAKUT.

 

MAT KONTAN   :     Man. Sini Man.

SOLEMAN          :     Saya sudah bosan dengan cerita itu-itu juga. (TAPI KEMUDIAN IA MENDATANGI MAT KONTAN).

MAT KONTAN   :     Sungguh, Man. Saya kepingin hidup panjang umur. Kepingin melihat si Kontan kecil yang jadi milik saya satu-satunya. Semoga nanti persis seperti saya sifatnya.

SOLEMAN          :     Kalau sifatnya seperti saya bagaimana?

MAT KONTAN   :     (TERDIAM TERPERANGAH BERNAFAS BERAT). Itu tentu saja tak mungkin. Sedang namanya saja sudah persis seperti saya. Kau dengar? Kontan kecil! Si Kontan keci!!

SOLEMAN          :     Sudah pekak kuping saya mendengar lagakmu.

MAT KONTAN   :     Biar!

SOLEMAN          :     Mulai malam ini jangan ceritakan lagi tentang anakmu itu. Ceritakanlah yang lain.

MAT KONTAN   :     Kalau begitu cerita saya, saya tukar. Apa ya?

 

SOLEMAN PERGI KETEMPAT JAUH YANG AGAK GELAP. MEMPERMAINKAN KERIKIL DAN MELEMPARKANNYA JAUH-JAUH.

 

MAT KONTAN   :     (LEMBUT) Man. (SOLEMAN TAK MENYAHUT). He, Man (TAK MENYAHUT). Man. Kau iri pada saya Man? Kau iri kalau saya begitu bahagia punya istri dan anak?

SOLEMAN          :     Tidak. Tidak iri.

MAT KONTAN   :     Jadi kenapa kau benci kalau saya cerita tentang si kontan kecil?

SOLEMAN          :     Buat apa saya iri padamu. Kau juga sering membohongi diri sendiri. Ya, kau juga sering berlagak.

MAT KONTAN   :     Pasti! Pasti kau iri pada saya. Kau iri karena saya punya bini yang cantik. Seorang anak lagi yang bakal cinta pada perkutut bapaknya. Kau juga iri barangkali, sebab kalau kita main taruhan empat satu kau selalu saja kalah.

 

SOLEMAN KEMBALI MENDEKATI MAT KONTAN. MULANYA MAT KONTAN TAKUT TAPI SETELAH DILIHATNYA SOLEMAN TERTAWA IA HERAN. APALAGI DILIHATNYA SOLEMAN DUDUK DI BANGKUNYA DAN MAIN KERIKIL.

 

SOLEMAN          :     Ceritalah lebih banyak, Tan. Biar saya tuli.

MAT KONTAN   :     Jadi kalau begitu kau masih senang pada saya? Kalau begitu tebakan saya salah kali ini. Belum pernah saya menebak salah tentang dri seseorang selama ini. (DUDUK). Bagaimana saya akan menceritakan lebih lanjut tentang bini saya, ha?

SOLEMAN          :     (HANYA MENGANGGUK-ANGGUK KETIKA MAT KONTAN TERTAWA LEBAR)

MAT KONTAN   :     Bagaimana bini saya!?

SOLEMAN          :     Cuma satu jawabanya, cantik!

MAT KONTAN   :     Bagus! Lagi! Lagi!

SOLEMAN          :     Mengairahkan!

MAT KONTAN   :     Betuuuuuul, betul. Dan saya sekarang kepingin membelikan dia baju rok. (MENGELUARKAN UANG DARI KANTONG). Ini. Tadi saya menang judi.

SOLEMAN          :     Apa? Rok. Baju rok Sanghai kata orang itu?

MAT KONTAN   :     Iya! Saya lihat bini si Sadu, Si Johari dan Si Hidayat pada pakai rok model Cina sekarang. Bini Bastari sudah beranak tiga malah pakai itu.

SOLEMAN          :     Tapi binimu lebih bagus pakai kebaya sempit begitu.

MAT KONTAN   :     Kau tahu apa tentang perempuan. Buktinya kau belum punya bini sampai sekarang. Itu sudah kuno, bung.

SOLEMAN          :     Kuno dan tidak kuno bukan pada pakaian.

MAT KONTAN   :     A-ha! Persetan! Tapi kenapa kau bilang mesti berkebaya.

SOLEMAN          :     Pakai kebaya itu gulung kainnya sempit. Jadi bisa menggiurkan jejaka-jejaka.

MAT KONTAN   :     Jadi kalau begitu kau juga senang dan tergiur jika melihat bini saya memakai pakaian sempit-sempit?

SOLEMAN          :     (MENGANGGUK)

MAT KONTAN   :     (TERPERANGAH SEBENTAR, KEMUDIAN TERTAWA). Ha ! Saya senang! Saya memang senang kalau orang tergiur sampai keluar ludahnya barang sebatok kalau melihat  bini saya.

SOLEMAN          :     Jadi kalau ada orang cinta pada binimu kau juga senang. Ha!

MAT KONTAN   :     Senang! Sebab itu berarti juga orang akan cinta pada saya. Bahkan saya akan potong rambutnya pendek-pendek seperti bini si Asnin! Bajunya belang-belang kuning seperti macan tutul. Itu tandanya kita sudah jaman modern. Ah, kau tahu apa tentang arti ngomong Belanda itu!

SOLEMAN          :     Memang enak punya bini.

MAT KONTAN   :     He, orang lelaki yang ngak mau berbini itu tandanya belum lelaki. Paling-paling tak berani sama perempuan. Kau tahu kambing kebiri saya yang mati? Ia mati karena kesepian! Kau lama-lama bisa jadi seperti kambing kebiri saya itu.

SOLEMAN          :     Kalau anakmu seperti kambing nanti bagaimana?

MAT KONTAN   :     Mana bisa? Karena bapaknya Raja Perkutut, anaknya tentu Raja Kutilang setidaknya. Tak mungkin seperti kambing. Si Kontan kecil adalah anakku. Bukan anakmu!

SOLEMAN          :     Jangan ulang lagi perkara Kontan kecil. Ceritalah tentang perkutut atau beo.

MAT KONTAN   :     (INGAT SESUATU) Aih, saya sudah linglung sekarang. Saya sudah dua hari ini lupa sama beo saya!

SOLEMAN          :     (KAGET MENDENGAR INI, IA PERHATIKAN MAT KONTAN, TAKUT).

V

 

MAT KONTAN MASUK RUMAHNYA. DALAM RUMAH KEDENGARAN RIBUT-RIBUT DENGAN SUARA BANTAHAN PAIJAH. SOLEMAN MASUK RUMAHNYA, MENGUNCI PINTU. KETIKA KELUAR, BERPAPASAN DENGAN SI UTAI SINTING. SOLEMAN HILANG DALAM GELAP. MAT KONTAN KELUAR DENGAN TANGAN HAMPA.

 

MAT KONTAN   :     Man, Man. (MATANYA TERTUJU KE RUMAH SOLEMAN). Man! Beo saya hilang, Man.

UTAI                    :     (TERTAWA).

MAT KONTAN   :     Diam!

UTAI                    :     (TERTAWA LAGI)

MAT KONTAN   :     Diam, kataku diam! (IA MENGAMBIL PELEPAH KELAPA AKAN MEMUKUL ANAK ITU).

UTAI                    :     Ampuuuuuun. Ampuuuun!

MAT KONTAN   :     Kenapa kau tertawa ha?

UTAI                    :     Jadi burung beo mamang terbang?

MAT KONTAN   :     Ya.

UTAI                    :     Saya melihatnya kemarin dekat sumur.

MAT KONTAN   :     Diam! Jangan ngomong gila! Ini sungguh!

UTAI                    :     Saya juga sungguh!

MAT KONTAN   :     Apa katamu tadi? Melihat burung saya? Beo saya dekat sumur? Ia terbang kearah sumur di belakang itu?

UTAI                    :     (MENGANGGUK DAN TERTAWA PENDEK).

MAT KONTAN   :     Jangan tertawa dulu. Hayo kita cari.

UTAI                    :     Ngak bakal ketemu mang.

MAT KONTAN   :     Kau permainkan diri saya ya? Ha? (MAU MEMUKUL).

UTAI                    :     Sabar, mang. Sungguh, saya berani taruhan, ngak bakal ketemu.

MAT KONTAN   :     Kenapa coba, kenapa?

UTAI                    :     Sudah mati dia, mang.

MAT KONTAN   :     Mati? Ayo kita cari bangkainya! Biar saya ambil lampu senter (AKAN PERGI TAPI KEMUDIAN TERHENTI).

UTAI                    :     (TERTAWA). Tulang bakainyapun tak bakal ketemu. Mubajir susah-susah mencari.

MAT KONTAN   :     Apa? Apa kau bilang! Mubajir? Akan saya kubur dia.

UTAI                    :     Ya, mubajir. Ia sudah dibawa anjing Pak Rusli kemarin.

MAT KONTAN   :     (MENGANCAM DENGAN MEMEGANG LEHER BAJU UTAI). Utai jangan cari gara-gara! Gua hajar nanti lu! Betul yang ini apa bohong?

UTAI                    :     Berani sumpah Qur’an! Saya  betul.

MAT KONTAN   :     Kalau begitu. (DENGAN SEDIH), Kau betul Utai. Kalau begitu anjing si Rusli itu yang perlu dipentung. (TAPI TIBA-TIBA MELENGOS MELIHAT PAIJAH MUNCUL).

 

PAIJAH MUNCUL DENGAN MUKA KESAL

 

PAIJAH                :     Perkara Beo saja ributnya sampai ke gunung Krakatau. Anaknya tak pernah dipikirkan.

MAT KONTAN   :     Diam kau!

PAIJAH                :     Apa? Diam? Kalau anak itu mati bagaimana?

MAT KONTAN   :     Itu bukan anak saya.

PAIJAH                :     (MENIRUKAN). Itu bukan anak saya, tapi di warung kau sibuk membanggakannya.

MAT KONTAN   :     (SADAR KEMBALI). Ha! Memang anak saya. Memang! Memang ia saya banggakan di mana saja. Tapi kau juga ikut memikirkan masalah burung ini?!

PAIJAH                :     Emoh!

 

PAIJAH MASUK.

 

UTAI                    :     (TERTAWA MENIRUKAN). Emoh!

MAT KONTAN   :     Bagaimana Beo-ku?

UTAI                    :     Lehernya berdarah!

MAT KONTAN   :     Leher Beo-ku berdarah? Iya?

UTAI                    :     (TERTAWA MELINGKAR–LINGKARKAN BADANNYA).

MAT KONTAN   :     Soleman mana? Soleman mana?

UTAI                    :     Mau apa sama dia?

MAT KONTAN   :     Kita ajak ia ke tukang nujum.

UTAI                    :     Kenapa burung mati mesti di nujum?

MAT KONTAN   :     Ya, mesti. Mana si Leman. He, geblek! Mana dia ha?

UTAI                    :     Buat apa sih dinujum? Mau ditanya masuk sorga atau neraka?

MAT KONTAN   :     Diam, setan! Kita mau nujum siapa yang memotong lehernya. Kalau kedapatan akan kubunuh dia! (MEMANGGIL SOLEMAN).

 

PAIJAH KELUAR MENJENGUK DENGAN CEMAS.

 

MAT KONTAN   :     Pergi berjudi dia barangkali.

UTAI                    :     Kalau begitu kita pergi berdua saja.

 

MEREKA BERDUA PERGI MENGHILANG DALAM KELAM.

 

VI

PAIJAH MERASA LEGA LALU IA MASUK KE DALAM. IA KELUAR MENUJU RUMAH SOLEMAN

 

PAIJAH                :     Man! Leman (TAPI SETELAH SADAR PINTU DI KUNCI, BERLARI KE SAMPING DAN DUDUK DI BANGKU. PAIJAH KAGET AKAN CAHAYA SENTER KE MUKANYA, IA BERDIRI DAN SEDIKIT GEMBIRA IA BERJALAN MENGHAMPIRI SOLEMAN DI HALAMAN. SOLEMAN MENGAJAK PAIJAH DUDUK DI BANGKU RUMAHNYA, SEDANG IA MASIH MEMPERMAINKAN CAHAYA SENTER KE PINTU RUMAH MAT KONTAN).

SOLEMAN          :     Kenapa mukamu pucat?

PAIJAH                :     Saya cari kau tadi Man.

SOLEMAN          :     Laki-mu pergi?

PAIJAH                :     Ya, ke tempat nujum.

SOLEMAN          :     Begitu jauh, ada dua kilo setengah, kan?

PAIJAH                :     Ah, betul-betul edan dia. (BERDIRI MEMBELAKANGI). Betul-betul edan dia, tidak mengerti perasaan perempuan.

SOLEMAN          :     Kalau saya laki-mu tentu saya mengerti.

PAIJAH                :     (TIBA-TIBA MEMBALIK). Man!

SOLEMAN          :     Apa? (MENYENTER MUKA PAIJAH).

PAIJAH                :     Saya takut tadi, Man. Saya dengar ia mau bunuh orang. Dan kau dicarinya Man.

SOLEMAN          :     Ia nggak berani pada saya. Apalagi mau bunuh!

PAIJAH                :     Tapi ini betul-betul Man. Burungnya, beo itu-mati!

SOLEMAN          :     (KAGET) Lalu? (IA BERDIRI DAN MELIHAT KESAMPING RUMAHNYA, ADA KECEMASAN DI DALAM DIRINYA KALAU-KALAU MAT KONTAN DATANG. DARI JAUH SOLEMAN BERSUARA, TANGANNYA MENYENTER TUBUH PAIJAH). Lalu bagaimana?

PAIJAH                :     Burung itu mati. Kau tahu kan beo itu? Yang sering kau permainkan kalau kau kerumah saya?

SOLEMAN          :     (DATANG MENDEKATI PAIJAH) Lalu?

PAIJAH                :     Lehernya berdarah. Dan ia akan bunuh siapa saja yang memotong leher burungnya itu (DENGAN MATA MENGHARAP) Man.

SOLEMAN          :     (DENGAN PANDANGAN PENUH GAIRAH). Apa?

PAIJAH                :     Saya takut.

SOLEMAN          :     (SENYUM BERGAIRAH). Takut apa?

PAIJAH                :     Takut sama lakiku. Jika ia menuduh saya yang membunuh bagaimana?

SOLEMAN          :     Kau merasa memotong leher itu apa tidak? (DILIHATNYA PAIJAH MENGGELENG). Nah, ngak usah kuatir.

PAIJAH                :     Tapi Mat Kontan sering kalap.

SOLEMAN          :     (MEMEGANG BAHU PAIJAH DAN MENDUDUKAN DI BANGKU. IA MEMASANG ROKOK SETELAH MENENANGKAN PAIJAH). Biar bagaimanapun ia marah, ia takkan bunuh kau. Sebab kau salah satu kebanggaan dia. Jadi biar bagaimanapun salah kau, ia akan memaafkan.

PAIJAH                :     (MENANGIS TERISAK)

SOLEMAN          :     He, jangan seperti si kecil nangis. Kau malah harus mendiamkan anakmu yang nangis, kan? (TANGAN MEMBELAI RAMBUT PAIJAH).

PAIJAH                :     (LARI MELOMPAT, TAPI DIBURU DAN TANGANNYA DITARIK SOLEMAN, IA MEMBIMBING PAIJAH KE BANGKU RUMAHNYA)

SOLEMAN          :     Kau jang kuatir. Nanti aku yang membela kau.

PAIJAH                :     Tapi saya takut dengan goloknya. (MELIHAT MUKA SOLEMAN DAN BERKATA SETENGAH MENANGIS) Sungguh!

SOLEMAN          :     Ah, percayalah. Seiris bawangpun ia tak berani melukaimu!

PAIJAH                :     Jadi apa kataku bila ia menanyai saya?

 

SOLEMAN CUMA TERCENUNG BERFIKIR. DENGAN MEMPERMAINKAN SENTER IA PERGI KE TEMPAT YANG JAUH KELAM. SUARA UBRUK MENGERAS.

 

PAIJAH                :     (SETENGAH MARAH, AGAK MENJERIT). Kau diam!

SOLEMAN          :     Ya, karena itu juga suatu hal yang sulit.

PAIJAH                :     Tapi katamu tadi gampang.

SOLEMAN          :     Gampang buatku, karena saya lelaki!

PAIJAH                :     Carilah jalanya sebelum ia kembali!

SOLEMAN          :     Jalan satu-satunya, karena saya lelaki ialah: menghadapinya sebagai lelaki!

PAIJAH                :     Apa? Apa maksudmu?

SOLEMAN          :     Kalau kau disentuh saja, akan saya sentuh pula dia. Kalau kau dilukainya, akan saya lukai dia! Dan kalau kau di bunuhnya, akan saya bunuh dia (BERJALAN PELAN MENDEKATI PAIJAH)

PAIJAH                :     Jangan Man. Kita akan buyar, malu dan di usir dari sini.

SOLEMAN          :     Ya, terpaksa begitu. Sebab saya bukan penakut. Saya jantan. Dan saya punya sejarah turun-temurun.

PAIJAH                :     Sejarah turun-temurun?

SOLEMAN          :     Ya. (TERDUDUK) Ayah saya jahanamnya juga seperti saya ini. Ia jahanam, biarpun ibu saya syah untuk bininya. Tapi ini tak usah saya ceritakan Jah!

PAIJAH                :     Ceritakan, Man. Yang satu ini.

SOLEMAN          :     Saya akan mengutuk karenanya!

PAIJAH                :     Ceritakanlah, Man. Kenapa?

SOLEMAN          :     (MEMANDANG PAIJAH DENGAN ANEH) Karena perempuan ia mati. Karena perempuan ia jahanam. Tapi aku akui, ia lelaki tulen.

PAIJAH                :     (JADI GELISAH)

SOLEMAN          :     Lelaki tulen juga bisa mati karena takut. Ia takut menghadang pucuk senapan, sehingga ia mati membelakangi! Dan ketika ia lari itu ia ditembak. Ia ditembak, sebab bini orang yang dijahanaminya itu ialah bini polisi. Tapi saya sudah besar ketika itu dan dapat membayangkan membalas dendam. Kenapa ia akhirnya takut? Saya tak mengerti kenapa si pemberani bisa takut kemudian. Tapi, betapun, ia lelaki tulen, Jah. Lelaki tulen dengan darahnya yang benar-benar merah.

PAIJAH                :     (LEMBUT KARENA TAKUT). Kau juga takut Man?

SOLEMAN          :     Cukup bapak saya saja! Sayat tidak akan. Saya adalah kelanjutan dia, karena ia mewariskan saya!

PAIJAH                :     Kau akan bunuh Mat Kontan?

SOLEMAN          :     Belum pasti. Tapi saya ingat pepatah seorang Padang. Kau kenal Angku Buyung? (PAIJAH MENGANGGUK). Ialah yang menceritakan pepatah itu dan meresap pada diri saya.

PAIJAH                :     Apa katanya, Man?

SOLEMAN          :     Musuh pantang dicari, tapi jika datang pantang kau elakkan. Saya tidak akan memusuhi Mat Kontan. Tapi jika Mat Kontan akan menyerang saya, saya pantang lari, bahkan membalas.

PAIJAH                :     Jangan Man!

SOLEMAN          :     Pasti dia tak berani membacok saya!

PAIJAH                :     Kalau kau memang tak apa! Tapi saya, perempuan lemah ini, bagaimana bisa jadi?

SOLEMAN          :     Kau jangan takut. Karena lelaki bersifat melindungi. Lelaki seperti kata bapak saya: harus berdarah tajam yang mengalirkan warisannya melewati siapa saja yang rela!

PAIJAH                :     (LEMBUT) Kenapa kau tak kawin saja, Man?

SOLEMAN          :     Kawin cuma satu tanggungan, menyebabkan kita berotak dua. Ya saya tahu kemudian, bahwa ibu saya juga sejahanam ayah saya karena ia rela dijahanami lelaki lain. Saya takut kawin, karena saya kwatir jika istri saya dijahanami lelaki lain.

 

SOLEMAN PERGI KE RUMAHNYA, TAPI PAIJAH MENGIKUTINYA.

 

SOLEMAN          :     (MELARANG) Kau di situ saja menjelang ia datang. Saya di sini (MENUNJUK BANGKUNYA).

PAIJAH                :     Saya takut, Man.

SOLEMAN          :     Disana saja kata saya!

 

BENTAKAN SOLEMAN INI MENYEBABKAN PAIJAH TAKUT DAN KEMBALI KE BANGKUNYA

 

PAIJAH                :     (SETELAH MENGELUH DAN MEMANDANGI SOLEMAN YANG TERPEKUR ) Man. (SOLEMAN MUAK). Man,  kau dengar suara saya? Kau dengar suara saya? (SOLEMAN TETAP MENUNDUK). Saya menyesal sekarang, Man!

SOLEMAN          :     (KAGET DAN MENGANGKAT KEPALANYA) Menyesal?

PAIJAH                :     Ya, menyesal.

SOLEMAN          :     Ulangi!

PAIJAH                :     Menyesal, karena begini jadinya. Nanti akan terbuka juga rahasia kita. Tapi tak apa! Saya kepingin punya anak, dan anak itu telah saya dapatkan.

SOLEMAN          :     (BERDIRI) Kenapa kau menyesal? (PAIJAH HANYA MENGHAPUS AIR MATANYA). Jah! Anak itu takkan saya ambil. Jah.

 

SOLEMAN MENDEKATI PEREMPUAN ITU. TAPI TANGIS PAIJAH SEMAKIN MENJADI. SOLEMAN PERGI KE GELAP MALAM

 

SOLEMAN          :     (PERLAHAN) Saya ingat, Jah. Macam begitu tangismu dulu mengisak meminta kepada saya. Sekarang kalau menyesal. Buat apa kita menyesal. Saya juga tak pernah menyesal harus jadi jahanam kapiran begini. Ya, tidak karena dalam diri manusia, betapun kecilnya, ada jahanamnya. Cuma saja ada yang tak sempat dan tak sanggup menjalankan. Dan kita adalah orang yang kebetulan sanggup. Kenapa kita menyesal, Jah?

 

TIBA-TIBA IA MEMBALIKKAN BADAN SETELAH KEDUANYA BERDIAM LAMA. SOLEMAN MENDEKATI PAIJAH DAN DUDUK DISAMPINGYA

 

SOLEMAN          :     (SETELAH MENYENTER SEKELILING) Begitu sepi semuanya. Alangkah enaknya jika beginian terus, dunia ini ada kita berdua saja!

PAIJAH                :     ( HANYA MEMANDANGI WAJAH SOLEMAN)

SOLEMAN          :     Kau kwatir pada hari matimu bila maut tiba?

PAIJAH                :     (HANYA MENGANGGUKKAN KEPALA)

SOLEMAN          :     Mungkin saya juga, Jah. Sekarang saya lebih baik mengaku saja (MEREKA KINI SALING PANDANG). Saya juga punya takut. (DIAM) Mungkin juga Nabi. Tapi Jah, saya bunuh beo itu, karena binatang jahanam itu telah menyiksa saya!

PAIJAH                :     (TERKEJUT MENDENGAR BERITA ITU) Apa? Kau bunuh? Kau yang memotong lehernya?

SOLEMAN          :     Ya. Kau ingat Jah? Kau ingat, bahwa ketika saya mengganggumu, ketika si kecil masih berumur sebulan? Kau bilang: “Jangan ganggu saya. Man! Jangan ganggu saya!”, dan perkataan itu diulangi oleh beo itu. Dua hari yan lalu, ketika saya pegang tanganmu dan kau bilang : “Jangan ganggu saya”, beo keparat itu mengulangi lagi. (SETELAH MENELAN NAFAS). Karena itu ia saya potong lehernya. Saya potong dan saya lempar ke dekat sumurmu.

PAIJAH                :     Kita bisa celaka!

SOLEMAN          :     Akan saya hadapi semua yang menantang, Jah! (SETELAH MERASA NGERI, IA BERSUARA MENGHADAP PAIJAH DENGAN GEMETAR). Biar bagaimanapun saya akan menghadapi maut!

PAIJAH                :     (MENANGIS)

SOLEMAN          :     Kenapa jadi menangis, hah? Saya hanya akan mengabulkan apa yang kau minta dulu dan telah saya beri. Anak itu telah lahir. Kalau saya mati karena lahirnya dia, itu berarti saya akan bernasib sama dengan bapak saya. Tapi semoga cucu bapak akan meneruskannya, sebab perjuangan kakeknya belum selesai.

PAIJAH                :     Tidak, Man! Si kecil tidak akan.

SOLEMAN          :     Itu mungkin jalan menyimpang dari kemauan saya.

PAIJAH                :     Cukup kita saja yang jadi jahanam terkutuk.

SOLEMAN          :     Ya, karena sekarang kau sudah menyesal, sih.

PAIJAH                :     (SETELAH BERFIKIR SEBENTAR, TIBA-TIBA IA KAGET). Man!

SOLEMAN          :     Apa?

PAIJAH                :     Sebentar lagi tentu mereka datang. Man, saya takut Man!

SOLEMAN          :     Tenang saja. Tenang saja.

PAIJAH                :     Kalau saya dipaksa bagaimana?

SOLEMAN          :     Bilang saja saya yang membunuhnya. Saya, Soleman.

PAIJAH                :     Saya nggak mau, Man!

SOLEMAN          :     Kenapa? Kenapa he?

PAIJAH                :     (LEMBUT PELAN) Saya nggak mau. Ada orang mati karena saya, dan orang itu kau.

SOLEMAN          :     Kalau saya mati itu bukan karena kau. Itu juga karena saya ikut berjahanam!

PAIJAH                :     (MENANGIS TERISAK) Tidak, Man. Tidak bisa, Man.

 

SUARA BAYI DI DALAM MENGEJUTKAN MEREKA.

 

SOLEMAN          :     Mintalah doa restu di ubun anak itu.

PAIJAH                :     Putuskan dulu yang ini! Jika ia minta keterangan kenapa Soleman  membunuhnya, bagaimana?

SOLEMAN          :     Pertanyaan itu tidak saya bolehkan kau menjawabnya. Pertanyaan itu hanya untuk saya. Dan saya akan menjawabnya. Pergilah masuk! Anak itu rupanya tambah sakit.

VII

 

PAIJAH MASUK, TINGGAL SOLEMAN YANG GELISAH LALU MEROKOK, TAPI ROKOK ITU BARU DIHISAP LALU DIMATIKANNYA. IA PERMAINKAN SENTERNYA KARENA GELISAH, LALU PERGI MENUJU KEJAUHAN, MELEMPARKAN BATU LALU KEMBALI LAGI. PAIJAH KELUAR SEBENTAR TAPI MASUK LAGI SEBAB DARI JAUH TAWA UTAI SUDAH DIDENGAR. TAK LAMA KEMUDIAN MAT KONTAN DAN UTAI TIBA DI HALAMAN

 

UTAI                    :     (TERTAWA).

MAT KONTAN   :     Diam! Orang kesusahan, kamu tertawa! (TIBA-TIBA MATANYA MELIHAT SOLEMAN).

SOLEMAN          :     Dari mana?

MAT KONTAN   :     (MENDEKATI MENGABARKAN BERITA SEDIH) Man, burungku beo yang kubeli seribu itu mati.

UTAI                    :     (LARI MENGEJAR SERANGGA YANG TERBANG, MENCOBA MENANGKAPNYA TAPI TAK BERHASIL TERUS MEMBURU).

SOLEMAN          :     Sebaiknya jangan pikirkan yang sudah mati itu.

MAT KONTAN   :     Apa? Jangan dipikirkan? Apa kau kira saya ini gila ha?

SOLEMAN          :     Siapa tahu Tan nanti ada saja rejeki numpuk, kau beli yang lebih mahal.

MAT KONTAN   :     Apa kau kira beo semacam itu ada tandingannya di pojok dunia ini? Dua tahun saya memeliharanya?! Sekarang barangkali lebih dari harga mobil dokter Ajad yang mungil itu.

SOLEMAN          :     Kau selamanya selalu merasa selalu yang paling, yang paling. Sehingga kau sendiri jadi pangling!

MAT KONTAN   :     Jangan coba-coba hina saya ya! (KEPADA UTAI). Hei. Berhenti main gila itu! Saya bisa tambah gila. Ayo berhenti! (UTAI DUDUK DI BANGKU RUMAH MAT KONTAN).

MAT KONTAN   :     Sedang anak gila itu (MENUNJUK UTAI). Dia bisa pikir dan sedih atas kematian beo-ku. He, Utai. Kau kan sedih ya.

UTAI                    :     Ya!

MAT KONTAN   :     (MENGAMBIL ROKOK DAN MELEMPARKANNYA) Kau memang jempolan.

 

UTAI MENGAMBIL ROKOK DAN MINTA API LALU DUDUK DITEMPATNYA SEMULA

 

MAT KONTAN   :     (KEPADA SOLEMAN) Otakmu dimana sekarang. Dimana ha?

SOLEMAN          :     Saya cuma menganjurkan. Tapi sedih sih ya ikut sedih!

MAT KONTAN   :     Betul? Betul sedih? (TERTAWA SENANG). Kemana kau tadi tidak nongol ketika saya cari agar bersama ke tukang nujum! (BERNAFAS KARENA TAK DIJAWAB). Saya kira malam ini paling jahanam dalam hidup saya.

SOLEMAN          :     Belum tentu.

MAT KONTAN   :     Siapa bilang belum tentu? Tukang nujum yang biasa meramalkan nasib saya itu sudah mati pula empat hari yang lalu (MELIHAT UTAI YANG MEMPERMAINKAN ROKOK DIBANGKUNYA). Hei, jangan dibakar bangku bagus itu! Panggil mpok Ijah!

 

UTAI MASUK KE DALAM DAN KELUAR KEMBALI BERSAMA PAIJAH. PAIJAH MEMANDANG PADA SOLEMAN, SOLEMAN MENGATAKAN SESUATU DALAM PANDANGANNYA

 

MAT KONTAN   :     Hei Jah! Siapa kiramu yang memotong leher burungku!

PAIJAH                :     (MENGGELENG) Mana saya bisa tahu?

MAT KONTAN   :     (MENIRUKAN) Mana saya bisa tahu? (MENGHARDIK) Atau kau sendiri ya? Iya? (BERDIRI MENYEBABKAN PAIJAH TAKUT) Kau potong mau dimakan? Di sate? Begitu? (MENDEKATI) Jawab!

 

SOLEMAN BERDIRI SEMUA PANDANGAN TERCEKAM DISINI.

 

MAT KONTAN   :     Ayo jawab!

SOLEMAN          :     Dia sakit tuh Mat! Tuh mukanya kan pucat. Barangkali……..

MAT KONTAN   :     Jangan urus urusan orang lain, Leman. Nanti saya ikut mata gelap pada kau! (SADAR MELIHAT PAIJAH MENANGIS).

 

PAIJAH MASUK DIIKUTI MAT KONTAN. UTAI, SETELAH DIISYARATKAN SOLEMAN IKUT MASUK. SOLEMAN BERDIRI DI PINTU DAN GELISAH

 

SUARA PAIJAH :     Buat apa burung itu untuk saya. Si bayi lebih penting.

SUARA MAT KONTAN      :   Ee, jangan ngotot! Jawab dulu siapa yang bunuh.

 

KEMUDIAN TERDENGAR TANGIS PAIJAH, TANGIS BAYI DAN SUARA MAT KONTAN YANG TIDAK TENTU

 

SUARA PAIJAH :     Kalau tidak, bunuh saja saya, nih sama golok!

SUARA MAT KONTAN      :   Ee, jangan main-main sama saya ya? Saya ini Mat Kontan. Setiap orang punya utang harus dibayar dengan kontan. Jawab!

SUARA PAIJAH :     Saya tidak tahu!

MAT KONTAN   :     Bangsat! O Tuhan! Bilanglah oleh-Mu ya Nabi Adam, siapa yang sebiadab ini membunuh burung saya. O Nabi Yakub. Bini saya juga bangsat dan bodoh! Kenapa dunia ini makin tolol Tuhanku?

PAIJAH                :     Kalau kau paksa juga saya akan minggat!

 

PAIJAH KELUAR MENGGENDONG BAYI YANG MENANGIS. LARI KE BANGKU DAN DUDUK SETENGAH TAKUT. MAT KONTAN MENYUSUL

 

MAT KONTAN   :     Jangan kau lari. Awas!

 

VIII

 

PAIJAH DUDUK DAN MEMBELAI KEPALA ANAKNYA YANG TETAP MENANGIS. SOLEMAN MEMPERHATIKAN MAT KONTAN YANG TAMBAH GUGUP. MAT KONTAN MEMANDANGI SOLEMAN, MATANYA SEPERTI MEMINTA SESUATU. SOLEMAN MENANTANG MATA MAT KONTAN DENGAN PANDANGAN JANTAN

 

MAT KONTAN   :     Apa yang akan ku lakukan.

SOLEMAN          :     Lakukanlah semaumu. Itu urusan kau!

MAT KONTAN   :     (KEPADA PAIJAH) Ya ayo pergi kalau kau betul-betul mau minggat. Kemana kau bisa minggat, coba kemana?

PAIJAH                :     (TETAP TUNDUK MENANGIS) Ke rumah pamanku.

MAT KONTAN   :     (MENGEJEK) Ke rumah pamanku. Pamanmu adalah orang yang paling miskin di dunia, tahu! Bukankah?

PAIJAH                :     Tapi saya harus kesana!

MAT KONTAN   :     Pergilah! Pergilah sana! Tapi anak itu jangan kau bawa. Anak itu adalah anak saya tahu!

PAIJAH                :     Bukan! Ia adalah anak saya yang pasti, sebab ia keluar dari rahim saya sendiri.

MAT KONTAN   :     Apa katamu, apa?

PAIJAH                :     Ya! Untuk dia ini saya pernah berkorban segalanya!

MAT KONTAN   :     (AKAN MASUK BERDIRI DI PINTU) Kalau begitu kau memang harus jadi korban (TAPI MATANYA MELIHAT PADA SOLEMAN).

PAIJAH                :     (JADI TAKUT, LALU MELIHAT PADA SOLEMAN TAPI MATA SOLEMAN TERTUJU PADA MAT KONTAN).

MAT KONTAN   :     Ia telah membinasakan hati saya! Man! Ini harus saya balas Soleman.

SOLEMAN          :     (HANYA MEMANDANGINYA)

MAT KONTAN   :     (BERTERIAK) Jawablah saya, Leman! (TAPI IA LEMAS MENANTANG MATA JANTAN ITU, SEHINGGA IA TERKULAI, TERJATUH DIDEPAN PINTU).

UTAI                    :     (TERTAWA MELIHAT ITU)

MAT KONTAN   :     (BANGKIT, MARAH) Hai! Kau mau kubunuh ya? Ya? (AKAN MENGEJAR UTAI, TAPI ANAK ITU LARI MENGHILANG).

MAT KONTAN   :     (LEMAS) Kalian semua ini jahanam.

SOLEMAN          :     Saya jangan kau ikut-ikutkan Mat!

MAT KONTAN   :     (KEPADA PAIJAH) Kau telah menyedihkan hati saya. Kau adalah bini saya jadi kau juga harus bertanggung jawab atas burung kesayangan saya karena saya juga sayang padamu.

PAIJAH                :     (SETELAH MEMANDANGI SOLEMAN) tapi kau juga laki saya, tapi sayangmu Cuma di mulut. Jadi kau bukan laki saya.

MAT KONTAN   :     Bilang sekali lagi bahwa saya ini bukan lakimu!

PAIJAH                :     (MEMBELAI KEPALA ANAKNYA YANG MENANGIS). Kau tak pernah memikirkan anak saya ini. Tapi dimana saja kau banggakan ia!

MAT KONTAN   :     (BERUBAH LALU MENDEKATI ANAKNYA) tapi ia belum begitu sakit. Seluruh anak kecil dikampung kita ini memang sedang musim sakit.

 

MAT KONTAN JADI LETIH, LALU MELEPASKAN NAPAS PANJANG IA BERKATA-KATA SESUATU TAPI TAK JELAS

 

MAT KONTAN   :     (KEPADA SOLEMAN) Man! Burung itu baru beberapa waktu yang lalu bisa ngomong dengan jelas. Kau tahu apa yang dibilangnya ketika masih hidup? Ketika saya dekati, ia bilang,” Jangan cubit saya! Jangan cubit saya!” Kenapa burung bisa berkata seperti manusia?

SOLEMAN          :     (MELIHAT SI ANAK TAMBAH MENANGIS,. LALU MENDEKAT DAN MEMEGANG KEPALA ANAK ITU) Mari saya gendong anak ini Jah!

MAT KONTAN   :     (KAGET BERDIRI) Jangan sentuh anak itu! Itu anak saya.

SOLEMAN          :     (TIDAK JADI MENGAMBIL). Baiklah! Itu sudah kepunyaan kau sekarang. Tapi saya ingin bertanggung jawab atas nyawanya.

MAT KONTAN   :     Apa kau punya hak atas nyawanya?

SOLEMAN          :     Biar bagaimanapun, ia adalah anak manusia bukan anak burung.

MAT KONTAN   :     Diam kau babi! Diam kau sebelum saya hantam!

SOLEMAN          :     Sekarang, apa yang akan kau lakukan sebagai lelaki, sebagai bapak, sebagai Mat Kontan yang selalu membayar kontan?

MAT KONTAN   :     Cari dulu siapa pembunuh burung saya. Ia juga harus dihajar dengan kepal tinju ini (MENGACUNGKAN TINJUNYA).

SOLEMAN          :     Kau tak kan berani. (MELIHAT PAIJAH, PAIJAH TAKUT).

MAT KONTAN   :     Apa? Apa kau bilang barusan?

SOLEMAN          :     Kau tak kan berani sebab kau pengecut paling besar di dunia Tuhan ini!

MAT KONTAN   :     Kalau saja ahli nujum itu belum mati (HERAN IA MELIHAT SOLEMAN YANG PERGI BEGITU SAJA KE RUMAHNYA). He, dengar! Kalau saja saya tahu, saya akan hajar dia! (MELIHAT PADA PAIJAH DAN MENGANCAM). Kau juga! Malam ini juga harus kau tunjukkan padaku siapa pembunuhnya!

PAIJAH                :     (MELIHAT ANAKNYA YANG MENANGIS) Saya tak mau!

 

PAIJAH PERGI MASUK RUMAH, MAT KONTAN MENYUSUL. SOLEMAN MASUK DALAM RUMAHNYA BURU-BURU, LALU KELUAR KEMBALI MENYARUNGKAN GOLOKNYA DI BALIK SARUNGNYA, AGAR TAK TAMPAK. SOLEMAN MENDENGAR DI BALIK PINTU RUMAH MAT KONTAN, PERTENGKARAN YANG TERJADI DI DALAM. SOLEMAN JADI HERAN, MELIHAT PAIJAH YANG TIBA-TIBA MELONCAT KELUAR DAN MENDEKAP PADANYA

 

MAT KONTAN   :     (MENGANCAM) Lepaskan dekapan itu!

PAIJAH                :     (TERUS MENDEKAP). Man, tolong lindungi saya Man!

MAT KONTAN   :     Ayo lepaskan sebelum kuambil golok!

PAIJAH                :     (MELIHAT SOLEMAN YANG DIAM SAJA, JADI GERAM) Man, kau diam saja!

SOLEMAN          :     (HANYA MENANTANG MATA MAT KONTAN DENGAN DADA YANG SESAK).

MAT KONTAN   :     Kau juga harus melepaskan dia! He, Soleman (JADI GERAM MELIHAT SOLEMAN) Lepaskan dia! Dia bukan binimu!

PAIJAH                :     (MENGGUNCANG SOLEMAN) Jawab. Jawab Man!

 

KETIKA SOLEMAN DIAM SAJA, PAIJAH MELUDAHI MUKA LELAKI ITU. LALU IA MELEPASKAN DEKAPANNYA DENGAN SANGAT BENCI DAN DIA BERLARI KE BANGKU RUMAH SOLEMAN

 

MAT KONTAN   :     (PADA PAIJAH) Paijah! Jangan kau lari kesana. Jangan kau lari kesana! Jangan kau berteduh di bawah atap rumah lelaki yang bukan lakimu.

PAIJAH                :     (BERGAYUT PADA SANDARAN BANGKU) Leman pengecut! Jawablah si Kontan itu Man!

 

SOLEMAN TETAP BUNGKAM, MAT KONTAN MENDEKATINYA BIARPUN HATINYA TAKUT SEKALI

 

MAT KONTAN   :     Jadi kau tahu ya, siap yang membunuh beo saya ha?

SOLEMAN          :     (MEMANDANG KE WAJH PAIJAH)

PAIJAH                :     Jawablah Man, sebelum kau dicincangnya!

SOLEMAN          :     (MEMANDANG MAT KONTAN SEHINGGA MAT KONTAN MUNDUR. KETIGANYA SALING PANDANG DENGAN LIAR. KETIGANYA SALING BENCI).

MAT KONTAN   :     (AKAN MASUK KERUMAH DAN MENGANCAM KEDUANYA) Kalau begitu akan saya ambil golok. Akan saya bunuh kalian keduanya bila tak ada yang mengaku!

PAIJAH                :     Mat Kontan lakiku (SETELAH DILIHAT MAT KONTAN, IA MEMANDANG SOLEMAN MENGEJEK) Saya bunuh burungmu itu.        

MAT KONTAN   :     (MELANGKAH) Kenapa burung saya kau bunuh?

PAIJAH                :     Karena ia selalu mengejek saya!

MAT KONTAN   :     (HERAN BERJALAN MENDEKATI) Dia mengejek kau? Ha?

PAIJAH                :     Dia mengejek saya dengan perkataan itu, jangan cubit saya! Jangan cubit saya! (SAMBIL MELIHAT SOLEMAN).

MAT KONTAN   :     (MAKIN MENDEKATI PAIJAH).

PAIJAH                :     Hancurkan diri saya! Coba! (LALU MENANGKUP BANGKU).

 

IX

 

SOLEMAN HANYA MEMANDANGI SAJA, SEDIKITPUN IA TAK MELANGKAH. PAIJAH BANGKIT DAN MEMANDANGNYA GARANG

 

PAIJAH                :     Hai lelaki pengecut! Bukankah kau bilang, berjanji akan melindungi saya ha? Kau diam saja sekarang kayak tunggul!

MAT KONTAN   :     (HERAN MEMANDANG SOLEMAN)

SOLEMAN          :     (BARU KEMUDIAN BERJALAN SELANGKAH) Saya hanya kepingin melihat melihat kau takut. Juga kepingin melihat Mat Kontan takut. Dan juga kepingin merasakan kalau saya takut, seperti yang bapak saya alami!

PAIJAH                :     Kau takut ya?

SOLEMAN          :     Saya kepingin melihat Mat Kontan menyentuhmu seujung kumis nyamuk. Melukaimu barang seiris bawang. Tapi rupanya ia tak berani.

PAIJAH                :     Jangan kau bikin gara-gara memanasi dia, Soleman keparat. Akuilah dulu perbuatan kau!

MAT KONTAN   :     (PADA PAIJAH) Jadi Soleman tahu siapa yang bunuh burungku?

PAIJAH                :     Ya, ia yang tahu!

MAT KONTAN   :     Tapi kenapa kau yang mengaku ha? (GIGINYA GEMERETAK).

PAIJAH                :     Karena saya kasihan melihat dia begitu pengecut tadi.

 

MENDENGAR INI SOLEMAN JADI GERAM, LALU BERTERIAK

 

SOLEMAN          :     Sayalah yang membunuh burung beo itu! (BERJALAN LAMBAT MENDEKATI MAT KONTAN)

MAT KONTAN   :     (MEMANDANGI AGAK TAKUT)

SOLEMAN          :     Sayalah yang melakukannya!

MAT KONTAN   :     (BERPUTAR MENGAMBIL TEMPAT DEKAT RUMAHNYA) Jadi kenapa kau bunuh dia? Kau iri pada saya ya?

SOLEMAN          :     Ya, saya iri!

MAT KONTAN   :     Memang benar tebakan saya tadi.

SOLEMAN          :     Ya! Saya iri pada semua  yang kau punyai. Pada uangmu, pada binimu, pada anakmu, pada burungmu. Dan pada kesombongan kamu!

MAT KONTAN   :     Memang kau jahanam!

SOLEMAN          :     Memang saya jahanam. Tapi kau juga jahanam (DAN MEMBALIKAN BADAN KEARAH PAIJAH) Kau juga jahanam. Dan burung itu juga jahanam! (LAMBAT) dan anak yang menangis itu juga jahanam.

MAT KONTAN   :     Kenapa kau hina anak saya ha?

SOLEMAN          :     Ia bukan anakmu!

MAT KONTAN   :     Apa katamu?

PAIJAH                :     Soleman!

SOLEMAN          :     Sekarang kau jangan banyak omong. Jah, malam ini malam yang menentukan kita semuanya. Ya, si Kontan kecil itu memang bukan anakmu, Mat!

MAT KONTAN   :     Anak siapa coba?

 

SOLEMAN BERJALAN LAMBAT MENUJU KETEMPAT KELAM, SUARANYA SEPAROH MENGAMBANG

 

SOLEMAN          :     Saya percaya, kau sendiri belum yakin selama ini bahwa ia itu anakmu. Kau sering menebarkan berita setelah anakmu lahir kemana saja untuk menutupi hal itu. Hal, bahwa sebenarnya kau bukan lelaki. (MEMBALIK BADAN DENGAN CEPAT). Dan itu menyakitkan hati saya, sebab kesombongan yang satu ini bukan kau punya dengan syah. Dan saya juga tidak bisa mempunyainya dengan syah. Sebab surat nikah ada di tangan kau, Kontan.

 

SOLEMAN LALU DUDUK DI BANGKU MAT KONTAN

 

SOLEMAN          :     Bangku ini juga jahanam! Karena Paijah sering duduk di sini terkadang sampai malam. Dan saya duduk di sana (MENUNJUK BANGKUNYA) Kami saling memandang ( KEPADA KONTAN). Kenapa kau sering tak di rumah, Tan? Itu juga perbuatan yang jahanam.

MAT KONTAN   :     Sekarang jawab saja dengan pendek, jangan bikin saya botak. Anak itu anak siapa?

SOLEMAN          :     (BERDIRI)

PAIJAH                :     (SETENGAH MENANGIS) Jangan kau bilang Man!

SOLEMAN          :     (BERJALAN MENDEKATI KONTAN DENGAN PANDANGAN YANG MENCEKAM PADA PAIJAH) Akan saya jawab. Kau rela? (PENDEK LAMBAT) Anak itu anak saya dari darah daging saya!

MAT KONTAN   :     Biadab kalian!

 

IA BERLARI KE PINTU RUMAHNYA, TAPI TERHENTI MENDENGAR ANAK MENANGIS

 

PAIJAH                :     Anakku mau dibacoknya! (MELOMPAT, TAPI TERTELUNGKUP)

SOLEMAN          :     (MEMBIARKAN SEMUA INI BERLALU) Kau berteriak minta tolong, di pantai pasir Boblos. Kau ingat itu, Tan? (SUARANYA LEMBUT) Kau minta satu ujung napas agar kau hidup panjang.

 

MAT KONTAN MENDENGAR HAL INI JADI KUYU, MUKANYA BERPELUH. SEPERTI TERSENTAK DARI MIMPI, IA LEMPAR GOLOKNYA DAN MELOMPAT MEMELUK SOLEMAN

 

MAT KONTAN   :     Man! Sudah kubilang, jangan ceritakan hal itu. Saya kepingin panjang umur.

PAIJAH                :     (BANGKIT DARI PINGSANYA, TERHUYUNG MENUJU BANGKU)

SOLEMAN          :     Tak jadi kau bunuh saya?

MAT KONTAN   :     Tidak tahu. O, Man! Kalau tidak tentu saya sudah mati sekarang ini dalam tanah. Saya kelelep di pasir dan tak dapat melihat dunia merdeka ini.

SOLEMAN          :     Tapi saya tak rela selesai seperti ini.

MAT KONTAN   :     (BERKATA SESUATU TAK JELAS)

 

IA MENUJU KE PINTU, LALU DI PINTU IA TERHENTI. SUARANYA MENGAMBANG UNTUK SOLEMAN DAN PAIJAH

 

MAT KONTAN   :     (MENGAMBIL GOLOK, MENYARUNGKANNYA). Kalian tak usah saya bunuh. Karena banyak lagi perempuan di dunia ini (SETENGAH MENANGIS) Leman! Ambillah paijah biniku itu karena kau telah merampasnya. (KEPADA PAIJAH) Paijah! Ambillah soleman karena sahabat saya itu telah merampasmu!

 

MAT KONTAN AKAN MASUK KE RUMAH, TAPI TAK JADI

 

MAT KONTAN   :     Tak usahlah, tak usahlah pamit pada si kecil. Karena dia bukan darah daging, bukan anak saya. (BERTERIAK SEDIH). Ambillah oleh kalian! Telah kalian rampas seluruh kepunyaan saya!

 

XI

 

SEPERTI ANAK KECIL MAT KONTA MENGHAPUS AIR MATANYA DENGAN SARUNGNYA. INGUSNYA KELUAR DAN IA MEMBERSIHKAN INGUS ITU DENGAN BERKATA SESUATU YANG TAK JELAS. JALANNYA BONGKOK, BERHENTI IA DI TEMPAT KELAM.

 

MAT KONTAN   :     Saya akan pulang ke kampung kelahiran saya. Malam ini juga. (HILANGLAH MAT KONTAN)

 

UTAI YANG MUNCUL DISUDUT RUMAH MAT KONTAN HANYA TERDUDUK MEMPERMAINKAN PASIR. IA TAK DILIHAT OLEH PAIJAH MAUPUN SOLEMAN

 

SOLEMAN          :     (MEMBANTING GOLOKNYA)

PAIJAH                :     Man.

SOLEMAN          :     (TAK MENJAWAB DAN DUDUK DI BANGKU RUMAHNYA)

PAIJAH                :     Man…………..

SOLEMAN          :     (SEPERTI MENYESAL, TAPI TIBA-TIBA TERSENTAK SEHINGGA PAIJAH KAGET). Barangkali ia bunuh diri, Jah! Saya akan susul…………..

PAIJAH                :     Jangan tinggalkan saya! (MEMELUK SOLEMAN) Jangan tinggalkan saya Man!

 

UTAI TIBA-TIBA BERDIRI DAN TERTAWA PENDEK. KEDUA MEREKA TERKEJUT SEHINGGA DEKAPAN ITU LEPAS. UTAI SEGERA LARI KE ARAH MAT KONTAN PERGI

 

PAIJAH                :     (MENAHAN SOLEMAN) Jangan Man!

SOLEMAN          :     Ia sahabat saya, Jah. Saya tak mau biarkan dia mati begituan. Saya pulangkan dia pada kau, karena kau bukan hak saya yang syah!

PAIJAH                :     Leman! Jangan kau tinggalkan saya dan anak kita!

SOLEMAN          :     (MENDENGAR SUARA TANGIS BAYI). Jah…….

PAIJAH                :     Anak itu sebaiknya kita bawa ke dukun.

SOLEMAN          :     Bawa ke Pak Mangun.

 

 

MEREKA MASUK KEDALAM PINTU RUMAH PAIJAH, BAYI ITU MASIH MENANGIS

 

XII

 

SOLEMAN MUNCUL KEMBALI DAN KELUAR, TERDENGAN SUARA TAWA DARI KEGELAPAN. MAT KONTAN DENGAN GOLOKNYA BERSAMA UTAI. KETIKA MAKIN DEKAT SOLEMAN MELIHATNYA DENGAN GELISAH DAN GUGUP MEMANDANG GOLOK YANG TADI DIBANTINGNYA KE TANAH

MAT KONTAN   :     (TERTAWA) Ha! Kau kira saya mau begitu saja meniyerahkan bini saya buat kamu? Hei, ajudan kecil bagaimana?

UTAI                    :     Terus! Pukul saja!

MAT KONTAN   :     Kau kira siapa saya? Kau kira bisa ke Jawa begini malam? Kau kira kapan saya pulang ibu bapak saya tidak akan membawa anak bini? Kau kira saya juga tak kepingin senang dengan keluarga?

UTAI                    :     Terus! Bacok saja!

MAT KONTAN   :     Nanti dulu Tai! Biar kita lihat dia ketakutan.

UTAI                    :     Jangan biarkan dia lari.

MAT KONTAN   :     Hadang sana (KEPADA SOLEMAN) saya ke pantai spesial mengasah golok Cibatu ini buat diasah di kepalamu yang penuh najis itu! Dan saya melaporkan bahwa kau berpelukan dengan Paijah, huh!

 

SOLEMAN MELIHAT UTAI MENGAMBIL GOLOK YANG DI TANAH. PAIJAH MUNCUL DI PINTU TAPI MASUK KEMBALI. SEMUA MENDENGAR SUARA KERETA APAI MENDERU MAKIN MENDEKAT. SOLEMAN MENCARI KELUAR. TIBA-TIBA IA SUDAH MELOMPAT SAJA KESAMPING UATAI DAN MENGHILANG. UTAI MEMBURU DISUSUL OLE MAT KONTAN, KETIGANYA TELAH TERTELAN GELAM MALAM.

 

XIII

 

PAIJAH YANG MUNCUL DIPINTU MENAHANTANGISNYA. KEPALA ANAKNYA TERUS DIUSAPNYA BIARPUN SI ANAK TERUS MENANGIS. SUARA UBRUK DI KEJAUHAN MAKIN KERAS, TAPI KEMUDIAN SEPI  KETIKA TAWA MAT KONTA SEMAKIN MENDEKAT. PAIJAH MENCOBA MENABAHKAN KETAKUTANNYA

 

MAT KONTAN   :     (NAFASNYA MASIH TERENGAH) Jah!

PAIJAH                :     (HERAN) Tan! Jangan bunuh kami, Tan!

MAT KONTAN   :     (MENGGELENG) Bodoh saya kalau membunuh kau dan anak ini (DIDEKAPNYA BININYA) Jah! (IA MENANGIS) Kau tahu Jah? Kau tahu si Utai patah lehernya?

PAIJAH                :     Ha?

MAT KONTAN   :     Ia ditendang soleman jahanam itu ketika Utai menangkapnya. Tapi Soleman selamat sampai ke gerbong kereta api. Jahanam itu selamat. Saya sempat memukul kepalanya dua kali, Jah. Ia selamat, Ia lolos, Jah. Tapi pikirannya akan selalu diburu!

 

BAYI MENANGIS

 

MAT KONTAN   :     Bawa ke dalam nanti masuk angin lagi!

PAIJAH                :     (HERAN MEMANDANGI MAT KONTAN)

MAT KONTAN   :     Kenapa kau lihat saya seperti itu? Apa saya ini macan?

PAIJAH                :     Si Utai, Tan.

MAT KONTAN   :     Apa boleh buat dia mati. Kalau hidup tentu ia akan menyebarkan berita kerusuhan kita ini. Kita mesti rahasiakan ini, Jah!

 

XIV

 

DARI JAUH KALENG SUSU TUKANG PIJAT JELAS MENDEKAT. IA MUNCUL KETIKA PAIJAH MEMBAWA BAYINYA MASUK

 

MAT KONTAN   :     Jangan bikin ribut! Anak saya makin sakit!

TUKANG PIJAT :     Tan! Kau dicari-cari orang, Tan. Si Utai mati kau tahu?

MAT KONTAN   :     Ssssst! Jangan berisik. Saya mau pergi mencari dukun.

TUKANG PIJAT :     Kabarnya Soleman berkelahi dengan kamu tadi ya? Soal apa?

MAT KONTAN   :     (MAKIN JAUH AKAN PERGI) Dia mencuri burung saya dan uang saya. Ssssst. Jangan berisik………..(MENGHILANG)

TUKANG PIJAT :     Punya anak satu kayak selusin saja. Kontaaaaaan, Kontaaaan (IA TERCENUNG MELIHAT MAT KONTAN MAKIN JAUH)

 

XV

 

TANGIS BAYI YANG MAKIN MENINGGI MENYEBABKAN TUKANG PIJAT ITU MENDEKAT. TAPI KEMUDIAN TANGIS ITU TERHENTI DI DALAM PUNCAKNYA. TERDENGAR RAUNG PEREMPUAN DI DALAM. KEMUDIAN PINTU TERHEMPAS KELUARLAH PAIJAH DALAM RAMBUT KUSUT MASAI. HAMPIR MENABRAK TUKANG PIJAT. TANGIS PAIJAH TERDEKAM KE DADANYA. BERHENTI IA MENANGIS DARI TEMPAT KELAM ITU. LAMBAT IA BERJALAN MENUJU TUKANG PIJAT, SETENGAH BERTERIAK.

 

PAIJAH                :     …….Pak! Anakku mati Pak!

 

SITUA BELUM SEMPAT BERTANYA, PEREMPUAN ITU MELARIKAN DIRI KE ARAH MAT KONTAN TELAH MENGHILANG.

 

 

SELESAI

 

 

TELUKBETUNG. 1-VI-1958

KARTINI BERDARAH

KARTINI BERDARAH

AMANATIA JUNDA .S

 

 

TOKOH:

  1. Kartika            : Seorang gadis berusia 17 tahun. Berambut panjang dikepang dua, berkacamata besar, seorang kutu buku, pendiam dan kurang pergaulan.

 

  1. Kartini             : Sahabat khayalan Kartika. Seorang wanita berusia sekitar 20 tahun-an, rambut bersanggul, memakai kebaya, wajah keibuan, seperti sosok pengganti ibu sekaligus sahabat bagi Kartika

 

  1. Friska              : Seorang gadis kaya. Berusia 17 tahun. Berambut ikal, cantik, ramping, tinggi. Ketua geng Perfume. Mempunyai sifat sombong, dan sewenang wenang.

 

  1. Lena                            : Seorang gadis berusia 16 tahun, anggota geng Perfume. Jangkung, berambut pendek. Agak tomboy. Sering main tangan.

 

  1. Windi              : Seorang gadis berusia 17 tahun, anggota geng Perfume. Seorang playgirl, centil, kurang pandai dalam pelajaran.

 

 

  1. Resnaga           : Sahabat Kartika sejak kecil. Seorang pemuda berusia 17 tahun. Tinggi sedang, berpenampilan sederhana. Ramah, setia, dan baik hati.

 

  1. Malvin              : Seorang idola sekolah, berusia 18 tahun, tampan, angkuh, berpenampilan keren. Kekasih Friska.

 

  1. Bu Sartika        : Ibu Kartika. Berusia sekitar 45 tahun, seorang wanita karier, janda, penuntut pada anak semata wayangnya, dan over protektif.

 

SETTING :

 

Panggung dibagi menjadi 2 bagian, kanan dan kiri. Bagian kanan merupakan kamar Kartika. Didominasi warna putih. Terdapat sebuah ranjang kayu kecil bersprei putih motif bunga bunga, sebuah meja belajar kayu dengan lampu duduk dan tumpukan buku biografi RA. Kartini, dan kursi putar putih. Keduanya menghadap ke penonton. Latar belakang adalah dinding kamar berwarna putih dengan gambar gambar RA Kartini ukuran A3. Di awal cerita akan ditambahkan sebuah cermin ukiran dari Jepara. Terbuat dari bingkai kayu berukir dengan cermin yang dapat membuka dan menutup, untuk tempat keluar masuk Kartini dari belakang panggung.

Bagian kiri, 2 kali lipat luasnya daripada kamar Kartika. Sebuah ruang kelas dengan bangku bangku kayu, papan tulis dan meja guru. Latar belakang dinding kelas bercat biru muda dengan jendela jendela besar dan gambar gambar pahlawan. Terdapat pintu di salah satu sisi dinding samping yang menghubungkan ke belakang panggung.

 

 

 

                                             ADEGAN 1         

 

Narator : (Mengutip salah satu penggalan surat Kartini yang tidak dipublikasikan. Diiringi suara dentingan gitar, pelan)

Daripada mati itu akan tumbuh kehidupan baru.

Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan tahan, dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin kuat makin teguh.

Kamar Kartika

Kartika                        : (memakai piyama, sedang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang disusun oleh Armijn Pane, di meja belajar. Airmuka serius, lampu duduk menyala.)

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan suara panggilan untuk Kartika.

Bu Sartika       : Kartika? Kartika?! Buka pintunya! Hari masihlah sore, gemarkah kau  untuk tidur? Bukalah! Lekas!

Kartika                        : Menghela napas panjang, kemudian menutup bukunya dan bangkit untuk membuka pintu.

Bu Sartika       : Astaga! Sesore ini kau sudah siap berpiyama? Bisakah kau tidak bermalas malasan saja? (Menatap Kartika tak percaya, tangannya membawa tas tangan kecil. Dibelakangnya 2 orang pesuruh menggotong sebuah benda setinggi 2 meter  berbungkus kertas cokelat.)

Kartika                        : Ma, Kartika sedang baca buku, bukan sedang tidur. (Bela Kartika pelan, sambil mengangkat buku Habis Gelap Terbitlah Terang)

Bu Sartika       : Oh terserahlah, kau pasti membaca buku cerita. Itu sama saja dengan tidur. Sia-sia belaka. Pak, bawa masuk kesini (masuk ke dalam dan menunjuk dinding) Letakkan disini saja, ya bagus, kalian bisa keluar. Terimakasih.

Setelah 2 pesuruh tersebut keluar

Kartika                        : Apa ini Ma? (Menghampiri benda tinggi bungkusan cokelat tersebut, penasaran)

Bu Sartika       : (Duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatu hak tingginya) Mama bawakan oleh oleh untukmu. Bukalah, kau pasti suka. Itu dari Jepara. Asli! (Tersenyum sambil menunjuk bungkusan tersebut pada Kartika.)

Kartika                        : lukisan RA Kartini, Ma?! (segera menyobek bungkusan tersebut dengan bersemangat).

Sartika             : Bukan, itu lebih bermanfaat buatmu.

Kartika                        : (Tertegun mendapati sebuah bingkai kayu jati. Selebar setengah meter dan setinggi 2 meter. Sekeliling tepinya penuh dengan ukir ukiran berbentuk sulur sulur. Kaki cermin juga berukir berbentuk bonggol akar yang kokoh. Warna bingkai cokelat tua berpelitur mengkilat.)

Sartika             : Kenapa? Kau tak suka cermin itu?

Kartika                        : Buat apa Ma? Tika rasa cermin ini terlalu besar untuk kamar ini. (berkata lirih sambil melirik bingkai kayu tersebut tanpa minat) Oh ya! (serunya mendadak) Kartika sedang baca buku RA Kartini, Ma… bagus sekali ceritanya. Mama mau baca? (menyodorkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dengan wajah berseri)

Bu Sartika       : Tika! Berhentilah baca buku buku konyol seperti ini! Sekarang bukan saatnya kau mengenang jasa Kartini. Tapi manfaatkanlah jasanya sebaik mungkin. Mana prestasi yang dapat kau berikan buat Mama? Kerjakan tugasmu dan belajarlah yang tekun. Harusnya kau bersyukur emansipasi menjadikanmu pelajar sampai sekarang dan mama seorang manager perusahaan besar.” (berucap lantang)

Kartika                        :  Mama sama sekali tak berminat baca ini? (masih menyodorkan buku tersebut)

Sartika             : Ya.. ya..ya.. Mama akan baca jika mama sudah pulang dari dinas ke Bandung 2 minggu ini. Oke? 

Kartika                        : Tapi Mama kan baru saja pulang dari Semarang? (meletakkan buku itu kembali ke meja belajar)

Bu Sartika       : Mama mendadak ditugaskan atasan untuk mengurusi proyek yang baru. Sudahlah, mama capek. Mama hendak istirahat (bangkit, sambil menguap) Oh ya, cermin itu gunakan baik baik. Kau harus banyak merias diri, berlatih berbicara di depan umum dan menjadi seorang gadis teladan yang menyenangkan.

Kartika                        : Maksud Mama?

Bu Sartika : Bulan depan ada pesta peresmian kantor baru Mama. Kau harus ikut, mama ingin mengenalkanmu dengan anak kolega mama. Malam Sayang.. (mengecup kening Kartika lalu beranjak keluar)

 

ADEGAN 2

 

Pagi hari. Sebuah kelas dengan bangku bangku yang masih kosong dan beberapa bungkus bekas jajan berserakan. Seorang pemuda tampan sedang duduk di meja guru smbil mendengarkan sebuah lagu dari Ipod. Seorang pemuda sederhana membawa sapu menghampirinya.

 

Resnaga           : Malvin, hari ini piketmu. (menyodorkan sapu)

Malvin             : (Acuh, Kepalanya bergoyang goyang menikmati lagu)

Resnaga           : Malvin, hari ini piketmu! (berteriak lebih nyaring)

Malvin             : (Masih tetap acuh. Bahkan lebih keras menggoyang goyangkan kepalanya)

Kartika                        : Biar aku saja, mana sapunya? (tiba-tiba muncul dari balik pintu)

Resnaga           : Mengapa kau begitu baik hati? Malvin tak pernah piket, kau tahu? (protes, agak keras menunjuk Malvin. Sedangkan Malvin melepas earphone)

Kartika                        : Karena aku.. aku… (gugup, terbata-bata saat melihat Malvin menatapnya tajam)

Friska              : Karena dia memang seorang pembantu! Ha.. ha.. ha.. (tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan suara yang nyaring. Dibelakang, Lena dan Windi mengikutiku sambil terkikik)

Windi              : Oh, sungguh malang.. udah kuper, culun, kacamata pantat botol, pembokat lagi! Hi..hi..hi..

Lena                : Nih, sekalian ngepel lantai! (melempar kain lap yang ada di salah satu bangku)

Resanaga         : Kalian jangan seenaknya pada Kartika. (merebut sapu dari tangan Kartika)  Malvin, piketlah! Apa kau tak malu kewajibanmu diambil alih Kartika?

Malvin             : Bah! Aku laki-laki. Menjijikkan sekali aku harus menyapu. Itu memang tugas perempuan! (Melempar sapu ke lantai) Ayo kita pergi! (menggandeng Friska, keluar diikuti Lena dan Windi yang menyibir ke arah Resnaga dan Kartika)

Resnaga           : (Mendesah panjang, menatap Kartika dengan iba) Aku tak habis pikir. Mengapa kau selalu mengerjakan tugas tugas Malvin dengan ringan tangan?

Kartika                        : (terdiam beberapa saat) Res, apa kau tak pernah mendengar cinta itu butuh pengorbanan? (berujar pelan kemudian beranjak pergi)

Resanaga         : (Mengambil sapu, dan menyapu perlahan) Aku telah lama berkorban untukmu Kartika… Hanya saja kau tak pernah tahu. (bergumam lirih)

 

 

ADEGAN 3

Sore hari, Kamar Kartika…

Kartika masuk ke dalam kamar, masih mengenakan seragam sekolah. Menghampiri meja untuk meletakkan tas dan bukunya. Kemudian berjalan menghampiri cermin Jepara.

 

Kartika                        : Indah nian kau cermin.. wahai benda antik dari Jepara. (mengelus ukir ukiran di tepian cermin, perlahan)  Kau ingatkanku pada Ibu Kartini.. andaikan kau adalah penghubung masa ini ke masa lalu, akan kutemui Ibu Kartini.. akan kuceritakan semua jasanya telah mengubah zaman dan nasib perempuan. Namun aku masih terkukung disini.. layaknya Ibu kita dipingit dan tak kuasa menanggung senyap… (bernada sedih, meratap) Oh, betapa sunyinya hidupku. Tak pernah dicinta dan Malvin tak pernah menoleh padaku, haruskah aku mengubah diriku menjadi gadis gadis seperti geng Parfume? Andaikan, Ibu Kartini kemari… mungkin aku akan menjadi gadis paling beruntung di dunia.

Tiba-tiba lampu kamar padam, cahaya merah berkerlap kerlip, terdengar suara desauan angin.

Kartika : (tersentak kaget) Oh, ada apakah ini? (ketakutan, berlari naik ke atas ranjang)

Sesosok wanita muncul dari bingkai cermin Jepara, melangkah keluar. Menghampiri ranjang. Lampu kembali menyala terang dan suasana kembali normal.

Kartini             : Nduk, tenanglah… iki ibumu. (tersenyum lembut)

Kartika                        : Siapa kau?! (semakin duduk menyudut di ranjang, memeluk kedua lututnya. Wajahnya luar biasa ketakutan)

Kartini             : Aku Kartini. Aku yang selama ini kau tuturkan di lembaran lembaran kertas buku harianmu. Aku yang selama ini kau rayakan setiap tanggal 21 April, sama dengan hari lahirmu juga kan, Nduk?

Kartika                        : (Mulai tenang, mengendurkan pelukan lututnya.) Kau Kartini? Raden Ajeng Kartini? Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu aku?

Kartini             : (Tersenyum lebih ramah) Ya, aku Raden Ajeng Kartini. Namun, apalah arti sebuah status ningrat jika Raden Ajeng harus hidup di penjara sangkar emas? Dikelilingi 4 tembok serasa kebebasan adalah kebahagiaan terbesar.

Kartika                        : Bagaimana Ibu bisa datang kemari? Sudikah ibu bersahabat dengan gadis memalukan seperti saya ini?

Kartini             : Oh, Nduk… tiada boleh kau berkata seperti itu.

                        Ingin benar hatiku berkenalan dengan seorang anak gadis modern, gadis yang berani, yang sanggup tegak sendiri, gadis yang aku sukai dengan hati jantungku. Anak gadis yang melalui jalan hidupnya dengan langkah tangkas, yang berdaya upaya bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk bangsa… Ibu datang dari jauh untuk mendengarkan segala kegundahan hatimu. Anggaplah aku sahabat penamu yang akhirnya berkunjung menengok seperti tatkala aku bersua dengan Nyonya Abendanon.

Kartika                        : (Menghambur, memeluk Kartini, terisak isak) Ibu…! Kartika rindu sekali pada Ibu. Setiap malam Kartika diam diam membaca buku tentang Ibu. Berhati hati kalau Mama sampai menangkap basah Kartika, dan membuang segala yang Kartika koleksi tentang Ibu.

Kartini             : Sshh… (membelai rambut Kartika) Yakini, ibu juga merindukan sosok gadis berhati suci sepertimu. Tidurlah, besok kau sekolah bukan? Betapa beruntungnya dirimu yang hidup di dunia pencinta kebebasan. Bukankah begitu, Nduk?

Kartika                        : (Mengangguk lemah) Ibu benar. Emansipasi menghapus diskriminasi untuk golongan kita. Dan ibu pasti senang melihat jasa ibu terlampau besar untuk Indonesia.

Kartini             : Aku tahu jalan yang hendak aku tempuh itu sukar, banyak duri dan onaknya dan lubang lubangnya. Jalan itu berbatu batu, berlekuk-lekuk, licin, jalan itu.. belum dirintis! Dan biarpun aku tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan merasa bahagia, karena jalannya kini telah terbuka lebar.

 

ADEGAN 4

 

Sebuah kelas, terdengar suara gaduh dari 3 orang siswi. Friska, Lena, dan Windi.

 

Friska              : (Duduk di meja, airmuka cerah) Oh, kemarin malam adalah pesta terkeren sepanjang hidupku. Seperti mandi keringat aku ikut dugem di dancefloor. 4 kali aku bolak balik ganti pasangan. Sungguh menyenangkan!

Wndi               : Iya, tentu saja kau bolak balik ganti pasangan.. bukankah kita bertiga sungguh seksi tadi malam?

Friska              : Ya jelaslah. Apalagi kau kemarin mabuk berat Windi. Hei, tidak ingatkah kau? Kemarin kau membuka setengah bajumu dan bergoyang sungguh panas!

Windi              : Oh ya?!(Memekik girang) bagaimana reaksi cowok cowok itu?

Lena                : Wow! Mata mereka seketika hijau! Dan langsung teler melihatmu!

Friska              : Air liur mereka sampai menetes di gelas cocktail.

Friska, Lena, Windi :tertawa bersama, nyaring. Kartika muncul dari balik pintu, tangannya mendekap tumpukan buku.

Lena                : Hai, kau! Kesini…. Cepat! (menunjuk Kartika, tawa mereka menghilang. Wajah wajah centil berubah menjadi beringas)

Kartika berjalan menunduk, ketakutan.

Friska              : Jalan lelet amat! Rupanya hendak bersaing dengan kura-kura! Darimana saja kau, Kuper?! (Membentak)

Kartika            : (Tergagap) Da.. da.. ri.. P..per pustakaan

Lena                : Hei! Ngomong yang tegas! (menepuk pipi Kartika)

Windi              : Iya nih, berminat ya jadi gadis sok bisu? Udah kuper, siapa yang mau repot repot melirikmu? Apalagi.. hi..hi..hi.. lihat deh, apa bawaannya?

Friska              : (meloncat turun dari meja, berdiri dan segera merebut buku buku yang didekap Kartika) Ya ampun! Hari gini… nggak salah baca, kau? Kartini? Memang masih zaman? Hm… (membaca satu persatu judul buku buku) ada RA Kartini, Kartini Sebuah Biografi, dan.. astaga! Judul jadul banget nih, Habis Gelap Terbitlah Terang. Eh, pernah dengar nggak kalian? (menoleh ke Windi dan Lena yang menggelengkan kepala bersamaan sambil mencibir)

Windi              : Yang aku tahu sih adanya Habis gelap total terbitlah tagihan PLN, belum bayar listrik kaleee…

Friska dan Lena: (tertawa terbahak, bersamaan) Ha.. ha.. ha

Kartika                        : (Berusaha merebut buku yang dipegang Friska) Kembalikan! Kembalikan.. buku itu!

Friska              : Oh, Dear… Len, tahan dia! (memerintah keras. Segera Lena mengunci kedua lengan Kartika ke belakang punggungnya) Coba kita baca sekilas buku macam apa ini, Sobat. (Berdehem, dengan mimik sok serius, membuka salah satu halaman buku RA Kartini karangan Tashadi) Denger ya, salah satu kutipan surat Ibu kita tercinta “Selama ini hanya satu saja jalan terbuka bagi gadis Bumiputera akan menempuh hidup, ialah kawin.”

Friska, Lena, dan Windi         : Tertawa tergelak.

Lena                : Hari gini.. kawin? Emang Siti Nurbaya?

Windi              : Wah, wah, wah pantas saja kau jadi anak kuper.. bacaanmu masih seputar zaman tempoe doeloe… parah!

Friska              : Oke, sebagai teman yang baik bagaimana kalo kami membantumu sembuh dari ke-kuper-an? (tanpa menunggu jawaban dari Kartika yang sibuk melepaskan diri dari cengkeraman Lena, kini Friska merobek buku tersebut)

Kraak… Kraak.. Kraak.. Segera lembaran buku Kartini berserakan di lantai kelas. Kemudian dengan bernafsu Friska dan Windi menginjak injaknya.

Kartika            : Kumohon hentikan…! Jangan disobek! Kumohon… (Kartika berontak kemudian Lena mengendorkan cengkeramannya. Seketika Kartika menyerang Friska untuk menghentikannya)

Friska              : Nih, kita nggak butuh baca ginian! (melempar buku buku Kartini ke lantai dan segera menginjaknya juga)

Kartika menunduk dan melindungi buku buku tersebut. Berkali kali Friska dan kedua teman temannya menendang Kartika.

Lena                : Rasakan! (menendang keras) Dasar penyembah buku!

Malvin muncul dari balik pintu, menggeleng gelengkan kepala melihat Geng Parfume sedang menyiksa Kartika.

Malvin             : Sudah hentikan Friska, Lena, Windi! (seru Malvin agak keras)

Friska              : Tapi Babe, anak ini rese’ sekali tadi, Huh! Masa’ aku sama anak anak tidak dicontekin pas ulangan Fisika? (menghentikan acara menyiksa lalu menghampiri Malvin dan mengeluh manja)

Malvin             : Salah kalian sendiri tidak belajar. Sekarang berhentilah main mainnya, katanya kita mau jalan-jalan?

Friska              : (mengangguk dan tersenyum manis) Ayo, kita tinggalkan dia!

Setelah keempat murid tadi pergi keluar dari kelas, Resnaga muncul dan keheranan melihat Kartika sedang memunguti sobekan kertas dan berusaha menyusunnya.

Resnaga           : Kartika? Kok belum pulang?

Kartika            : (Menoleh ke asal suara, memaksakan senyum) Oh, kau.. Res. Iya, aku habis dari perpus.

Resanaga         : Kau sedang apa? Hei, apa yang terjadi? (Menghampiri Kartika dan membantu memunguti buku buku yang berserakan)

Kartika                        : Aku sedang melindungi harta bangsa. Sisa sisa pengabdian ibu kita.

Resnaga           : Ibu kita? Siapa?

Kartika                        : (terbelalak, menatap Resnaga tak percaya) Tak tahukah kau? Raden Ajeng Kartini! Beliau Ibu kita semua bukan? Beliau sungguh baik hati. Beliau sangat keibuaan, belaiannya sangat lembut… ah, aku masih bisa merasakannya. (menyentuh rambutnya) Hm, kira-kira sekarang Ibu sedang apa ya?

Resnaga           : Kartika, kau baik baik saja kan? (menyentuh kening Kartika dengan lembut)

Kartika                        : Apa maksudmu?! (menepis tangan Resnaga dengan kasar)

Resnaga           : Aku mengkhawatirkanmu. Lagipula… bukankah Kartini sudah tiada? Bagaimana bisa kau merasa belaiannya?

Kartika                        :  Beliau masih hidup kok! Beliau sengaja datang dari jauh untuk menemaniku. Ah, sudahlah. Pasti kau tak kan percaya. Lebih baik aku pulang saja. Sampai jumpa. (Berdiri, memasukkan buku buku ke dalam tas dan kemudian beranjak pergi)

 

ADEGAN 5

Sore hari, kamar Kartika

Bu Sartika       : (Berdiri mondar mandir sambil sesekali menengok jam tangan yang melingkar di lengan kirinya) Oh, hari sudah sore. Kartika tak kunjung pulang, kemana saja anak itu? Tak tahukah dia kalau hari ini Keluarga Gana akan berkunjung kemari?

(tiba-tiba perhatiannya tertarik pada sebuah buku agenda bersampul merah di atas meja belajar) Diary? Kartika menulis Diary? Hm… boleh juga. Aku penasaran dengan isinya. (Duduk, dan mulai membaca buku agenda tersebut)

Tiba-tiba Kartika muncul dari balik pintu.

 

Kartika                        : Mama? (melirik buku agenda yang langsung dikembalikan mamanya di atas meja) Mama baca diary-ku?! (agak keras)

Bu Sartika       : Iya. Apa tidak boleh? Kau adalah anak Mama. Urusan pribadimu otomatis urusan Mama juga.

Kartika                        : Tapi Ma…

Bu Sartika       : Tapi apa? Mama tahu kamu sekarang sedang menyukai teman kelasmu. Siapa Malvin itu?

Kartika                        : (Terdiam, menunduk)

Bu Sartika       : Dengarkan Mama Kartika. Kau harus jatuh cinta pada lelaki yang tepat! Jangan sampai kau mendapat lelaki brengsek seperti papamu. Turuti saja pilihan Mama. Kau pasti suka. Sekarang lekaslah mandi dan berdandan yang cantik. Keluarga Gana akan datang dan makan malam bersama kita.

Kartika            : (Mendongak)  Siapa mereka Ma?

Bu Sartika       : Tentu saja calon keluarga barumu! (Keluar dari kamar Kartika)

Kartika                        : (Terduduk lemas di ranjangnya. Memeluk buku RA Kartini. Mulai terisak sedih)

Tiba-tiba Kartini keluar dari bingkai cermin Jepara. Kemudian berjalan menghampiri Kartika, duduk di sampingnya dan membelai rambut Kartika dengan lembut.

Kartini             : Anakku, ceritakanlah semuanya pada Ibu, agar lapang dadamu.

Kartika                        : Hiks… Ibu… saya hendak dijodohkan hiks.. oleh Mama saya. Saya nggak mau. Saya mencintai pemuda lain. (terisak semakin keras)

Kartini             :  Cinta, apakah yang kau ketahui tentang perkara cinta itu? Betapa kau akan mungkin sayang akan seorang laki laki dan seorang laki laki kasih akan kau, kalau kau tiada berkenalan bahkan yang seorang tiada boleh melihat yang lain? Aku berkehendak bebas, supaya aku boleh dapat berdiri sendiri, jangan bergantung kepada orang lain, supaya jangan… jangan sekali kali dipaksa kawin!

Kartika                        : Ibu, mengapa hidup saya sangatlah sengsara? Saya tak pernah bahagia tak terkira terkeculai bertemu dengan ibu. Hanya ibu yang mengerti hati saya. Maafkan saya Bu, tidak bisa melindungi buku buku tentang ibu. Teman teman kelas saya menyobeknya tadi siang dan mereka selalu menyiksa saya.

Kartini             : Aduh, Tuhan, ya Tuhan! Sedih hati melihat kejahatan sebanyak ini di sekeliling diri, sedang diri tiada berdaya akan menjauhkannya! Sabar ya Nduk…

 

ADEGAN 6

Di kelas, suatu siang…

Malvin dan Friska tampak bermesra-mesraan di kelas yang kosong. Mereka saling menggoda, dan tertawa. Kemudian Friska bergelayut manja pada Malvin. Mereka berdua berpegangan tangan. Dari arah pintu, Kartini berjalan cepat sambil menunduk. Ia terperangah melihat pemandangan tak pantas di kelas. Seketika buku buku yang didekapnya jatuh berdebam ke lantai.

 

Malvin             : Oh kau Tik, aku kira guru. (refleks melepas genggaman tangannya dengan Friska)

Friska              : Hei, kuper! Ngapain kesini? Ganggu orang pacaran saja! (membentak dengan keras)

Kartika                        : Ma.. maaf.. aku.. nggak tahu kalau kalian..

Friska              : Nggak tahu apa? Bilang saja iri! (Berkacak pinggang kemudian bangkit berjalan menghampiri Kartika)

Windi dan Lena masuk ke dalam kelas.

Lena                : Apa ini? (Memungut buku agenda yang terjatuh bersama buku buku yang lain)

Kartika menoleh, terkejut.

Lena                : Lihat! Ck.. ck.. ck.. tak kusangka! (Menunjukkan sebuah halaman dari agenda tersebut ke teman temannya. Sebuah tulisan dengan huruf besar besar berbunyi AKU CINTA MALVIN)

Friska              : (Mendelik marah) Kau cinta Malvin? Kau menyukai cowokku? Bisa-bisanya kau… Plak! (menampar Kartika dengan keras)

Malvin menghampiri mereka berdua. Kemudian mengambil alih agenda yang dipegang Lena dan tertawa terbahak bahak.

Malvin             : Wah wah wah, aku tak menyangka tipe cowokmu seperti aku Tika. Kiranya seperti Resnaga yang culun.

Lena, Windi dan Friska : (Ikut tertawa keras)

Malvin             : Kartika.. Kartika.. bercerminlah dulu sebelum kau menyukai seseorang! Kau itu SANGAT TIDAK PANTAS buatku yang kaya, tampan dan idola semua cewek! Maaf Kartika… lebih baik kau berhenti menulis namaku di diarymu, buang buang kertas saja. (Menghmapiri Lena dan meraih agenda tersebut. Dibolak baliknya dengan antusias)

Windi              : Iya, kau itu seperti pungguk merindukan bulan!

Lena                : Bukan, tapi seperti langit dan bumi!

Friska              : Eh, salah lagi. Lebih mirip Kutu dan pangeran!

Malvin dan geng Parfume:  (tertawa sangat keras)

Malvin             :  Dasar gadis lugu. Ayo kita pergi! (Merangkul Friska yang tertesenyum sinis pada Kartika yang sedari tadi menunduk)

Lena dan Windi pun beranjak keluar mengikuti mereka.

ADEGAN 7

Kamar Kartika

Kartini              : (Berjalan mondar mandir, bergumam sendiri) Oh, anakku yang malang… aku tahu semua perbuatan keji yang dilakukan mereka! Seperti Belanda menjajah anak pribumi. Namun, pantaskah saudara menjajah saudara sendiri? Tiada satu pun jua yang boleh menyakiti Kartika.

Kartika             : (Muncul dari balik pintu) Aku pulang…

Kartini              : Masuklah Nduk. Ssh.. jangan berkata apa pun. Ibu tahu perasaanmu.

Kartika                       : Bagaimana Ibu bisa tahu?

Kartini             : Apa kau lupa dengan tujuan ibu kemari? Setiap hari aku melihat lihat dunia masa sekarang yang sangat pesat peradabannya. Namun, aku iba hati ini tatkala aku menjumpai berbagai macam perempuan seperti mereka. Karena bukan barang yang indah indah saja yang menjadi terlihat olehku.

Kartini             : Maksud ibu? Perempuan yang seperti apa?

Kartini             : (Menghela napas panjang sambil duduk di kursi) Apalah artinya perjuangan ibu selama ini? Emansifatie yang mendarah daging telah disalahgunakan.

Kratika                        : (Duduk di tepi ranjang) Maksud Ibu? Kartika semakin tak mengerti. Jasa Ibu sungguhlah besar.

Kartini             : Namun mereka tak tahu bagaimana mengamalkannya! Ibu tak kan berjuang jika akhirnya mengetahui betapa mengerikan sikap perempuan masa ini. Mereka berjalan dengan busana ala kadarnya, seperti memang lebih mengasyikkan tuk telanjanng. Emansipasi juga telah mengubah mereka untuk terus mengejar pekerjaan dan menyiakan suami dan anak anak mereka. Pantaskah perempuan seperti itu? Mereka tiada boleh melupakan sama sekali adat dan norma. Oh, namun betapa memalukan mereka berjalan, bernapas, bertingkah layaknya peerempuan binal tak punya urat kemaluan! (suaranya sangat lantas dan penuh emosi)

Kartika                        : Oh, ibu. Sungguh besar derita dan bebanmu. Namun, masih banyak perempuan di bumi Indonesia yang mempunyai akhlak mulia seperti Ibu.

Kartini             : Ya, kau benar Anakku. Alangkah susahnya dan sedihnya akan patah rasanya hidupku. Jika semua yang kutuangkan dalam ratusan lembar surat dinodai oleh tinta yang lebih pekat. Namun aku tahu, diliteran tinta kami masih memiliki asa. Dan kau pikul cita citaku selanjutnya, kau emban dan kau simpan dalam sanubari terdalam. Engkau jiwa yang suci Nduk.. jangan sampai ternoda.

Kartika                        : Ah, aku hanyalah gadis lemah, rapuh dan tak berdaya. Sia sia saja aku, jika orang yang kukasihi pun mengolokku.

Kartini             : Hapus airmatamu, sudah saatnya kau hapus noda yang mengotori halaman halaman kisah hidupmu.

 

ADEGAN 8

 

Sore hari, Ruang kelas yang kosong…

 

Windi              : (Berdiri membelakangi pintu masuk. Menelepon seseorang dengan suara yang sangat manja dan centil) Iya.. Sayang… aku habis ini tunggu kau di depan gerbang sekolah ya? Jangan ngaret lho! Awas! Nanti kita booking tempat yang biasanya saja. Iya, ngerti nggak sih maksudku? Aku lagi bokek nih, Om..

Tiba-tiba sosok hitam masuk ke dalam kelas. Sosok tersebut memakai jubah hitam panjang dan tudung yang melindungi wajahnya. Tangan kanannya memegang sebuah pisau tajam.

Windi              : Oke deh Sayang… sampai ketemu nanti (menutup pembicaraan, berbalik dan seketika berteriak tertahan)

            Windi jatuh tersungkur di lantai kelas dengan darah membanjir dari perutnya.

 

ADEGAN 9

Kamar Kartika

Bu Sartika       : (Geleng geleng kepala sambil mengecek thermometer) Astaga Kartika! Badanmu panas sekali! Kau harus banyak beristirahat. Jangan baca buku buku cerita lagi. Pasti kau kecapekan.

Kartika                        : (Membisu di balik selimut tebal)

Bu Sratika       : Kau harus makan yang banyak. Nanti Mama pesankan bubur ayam kalau lewat depan rumah.

Kartika                        : (Masih membisu. Tangannya mendekap erat diary dan gambar RA Kartini)

Bu Sartika       : Oke, terserah kau saja. Ibu capek melihatmu akhir akhir ini seperti kehilangan gairah hidup. Tapi Ibu tak bisa menungguimu lebih lama. Ada meeting di kantor hari ini. Jadi, kalau ada apa apa kau hubungi Mama lewat telepon saja.

Kartika                        : (Masih membisu. Tatapan matanya kosong ke depan)

Bu Sartika       : Sampai jumpa nanti malam Sayang… (mengecup dahi Kartika kemudian keluar)

 

ADEGAN 10

 

Pagi hari, Sebuah kelas yang kosong..  

Masih sosok yang sama, memakai jubah hitam dan tudung. Duduk di salah satu bangku sambil menunduk. Beberapa saat kemudian Lena dan Friska masuk ke dalam kelas. Langkah mereka terhenti ketika menjumpai sosok berkerudung hitam duduk tak bergerak.

Friska              : Siapa kau?! (Berteriak nyaring, air mukanya mendadak berubah ketakutan)

Sosok itu masih tidak bergerak.

Lena                : Fris.. apa jangan-jangan… Dia yang ngebunuh Windi? (Dengan nada takut bercampur ragu)

Friska              : Aku nggak tahu. Hei, jawab! Kau tuli ya? Kau siapa? Jangan bercanda! Ini nggak lucu!

Masih tak ada reaksi.

Lena                : Oke, sebentar Fris.. jangan jangan dia orang gila yang ketiduran di kelas. Aku akan buka kerudungnya (Hendak berjalan menghampiri sosok tak bergerak tersebut)

Friska              : (Menahan lengan Lena) Jangan Len! Aku takut! Lebih baik kita lapor guru atau kepala sekolah.

Lena                : Ya ampun Friska.. gini aja takut. Kau lupa aku sudah pegang sabuk hitam?

Friska              : Tapi… (ragu-ragu, airmukanya masih sangat cemas)

Lena                : Sudah, diamlah disini.. (Lena berjalan dengan penuh waspada,  semakin mendekat ke sosok tersebut)

Lena sudah berdiri di depan bangku dimana sosok itu duduk tak bergerak. Tangannya terjulur hendak membuka tudung kepala sosok tersebuk. Namun, secepat kilat sosok itu bergerak, bangkit dan langsung menusukkan pisau yang sedari tadi dipegangnya di balik jubah,  ke perut Lena.

Friska              : AAAAAAAA…! (Memekik nyaring dan segera berlari keluar kelas)

 

ADEGAN 11

Kamar Kartika

Kartika masih sakit. Ia setengah berbaring di ranjang. Menulis sesuatu di agendanya.

Pintu membuka, Kartini masuk ke dalam kamar dan tersenyum melihat Kartika.

 

Kartika                        : (Menoleh, kemudian membalas tersenyum, lemah) Ibu darimana saja?

Kartini             : Tidak begitu penting. Hanya menghapus noda. (Berjalan menghampiri Kartika dan memegang keningnya dengan lembut)

Kartika                        : Itu apa? (Menunjuk bungkusan tas plastik hitam yang dibawa Kartini)

Kratini             : Oh, ini… tidak penting kok. Bagaimana keadaanmu Nduk? Mau ibu buatkan wedang jahe? Atau bubur? (sambil memasukkan bungkusan itu ke kolong ranjang.

Kartika                        : Nggak perlu Bu. Saya sudah agak mendingan. Mungkin besok saya sudah diijinkan Mama masuk sekolah. Mmm.. Ibu terlihat letih. Ibu mau tidur di samping saya?

Kartini             : (Mengangguk kalem) Ya, ibu sangat lelah. Bolehkah ibu tidur dekat dinding? Rasanya pasti dingin.

Kartika                        : Tentu saja, dengan senang hati (bernada cerai, langsung bangkit menggati posisi tidurnya).

 

Kartini naik ke ranjang dan langsung tertidur lelap. Sedang Kartika masih sibuk menulis diary sambil sesekali memandang Kartini. Tiba-tiba penanya terjatuh ke lantai. Kartika bergegas turun dari ranjang, hendak memungut penanya. Namun, perhatian sejenak teralih saaat melihat bungkusan hitam milik Kartini. Dengan hati hati ditariknya keluar bungkusan tersebut dari kolong ranjang.

 

Kartika                        : Hm.. apa yah ini? Ibu Kartini kemana saja sih seharian ini? Tumben juga bawa oleh oleh… (Membuka tas plastik tersebut. Ia menemukan jubah hitam dan sebilah pisau berlumuran darah. Kartika memegang benda benda tersebut dengan airmuka ketakutan. Ia bolak balik memandang Kartini yang masih tertidur membelakanginya ke benda benda tersebut) Untuk apa jubah dan pisau? Lantas ini darah siapa?

 

ADEGAN 12

 

Kelas

Tampak Malvin sedang menemani Friska yang sedang bercerita dengan ekspresi sedih. Resnaga duduk di sudut sedang menulis sesuatu.

Friska              : Windi dan Lena adalah sahabat sahabat terbaikku Vin. Aku nggak rela kalau kehilangan mereka. Apa salah mereka? Apa maksud pembunuh itu?

Malvin             : Tenanglah Fris.. masih ada aku kok. Setidaknya kau belum kehilangan Lena. Dia masih di rumah sakit. Aku juga nggak tahu salah mereka apa.

Friska              : Aku takut kalau… kalau… kalau  habis ini giliranku yang dibunuh.

Malvin             : Sst… jangan berkata begitu, sekarang kau aman kok. Sekolah sudah dijaga ketat oleh polisi.

Kartika masuk ke dalam kelas.

Kartika                        : Pagi… (menyapa dengan pelan, datang dan keheranan melihat wajah wajah duka di kelas)

Malvin dan Friska bangkit dari duduk tanpa berkata apa pun pada Kartika mereka keluar.

Resnaga           : Tika, kau sakit apa? (Segera menghampiri Kartika, cemas)

Kartika                        : Cuma demam biasa kok. Ada apaan sih? Kenapa anak anak mendadak aneh. Wajah mereka seperti penuh ketakutan dan kesedihan. (Meletakkan ranselnya dan duduk)

Resnaga           : Sekolah ini diteror. Ada 2 kasus pembunuhan selama 2 hari ini.

Kartika                        : Pembunuhan?! Bagaimana bisa? (terbelalak kaget) 

Resnaga           : Tika, Windi telah meninggal dengan sangat tragis. Dia ditusuk di kelas. Kemarin Lena dan Friska juga hendak dibunuh. Tapi, hanya Lena saja yang berhasil ditusuk. Keadaannya sekarang kritis di rumah sakit. Diperkirakan pembunuh keduanya sama.

Kartika                        : Lantas siapa pembunuhnya?

Resnaga           : Entahlah. Polisi masih menyelidiki teror ini. Polisi hanya dapat keterangan dari Friska bahwa pembunuh itu memakai jubah daan tudung hitam. Wajahnya tak tampak. Dia membawa sebilah pisau.

Kartika                        : Jubah hitam? Pisau, katamu? (Terdiam sejenak) Tidak… ini tidak mungkin.. (Menggelengkan kepala dengan tak percaya)

Resanaga         : Ada apa Kartika? Kau mengenal pembunuhnya? Kau tahu? Siapa?

Kartika                        : Res… pembunuhnya.. pembunuhnya adalah Ibu Kartini. Aku harus menemuinya sekarang! (berdiri dan berlari dengan tergesa keluar kelas)

Resnaga           : Tik, tunggu! TIK! (Berteriak sambil mengacungkan Map Folder yang tertinggal di meja) Ada apa dengan anak itu? Akhir akhir ini dia tampak aneh. (Bergumam sendiri sambil membuka folder tersebut. Di dalamnya ada agenda milik Kartik) Hm, Diary Kartika. Kira-kira dia marah nggak yah kalau aku baca isinya? (Membuka diary tersebut. Kemudian ia menemukan sebuah kertas lecek yang terselip di salah satu halaman. Dahinya mengerut serius tatkala membacanya) Target Pembunuhan? (membaca judul di kertas tersebut)

 

ADEGAN 13

Siang hari, Kamar Kartika

Kartika                        : Ibu, jujurlah padaku!

Kartini             : Maksud Nduk Kartika? Ibu tak paham. (duduk di tepi ranjang. Airmukanya sangat kalem)

Kartika                        : Apa… apa ibu yang membunuh teman temanku?

Kartini             : Temanmu? Teman siapa? Sejauh ini hanya ibulah temanmu Nduk..

Kartika                        : Teman sekelas Tika Bu, Windi dan Lena!

Kartini             : (Tertawa dingin, melipat tangannya. Suara berubah dingin) Apa mereka bisa disebut teman? Setiap bertemu mereka menganiayamu, menyiksamu… tak tahukah kau ibu sangat menyayangimu, Nduk?

Kartika                        : Jadi.. benar? Ibu adalah sosok berjubah hitam itu?! (berkata lirih tak percaya)

Kartini             : Ya, aku memang yang merencanakan semuanya. Target pembunuhan selanjutnya Friska.

Kartika                        : Tidak… tidak mungkin! (menggelengkan kepala kuat kuat)

Kartini             : Aku pembunuh! Kita pembunuh kaum perusak emansipasi!

Kartika                        : NGGAK! Kartini yang aku kenal bukan seorang pembunuh! Kau bukan Ibu Kartini! Kartini tak kan mungkin membunuh.

Kartini             : Apa yang kau bicarakan? Aku Kartini! Aku melindungi dirimu dari apa pun yang kau benci!

Kartika                        : Kau jahat! Pergi dari sini! Kembalilah ke duniamu! (Mendorong Kartini ke bingkai cermin)

Kartini             : (Tidak berusaha melawan) Terserah, kau akan menyesal Nduk… karena telah mengusirku. Api yang membersihkan api. Api itu juga yang menghancurkan kayu menjadi abu! Camkan itu! (menghilang dari balik cermin)

 

ADEGAN 14

 

Ruang Kelas…

Friska sedang duduk terdiam, wajahnya pucat dan sayu. Ketika Kartika muncul ia segera menegakkan badannya. Kartika datang dengan wajah tampak ekspresi. Ia menutup pintu kelas dan menguncinya.

 

Friska              : Ada urusan apa kau kesini? Enyahlah Kuper, aku sedang tak berselera mengolok olokmu!

Kartika                        : Aku ingin memberimu hadiah yang paling indah… (Tersenyum dingin menghampiri Friska)

Friska              : Hadiah? (Tiba-tiba melihat pisau yang digenggam erat Kartika. Ia terbelalak) Kau mau membunuhku?!

Kartika                        : Kalau iya, lantas kenapa? Kemarin kau lari, sekarang kau tak kan bisa lari lagi Friska cantik… (Berjalan semakin mendekat)

Friska              : (Berdiri merapat ke tembok) Jadi, kaulah sosok jubah hitam kemarin? Kau yang membunuh Windi kan?!Aku salah apa padamu?!

Kartika                        : Kau tanya salah apa? Kau sangat bersalah! Ha…ha..ha..  Kau telah melukai Kartika, melukai Kartini, dan melukai Pertiwi!

Friska              : Aku nggak pernah lukain siapa pun.. pergi! Jangan sakiti aku!  TOLONG! TOLONG AKU!

Terdengar pintu digedor keras

Resnaga           : Kartika! Kartika! Buka pintunya!

Bu Sartika       : Tika! Ibu mohon buka pintunya!

Kartika                        : (Terkejut, menoleh ke pintu yang masih tertutup) Pergi kalian dari sini! Aku Kartini! Aku akan membunuh wanita wanita terkutuk!

Terdengar suara keras. Pintu terdobrak. Resnaga, Bu Sartika dan Malvin masuk dengan airmuka tegang.

Resnaga           : Kartika lepaskan pisau itu! Kau bukan Kartini! Kau Tika, sahabatku sejak kecil!

Bu Sartika       : Kartika… maafkan Mama. Mama tak pernah tahu kau punya kepribadian ganda. Lepaskan jiwa jahatmu Nak

Malvin             : please Kartika… kumohon lepaskan Friska. Maafkan dia… maafkan aku juga.

Kartika                        : Persetan kalian semua!!! (Menarik tubuh Friska lalu mencengkeram leher gadis tersebut. Ujung pisau menempel di kulit mulus Friska) Jangan berani mendekat!

Resnaga           : Kartika, sadarlah! Bangunlah Tik! Kau adalah Kartika sahabat terbaikku. Kau adalah gadis baik. Kau bukan pembunuh. Dan Kartini hanya kepribadian yang tak kau sadari saja Tika. Tenangkan hatimu Tika…

Kartika                        : (Oleng, memegang tangannya. Mendadak ia merasa pusing. Cengkeramannya pada Friska mengendor, seketika Friska berhasil membebaskan diri dan berlari menghambur ke Malvin) Aku… aku… pembunuh. Aku membunuh orang orang di dekatku. Pergi dari sini! Pergi! Lekas! Aku tak mau jiwaku yang satunya membunuh kalian! Pergi! (mengacungkan pisaunya ke atas)

Resnaga           : Tidak! Aku tak mau pergi! Karena aku sangat mencintaimu…

Hening sejenak

Kartika                        : (Terisak sambil tersenyum getir) Maaf Res.. aku nggak bisa. Ak… aku.. sudah terlanjur membunuh, aku nggak mau ngebunuh Friska, Mama, Malvin dan kau… Kalau kalian tak mau menjauhiku akulah yang harus pergi.  (Menusukkan pisau tersebut ke jantungnya)

Bu Sartika       : TIDAK!!!! (melolong histeris, pingsan)

 

Tubuh Kartika tersungkur jatuh di lantai. Menusuk dadanya sendiri dengan pisau yang digenggamnya. Antara kehidupan dan kematian ia masih bisa tersenyum menahan sakit. Resnaga segera berlari menghampirinya.

 

Kartika                        : Terimakasih… Ak… aku sayang kali… an semua, khususnya eng…kau Resnaga.. Selamat tinggal. (memejamkan mata perlahan)

 

Narator            : (Mengutip salah satu surat Kartini yang tidak dipublikasikan namun diubah sebagiaan, suara narator diiringi dentingan gitar, berduka)

 

Sampai aku menarik napas yang penghabisan, akan tetap aku berterimakasih pada kalian dan mengucap syukur akan kasih kalian kepadaku. Seorang buta yang diperbuat melihat, sekali kali tiada menyesal, matanya dibukakan orang karena bukan barang yang indah indah saja yang menjadi terlihat olehku dan kalian.

 

SELESAI

 

 

Sidoarjo, 27 Juli 2006

Tuk yang mengabdi tanpa menyadari

Alm. RA Kartini

                                     

 

 

 

 

PS : dalam naskah drama ini terdapat beberapa kutipan asli maupun yang diubah untuk dialog dan narasi. Sumber sumber kutipan tersebut :

Buku Habis Gelap terbitlah Terang (Armijn Pnae)

Buku Kartini Sebuah Biografi (Siti Soemandari Soeroto)

Buku Ra Kartini (Tashadi)

OBROK OWOK-OWOK- EBREG EWEK-EWEK

OBROK OWOK – OWOK

EBREG EWEK – EWEK

Oleh : D A N A R T O

 

Peran – peran:

 

  1. SLENTEM , tukang sapu pasar.
  2. PROFESOR SENI RUPA
  3. NYONYA PROFESOR SENI RUPA
  4. SUMIRAH, Juragan batik.
  5. ATI, Pedagang batik.
  6. SARIYEM, Ledek.
  7. TUKANG KENDANG.
  8. TUKANG SULING.
  9. TUKANG CLEMPUNG.
  10. WARTI, Pengamen cassette tape recorder.
  11. KUSNINGTYAS, Putri professor, mahasiswi kedokteran.
  12. TOMMY HENDRONEGORO, Pelukis.

 

– – – – – – –

 

MASA LALU, MASA KINI, MASA YANG AKAN DATANG MENJADI SATU, RUANG DAN WAKTU KEMPAL DALAM SATU SUASANA DAN KEADAAN: PASAR BERINGHARJO YOGYAKARTA ADALAH RUANG UJIAN ADALAH KAMAR TIDUR ADALAH TEMPAT NGAMEN ADALAH HARI KETUAAN MENANTI MAUT…. ADALAH…. ADALAH….

SUMIRAH                             :  Lha ini lho Jeng Ati, yang kemarin sudah saya bilang, batik baru disain Tommy.

ATI                                         :  Waduh, ini baru lagi. Bagus betul. Namanya apa ini, Mabkyu Sumirah?

SUMIRAH                             :  Ini karya Tommy yang paling lama ia kerjakan. Judulnya “Shadow of your smile”.

ATI                                         :  C, C, C,…. Artistik betul.

SLENTEM                              :  Betul- betul elok, smile-nya siapa, Mbakyu? Mas Tommy atau smile-nya Mbakyu?

ATI                                         :  Kamu ini pigi mana sih, Tem, Tem! Tentunya senyumnya Mbakyu Sumirah, to!

SUMIRAH                             :  Sudahlah, Tem. Kamu pigi sana, jauh! Sebelah sana masih banyak yang harus kau sapu.

PROFESOR                           :  (membaca Koran)

                                                   Kalau batik-batik sudah begini sexy , saya kawatir mahasiswa-mahasiswa saya bakalan kuliah di pasar Beringharjo.

NY. PROFESOR                   :  Ya, Pap? (Memandang heran sambil melanjutkan jahitannya)

ATI                                         :  Cuma satu ini mbakyu?

SUMIRAH                             :  Jeng Ati ini pigimana sih. Lha wong ini batik tulis.

SLENTEM                              :  Ya, Cuma satu dong. Ini saja si Tommy menunggu inspirasinya sebulan lamanya.

ATI                                         :  Dikasih harga berapa, Mbakyu?

SUMIRAH                             :  Lima belas ribu.

ATI                                         :  Ya, cocok sudah dengan kreatipiteitnya.

SLENTEM                              :  Ini saja Cuma pas-pasan dengan mahalnya inspirasi sekarang.

PROFESOR                           :  (Masih membaca)

                                                   Apa memang naik sekarang.

NY. PROFESOR                   :  Ya, Pap? (Memandang heran lalu melanjutkan jahitannya lagi).

PROFESOR                           :  (Masih membaca)

                                                   Bungkus dah, bungkus situ. Terus terang saja saya khawatir, kalau judul-judul batik tidak direm, bisa jadi Hollywood akan bangkrut judul.

NY. PROFESOR                   :  Pap? (heran dan menjahit lagi).

SUMIRAH                             :  Memang judul amat penting peranannya untuk promosi batik, lebih-lebih ke luar negeri, Jeng.

SLENTEM                              :  Orang harus tahu namanya dulu, sebelum lihat orangnya.

SUMIRAH                             :  Jadi pertama: Judul dulu. Kedua: Motip yang melahirkan judul itu.

SLENTEM                              :  Ketiga: Berapa lama inspirasinya bisa di gaet. Sebab ini menyangkut ongkos-ongkos. Untuk merenung sehari saja sudah dua bungkus Dji Sam Soe dan lima gelas kopi.

PROFESOR                           :  Oh…. Ilham. (Membaca terus)

NY. PROFESOR                   :  Pap! Ada apa sih kok ngomong sendiri. Dapat ilham apa? (Heran sejenak, lalu menjahit lagi).

ATI                                         :  Memang semuanya harus terperinci dan tepat, ya Mbakyu.

SUMIRAH                             :  Dengan begitu bisa melahirkan karya yang bagus.

SLENTEM                              :  Dan harga yang mahal.

SUMIRAH                             :  Sudahlah, Tem, kamu pigi ke sana. Kerja!

SLENTEM                              :  Mbakyu tidak merokok?

SUMIRAH                             :  Kenapa, memangnya kalau saya merokok kenapa?

SLENTEM                              :  Saya juga suka……..

SUMIRAH                             :  Lantas?

SLENTEM                              :  Mbok ya ngrokok.

SUMIRAH                             :  Nanti!

SLENTEM                              :  Mbok ya sekarang.

SUMIRAH                             :  Kenapa, memangnya kenapa kalau sya uka ngrokok, nanti-nanti saja?

SLENTEM                              :  Ini sudah waktunya ngrokok.

SUMIRAH                             :  Lantas?

SLENTEM                              :  Jam-jam begini, baik bagi kesehatan kalau ngrokok.

SUMIRAH                             :  Lantas?

SLENTEM                              :  O, alah, mbaktu ini kok tidk jelas-jelas, mbok ya saya ini cepat-cepat dilempar sepuluh rupiah biar cepat-cepat pergi.

SUMIRAH                             :  Duwit logamnya masih batangan, nih!

SLENTEM                              :  Duwit kertas juga kagak apa-apa, malah mudah menyimpannya.

SUMIRAH                             :  Tem! He Tem! Kesini! Tak bilangi ya! Kalau kamu mungsih nrambul terus kalau ada orang ngomong. Sekali lagi, kamu akan saya….

SLENTEM                              :  Kremus! (Tangannya bergerak mencakar)

SUMIRAH                             :  Nah, betul! Kremus!

SLENTEM                              :  Pada pokoknya, saya tak pernah mengganggu orang lain.

SUMIRAH                             :  Mbok kamu diam saja kalau ada orang sedang ngomong urusan… urusan… urusan….

SLENTEM                              :  Bisnis….

SUMIRAH                             :  Hiya bisnis… Hingga saya dan…. dan….

SLENTEM                              :  Relasi….

SUMIRAH                             :  Hiya relasi, hingga saya dan relasi saya tidak terganggu….

SLENTEM                              :  Baiklah mbakyu Sumirah. Saya berjanji tidak mengganggu, angsal dipenuhi syaratnya…

SUMIRAH                             :  Kamu ini memangnya siapa. Ha!

SLENTEM                              :  Saya sa’betulnya memang… Slentem.

PROFESOR                           :  Saya sebetulnya bukan professor…

NY. PROFESOR                   :  Kenapa, pap? Siapa yang sebetulnya bukan professor?

PROFESOR                           :  Banyak yang belum saya kerjakan.

SUMIRAH                             :  Banyak yang belum saya kerjakan, sana Tem….

                                                   Saya harus menyiapkan sesuatu untuk Tommy.

ATI                                         :  Lha hiya mbkyu. Ngomong-ngomong pigi mana ini kabarnya Mas Tommy?

SUMIRAH                             :  Ah, laki-laki! Saya dengar sebentar lagi diambil menantu sama profesornya.

ATI                                         :  Mbok jangan begitu to Mbakyu.

SUMIRAH                             :  Tenan kok jeng. Dia memang pantes dapat Kusningtyas.

SLENTEM                              :  Asmara memang suka berbelit-belit.

ATI                                         :  Percintaan dua tahun masak bisa guyah hanya karena sedas-desus.

SLENTEM                              :  Gosip bisa bikin grogi.

SUMIRAH                             :  Ini benar Lho jeng.

SLENTEM                              :  Ada faktanya?

ATI                                         :  Sejak kapan Mbakyu dengar tentang hubungan Mas Tommy dengan…

SLENTEM                              :  Kusningtyas, mahasiswi Fakulteit Kedokteran tingkat 3, putrid pak Professor Senirupa.

SUMIRAH                             :  Sudah lama sebenarnya, tapi sengaja saya diamkan saja, sebelum melihat sendiri buktinya.

PROFESOR                           :  Aku juga kepingin lihat buktinya sendiri. (Sambil terus membaca)

NY. PROFESOR                   :  Bukti apa, Pap?

PROFESOR                           :  Tentang Tommy.

NY. PROFESOR                   :  Kenapa?

PROFESOR                           :  Aku dengar dia sudah pacaran, bahkan sudah lama hidup bersama dengan juragan batik Beringharjo

NY. PROFESOR                   :  Ah, mosok. Dengar dari siapa?

PROFESOR                           :  dari kawan dosen.

NY. PROFESOR                   :  Kus sudah dengar?

PROFESOR                           :  Belum.

NY. PROFESOR                   :  Jangan main tuduh dulu, Pap, sebelum lihat sendiri buktina dan jangan sampai terdengar oleh Kus.

SUMIRAH                             :  Tetapi aku sudah lama dengar.

ATI                                         :  Dari siapa, Mbakyu?

SUMIRAH                             :  Dari Slentem.

SLENTEM                              :  Maut ! …. Ini maut namanya. Lha wong saya tidak tahu apa-apa kog dituduh dengan sewenang-wenang.

SUMIRAH                             :  Tem! Kesini! Kalau kamu tidak ngaku, tau rasa!

SLENTEM                              :  Ajinomoto! Saya tidak pernah ngomong apa-apa tentang apa-apa terhadap siapa-siapa.

SUMIRAH                             :  Kamu terus terang saja atau dipecat sebagai tukang sapu!

SLENTEM                              :  Ogah semuanya!

ATI                                         :  Lho bagai mana tho. Kog Mbakyu bisa dengar dari Slentem sedang slentem mengelak?

SUMIRAH                             :  Slentem pernah ngomong-ngomong dengan Tukijo, itu yang jual burjo di Pintu Utara, tentang hubungannya Tommy dengan Kus. Dia tidak tahu kalau saya ada di balik pagar di toko besi. Serta merta aku mendekat setelah dengar dia dengan Tukijo asyik sekali dan lama ngomong-ngomongnya.

SLENTEM                              :  Ngarang! Ngarang! Ntar saya bawain mesin tik sama kertas, deh!

SUMIRAH                             :  (Mengepal) Ngaku cepat atau saya kremus!

ATI                                         :  Kapan itu Mbak?

SLENTEM                              :  Sudah lama sekali.

PROFESOR                           :  Sudah lama sekali.

NY. PROFESOR + ATI        :  Sudah lihat buktinya?

SUMIRAH + PROFESOR    :  Belum.

PROFESOR                           :  Saya ingin cari orang yang namanya Slentem, tukang sapu pasar. Kata kawan dosen saya itu, dia dengar dari dia, ketika dia makan bubur kacang ijo di Pasar Beringharjo.

SLENTEM                              :  Ngarang! Ngarang! Aku telah dituduh habis-habisan campur debu!

SUMIRAH                             :  Pokoknya momot kepalamu nanti.

ATI                                         :  Sudahlah Tem, kamu ngaku saja. Supaya persoalannya cepat selesai.

SLENTEM                              :  Buktinya apa?

SUMIRAH                             :  Apa perlu saya larak kemari Tukijo?

SLENTEM                              :  Please…..

SUMIRAH                             :  Atau kamu saya seret ke warungnya!

SLENTEM                              :  No!

ATI                                         :  Kalau kamu cepat ngaku dan menceritakan semua hubungan Tom dan Kus, itu lebih baik daripada kamu diam saja. Kalau begini terus dan berlarut-larut, semuanya akan menjadi resah dan suaana menjadi panas. Kamu senang kalau udara menjadi umob?

SLENTEM                              :  Apa yang musti saya ceritakan kalau tidak ada dongeng? Apa yang musti saya lihat kalau tidak ada pemandangan?

SUMIRAH                             :  Jangan pura-pura, ya? Kamu katanya pernah lihat Tommy boncengan vespa sama Kus nonton di Rahayu.

SLENTEM                              :  Tak pernah! Mustahil!

ATI                                         :  Ayolah, Tem. Kok kaya kita ini bukan kawan lama. Kalau kamu sedang repot sering dibantu Mbakyu Sum. Sekrang mengaku dongeng sedikit saja tidak mau. Apa sih keberatanmu?

SLENTEM                              :  Pada hakekatnya aku tidak tahu apa-apa tentang hubungan Tommy dan Kusningtyas. Titik!

SUMIRAH                             :  O, begitu to balasanmu, terhadap kebaikan orang lain? Awas kalau kamu pada suatu ketika nanti merengek-rengek kepada saya. Ora ciut!

SLENTEM                              :  Mustahil terjadi!

SUMIRAH                             :  E’ e’ e’, baru saja merengek-rengek minta rokok. Sudah lupa ya?

 SLENTEM                             :  Aku Cuma mengatakan bahwa kita punya selera yang sama, bahwa kita sama-sama suka merokok.

SUMIRAH                             :  Baiklah! Baiklah.

                                                   Mulai sekarang kita tak usah berkawan dan tak usah ngomong.

SLENTEM                              :  Okey! Okey! Semaumu.

                                                   Orang tidak ngaku kog dipaksa-paksa.

NY. PROFESOR                   :  jangan maksa-maksa lho Pap.

PROFESOR                           :  Buat apa. Sama tukang sapu kog maka-maksa. Dipancing rokok sebatang saja kan terus ndongeng.

SLENTEM                              :  Aku tak butuh diberi rokok. Aku bisa beli sendiri.

SUMIRAH                             :  Awas nanti kalau sebentar saya merokok, kamu boleh pusing sendiri. Pokoknya kita tidak berkawan lagi dan tidak ngomong lagi.

SLENTEM                              :  Sesukamu! Aku bisa beli rokok sendiri dan bisa ngomong sendiri.

SUMIRAH                             :  Coba beli sekarang. Saya kepingin lihat kamu beli rokok.

SLENTEM                              :  Nanti saya beli.

SUMIRAH                             :  Saya pingin lihat sekarang.

SLENTEM                              :  Mbok nanti saja.

SUMIRAH                             :  Coba sekarang?

SLENTEM                              :  Okey, saya berangkat. (PERGI)

ATI                                         :  Slentem itu memang terlalu. Tidak tahu terima kasih.

SUMIRAH                             :  Ingin rasanya saya menangis menjerit-jerit kalau begini ini. Tommy. Oh Tommy.

ATI                                         :  Sudahlah Mbak. Semuanya kan belum pasti. Harus kita selidiki dulu.

SUMIRAH                             :  Semuanya sudah jelas. Tommy sudah tak suka lagi kepada saya.

ATI                                         :  Tidak semudah itu Mbak.

SUMIRAH                             :  Jelas dong Jeng, Jelas.

ATI                                         :  Ditunggu saja perkembangan selanjutnya.

SUMIRAH                             :  Buat apa?…. Dua tahun kita bina bersama. Berat dan penuh pertengkaran. Jika dia kesukaran aku sanggup membantunya. Sedang jika aku sedang membutuhkan sesuatu, Tommy bisa mengatasi keadaan dengan baik.

ATI                                         :  Itulah Mbakyu. MAs Tommy dan Mbakyu, sudah merupakan pasangan yang manis. Sayang kalau terjadi bentrokan-bentrokan. Mas Tommy pelukis laris, sedang Mbakyu juragan yang bisa menghargai uang. Klop! Mas Tommy juga sungging batik yang ahli, sedang Mbakyu bisa memanfaatkan kepandaian-kepandaiannya hingga tepat mengenai sasarannya. Klop! Hasil usaha bersama yang saling isi mengisi demikian jarang bisa dilakukan orang lain. Seluruh pasar Beringharjo boleh di cari juragan-juragan batik yangmampu berpasangan begitu serasi seperti Mbakyu dan Mas Tommy. Boleh di hitung, berapa orang yang benar-benar pasangan yang menggairahkan, yang bisa bikin iri orang, yang tidak saja rukun, tapi juga pandai memajukan usahanya hingga berkembang dengan baik dan menguntungkan.

                                                   Coba, siapa yang mampu, siapa? Dengan demikian adalah amat sayang kalau bertengkar terus, lantas menjadi panas, apalagi berpisahan. Ini sayang, sayang sekali, tak mungkin mampu diulangi lagi, tidak oleh saya, ataupun Sumiati, ataupun oleh Siti, ataupun oleh siapa saja. Ini adalah cocok, benar-benar pasangan yang mesra, benar-benar yang….

NY. PROFESOR                   :  Harmonis! Papi lihat, kalau dia ngobrol di kamar tamu dengan Kus, benar-benar pasangan yang sudah satu, tak mungkin berpisah, Pap, begitu aku merasakan kebahagiaan kalau mereka sudah mulai nyruput the bersama-sama.

PROFESOR                           :  Tetapi mulai sekarang harus dicurigai.

NY. PROFESOR + ATI        :  Harus diselidiki dulu secara hati-hati jangan gegabah.

 

                                                   TOMMY MASUK.

                                                   SERTA MERTA SUMIRAH CERAH DAN MENYAMBUTNYA DENGAN MESRA.

 

TOMMY                                 :  Piye Sum, sudah kumpulkan kritikan-kritikan seluruh kawan-kawan di sini tentang batik baru kita? Bagaimana pendapat pak Suryo, Ibu Dibyo dan Jeng Mari?

SUMIRAH                             :  Tom, seluruh kawan-kawan pada dasarnya senang. Cuma Pak Suryo, Bu Dibyo dan Mari tidak.

TOMMY                                 :  Kritikan-kritikan dari ketiga orang ini yang penting Sum, demi kemajuan usaha kita. Apa kata maereka?

SLENTEM                              :  Rutin!

SUMIRAH                             :  Tem! Berapa kali aku peringatkan! Kenapa ih? Ada apa sih sukamu nrambul melulu?!

SLENTEM                              :  Kita tidak berkawan dan tidak beromong lagi. (MENGELUARKAN SEBUNGKUS ROKOK)

SUMIRAH                             :  Kamu hari ini kok perayaan betul?!

                                                   (MELIHAT ROKOK SLENTEM)

                                                   Lho, darimana kau copet itu, ha?

SLENTEM                              :  (Bersiul-siul, berlagak, sambil menyulut rokoknya)

SUMIRAH                             :  Kamu nyolong dari mana Tem! Wah, drawasi ini.

SLENTEM                              :  Kita tidak berkawan dan tidak beromong lagi.

ATI                                         :  Wah Slentem mulai kumat.

SLENTEM                              :  Jangankan sebungkus, lha mbok sekarang seluruh kios rokok… MENEPUK-NEPUKSAKUNYA)

SUMIRAH                             :  Tom, darimana dia garong itu? Padahal barusan dia merengek rengek minta saya.

SLENTEM                              :  (CEPAT-CEPAT BERLALU)

TOMMY                                 :  Saya yang kena bajak tadi.

SUMIRAH                             :  O,…. Lagaknya….( SAMBIL MENCARI SLENTEM, YANG DICARI SUDAH TIDAK ADA)

TOMMY                                 :  Bagaimana kata mereka?

SUMIRAH                             :  Apa?

ATI                                         :  Itu lho Mbak… Pak Suryo….

SUMIRAH                             :  o, hiya…. Kritikan mereka… ya… rutin seperti kata Slentem tadi.

TOMMY                                 :  Ah, begitu saja selalu dalam mengritik… Sementara disai batik begitu maju pesat, kritikan-kritikan tak pernah maju-maju.

ATI                                         :  Janganlah di ambil serius, kritikan-kritikan itu Mas Tom.

TOMMY                                 :  Soalnya bukan serius atau tidak, tetapi bunyi kritikan itu selalu sama saja dari dulu hingga sekarang. Dan mereka senada.

                                                   Aku telah berusaha keras untuk menciptakan motip-motip baru, warna-warna baru, dan tidak jarang aku bekerja terlalu lama hingga aku lupa sama Sumirah, bahwa ada seorang yang selama ini selalu setia mendampingiku.

ATI                                         :  Sebenarnya Pak Suryo, Ibu Dibyo dan Marie mestinya juga berusaha keras untuk membuat kritik-kritik yang lain dan lebih maju dari yang sudah-sudah.

TOMMY                                 :  Itulah yang saya maksud. Mereka tidak tahu betapa cintaku kepada batik…

SUMIRAH                             :  Juga sampai sekarang  kan masihcinta, Tom?

ATI                                         :  (SADAR) Mbakyu?!

TOMMY                                 :  Lebih-lebih sekarang. Aku tambah yakin lagi setelah aku ciptakan “Shadow of your smile”.

SUMIRAH                             :  Soalnya itu senyum siapa, Tom.

ATI                                         :  Mbakyu.

TOMMY                                 :  Apa maksudmu, Sum?

SUMIRAH                             :  Senyuman kan banyak dan manis-manis.

TOMMY                                 :  Tentu saja senyummu, sweet heart. (SAMBIL MEMELUK SUMIRAH)

SUMIRAH                             :  Apa benar, Tom?

ATI                                         :  (RESAH) Sudahlah Mabk Sum.

TOMMY                                 :  Ada apa memangnya?

SUMIRAH                             :  Laki-laki sering mempunyai maksud yang bercabang.

TOMMY                                 :  Cabangnya memang banyak, tapi realisainya Cuma satu.

SUMIRAH                             :  Apa benar, Tom.

TOMMY                                 :  Tentu, sayang. (MEREKA BERPELUKAN)

SLENTEM                              :  (MENYANYI) Fly me to the moon. (SELANJUYNYA DENGAN SIULAN)

ATI                                         :  (GEMAS SEKALI KEPADA SLENTEM, SECARA HATI-HATI MENYURUH SLENTEM MENYINGKIR, TAPI SLENTEM PURA-PURA TAK TAHU, SUMIRAH DAN TOMMY TERUS DUDUK BERDAMPINGAN MESRA SEKALI.

SLENTEM                              : (MENIRUKAN SUARA SUMIRAH)

                                                   Jika aku semesta, engkau apanya, Tom?

SLENTEM                                 (MENIRUKAN SUARA TOMMY)

                                                   Akulah Apollo sebelas.

                                                   (SUMIRAH DAN TOMMY SALING BERPANDANGAN)

SLENTEM                              :  (SUMIRAH) Jika aku bulan…

SLENTEM                              :  (TOMMY) Akulah Neil Armstrong.

ATI                                         :  Tem!

SLENTEM                              :  (ROMEO) (MENGELUARKAN BUKU ROMEO & JULIET DAN MEMBACANYA)

                                                   Duh Juliet sayang. Aku bukan mualim juga bukan pilot, tapi andaikata kau jauh, sejauh pantai dibasuh laut tak terhingga. Tetaplah kusabung untung untuk pahala ini.

SLENTEM                              :  (JULIET)

                                                   Oh, Romeo…. Alpha Romeo!

SLENTEM MENDEKATI TEMPAT DUDUK PROFESOR YANG TERTIDUR,LALU BERSEMBUNYI DI BELAKANGNYA.

SLENTEM                              :  (MENIRUKAN SUARA PROFESOR)

                                                   Aku bisa membayangkan bagaimana si Tommy dan juragan batik itu berpelukan dengan mesranya. Sementara itu ekor si Tommy menggayut-gayut pinggang Kusningtyas.

NY. PROFESOR                   :  Lha illah, sampai demikian curigamu, Pap?

SLENTEM                              :  (PROFESOR)

                                                   Mengerikan….

NY. PROFESOR                   :  Pikiranmulah yang mengerikan, Pap!

                                                   (MENDEKATI SUAMINYA DAN MENYAMPER KORAN BACAANNYA, SADAR BAHWA SUAMINYA TERTIDUR, IA JADI KAGET DAN TERDUDUK KEHERAN-HERANAN, SEMENTARA SLENTEM SUDAH KE SAMPING)

MASUK TUKANG NGAMEN: TUKANG NGAMEN KENDANG, TUKANG SULING, TUKANG KEMPUNG (SITER), DAN LEDEK.

SLENTEM                              :  Mari-mari. Waduh, kebetulan sekali ini.

SARIYEM                              :  Mas Slentem. Kok dengaren sih. Gropyok betul.

TUKANG KENDANG         :  Sedang panen barangkali.

SLENTEM                              :  Ah, lumayan sja bajakannya hari ini.

TUKANG SULING               :  Wajahmu kok begitui plempas-plempus, to Tem.

SLENTEM                              :  Biarlah, asal mulut mengepul terus.

TUAKANG KLEMPUNG    :  Mbok sekali-sekali kamu nembang, Tem.

SLENTEM                              :  Kalau saya mau nembang, o… sudah kemarin-kemarin saya naik mobil.

SARIYEM                              :  Lha mbok ya hiya, to Mas Slentem.

SLENTEM                              :  Biarlah kamu saja, Yem, yang naik mobil. Saya sudah bosan.

TOMMY                                 :  Kalau kamu pidato terus, lantas kapan ada lagu yang boleh nyelinap di telinga saya?

SLENTEM                              :  Baiklah, baiklah. Bersiaplah anak-anak. Mas Tommy mau pesen lagu. Atur posisi masing-masing.

                                                   Coba kerongkonganmu diurut dulu , Yem.

                                                   Lha Mas Tommy, ini semua sudah oke’. Silahkan.

TOMMY                                 :  Mau gending apa Sum?

SUMIRAH                             :  Terserah. Asal romantis.

TOMMY                                 :  “Yen ing tawang ana lintang”. Coba. Yang keras ya, Yu.

                                                   TUKANG NGAMEN ITUPUN MULAI.

SUMIRAH                             :  Aku ingat ketika kita sedang membangun percintaan yang pertama kali, Tom.

TOMMY                                 :  Tentu. Inilah lagu yang tak mungkin kita lupakan.

                                                   SUMIRAH DAN TOMMY NGOMONG TERUS, KALIMAT MULUTNYA TERBUKA DAN TERTUTUP TANPA KEDENGARAN SUARANYA KARENA SUARA-UARA TUKANG NGAMEN ITU.

                                                   BEBERAPA PENONTON DIAJAK BERJOGED OLEH SARIYEM.

                                                   MUNCUL TUKANG NGAMEN PEREMPUAN, SENDIRIAN, MEMBAWA CASSETTE TAPE RECORDER: WARTI.

SLENTEM                              :  Lho , ini Warti

WARTI                                   :  Hallu , Tem.

                                                   Hallu Mas Tommy dan Makyu Sumirah.

TOMMY                                 :  Stop! “Lintang di tawang”. Stop!

                                                   (MEREKA MENGHENTIKAN TEMBANGNYA DAN TETABUHANNYA)

                                                   (BEBERAPA PENONTON YANG DIAJAK MENARI KEMBALI DUDUK)

SLENTEM                              :  Ada cassette baru, Ti?

WARTI                                   :  ADA DONG… Banyak.

SUMIRAH                             :  Apa?

WARTI                                   :  Apa saja dong.

SLENTEM                              :  Hayo coba apa?

WARTI                                   :  Mau apa?

SUMIRAH                             :  Kenes banget kamu sekarang. Sebutkan saja.

WARTI                                   :  When I First saw you, ada. Rolling love, ada. Moonlight country, ada.

SLENTEM                              :  Cuma itu?

WARTI                                   :  Ambumu, kamu mintaapa memangnya?

SLENTEM                              :  You and me and sex?

WARTI                                   :  Trombakanmu, memangnya sejak kapan kau bisa ngarang lagu?

SLENTEM                              :  Jadi belum ada lagu itu? Ntar saya tulis, deh.

TOMMY                                 :  Sum, lagu apa maumu?

SUMIRAH                             :  Love story aja deh, Tom.

WARTI                                   :  Love story mahal. Rp. 25.

SUMIRAH                             :  Mahal betul.

WARTI                                   :  Habis,ngambilnya aja sudah Rp.20. Belum perhitngan sekarang masih menduduki anak tangga yang ke : 3 di R.R.I. Pusat.

TOMMY                                 :  Sudahlah, sudahlah. Putar aja, deh….

                                                   WARTI MEMUTAR CASSETTE LOVE STORY.

                                                   SEMENTARA TUKANG NGAMEN LAINNYA BERSUNGUT-SUNGUT.

                                                   SARIYEM BANGKIT TAK TAHAN, KETIKA LAGU “LOVE STORY” BARU SAJA MULAI.

SARIYEM                              :  Silahkan! Silahkan! Terus!

                                                   Memngnya aku dianggap apa atas dasar ini semua. Pada hakekatnya kami adalah orang-orang yang menurut. Tetapi kalau dibeginikan terus, apa yo kuwat! Ti! Warti! Mentang-mentang kamu sugih, ya! Punya tape’ rekorder, ya! Memangnya aku sundal bulukan, kok main-mainken terus.

                                                   (SARIYEM MEMATIKAN TAPE RECORDER)

                                                   Sudah sejak dari prapatan ngGayam sampai peristiwa di Gampingan. E, E di pasar Beringharjo sini, jebul kamu mengulang sejarah lagi.

TOMMY + SUMIRAH          :  Sabar, Yem, Sabar.

SARIYEM                              :  Diam kamu semua!

WARTI                                   :  Sebentar Yem.

SARIYEM                              :  Diam! Aku belum habis membeberkan fakta.

                                                   (UNTUK ANCANG ANCANG MARAH LAGI)

                                                   Begitu ya tabiatmu. Padahal kita dulu teman sekolah lho, Ti. Laha kok sekarang kamu berani nracak. Otakmu ini mau kamu taruh dimana to, Ti, Ti, Ti.

                                                   Aku, yang suaraku lebih bagus dari seluruh pita tapemu, gigi-gigiku lebih bagus, bibirku lebih bagus, lidahku lebih bagus, tenggorokanku lebih bagus, lha kok kamu seenaknya saja membajak segala jerih payah kami. Kamu pada hakekatnya sudah bertindak kriminil dan tak sopan.

                                                   Benar-benar aku tak mengira bahwa kamu berani bertindak sejorok itu. Warti! Warti! Edan tenan kowe!

WARTI                                   :  Aku adalah aku. Aku bertindak hanya karena disuruh. Kita memang teman sekolah. Dulu, sekarang kita saingan.

ATI+SLENTEM+TOMMY+SUMIRAH : E, E, E…….

                                                   (GERAKAN KEEMPAT ORANG INI SEPERTI PENYANYI KWARTET YANG GERAKAN-GERAKANNYA SIMETRIS MENARIK)

SARIYEM                              :  Tidak Cuma saingan, tetapi musuh.

WARTI                                   :  Jadilah, Kita musuh!

                                                   (SEMENTARA ITU KETIGA TUKANG NGAMEN LAINNYA TERTIDUR PADA INSTRUMENNYA MASING-MASING)

                                                   SLENTEM KELUAR LALU MASUK LAGI MEMBAWA DUA BUAH BUSUR DAN PANAHNYA LALU DIBERIKAN MASING-MASING KEPADA SARIYEM DAN WARTI!

                                                   SOUND SYSTEM MENGUMANDANGKAN GENDING JAWA UNTUK MENGIRINGI PERTANDINGAN ANTARA DUA ORANG KSATRIA PUTRI.

SARIYEM                              :  Mati kamu, Mustakaweni!

WARTI                                   :  Srikandi, Go to hell!

                                                   (LALU SARIYEM DAN WARTI KEJAR MENGEJAR SA,BIL MERENTANGKAN BUSURNYA SEBAGAI PENARI-PENARI SECARA HALUS, MEMERANKAN MUSTAKA WENI DAN SRIKANDI YANG MELAKUKAN DUEL. LALU MENGHILANG KELUAR PANGGUNG)

ATI+SLENTEM+TOMMY+SUMIRAH : (TERHERAN-HERAN MELONGO SEPERTI PENYANYI YANG MENYDAHI NYANYIANNYA)

                                                   SLENTEM SADAR LALU MEMBANGUNKAN KETIGA TEMAN SARIYEM YANG KAGET LAU BURU-BURU PERGI BERLARIAN.

                                                   TOMMY DAN SUMIRAH KEMBALI DUDUK.

                                                   SLENTEM MASIH MENGAWASI MEREKA, LALU MENDEKATI TOMMYDAN SUMIRAH.

                                                   SLENTEM MENADAHKAN TANGAN TANDA MINTA KEPADA MEREKA BERDUA.

TOMMY+SUMIRAH            :  Kumat kamu, Tem! Hh…

                                                   Apa? Apa?…

SLENTEM                              :  (MESEM) Mewakili mereka eh, eh…. Atas nama mereka.

TOMMY + SUMIRAH          :  Apa? Apa? Hah?

SLENTEM                              :  Come on! Selak pegal, nih.

TOMMY + SUMIRAH          :  Kolokan amat kamu, Tem!

SLENTEM                              :  Ini kanhak mereka. (SAMBIL MENIMANG-NIMANG TANGANNYA YANG MENADAH)

TOMMY + SUMIRAH          :  Sialan!

                                                   (SAMBIL TERPAKSA MENGAMBIL UANG DARI SAKUNYA DAN DILEMPARKAN KE LANTAI SECARA GEMAS)

SLENTEM                              :  Begitu dong! (SAMBIL BERSIUL-SIUL)

SUMIRAH                             :  Acaramu kemana Tom sekarang?

TOMMY + PROFESOR        :  Ujian.

TOMMY                                 :  Aku berangkat sekarang. Professor pasti sudah menunggu, nih.

PROFESOR                           :  Aku sudah lama menunggu, sialan.!

NY. PROFESOR                   :  Menunggu siapa, Pap?

PROFESOR                           :  Menantumu.

TOMMY                                 :  (GUMAM) Mertua… mertua…

SUMIRAH                             :  (HERAN MENATAP) Ada apa, Tom?

TOMMY                                 :  Mana “Shadow of your smile”, saya unjukin sama professor.

                                                   TOMMY BERANGKAT TERSENYUM-SENYUM. MENGITARI PANGGUNG SEKALI LALU SAMPAI KE RUMAH PROFESOR.

TOMMY                                 :  Selamat  siang Profesor.

PROFESOR                           :  Selamat atau bencana.

NY. PROFESOR                   :  Apa-apaan sih pap, kamu ini. Selamat siang nak Tommy Silahkan. Silahkan.

TOMMY                                 :  Terima kasih, Bu.

PROFESOR                           :  Aku kira kamu nggak ingat ujian Tom….

TOMMY                                 :  Tidak mungkin professor. Saya toh ingin lulus secepatnya.

PROFESOR                           :  Seandainya tidak lulus, Tom?

SUMIRAH                             :  Tak jenggung kepalamu.

SLENTEM                              :  (HERAN) Ya Sumirah uring-uringan melulu.

ATI                                         :  Sedang melamun apa dia?

SLENTEM                              :  Sedang fly….

PROFESOR                           :  Bagaimana, Tom?

NY. PROFESOR                   :  Tidak takut menakut-nakuti begitu,pap.

PROFESOR                           :  Saya tidak menakut-nakuti. Kadang-kadang semua kan sukar di tempuh.

TOMMY                                 :  Bapak memang benar, Bu. Dan saya harus merasa wajar menerima itu semua.

NY. PROFESOR                   :  Itu bukan prinsip. Semua bisa di bikin-bikin.

SUMIRAH                             :  Jelas, semua bisa dibikin-bikin.

SLENTEM                              :  (HERAN) Maut….

ATI                                         :  Mbakyu Sumirah… Yu Sum….

SLENTEM                              :  Fly-nya sudah tinggi sekali.

PROFESOR                           :  Tinggi sekali kamu ngelantur mam. Aku toh sudah secara jujur mengutarakan sesuatu. Aku tak pernah bikin-bikin. Biar soal ujian, itu tidak saya bikin-bikin. Begitu muncul saja dari pikiran.

TOMMY                                 :  Bapak memang benar, Bu. Juga jawaban- jawaban saya , begitu saja menghambur.

NY. PROFESOR                   :  Itu karena kamu sudah keras belajar.

PROFESOR                           :  Tom, kamu membawa disain batik baru?

TOMMY                                 :  “Shadow of your smile” ini prof.

NY. PROFESOR                   :  Wah, hebat Tom kamu. Ini bagus untuk ibu Tom,

TOMMY                                 :  Memang pantas untu Ibu, memang inimaksudnya untuk Ibu.

NY. PROFESOR                   :  Terima kasih, Tom.

TOMMY                                 :  Tetapi, Bu ini satu-satunya contoh yang ingin saya perlihatkan ke Jakarta. Jadi bolehkah saya pnjam dulu. Nanti saya antar kembali ke sini.

NY. PROFESOR                   :  Janji ya, jadi kamu pinjem dulu ya.

TOMMY                                 :  Ya, Bu saya pnjam dulu. Saya juga sedang mempersiapkan beberapa disain lagi.

PROFESOR                           :  Tetapi Tom, kamu nggak maju-maju. Begini-begini doing disainmu.

TOMMY                                 :  (INGAT KRITIKAN DI PASAR JADI MARAH)

                                                   Bapak juga nggak maju-maju. Begini-begini doing kritiknya.

PROFESOR                           :  Kamu bagaimana sih, dikritik begitu saja marah, seolah-olah kamu bukan seniman saja.

NY. PROFESOR                   :  Papa sih, ngritiknya Cuma begitu.

PROFESOR                           :  Kamu juga ikut-ikut menghambat kemajuan seniman saja. Mengkritik secara keras itu penting untuk kemajuan. Dan kamuyang Cuma mendengar kritik saja sudah tidak kuat. Itu berarti kamu menghambat segala sesuatu yang diusahakan maju.

TOMMY                                 :  Saya datang untuk ujian prof, tidak untu mendengar kritikan-kritikan.

PROFESOR                           :  Ini semua termasuk ujianmu.

NY. PROFESOR                   :  Pap, kendali, pap… Kendali.

TOMMY                                 :  Aku tidak mau semua diujikan kepada ku.

PROFESOR                           :  Sudah terlanjur.

TOMMY                                 :  Tidak mungkin.

PROFESOR                           :  Mungkin saja.

TOMMY                                 :  Aku tidak mau.

PROFESOR + SUMIRAH    :  Aku mau.

TOMMY + SLENTEM          :  Tidak! Nooooo!

PROFESOR + SUMIRAH    :  Bukaaaan!

TOMMY + SLENTEM          :  No!  No!  No!  No!  No!  No!

PROFESOR + SUMIRAH    :  Yes!  Yes!  Yes!  Yes!  Yes!  Yes!  Yes!

ATI + POFESOR                   :  Bukan! Bukan! Bukan! Bukan! Bukan! Bukan!

TOMMY + SLENTEM          :  O!  O!  O!  O!  O!  O!  O!  O!  O!  O!  O!

PROFESOR + SUMIRAH    :  E!  E!  E!  E!  E!  E!  E!  E!  E!  E!  E!  E!

ATI + PROFESOR                :  U!  U!  U!  U!  U!  U!  U!  U!  U!  U!  U!  U!

                                                   (LALU MEREKABERPINDAH KELOMPOK: PPEREMPUAN JADI SATU: ATI + SUMIRAH + NY,PROFESOR, DAN LAKI-LAKI MENJADI SATU: TOMMY + PROFESOR + SLENTEM, SEPERTI PENYANYI)

ATI+SUMIRAH+NY.PROFESOR : O!  O!  O!  O!  O!  O!  O!  O!  O!  O!  O!

TOMMY+PROFESOR+SLENTEM :  U!  U!  U!  U!  U!  U!  U!  U!  U!  U!  U! 

                                                   (KEMUDIAN MEREKA KEMBALI LAGI KE TEMPAT MASING-MASING, ADEGANPUN KEMBALI SEPERTI SEMULA)

                                                   MEREKA TENANG SEJENAK.

NY. PROFESOR                   :  Tom…. Selama ini disain-disain ini dibabar dimana? Pakah kamu udah mempunyai langganan tetap?

SLENTEM                              :  Rasain lu, Tom.

TOMMY                                 :  Sudah, Bu.

NY. PROFESOR                   :  Dimana dan siapa itu? Tom?

TOMMY                                 :  Ada jauh disana , Bu. Dia juga orang.

NY. PROFESOR                   :  Bukn begitu maksud Ibu. Kalau kamu sudah punya langganan tetap, itu berarti akan lebih murah.

PROFESOR                           :  (BERBICARA SEPERTI SERENTETN TEMBAKAN YANG TAK PUTUS-PUTUS) Seorang disainer seperti kamu Tom, untuk menambah pengalaman tentulah kamu sudah sewajarnya berhubungan dengan orang yang dekat dengan batik; apakah itu pembatikan ataukah pengusaha pembatikan atau pengecer-pengecer, setidak-tidaknya kamu sudah biasa pergi ke pasar untuk melihat sendiri sampai dimana kegiatan batik diselenggarakan orang-orang yang tradisionil maupun yang modern dan temporer, bahwa akhirnya semuanya diterima wajar sebagai suatu kebutuhan yang salingmelengkapi,apapun dan bagaimanapun bentuknya, sehingga kritikan yang bagaimanapun pedasnya adalah pada hakekatnya untuk pemenuhan kebutuhan yang belum memadai dan itu haruslah diterima secara terbuka dan wajar bagi para creator, konsumen maupun produsen demi utuhnya jalunan persaudaraan di dalam koperasi serba ragam seribu satu malam keuntungan material maupun ruhani yang selalu terwujud dalam setiap manifestai dari kehendak mayarakat yang ingin selalu maju dan membangun adalah suatu khabar telegram yang menggembirakan manakala setiap warga sudah mau ngomong dan jalinan-jalinan segera tersusun apakah itu baru dalam taraf pacaran ataupun sudah lebih jauh lagi menjadi misalnya telah hidup bersama lama walaupun tanpa peresmian sebab jamannya sudah lain sehingga batik yang modern tampak lucu bagi orang-orang desa, sedang batik yang tradisionil membuat orang0orang kota tidak suka membentak-bentak lagi dalam bis kota, setidaknya suka mempertimbangkan apa-apanya dulu kata-kata maupun tindakan dan itu semua karena motip-motip batik yang apik-apik dan penuh irama.

                                                   Itulah semua yang menyebabkan batik sekarang makin maju, apakah dengan motip ragam hias Yogja, Solo, Pekalongan, Cirebon, Bali, Timor dan lain-lain sebagainya, diusahakan ecara rapi…..

                                                   NY. PROFESOR, TOMMY, SUMIRAH, SLENTEM, ATI, SEMUANYA PINGSAN.

PROFESOR                           :  Kamu tidak lulus, Tom.

                                                   ORANG ORANG YANG PINGSAN KEMBALI SIUMAN DAN PADA TEMPATNYA MASING-MASING.

TOMMY                                 :  (KAGET)

                                                   Bagaimana prof?

PROFESOR                           :  Kamu tidak lulus.

TOMMY                                 :  Apa saya sudah ujian, prof?

PROFESOR                           :  Kamu tidak lulus.

TOMMY                                 :  Yang mana ujiannya, prof?

PROFESOR                           :  Semuanya tadi.

TOMMY                                 :  Aku tidak mau semuanya diujikan unuk saya seorang. Lagi pula ujian ini curang, sembunyi-sembunyi.

PROFESOR                           :  Ini ujian terang-terangan dan kamu telah diberi undangan sebelumnya, mana mungkin ini ujian curang, sembunyi-sembunyi.

TOMMY                                 :  Ogaaaaah!

PROFESOR                           :  Kamu tidaklulus.

TOMMY                                 :  Saya menolak.

PROFESOR                           :  Silahkan.

TOMMY                                 :  Saya protes.

PROFESOR                           :  Sama siapa?

SLENTEM                              :  Sama Kusningtyas.

SUMIRAH                             :  Lho , kamu tahu nama itu, Tem.

SLENTEM                              :  Saya tukang ngarang nama.

SUMIRAH                             :  Tak mungkin, tak mungkin.

SLENTEM                              :  Ya, Sum, kepingin nama apa? Hayo, sebentar saya karangkan.

PROFESOR                           :  Kamu jangan suka ngarang-ngarang ya, Tom. Apa kamu minta tidak lulus dua kali?

TOMMY                                 :  Ini tidak adil.

PROFESOR                           :  Seorang penguji bisa mengajukan persoalan apa aja sama yang diuji.

TOMMY                                 :  Tapi ini ujian seni rupa.

PROFESOR                           :  Kuping keman, ha?! Kupingmu tadi kemana?

                                                   Aku banyak sekali menyebut persoalan seni rupa yang tradisionil maupun kontemporer. Hubungan dengan pasar, koprasi dan pacaran dan hidup bersama.

TOMMY                                 :  Tetapi tidak satu pertanyaanpun yang sampai ke telinga saya.

PROFESOR                           :  Apakah ujian itu bentuknya selalu pertanyaan? Apakah tidak boleh dongeng, ngobrol…..

TOMMY                                 :  Tapi yang mana soal ujiannya?

PROFESOR                           :  Lho lha kog malah tanya. Terus saya juga nanti yang menjawab. Begitu maumu, ha?!

TOMMY                                 :  Ini membingungkan!

PROFESOR                           :  Apakah soal ujian harus tidak membingungkan?

TOMMY                                 :  Tetapi inimenggelikan. Profesor bersenda gurau, ya?

PROFESOR                           :  Saya serius, serius sekali.

TOMMY                                 :  Tidak mungkin.

PROFESOR                           :  Profesornya itusaya, dan bukan kamu!

TOMMY                                 :  Saya tidak mau.

PROFESOR                           :  Harus mau.

                                                   MASUK KUNINGTYAS.

KUSNINGTYAS                   :  Hallo, Tom, darling, sweet heart.

TOMMY                                 :  (MENOLEH KEPADA KUSNINGTYAS)

                                                   Saya tidak mau.

KUSNINGTYAS                   :  (KAGET)

                                                   Apa?

TOMMY                                 :  Oh…. Saya mau.

PROFESOR                           :  Nah, begitu. Harus mau.

KUSNINGTYAS                   :  Lama kamu kagak kemari, kenapa?

TOMMY                                 :  Saya sibuk mencipta disai-disain baru, sayang.

KUSNINGTYAS                   :  Mana yang untuk saya.

                                                   (TOMMY SADAR LALU BURU-BURU MENGAMBIL BATIK DI MEJA ANTARA TEMPAT DUDUK PROFESOR, NYONYA, SEHINGGA MEREKA BERDUA KEHERAN-HERANAN).

TOMMY                                 :  Ini untukmu, Kus “Shadow of your smile”

SUMIRAH                             :  Aku yakin itu bukan smile saya.

SLENTEM                              :  Jelas bukan.

SUMIRAH                             :  Jelas bukan.

SUMIRAH                             :  Apa, Tem?

SLENTEM                              :  (SADAR) Jelas, bukan?

KUSNINGTYAS                   :  Aduh, darling manis betul.

                                                   Aku jahit aja sekarang untukmalam minggu nanti.

TOMMY                                 :  Tentu, honey. Cuma sebentar, ijinkan saya pinjam dulu barang dua tiga hari. Mau saya bawa ke Jakarta. Ada seorang kolektor yang kepingin lihat. Boleh, sayang?

KUSNINGTYAS                   :  Tentu, baby.

SLENTEM                              :  Tentu, babi!

SUMIRAH                             :  Apa, Tem?

SLENTEM                              :  Anu….. peternakan babi itu paling menguntungkan.

SUMIRAH                             :  Kalau ayam bagaimana?

SLENTEM                              :  Wah, paling gampang musnah.

KUSNINGTYAS                   :  (MERAPAT) Tom……

TOMMY                                 :  Hmmm

SUMIRAH                             :  Tem.

SLENTEM                              :  (MERAPAT) Hmm?

KUSNINGTYAS                   :  (GEMAS) Kamu nakal, sudahlama sekali tidak kemari. Ada yang melarang?

SUMIRAH                             :  Kamu kurang ajar! Kamu gila apa , Tem?

                                                   (SAMBIL MEMANDANG SLENTEM YANG MENCOBA MERAYUNYA)

TOMMY                                 :  Demi terbinannya satu rumah tangga yang harmonis, di kelak kemudian hari, kau wajib memahami cara kerjaku, Kus.

SLENTEM                              :  Ya Sum, Mbok ya memahami saya.

SUMIRAH                             :  Dengkulmu….

KUSNINGTYAS                   :  Demikian juga kau Tom, terhadapku. Kita memang pasangan yang uniek. Mahasiswa senirupa dengan mahasiswi kedokteran.

PROFESOR                           :  Jelas-jelas badak. (SAMBIL MENJENGUK TOMMY DAN KUS)

SLENTEM                              :  Blasteran luwak.

NY. PROFESOR                   :  Jangan tergesa-gesa, pap. Tommy anak baik, dia Cuma terlalu emosionil.

PROFESOR                           :  Semua keburukan-keburukan yang terjadi, justru hanya karena emosionil. Aku bisa mengambil kesimpulan yang tega, bahwa dia benar-benar telah punya pacar di Beringharjo.

SUMIRAH                             :  Apa buktinya?

TOMMY                                 :  Jika memang kita saling mencintai, kita harus saling membuktikan bahwa hubungan kita terjalin dengan mesranya dan pembinaan yang terus menerus harus kita pupuk bersama.

KUS + SUMIRAH                 :  Apakah pupukmu juga tidak kau taburkan di tempat lain, tom?

TOMMY+SLENTEM+PROFESOR : Jelas tidak…. (DENGAN NADA YANG BERDEBAR-DEBAR)

TOMMY                                 :  Cuma padamu seorang.

KUS + SUMIRAH                 :  Ini benar, Tom?

TOMMY+SLENTEM+PROFESOR : Benar, sayang. (DENGAN NADA YANG BERDEBAR-DEBAR)

KUSNINGTYAS                   :  Kita akan menjumpai kesibukan sendiri-sendiri, yang saling mengasikkan sehingga betah nanti kalau telah lulus.

KUS + SUMIRAH                 :  Kau menginginkan anak berapa?

SLENTEM+PROFESOR       :  Dua puluh tujuh , darling!

KUS + SUMIRAH                 :  Banyak amat!

SLENTEM+PROFESOR       :  Biar mendirikan sekolah sendiri.

TOMMY                                 :  Anak? Masing-masing tiga cukup.

KUSNINGTYAS                   :  Masing-masing tiga? Memangnya siapa saja?

TOMMY                                 :  (SADAR) Maksud saya… maksud saya…. Saya kira masing-masing harus menentukan usul dulu.

KUSNINGTYAS                   :  Kalau kamu berapa?

TOMMY                                 :  Kamu yang bakal melahirkan, kamu kuat berapa?

KUS + SUMIRAH                 :  Tujuh.

TOMMY                                 :  Kalau begitu seluruhnya empat belas.

KUS + SUMIRAH                 :  Apa?

TOMMY                                 :  (SADAR) Maksud saya kalau dikalikan dua.

KUS + SUMIRAH                 :  Kenapa musti dikalikan?

TOMMY                                 :  Andaikata.

KUS + SUMIRAH                 :  Ini mesti ada orang lain lagi.

PROFESOR+SLENTEM       :  Pasti.

TOMMY                                 :  Jangan curiga. Masak orang nggak boleh salah.

KUS + SUMIRAH                 :  Pasti dah. Aku tidak curiga. Cemburu juga tidak. Sebelum diusut, kamu sudah buka kartu sendiri.

TOMMY                                 :  Jadi kamu mau mengusut?

KUS + SUMIRAH                 :  Jels, lha ini sudah makin jelas.

TOMMY                                 :  Apanya yang diusut.

                                                   (KUS DAN SUM MAKIN MENDEKAT DIANTARA TOMMY)

KUS + SUMIRAH                 :  Kau punya simpanan, ya?

SLENTEM                              :  Ya, di First National City Bank.

TOMMY                                 :  Sudahlah, sayang.lama kita tidak bertemu, masak kita memberi waktu kepada pertengkaran.

KUSNINGTYAS                   :  Aku takut kehilangan kau. (MENYANDARKAN KEPALA KE BAHUNYA)

SLENTEM                              :  Sama luwak kog sayang.

TOMMY                                 :  Kita terlalu banyak cekcok soal tetek bengek. Energi kita terperas percuma. Cepat tua. (MEMELUK)

KUSNINGTYAS                   :  Baiklah, darling.

SLENTEM                              :  (NEMBANG) Yen ing tawang ana gledeg, cah ayu….

KUSNINGTYAS                   :  Aku berjanji, sehidup semati di sampingmu.

TOMMY                                 :  Itu lebih baik. Aku juga berjanji. Jika aku tak menepati janji lebih baikujianku tak lulus, deh.

PROFESOR                           :  Nah, itu sudah cukup dari jelas, Mam.

NY. PROFESOR                   :  KELIHATANNYA Kus sudah tresno betul.

                                                   (TOM DAN KUS KELIHATAN BERCAKAP-CAKAP TERUS MESKIPUN TAK KEDENGARAN DAN SEDIKIT BERPELUKAN. INI MEMBERI PELUANG BAGI PENONTON UNTUK DIALOG-DIALOG PROFESOR DAN NYONYA)

PROFESOR                           :  Itu sih bukn tresno. Itu namanya kebius.

                                                   Saya harus segera menyelidiki ke Beringharjo.

NY.PROFESOR                    :  Kalau benar-benar Tommy sudah punya pacar, apa usaha kita?

PROFESOR                           :  Harus segera kita bikin pecah.

NY.PROFESOR                    :  Siapa yang pecah?

PROFESOR                           :  Kamu ini pigi mana sih, Mam. Ya yang pecah ya Tom supaya minggat dari Kus.

NY.PROFESOR                    :  Bagaimana tentang Kus?

PROFESOR                           :  Dia sudah gede dan laki-laki banyak yang nglamar dia.

NY.PROFESOR                    :  Saya kira begini, Pap. Kita tanting Tommy, kalau benar-benar dia tresno ama Kus, supaya meninggalkan pacarnya.

PROFESOR                           :  Tidak bisa! Seolah-olah Tommy itu berharga sekali. Banyak cowok-cowok yang melebihi Tommy. Dokter-dokter. Insinyur-insinyur!

NY.PROFESOR                    :  Itu bukan penyelesaian, Pap. Itu tidak bijaksana!

PROFESOR                           :  Ini kebijaksanaan saya yang terakhir.

NY.PROFESOR                    :  Itu peraturan sepihak, Pap.

PROFESOR                           :  Lantas kita mau berlemah-lemah saja dan membiarkan anak kita dikibulin.

NY.PROFESOR                    :  Tapi itu semua belum tentu.

PROFESOR                           :  KAmu ini selalu! Selalu saja! Seolah-olah kamu lupa. Padahal baru saja kamu dikecewakan. Sebentar tadi batik itu dijanjikan untukmu. Sebentar kemudian dibawa untuk Kus. Dan pasti sebentar lagi dia bawa untuk cewek yang lain!

                                                   (TOMMY PAMITAN PADA KUSNINGTYAS SAMBIL MEMBAWA BATIKNYA MENUJU KEMBALI KE PASAR. KUS KELUAR)

PROFESOR                           :  Sudah to Bune’. Pasti kita dikibulin habis-habisan oleh dia. Aku segera menguntitin dia.

NY.PROFESOR                    :  Apakah aku ikut, Pap?

PROFESOR                           :  Nggak usah. Kamu masak saja di rumah.

                                                   (NYONYA PROFESOR KELUAR)

SUMIRAH                             :  (MENYAMBUT) Tom, bagaimana ujianmu?

TOMMY                                 :  Nggak lulus.

SLENTEM                              :  Lho kog bodone nggak tambah-tambah.

ATI                                         :  Slentem kamu….

TOMMY                                 :  Profesor curang.

PROFESOR                           :  Kecurangan harus dibalas dengan kecurangan.

                                                   (SAMBIL SEOLAH-OLAH BERJALAN)

ATI + SUMIRAH                  :  Curang pigimana? (SLENTEM MENGAWASI ATI DAN SUMIRAH)

TOMMY                                 :  Perasaan belum diuji kog dibilang sudahan.

ATI + SUMIRAH                  :  Sampai begitu?

TOMMY                                 :  Aku marah-marah bertahan.

ATI + SUMIRAH                  :  Lantas?

TOMMY                                 :  Dia berkeras, bilang sudah.

ATI + SUMIRAH                  :  Lantas?

TOMMY                                 :  Aku bilang belum.

ATI + SUMIRAH                  :  Lantas?

TOMMY                                 :  Dia bilang aku tidak lulus.

ATI + SUMIRAH                  :  Lantas?

SLENTEM                              :  Ini duet Pattie bersaudara, apa ya!!!

ATI + SUMIRAH SADAR LALU MENGENDORKAN KETEGANGAN.

TOMMY                                 :  Batik ini menurut dia juga jelek.

SLENTEM + PROFESOR     :  Memang jelek.

ATI + SUMIRAH                  :  (MENGGUMAM) Jangan-jangan memang jelek.

                                                   (MENELITI BATIKNYA LAGI)

TOMMY                                 :  Ini yang paling bagus yang pernah saya cipta!

                                                   ATI + SUMIRAH + SLENTEM + PROFESOR, KAGET.

                                                   TOMMY KELUAR.

SUMIRAH + SLENTEM      :  KEMANA SAYANG? (SUMIRAH LALU MELOTOTIN SLENTEM)

                                                   (SUMIRAH KELUAR DIIKUTI ATI)

SLENTEM                              :  Saudara-saudara penonton. Dodonya yu Sumirah itu who. Dikibulin sama Tommy. Lulus dan nggak lulus itu kan nggak penting bagi Tommy, angsal dia bisa pacaran sama Kus. Kusningtyas ini juga demikian, lha mbik cari sesama fakultas kedokteran, begitu. Jadi dokter dapat dokter. Atawa cari ininyur. Dokter dapat pelukis. Yang satu bersih, yang satu jorok.

                                                   (SLENTEM DUDUK DIANTARA PENONTON)

                                                   Apa kus itu juga nggak punya pikiran, apa ya kalau pelukis batik itu saben hari dirubung bakul-bakul batik yang cantik-cantik. Saya kira para penonton sependapat dengan saya, kalau tidak ya… keterlaluan.

                                                   (MENGAMBIL BATIK YANG MASIH LIPATAN)

                                                   Cobalah perhatikan, para penonton. Bagaimana Yu Sumirah ini tidak kaya, lha wong caranya ngejual batik kayak begini….

                                                   (LIPATAN ITU DI LEMPAR DAN SEBATANG PAPAN JATUH DAN TINGGALLAH SECABIK KAIN DI TANGAN SLENTEM YANG DIPERLIHATKAN BERPUTAR KEPADA PENONTON)

                                                   Pigimana hal ini bisa dia lakukan bertahun-tahun.

                                                   (PROFESOR SAMPAI DI TEMPAT SLENTEM)

SLENTEM                              :  Saudara siapa?

PROFESOR                           :  Guru…

SLENTEM                              :  Dan kita begitu patuh terhadapnya dan setiap saat membeli batik-batiknya. Ini kan namanya pembeli yang keterlaluan.

                                                   Cobalah para penonton pikir, kalau [permainan sandiwara begini bisa bertahan bertahun-tahun, betapa Pusat Kesenian akan mengongkosi terus permainan pertunjukan itu. Inikan luar biasa.

SLENTEM                              :  Saudara perlu apa?

PROFESOR                           :  Saya mencari…

SLENTEM                              :  Dan saudara-saudara sebagai penonton patuh sekali menunggu perkataan-perkataan dan adegan-adegan, itu luar biasa lho, saudara lho, Seandainya saudara-saudara bukan penonton, lho ngapain duduk-duduk di sini saling berpandangan satu sama lain dan tidak saling kenal mengenal. Coba pikir itu, kan luar biasa.

PROFESOR                           :  Apa saudara sedang jual obat?

SLENTEM                              :  Jual bacot… jadi, jadi…

                                                   Kedua perempuan itu pada hakekatnnya memang punya selera yang sama. Padahal cinta biasanya amat sangat pribadi…… sifatnya, sehingga lekukan-lekukannya berbeda satu sama lain, pinggulnya yang satu berbeda dari yang lain, dadanya berbeda sekali pahatannya.

PROFESOR                           :  Saya mau Tanya….

SLENTEM                              :  Saya mau ngomong… misalnya seorang itu tidak berhak kepada yang lain itu adalah memang peraturannya….

PROFESOR                           :  Siapa?

SLENTEM                              :  Rahasia!…. Dimana-mana memang begitu, Lha setelah saling jatuh cinta, lalu hak itu kemana? Cobalah misalnya… nah, ini seorang nona, ini (MENUNJUK SEORANG PENONTON) dan misalnya, dengan… noh, noh disono itu seorang jentelmen….

                                                   (MENUNJUK SEORANG PENONTON PRIA)

                                                   Ini misalnya saja, saling jatuh cinta, terus apa yang akan anda lakukan dengan hak yang anda miliki. Mula-mula anda tak berhak satu sama lain, hak itu lantas bikin gemes, kan? Ya? Ya? Lalu gemes-gemesan ya?

                                                   (MASUK TUKANG NGAMEN, PEMAIN KENDANG, ULING, CLEMPUNG, YANG BERLARIAN TERBURU-BURU)

SLENTEM                              :  (KAGET) Apa-apaan nih?

TUKANG KENDANG+SULING+CLEMPUNG : Sariyem sama warti nggak lewat sini, Tem?

SLENTEM                              :  Jadi kejar-kejaran sejak setahun yang lalu belum habis-habis?

TUKANG KENDANG+SULING+CLEMPUNG : Punya primadona satu saja…

                                                   (KETIGA ORANG INI TERUS KELUAR)

PROFESOR                           :  Siapa mereka itu?

SLENTEM                              :  Tanyakan sendiri.

PROFESOR                           :  Mas, saya mau bertanya…

SLENTEM                              :  (MENYANYI) Jangan ditanya kemana aku pergi….

PROFESOR                           :  Mas, saya bertanya betul-betulan.

SLENTEM                              :  Ya, cepat dong Tanya: Apa?

PROFESOR                           :  Mas kenal Slentem?

SLENTEM                              :  Kenal….

PROFESOR                           :  Dimana dia?

SLENTEM                              :  Keluar negeri

PROFESOR                           :  Ah, mosok? Keluar negeri? Dia tukang sapu pasar, kan?

SLENTEM                              :  Tukang sapu pasar nggak boleh keluar negeri?

PROFESOR                           :  Boleh.

SLENTEM                              :  Lantas?

PROFESOR                           :  Ya, sudah.

SLENTEM                              :  Ada perlu apa kog Tanya Slentem.

PROFESOR                           :  Nggak prlu apa-apa.

SLENTEM                              :  Kok Tanya?

PROFESOR                           :  Apa nggak boleh?

SLENTEM                              :  Boleh, tapi harus bayar.

PROFESOR                           :  Memangnya Mas ini siapa? Tukang obat? Pantas banyak omong dengan penonton.

SLENTEM                              :  Dukun.

PROFESOR                           :  Dukun?

SLENTEM                              :  Yes.

PROFESOR                           :  Wah, kebetulan nih, e’ siapa tahu, cocok.

SLENTEM                              :  Ada apa?

PROFESOR                           :  Begini mas. Saya itu kepingin lihat orang jarak jauh. Apa mas bisa ngasih jampi-jampinya?

SLENTEM                              :  Bisa. Malah juga bisa nyubit jarak jauh.

PROFESOR                           :  Nyubit jarak jauh?

SLENTEM                              :  Bisa.

PROFESOR                           :  Ongkosnya berapa mas?

SLENTEM                              :  Mahal.

PROFESOR                           :  Berapa sih?

SLENTEM                              :  Dua ribu lima ratus.

PROFESOR                           :  Sebanyak itu? Tapi ini benar-benar ces pleng Mas?

SLENTEM                              :  Tok cer!

PROFESOR                           :  Jampi-jampinya apa itu?

SLENTEM                              :  Bayar dulu atau nggak usah saja.

PROFESOR                           :  Baiklah mas, nih. (MEMBAYAR)

                                                   SLENTEM LALU MENCABUT RAMBUTNYA SEHELAI LALU DIKASIKAN SAMA PROFESOR.

PROFESOR                           :  Cuma begini?

SLENTEM                              :  Percaya nggak? Kalau nggak nih ambil uangnya kembali.

PROFESOR                           :  Percaya.

SLENTEM                              :  Seratus prosen.

PROFESOR                           :  Seratus prosen.

SLENTEM                              :  Saudara saya ijinkan pergi sekarang.

PROFESOR                           :  Nggak pakai doa-doa?

SLENTEM                              :  Kog Tanya saja, percaya nggak?

PROFESOR                           :  Percaya.

SLENTEM                              :  Ya, sudah pergi sana.

PROFESOR                           :  Waktu kapan saya bisa membuktikannya?

SLENTEM                              :  Waktu tidur.

                                                   PROFESOR PERGI SAMBIL SEDIKIT MENOLEH KEARAH SLENTEM DAN MELIHAT RAMBUT YANG DIBAWANYA. (KELUAR) MASUK ATI + SUMIRAH, KAGET MELIHAT SLENTHEM TERSENYUM-SENYUM DENGAN MENGHITUNG-HITUNG UANG.

ATI + SUMIRAH                  :  Lho kau curi dari mana duwit sebanyak itu?

SLENTEM                              :  (PURA PURA SERIUS) Sst! (MENARUKAN TELUNJUKNYA DI BAWAH BIBIRNYA)

ATI + SUMIRAH                  :  Ada apa sih koq gawat bener kelihatannya?

SLENTEM                              :  Ssssttt!

ATI + SUMIRAH                  :  Jangan berlagak kamu, Tem ayo ngaku, duwit sebanyak itu dari mana?

SLENTEM                              :  (SERIUS) Jangan main-main, ssttt!

ATI + SUMIRAH                  :  Kamu ini apa-apaan sih, Tem?

SLENTEM                              :  Hari ini aku jadi dukun.

ATI + SUMIRAH                  :  Dukun? Memangnya kamu mau nipu orang?

SLENTEM                              :  Nipu bagaimana, nih, orangnya telah ngasih sebanyak ini karena orang percaya sama saya.

ATI + SUMIRAH                  :  Lantas dia kamu kasih apa?

SLENTEM                              :  Sebatang rambut saya.

ATI + SUMIRAH                  :  Rambut? Kmu jangan main-main, Tem.

SUMIRAH                             :  Lantas apa kasiatnya rambut itu?

SLENTEM                              :  Bisa melihat jarak jauh dan mencubit jarak jauh.

ATI + SUMIRAH                  :  Mosok iyo?

SUMIRAH                             :  Kamu nggladrah betul, Tem!

SLENTEM                              :  Ini serius.

ATI + SUMIRAH                  :  Omong kosong.!

SLENTEM                              :  Lebih baik tutup mulut kalau nggak percaya.

SUMIRAH                             :  Jelas-jelas kamu telah menipu orang dan kau bisa ditangkap polisi.

SLENTEM                              :  Siapa saja boleh menangkap saya. Kalau nggak maut khasiatnya, boleh uang kembali.

SUMIRAH                             :  Sejak kapan kamu dapat wangsiat begini?

SLENTEM                              :  Baru saja.

SUMIRAH                             :  Ini kamu betul-betulan, Tem?

SLENTEM                              :  E, e, e, apa pernah saya main-main?

ATI                                         :  Jangan percayaMbak.

SLENTEM                              :  Saya tak butuh dipercaya, saya butuh uang.

SUMIRAH                             :  Tiba-tiba koq tertarik juga.

SLENTEM                              :  Boleh.

ATI                                         :  Jangan percaya Mbak.

SLENTEM                              :  Boleh.

ATI                                         :  Tukang bohong ini tak akan sembuh-sembuh dari bohongnya.

SLENTEM                              :  Boleh.

SUMIRAH                             :  Baiklah Tem, saya kepingin juga bisa melihat jarak jauh dan mencubit jarak jauh.

SLENTEM                              :  Boleh.

ATI                                         :  Jangan kayak orang kena sihir Mbak.

SUMIRAH                             :  Biar saja Jeng. Untuk iseng-iseng.

SLENTEM                              :  Tak boleh iseng-iseng. Harus percaya seratus prosen dan dua ribu lima ratus kontan.

SUMIRAH                             :  Oke! (MENGAMBIL UANG DAN MENYERAHKAN KEPADA SLENTEM)

ATI                                         :  Oo alah Mbak, masak begitu saja percaya.

SLENTEM                              :  Yang tidak percaya tidak usah bayar dan boleh omong sesukanya. (MENCABUT RAMBUT KEPALANYA)

                                                   Nih , rambutku.

SUMIRAH                             :  Cuma begini doing?

SLENTEM                              :  Cuma begini doing.

ATI                                         :  Tanpa doa-doa?

SLENTEM                              :  Tanpa doa-doa.

ATI                                         :  Ampuh?

SLENTEM                              :  Maut.

SUMIRAH                             :  Waktu kapan saya bisa membuktikannya?

SLENTEM                              :  Waktu tidur.

ATI                                         :  Waktu tidur?

SUMIRAH                             :  Jangan mbanyol kamu , Tem.

SLENTEM                              :  Saya nggak butuh dipercaya. Saya butuh duwit.

SUMIRAH                             :  Hiya, tapi kalau nggak terbukti….

SLENTEM                              :  Duwit kembali.

SUMIRAH                             :  Awas kalau duwitnya keburu kau habisin.

SLENTEM                              :  Aku tak akan pernah kehabisan duwit.

ATI                                         :  Sombongnya!

SLENTEM                              :  Bukan sombong, ini beneran.

SUMIRAH                             :  Awas, ya!

SLENTEM                              :  Saya masih awas.

ATI                                         :  Tem, kamu berlagak betul, kayak hiya-hiya o saja.

                                                   SUMIRAH +ATI KELUAR.

SLENTEM                              :  Para penonton yang baik-baik hatinya, demikianlah pada dasarnya orang berhati baik walau tahu kalau ditipu. Bagaiman mungkin mereka percaya saja dengan omongan saya, padahal semua itu akal bulus yang terlalu amat sering dilakukan orang. Aku jadi terharu terhadap orang-orang, suasana, tempat dan cuaca, kalau demikian mudah usaha bisa dilakukan.

                                                   Saya sendiri kadang-kadang heran, kenapa orang percaya saja kepada saya ehingga perlu orang-orang berbondong-bondong datang nonton saya.

                                                   (GENIT) Sesungguhnya ini betul-betul Cuma ingin nonton saya, apa jatuh cinta kepada saya. Tentu saja saya sudah tua juga karena digaris belakang siap palang-palang pintu dari yang jaga rumah.

                                                   Ha, belum dua menit sudah tergenggam duwit lima ribu rupiah. Ini gaji saya dua bulan. Tapi saya masih belum percaya, ini duwit sungguhan apa etok-etokan. O, sungguhan ding. Habis begitu mudah didapat, hingga hampir aku tak percaya.

                                                   Terang tidak bakalan terbukti dan saya bakal di kejar-kejar dua orang yang menuntut duwitnya kembali. Ah, tetapi itu bukan persoalan bagiku, dimana aku yang sudah sereing terbebas dari saat-saat yang paling mengkhawatirkan, bagaimana aku harus mengelak?

                                                   Sebentar para penonton. Saya berpikir sebentar. Atau , o, hiya, kalau ada diantara para penonton yang kepingin menyumbang pikiran kepada saya. Sepuluh prosen? Wah, banyak sekali. (BERPIKIR)

                                                   O, hiya, ketemu sudah. Tapi tak mungkin say ceritakan kepada para penonton, nanti dibilangin sama orang-orang saya kibulin itu, kan bisa berabe. Jadi sekarang sebaiknya saya panggilkan kawan TEATER ALAM yang lain untuk mengatur set, karena adegan selanjutnya adalah adegan tempat tiur, tapi jangan harap, ini bukan “Last Tanggo in Paris”, ini tidak lebih dari Last Gambus in Ngayogyakarto.

                                                   Ayo teman-teman, cepat dikit, para penonton sudah nggak tahan lagi melihat kelanjutan cerita ini.

                                                   Lha di tempat tidur masing-masing ini kedua orang yang telah saya tipu mencoba memakai keampuhan ilmu-ilmunya masing-masing karena adegan-adegannya malam hari, tentu saja saya juga sedang tidur, jauh di tempat lain. Tapi dasar saya orang beruntung, saya ya seneng-seneng saja mesti tidur dimana saja dan kapan saja dan siapa saja.

ADEGAN TEMPAT TIDUR: TOMMY DENGAN SUMIRAH DAN PROFESOR DENGAN NYONYA. SLENTEM TIDUR DI BAGIAN DEPAN.

SUMIRAH + PROFESOR    :  Apa mungkin aku bisa betul-betul melihatnya dalam jarak yang demikian jauhnya?

TOMMY + NY. PROFESOR   :        Kamu ini ngomong soal apaan?

SUMIRAH + PROFESOR    :  Oh, mendebarkan… ini jelas-jelas penipuan, tetapi saya koq ya percaya saja sih. Tak akan mungkin bisa terjadi, tetapi biarlah saya coba dulu, soalnya ini lama-lama bisa bikin gemes.

PROFESOR                           :  Juragan batiknya kayak apa sih, manisnya kayak apa sih, koq Tommy hidup begitu lama dengannya.

SUMURAH                            :  Profesornya kayak apa sih, kok begitu dengki sama Tommy, sampai-sampai nggak diluluskan.

TOMMY + NY. PROFESOR   :        Ini apa-apaan?

PROFESOR                           :  Sebenarnya rencanaku begini. Setelah Tommy lulus tahun ini biarlah dia terus menikah sama Kusningtyas dan Kus harus tetap kuliah terus. Tetapi rencana ini menjadi berantakan karena tidak mengikuti yang saya gariskan. Saya tidak yakin benar bahwa Tommy mencintai juragan batik itu, tetapi kalau ikatannya sudah begitu lama, bahwa bantuan seorang juragan batik pada para mahasiswa begitu besar, itu membuat harapan saya benar-benar berantakan.

                                                   Saya dengar dan saya lihat sendiri banyak mahasiswa mahasiswa kedokteran, tekhnik, juga ekonomi, banyak bisa meneruskan studinya lantaran bantuan moril maupun materiil dari juragan-juragan batik ini. Saya juga sadar dan yakin, bahwa para juragan batik memang lebih matang jiwanya dan masak sepak terjannya, luwes dalam melayani, lebih menarik dari cewek-cewek kontemporer, hingga harapan menjadi tipis jika saya senantiasa tergantung dari teori-teori lama.

NY. PROFESOR                   :  Pap! Pap ini sedang gandrung sama seorang juragan batik apa? Koq olehnyagetol menganalisa.

SUMIRAH                             :  Gandrung sih boleh saja, angsal Tommynya diluluskan dulu. Sebab seluruh rencana sudah terpancang kuat-kuat antara kami berdua. Sebab seluruh kekuatan pikiran dan harta benda diarahkan untuk mencapai sasaran utama tahun ini, yaitu: Titel Doktorandus, yang amat penting bagi usaha perluasan bisnis dan menunjang usaha-usaha yang lebih tinggi lagi.

                                                   Profesor ini keliwatan sentimennya. Sentiment ya mbok sentiment, angsal Tommy lulus. Apa dia tidak tahu betapa pentingnya title untuk tiap usaha apa saja. Di dalam suatu masyarakat yng sedang berkembang kea rah lebih modern lagi, title Doktorandus adalah amat berat tanggung jawab dan tugas-tugasnya. Ia tidak saja berat bagi pelaksana tugas-tugasnya ke segala pelosok masyarakat, akan tetapi juga beban yang harus dipikul sejujur-jujurnya setiap dia melangkah walaupun beratnya kayak apa.

TOMMY                                 :  Kamu koq nggrundel terus, itu ada apa to, dear?

NY. PROFESOR                   :  Pap, kamu ngigau to, Pap?

PROFESOR                           :  Memang ada sebuah teori yang modern, bahwa orang bisa omong-omong jarak jauh, tetapi kalau melihat jarak jauh, apalagi cubit-cubitan, rasanya tak mungkin.

SLENTEM                              :  Lha wong belum dicoba, koq menyangkal.

SUMIRAH                             :  Soalnya akan menakutkan kalau benar-benar bisa.

SLENTEM                              :  Mangkanya dicoba dulu. Menakutkan tidak kan ketahuan nanti.

SUMIRAH + PROFESOR    :  Aku jadi takut.

SLENTEM                              :  Pertama kali memang menakutkan, tapi lama-lama nanti menyenangkan.

PROFESOR                           :  Soalnya yang menjengkelkan adalah dikarenakan ilmu ini bisa dilakukan dengan baik dari tempat tidur.

SUMIRAH                             :  Opo ora edan iki?

TOMMY + NY. PROFESOR   :        Eling, ingat, tadi kemasukan apa ini?

NY. PROFESOR                   :  Pap, eling, Pap. Sesungguhnya kamu itu apa kemaukan atau apa-apa. Koq ngomong terus. Saya lama-lama kan bisa takut. Mbok coba cerita sedikit-sedikit. Siang habis dari pasar koq malamnya terus ngomong saja perkara juragan batik, ini terpikat atau kena guna-guna. Cobalah, Pap, ceritalah sedikit.

TOMMY                                 :  Sum, Sum, sayang. Kamu ada apa sih?

SLENTEM                              :  Saya kemasukan setan.

TOMMY                                 :  Cobalah ceritakan kepada saya, nanti kamu kan bisa terbebas walaupun Cuma sedikit. Soal tidak lulusnya saya itu jangan dipikir betul. Saya kan bisa menempuh lagi sebentar. Dan siapa tahu profesornya sudah lilih hatinya, tidak kayak dulu sehingga ia akhirnya sadar bahwa ia telah membuat kekeliruan dan lantas merasa salah dan diluluskan aya kemudian.

                                                   Waktu itu hati professor agaknya sedang beku. Dan kamu harus percaya bahwa professor-profesor memang demikian dan cerita-cerita tentangnya semuanya adalah benar: pelupa, mau menang sendiri, lupa daratan.

SLENTEM                              :  Lupa lautan. Sudah makan bilang belum makan, hujan-hujan siram tanaman,panas-panas sepakbola sendirian.

TOMMY                                 :  Cerita-cerita itu adalah benar semata-mata dan tidak di karang-karang.

SUMIRAH                             :  Tapi, Tommy, baby, target kita meleset tahun ini.

SLENTEM                              :  Ya tahundepan pemasangan spiral yang paling tepat, dong.

TOMMY                                 :  Sebenarnya soal title tidaklah menjadi pemikiran saya benar.

SUMIRAH                             :  Tapi kenapa kamu getol ujian?

TOMMY                                 :  Orang sekolah kan wajar kalau ujian?

SUMIRAH                             :  Apa karena putrid professor.

TOMMY                                 :  Alah, kamu Sum, Sum, lha saya kenal juga kagak.

SUMIRAH                             :  Sumpah?

TOMMY                                 :  Sumpah.

SLENTEM                              :  Brani sumpah tapi takut mati.

TOMMY                                 :  Sungguh koq sum. Yakin dah bahwa tahu saja tidak bahwa professor itu punya anak perempuan. Darimana kamu dengar tentang itu semua?

SUMIRAH                             :  Saya mempunyai telinga, Tom.

TOMMY                                 :  Apa saya juga tidak punya?

SLENTEM                              :  Juga ekor dan cula.

TOMMY                                 :  Kita akan bertengkar lagi.

SUMIRAH                             :  Bertengkar lebih baik.

SLENTEM                              :  Daripada perang dingin…

PROFESOR                           :  Lebih baik cepat-cepat meletus, daripada keadaan adem panas kayak begini.

NY. PROFESOR                   :  Apanya yang panas dingin, Pap?

SLENTEM                              :  Masuk angin dikerok saja.

SUMIRAH                             :  Tom, aku takut kehilangan kau.

SLENTEM                              :  O, alah koyo bagus-bagusa kae.

TOMMY                                 :  Jangan khawatir, dear, tak mungkin aku meninggalkanmu.

TANGAN PROFESOR TANPA DISADARI MERAYAP KESEBELAH DIMANA SUMIRAH TERBARING.

SUMIRAH                             :  Aduh biyung, pantat saya di cubit etan, Tom! To!

PROFESOR                           :  Masyaallah, lha koq tangan saya bisa mencubit pantat betul-betul. (MEMELUK NYONYA PROFESOR)

TOMMY+NY.PROFESOR   :  Ada apa? Ada apalagi ini?

SUMIRAH                             :  Aduh menakutkan Tom. (MEMELUK TOMMY)

TOMMY                                 :  Kamu setanen ya? Hiya?

SUMIRAH                             :  Ndak! Saya terasa dicubit betul. (MEMELUK LEBIH ERAT)

SLENTEM                              :  (BANGUN HERAN, KAGET)

                                                   Lha koq bisa betul? Ah mustahil! Musyahil!

                                                   TIBA-TIBA SUMIRAH DAN PROFESOR SALING MENOLEH, LALU SALING MELIHAT SATU SAMA LAIN, JADI KAGET DAN MASING-MASING MELONCAT DARI TEMPAT TIDUR.

SUMIRAH                             :  Jadi kamu professor, ya?

PROFESOR                           :  Jadi kamu juragan batik, to?

                                                   TOMMY MENGEJAR SUMIRAH DAN MEMANDANGNYA ANEH JUGA SELALU MELIHAT KE ARAH TEMPAT YANG DILIHAT SUMIRAH. DEMIKIAN JUGA NY. PROFESOR.

TOMMY                                 :  Apa-apaan nih Sum? Kamu lihat setan ya?

NY. PROFESOR                   :  Pap, ingat, Pap. Apa yang dilihat? Ada setan?

SUMIRAH                             :  O, ini to tampangmu professor yang tidak meluluskan Tommy.

TOMMY                                 :  Sum sadarlah.

NY. PROFESOR                   :  o, Gusti Kus ayahmu kesurupan. (MASUK KUS)

KUSNINGTYAS                   :  Papi, Papi, sadar, Pap, sadar.

SUMIRAH                             :  O, alah Cuma begitu kwalitetmu.

PROFESOR                           :  O, alah Cuma begitu keluwesanmu.

SUMIRAH                             :  Engkau tahu professor, apa jadinya akibat kamu tidak meluluskan Tommy? Segala rencana kami akan berantakan tak tentu arah. Sentiment macam apa sih yang tekandung dalam hati sanubarimu sampai kamu begitu tega berbuat sekejam itu?

PROFESOR                           :  Aku adalah seorang professor lulusan Berkely University, yang bersih dari segala sentiment-sentimen yang kamu tuduhkan itu. Ia tidak lulus hanya karena ia tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

SUMIRAH                             :  Bo’ong belaka. Janji palsu belaka.

                                                   Aku tahu kecerdasan Tommy. Seluruh dosen telah ditempuhnya dan lulus. Cuma sebiji kamu saja yang rewel.

SLENTEM                              :  Tobat! Lha koq bisa betul! Fantastis!

                                                   Kalau begitu aku ini benar-benar dukun.

TOMMY+NY.PROF+KUS   :  Sadar! Alah tobat! Sadar!

SLENTEM                              :  Guyur air! Guyur air!

                                                   (MASUK SARIYEM DAN WARTI  DENGAN BUSUR DAN PANAHNYA MASIH TERUS KEJAR-KEJARAN DIIRINGI GENDING PEPERANGAN)

SLENTEM                              :  Alah! Brontoyudo, lha koq nggak habis-habis!

SARIYEM                              :  Ayo Mustaka weni, jangan lari!

WARTI                                   :  Lho lha wong saya ini mengejar kamu koq, Srikandi!

                                                   (MEREKA BERKEJAR-KEJARAN TERUS MELINGKAR)

SUMIRAH                             :  Tommy luluskan! Luluskan!

PROFESOR                           :  Tidak mungkin! Tidak mungkin!

                                                   SARIYEM DAN WARTI SEGERA MENARIK BUSURNYA DAN TERPARLAH PROFESOR DAN SUMIRAH TERKENA PANAH)

SUMIRAH                             :  Waduh matik wong jaratan!

PROFESOR                           :  Adoooooooo ken ague.

                                                   (TOMMY + NY. PROFESOR + KUS, RIBUT MENOLONG)

                                                   SARIYEM DAN WARTI KELUAR MASIH BERKEJARAN DISUSULNYA KEMBALI TIGA TEMAN SARIYEM YANG MENCARI-CARI TERUS.

                                                   LAMPU MEREDUP – LAMPU KHUSUS MENERANGI SLENTEM YANG DUDUK TERMENUNG KAYAK PATUNG “PEMIKIR RODIN” , LALU LAMPU MATI. SETTING DIATUR KEMBALI SEPERTI SEMULA.

SUMIRAH                             :  Jeng Ati, saya merasa kecewa betul dengan tidak lulusnya Tommy.

ATI                                         :  Itu semua kan belum tentu to Mbakyu.

PROFESOR                           :  Semuanya sudah pasti.

NY. PROFESOR                   :  Jadi Papi tetap bersikera untuk tidak meluluskan Tommy?

PROFESOR                           :  Bukannya aku yang tidak meluluskan, tapi diri dia sendiri.

SUMIRAH                             :  Apa benar demikian, itu lah soalnya.

SLENTEM                              :  Manakah yang lebih luhur, menerima satu lontaran nasib buruk ataukah mengurangi lautan bencana dan memeranginya?

ATI                                         :  Keadilan memang tidak datang begitu saja to Mbak? Harus diperjuangkan.

SUMIRAH                             :  Atau harus dibeli. Dia minta di sogok, berapa sih?

PROFESOR                           :  Lha mbok hartamu tumplek bleg di depan saya, tak bakalan Tommy saya luluskan.

NY. PROFESOR                   :  Apa kamu etabah itu, Pap?

SLENTEM                              :  Pemberang memang serba merepotkan.

ATI                                         :  Siapa yang merepotkan, Tem?

SLENTEM                              :  Profesor itu pada sebenarnya adalah pemberang. Ia seorang pemberang memang sukar atau tak mungkin disogok sama sekali. tapi juga nggak mau mengulangi kembali ujiannya.

ATI                                         :  Itu kan tidak adil namanya.

PROFESOR                           :  Bagi saya itu sudah seadil-adilnya.

NY. PROFESOR                   :  Tapi juga bagi semua dong, Pap.

PROFESOR                           :  Ya artinya itu juga bagi semuanya.

ATI                                         :  Tapi kan Tommy belum mengajukan minta ujian lagi. Siapa tahu professor mau mengulangnya sekali.

PROFESOR                           :  Mungkin saya mau, saya pikir-pikir dulu.

SLENTEM                              :  Ya, maunya kan ogah-ogahan.

SUMIRAH                             :  Kalau begini saya jadinya malas untuk bekerja. Tubuh jadi pegel-pegel lungkrah. Ini juga banyak mempengaruhi usaha dagang. Jadi mundur. Pembeli jadi sedikit. Efeknya kepada kantong juga hebat. Tiba-tiba jadi pemboros. Ini kan di luar pemikiran sama sekali. inginnya jajan melulu. Lha lama-lama kan bisa kobol-kobol.

ATI                                         :  Sudahlah Mbakyu. Pada hakekatnya ketenaran toh tak membutuhkan title. Mas Tommy sudah tenar. Sudah jajah kemana-mana, orang lupa melihat apakah ia bnertitel atau tidak. Dan duwit mengalir terus tak henti-hentinya.

SUMIRAH                             :  Tapi title itu soal prinsip bagi saya, Jeng. Usah kita akan lebih maju lagi kalau kita punya title.

SLENTEM                              :  Ya, Sumirah kalau srimbitan sama Mas Tommy kan banyak orang ngrasani, itu lho suaminya Sumirah sudah ngganteng, pandai cari duwit, dokteorandus lagi, opo ora hebat?

SUMIRAH                             :  Yah, bukan itu maksud saya , Tem. Sama sekali bukan itu. Seolah-olah aku ini wanita apa; koq begitu memburu-buru title. Apa kamu tidak ngerti sama sekali, betapa usaha kita bisa lebih maju lagi, kalau orang-orangnya mampu meyakinkan masyarakat. Itu rumusan yang wajar, tiap orang tahu.

                                                   Kalau sekarang usaha begini saja bisa lancar, apalagi kalau yang usaha itu punya title lagi. Betapa akan lebih lancar lagi.

SLENTEM                              :  Oke! Oke! Aku setuju teorimu Mbak Sum. Sekarang persoalannya adalah mungkinkah Mas Tommy itu bisa lulus tahun ini dan bagaimana mendekati pak professor yang enggan diajak berunding sejak beliau beli rambut saya lebih-lebih lagi.

SUMIRAH                             :  Sekarang saya mencoba mengkalkulir seluruh kekayaan saya dulu, usaha kami berdua, lalu nanti saya bandingkan dengan kemungkinan-kemungkinan kekayaan bisa bertambah dari setelah Tommy bertitel Doktorandus.

ATI                                         :  O, jadi dua kemungkinan kemajuan dari dan sesudah doktorandus to Mbakyu?

SLENTEM                              :  Membuka rahasia perusahaan dimuka umum itu kurang baik who Mbak. Perusahaan itu jadi tidak bertuah. Apalagi kalau ini menyangkut soal kekayaan.

SUMIRAH                             :  Kamu betul, Tem. Aduh tangkas benar otakmu.

SLENTEM                              :  Otak yang diasah terus sudah sepantanya cekatan.

ATI                                         :  Sekarang dicari saja kemungkinan-kemungkinan yang lain dari Mas Tommy yang belum dan sesudah bertitel doktorandus.

SUMIRAH                             :  Lha itu betul juga. Jeng. Kemungkinan-kemungkinan yang lain. Hiya, hiya, apa ya?

SLENTEM                              :  Soalnya kreatipiteit dalam seni menyeni.

ATI + SUMIRAH                  :  Betul Tem, betul.

PROFESOR                           :  Jelas Tommy tidak kreatip. Pekerjaannya dari dulu begitu-begitu saja.

NY. PROFESOR                   :  Apakah itu bukan penilaian yang terburu-buru, Pap?

PROFESOR                           :  Jelas tidak dan ini yang memberatkan ketidak lulusan dia.

SUMIRAH                             :  Itu tidak benar. Ia kreatip. Kalau tidak lulus itu hanya sentiment belaka.

ATI                                         :  Aku sendiri begitu terkesima memandangi “shadow of your smile”

PROFESOR                           :  “Shadow of your smile” jelas tidak bisa menolong.

NY. PROFESOR                   :  Sama sekali, Pap?

PROFESOR                           :  Sama sekali! Sebuah karya yang paling menjengkelkan.

NY. PROFESOR                   :  Tetapi aku senang sekali jika bisa memiliki “Shadow of your smile”

SUMIRAH                             :  Aku juga bangga sekali jika bisa memakai kain itu.

PROFESOR + SLENTEM     :  Ah, perempuan! apa sih yang tidak disenanginya?

ATI+NY.PROF+SUMIRAH :  Jangan menghina… Visi kami cukup hebat.

PROFESOR + SLENTEM     :  Ah, perempuan! Apa sih yang tidak disebutnya hebat?

SLENTEM                              :  Jangan-jangan ketidak lulusan Tommy justru berpangkal pada “Shadow of your smile”

PROFESOR                           :  Itu jelas.

SUMIRAH                             :  Jadi kamu diam-diam kagak suka to sama karya Tommy?

PROFESOR + SLENTEM     :  Tertarik sedikitpun kagak.

ATI+NY.PROF+SUMIRAH :  Alasannya?

PROFESOR + SLENTEM     :  Membosankan.

SUMIRAH                             :  Jadi kamu suka rokoknya aja to?

SLENTEM                              :  Soal saya suka rokok itu lain. Rokok dan sebuah kritik itu lain. Kondisinya lain. Jangan dicampur adukkan. Lha Mbakyu apa tidak uka rokoknya Tommy?

SUMIRAH                             :  Ah, sudahlag nggak usah bicara. Wong edan.

PROFESOR                           :  Cobalah Mam lihat saja sebuah sket sebuah motip yang kreatip dn nanti ketahuan betapa tidak kreatipnya Tommy.

                                                   (PROFESOR DAN SUMIRAH MENUJU KE PAPAN TULIS)

PROFESOR                           :  (MENGAMBIL KAPUR DAN SIAP MENGGAMBAR)

                                                   Lihatlah betapa sesungguhnya…. (WAKTU MAU MENGGAMBAR, KAPUR TIBA-TIBA DIAMBIL OLEH SUMIRAH YANG JUGA MAU MENGGAMBAR)

PROFESOR                           :  (KAGET SETENGAH MATI) 

                                                   Lho ! Gandrik putune Ki Ageng Selo Sumarjan… (MELONGO)

SUMIRAH                             :  (MENGGAMBAR DENGAN ENAK)

                                                   Lihatlah Ti, Tem. Garis-garis Tommy yang begini (MENGGARIS DI PAPAN TULIS) Sungguh-sungguh menggetarkan. Apalagi kalau garis ini dilanjutkan demikian….

                                                   (MENGGARIS LAGI) Ih… sungguh ngenes deh….

NY. PROFESOR                   :  Ada apa, Pap? Koq kayak lihat setan.

PROFESOR                           :  Mam! Kapurnya ilang! (SUMIRAH MENGGAMBAR TERUS)

NY. PROFESOR                   :  Jangan bercanda, Pap. Aku nggak suka.

PROFESOR                           :  E e e e e, malah ngledek. Aku ini sungguhan, sungguh mati deh. Kapur barumau untuk menggambar koq tiba-tiba lenyap. (SUMIRAH MENGGAMBAR TERUS)

NY. PROFESOR                   :  Nggak demen deh, kalau peristiwa yang kemarin diulang lagi.

PROFESOR                           :  Sungguh separo hidup, deh, kalau saya main-main.

                                                   (SUMIRAH MENGGAMBARKAN DAN NGOMONG TERUS TAK BERSUARA)

NY. PROFESOR                   :  Lha mbok ambil kapur yang lain.

PROFESOR                           :  Itu kapur satu-satunya.

ATI                                         :  Nah garis yang itu yang bikin geme.

SLENTEM                              :  Ah perempuan….

PROFESOR                           :  Jangan-jangan khasiat rambut itu masih ada.

                                                   (LALU DENGAN INSTINK SAJA TANGAN PROFESOR MERAIH RAIH UDARA UNTUK MENDAPATKAN KAPURNYA KEMBALI, LALU MEREBUT DARI TANGAN SUMIRAH, DAN DAPAT…)

SUMIRAH                             :  Gandrik! Saya cucunya pak Selo Sumarjan juga lho.

                                                   (PROFESOR HERAN MEMANDANGI KAPURNYA)

ATI + SLENTEM                   :  Ada apa Mbak?

SUMIRAH                             :  Kapurnya hilang! Hilang dari tangan saya!

PROFESOR                           :  Mam, ini saya dapatkan lagi, dari udara.

                                                   (NYONY PROFESOR GELENG-GELENG)

ATI + SLENTEM                   :  Ah, jangan main-main Mbak.

SUMIRAH                             :  Aduh, Ti. Pasti ada setn lewat.

SLENTEM                              :  Setannya koq genit amat sih.

ATI+ NY. PROFESOR         :  Ini kebetulan ataumain-main.

SUMIRAH + PROFESOR    :  Ini betul-betul, bukan main-main.

                                                   (PROFESOR MENUNJUKKAN KAPURNYA KEPADA ISTRINYA. SUPMIRAH MENUNJUKKAN TANGAN HAMPANYA KEPADA ATI DAN SLENTEM)

SUMIRAH                             :  Jangan-jangan ini khasiat rambutmu masih ada di sekitar ini Tem.

ATI                                         :  Aku jadi takut.

SLENTEM+NY.PROFESOR   :        Sudahlah jangan diteruskan.

ATI + NY.PROFESOR         :  Cukup. Cukup. Stop.

                                                   (SUMIRAH DAN PROFESOR MUNDUR DARI PAPAN TULIS. PROFESOR DUDUK LAGI DAN MEMBACA. SEKALI-SEKALI MENOLEH KE PAPAN TULIS, BEGITU JUGA SUMIRAH)

SUMIRAH + PROFESOR    :  Aneh sekali…..

ATI+SLENTEM+NY.PROF :  Sudahlah…..

SUMIRAH + PROFESOR    :  Aneh…..

ATI+SLENTEM+NY.PROF :  Stop…

SUMIRAH + PROFESOR    :  Aaaa….

ATI+SLENTEM+NY.PROF :  Sssssss,,,, (MENARUH TELUNJUKNYA DI BIBIR).

                                                   (H E N I N G…….)

SLENTEM                              :  Sebenarnya sedari tadi saya sedang berpikir lain….

ATI + SUMIRAH                  :  (MASIH KEHERAN-HERANAN MEMANDANG PAPAN TULIS)

SLENTEM                              :  Sakbenarnya sedari tadi saya sedang berpikir lain…..

ATI + SUMIRAH                  :  (ACUHTAK ACUH, PERHATIANNYA MASIH PADA PAPAN TULIS)

SLENTEM                              :  (JENGKEL, TERIAK) Sakbenernya…..

ATI+SUMIRAH+PROFESOR+NY. PROFESOR  : (KAGET)

SLENTEM                              :  Papan tulis itu kan nggak terbang to.

ATI + SUMIRAH                  :  (SADAR) Ada apa, Tem?

SLENTEM                              :  Aku sedang berpikir lain.

ATI + SUMIRAH                  :  Berpikir apa?

                                                   (MASUK SARIYEM DAN WARTI DENGAN GENDEWANYA, LOYO, DIIKUTI OLEH TUKANG KENDANG, SULING, DAN CLEMPUNG YANG BERJALAN TAK BERSEMANGAT JUGA)

SLENTEM                              :  Hallo apa khabar? Brotoyudanya pigimana nih? Siapa yang kalah? Siapa yang menang? Koq loyo semuanya? Apa pada kena lesu darah, hiya?

SARIYEM                              :  Kita ini istirahat, kecapaian.

WARTI                                   :  Kitatiga hari bertempur terus.

SLENTEM                              :  (DUDUK SEPERTI PATUNG PEMIKIR RODIN)

                                                   Saya kira saya punya jalan keluar yang bisa saya tawarkan kepada saudara-saudara semua.

SARIYEM+WARTI+TK. NGAMEN LAINNYA : Bagaimana?

SLENTEM                              :  Saya mendapat ilham.

SARIYEM+WARTI+TK. NGAMEN LAINNYA : Ilham?

SLENTEM                              :  Benar ilham.

SARIYEM+WARTI              :  Apa itu?

SLENTEM                              :  Harus cepat ditelorkan sebuah undang-undang supaya kamu semua bisa bekerja dalam suasana tenang.

SARIYEM+WARTI              :  Undang-undang?

SLENTEM                              :  Ya, undang-undang.

SARIYEM+WARTI              :  Undang-undang apa itu?

SLENTEM                              :  Undang-undang tentang ngamen.

SARIYEM+WARTI              :  Undang-undang tentang ngamen? Pigimana bunyinya?

SLENTEM                              :  Pokoknya begini. Nah, coba semuanya mencatat. Cepat. Ini semua demi kepentingan kalian sendiri. Cari kertas dan ballpoint. Inspirasiku keburumenguap, nih.

                                                   (SEMUA MENYIAPKAN BALLPOINT DAN KERTAS IAP MENCATAT

SLENTEM                              :  Tulis ya, tulis sekarang.

SARIYEM+WARTI+3 ORANG LAINNYA : Ya, saya tulis.        

SLENTEM                              :  Lhoo yang ini jangan ditulis. Ini baru aba-aba.

SARIYEM+WARTI+TK. NGAMEN LAINNYA : Baik….

SLENTEM                              :  Begini, undang-undang ngamen diciptakan oleh Slentem. Lhoo ini ditulis koq diam saja.

SARIYEM+WARTI+TK. NGAMEN LAINNYA : O, baik… baik…

SLENTEM                              :  Undang-undang ngamen oleh Slentem.

                                                   Bahwasannya (PELAN-PELAN), Adalah dibenarkan tiap orang ngamen dimana aja, kapan saja, sebab pada hakikatnya ngamen adalah soal instink yang mana adalah wajar.

                                                   Untuk menjaga tata tertib ngamen. Supaya tidak terjadi suatu perselisihan yang mengeruhkan suasana arena perngamenan, maka harus ditaati peraturan-peraturan sebagai berikut:

                                                   Satu. Yang ngamen dengan instrument hidup yang tradisionil, misalnya kendang, suling, clempung, gong, gender, dan lain-lainnya, hanya dibenarkn membawakan gending-gending tradisionil saja.

                                                   Dua. Yang ngamen dengan instrument hidup yang luar negeri, misalnya gitar, cello, biola, bas, trompet, dan sebagainya hanya dibenarkan membawakan lagu-lagu yang berbahasa Indonesia saja.

                                                   Tiga. Yang ngamen dengan cassette tape recorder hanya dibenarkan membawakan lagu-lagu luar negeri saja.

                                                   Peraturan-peraturan lain yang mungkin masih ada bisa berkembang dari perundang-undangan ini.

                                                   Demikian pemerintah harap maklum.

                                                   Terima kasih.

                                                   Sampai ketemu. Slentem.

                                                   Pasar beringharjo, 4 Agustus 1973.

SARIYEM+WARTI+3 ORANG LAINNYA : (MENCATAT)

                                                   Terima kasih. Sampai ketemu. Slentem

                                                   Pasar Beringharjo , 4 Agustus 1973

SLENTEM                              :  Nah saudara-saudara, itu semua sekedar saja. Suatu peraturan yang amat sederhana untuk menjaga perasaan masing-masing. Harap terus di ketik dan terus disebarluaskan.

SARIYEM+WARTI+3 ORANG LAINNYA : Terima kasih, Tem. Permisi.

SLENTEM                              :  Lhoo permisi pigimana. Masak hak cipta nggak dikasih honorarium. Sini duwit beli rokok.

SARIYEM+WARTI+3 ORANG LAINNYA : (MEROGOH KANTONG DAN MEMBERIKAN SLENTEM UANG LOGAM)

                                                   Pembajakan…….

SLENTEM                              :  Nah, itu namanya tahu menhargai kreatipiteit orang. Selamat. Silahkan pergi.

SARIYEM+WARTI+3 ORANG LAINNYA : Pembajakan… pembajakan…. Pembajakan…. (MEREKA KELUAR)

ATI + SUMIRAH                  :  Tem….

SLENTEM                              :  Ssstttt….

                                                   (BERLAGAK SERIUS TANPA MENGUBAH POSISI DUDUKNYA SEPERTI PATUNG “PEMIKIR RODIN”)

ATI + SUMIRAH                  :  Lagakmu…. Ada apa lagi nih…

SLENTEM                              :  Sstttt…. Aku sedang menangkap ilham.

ATI + SUMIRAH                  :  Ambumu…………

SLENTEM                              :  Sssstttt….. Ini serius…….

ATI + SUMIRAH                  :  Alaaaahhhh…..

SLENTEM                              :  Akan saya ancam professor…..

ATI+SUMIRAH+NY.PROFESOR+PROFESOR : (KAGET) Aaaa………

ATI + SUMIRAH                  :  Ancam bagaimana? 

SLENTEM                              :  Akan saya kirimi surat kaleng….

PROFESOR                           :  Aku tak mungkin diperas….

SUMIRAH                             :  Itu pemikiran yang cemerlang, Tem.

ATI + NY.PROFESOR         :  Apa maksudmu?

SLENTEM                              :  Pokoknya kalau Mas Tommy tidak diluluskan, akan saya cegat di depan kantor pos.

SUMIRAH                             :  Bagus, bagus, Tem.

ATI                                         :  Aku tak setuju.

PROFESOR                           :  Bagus itu.

NY. PROFESOR                   :  Ada apa, Pap?

PROFESOR                           :  Aku adalah orang yang tabah.

NY. PROFESOR                   :  Memangnya kenapa?

PROFESOR                           :  Mereka sedang merencanakan sesuatu.

NY. PROFESOR                   :  Mereka siapa?

PROFESOR                           :  Yang tidak senang Tommy tidak saya lulukan.

SUMIRAH+NY.PROFESOR  :        Itu wajar.

ATI                                         :  Tidak. Aku tidak setuju.

                                                   Ini sudah kejahatan.

SLENTEM                              :  Apakah professor tidak melakukan kejahatan?

SUMIRAH                             :  Ayo, kita lakukan segera.

SLENTEM                              :  Jadi begini. Kita kirim surat kaleng segera. Bunyinya begini:

                                                   Profesor, jika tidakmeleluskan Tommy, saya cegat di depan Kantor Pos. Pikir masak-masak. Tertanda Slentem Pasar Beringharjo.

SUMIRAH                             :  Surat kaleng koq pakai nama dan alamat lengkap, itu pigimana. Lha sebentar kan polisi bisa menangkap kamu.

SLENTEM                              :  Lho, Mbak Sum ini Pigimana sih. Yang disebut surat kaleng adalah surat yang dikirim did lam kaleng.

SUMIRAH                             :  O….. Goblogmu nggak mundak-mundak Tem.

SLENTEM                              :  Sudahlah… ini ilhamku dan bukan ilham Mak Sum.

SUMIRAH                             :  Yah, terserah kamu, Pokoknya kalau ada polisi datang menangkapmu, aku nggak mau ikut-ikut.

SLENTEM                              :  Oke… aku bertindak sendirian.

                                                   (LALU MENGAMBIL KERTAS DAN MENULIS. SETELAH ELESAI SLENTEM MENCARI KALENG BEKAS. DAPAT KALENG SUSU. TERUS DILOBANGI DENGAN ALAT PEMBUKA KALENG. SURAT ITU DIMASUKKAN KE DALAMNYA)

SLENTEM                              :  Nah, selesai…. Saya antar sekarang.

SUMIRAH                             :  Pokoknya aku nggak mau ikut-ikut.

SLENTEM                              :  Jangan takut, Slentem tak akan membawa nama orang-orang lain.

                                                   (SLENTEM BERJALAN MENGITARI STAGE SEKALI. LALU SAMPAI DI RUMAH PROFESOR. IA MERUNDUK-RUNDUK, BERJALAN PERLAHAN-LAHAN. KALENG YANG BERISI SURAT ITU DILETAKKAN PERLAHAN-LAHAN. IA TERUS BBERLARI. DI JALAN IA BERSIUL-SIUL. PROFESOR MELIHAT KALENG ITU)

PROFSOR                              :  Nah, coba lihat kaleng itu bu. Bawa kemari.

                                                   (NYONYA PROFESOR MENGAMBIL DAN MENYERAHKAN KEPADA SUAMINYA)

PROFSOR                              :  (MEMBACA)

                                                   Profesor jika tidak meluluskan Tommy saya cegat di depan Kantor Pos. Pikir masak-masak. Tertanda Slentem. Pasar Beringharjo.

                                                   Lho Slentem termasuk komplotan mereka?

NY. PROFESOR                   :  Pap, jangan keluar rumah, Pap.

PROFSOR                              :  Justru itulah saya kepingin membuktikan keberanian mereka.

NY. PROFESOR                   :  Lapor polisi, Pap.

PROFSOR                              :  Nggak usah, ini soal kecil.

NY. PROFESOR                   :  Soal kecil bagaimana?

PROFSOR                              :  Tenang, tenang kamu, Mam.

NY. PROFESOR                   :  Ini mengancam nyawa, Pap.

PROFSOR                              :  Mereka nggak akan berani apa-apa.

SLENTEM                              :  Aku nggak berani bertindak?

SUMIRAH                             :  Beranimu kalau ada orang banyak. Itulah sebabnya kamu mau mencegat professor di depan Kantor Pos.

SLENTEM                              :  Aku?

ATI                                         :  Ya, kamu!

SLENTEM                              :  Aku?

SUMIRAH                             :  Ah, lagakmu. Dibilangi tapi kepala batu.

SLENTEM                              :  Aku tak berani sama tua bangka itu?

PROFESOR                           :  Aku masih kuat memukul orang sampai pingsan.

SUMIRAH                             :  Nah, rasain.

ATI+NY.PROFESOR           :  Sudahlah, jangan.

SLENTEM+PROFESOR       :  Akan aku gabrak dia, sekali pukul, iiih, mampus.

ATI+NY.PROF+SUMIRAH :  Mbok ya tahu diri.

SLENTEM+PROFESOR       :  Biar tahu rasa. Biar berpikir seribu kali dia.

ATI+NY.PROF+SUMIRAH :  Alaaaaah…..

SLENTEM+PROFESOR       :  Aku bukan sembarangan orang.

ATI+NY.PROF+SUMIRAH :  Pasti kalah deh, kamu.

SLENTEM+PROFESOR       :  Tak mungkin.

ATI+NY.PROF+SUMIRAH :  Jelas…..

SLENTEM+PROFESOR       :  Mustahil…..

                                                   Dulu aku jago pukul

                                                   Orang-orang takut terhadapku.

ATI+NY.PROF+SUMIRAH :  Ya, itu dulu.

SLENTEM+PROFESOR       :  Sekarang aku masih kuat.

SLENTEM                              :  Aku yangbiasa kerja kasar, angkat junjung, bongkar pasang, angkutan darat, angkutan laut, angkutan udara, semua menjagoi otot-ototku, lenganku, kaki-kakiku, jago gulat, jago gelut, jago karate, jago yudo, jago silat, jago sepak bola, volley, basket, renang, loncat indah, lari seratus meter, 1000 meter, balap mobil, auti rally, jackpot, halo, toto koni, hailai, stembath, niteclub, amusement center, Jakarta Teater, Presiden Teater, Bengkel poster, Bengkel Dekor, Bengkel Asmara, Asmara dahana, Asmara Nababan, Tigor Sihombing, Wahyu sihombing, Sri Wahyuni,

ATI+SUMIRAH                    :  Kamu ini kesurupan apa, Tem?

SLENTEM                              :  Ngomong-ngomong sudah eminggu, kok nggak ada reaksi apa-apa dari professor.

SUMIRAH                             :  Jangan-jangan kamu salah taruh, Tem.

SLENTEM                              :  Salah taruh gimana, jelas itu rumahnya professor.

ATI                                         :  atau jangan-jangan diambil tukang kebunnya, terus di buang.

SLENTEM                              :  Mustahil. Kaleng itu menarik dan pasti dilihat dalamnya.

SUMIRAH                             :  Menariknya kayak apa sih sebuah kaleng bekas.

SLENTEM                              :  Pokoknya nggak mungkin apa-apa. Mbak Sum dan Ati, tenang saja deh.

SUMIRAH                             :  Siapa yahu.

ATI                                         :  Ini semua menyenangkan saya. Toh sejak semula saya sudah nggak setuju.

SLENTEM                              :  Ati yang membawa sial nih.

SUMIRAH                             :  Atau suratnya jatuh di jalan, Cuma kalengnya doing yang kamu antarkan ke rumahnya.

SLENTEM                              :  Ah, lebih nggak mungkin lagi.

                                                   Sudah, pokoknya surat itu sudah sampai.

SUMIRAH                             :  Tapi kenapa, koq nggak ada balasan sama sekali.

SLENTEM                              :  Profesor pigimana sih. Mosok dikirimi surat kaleng koq nggak takut. Betul-betul mbandel.

PROFEOR                              :  Saya tak mungkin diperas.

NY. PROFESOR                   :  Asal tetap wapada, hindari Kantor Pos. Kalau mau kirim apa-apa suruhan saja.

PROFESOR                           :  Pokoknya kita jangan takut, Mam.

SLENTEM                              :  Mabandel….

SUMIRAH                             :  Kamu yang mbandel.

ATI                                         :  Atau professor menganggap sepele semua itu.

SLENTEM                              :  Profesor seorang tua. Seorang tua itu kan selalu hati-hati, sehingga ada apa-apa sedikit saja sudah takut. Tentu dia ketakutan.

PROFESOR                           :  Sedikitpun aku tak merasa berdiri bulu kudukku.

SLENTEM                              :  Terlalu…..

SUMIRAH                             :  Orang nggak dianggap kok marah-marah.

SLENTEM                              :  Ini sudah keterlaluan. Melewati batas kesabaranku. Apakah dia mengharap aku menyerbu ke rumahnya?

PROFESOR                           :  Coba saja kalau berani.

SLENTEM                              :  Terlalu kalau aku tak berani.

ATI                                         :  Profesornya diam saja, sebaliknya kamu yang gelisah terus.

SLENTEM                              :  Bukan gelisah. Tetapi menentukan siasat.

SUMIRAH+PROFESOR      :  Siasat tai mbenjret!

SLENTEM                              :  Jangan main-main, aku serius.

ATI+NY.PROFESOR           :  Sudahlah jangan gelisah.

PROFESOR                           :  Ini betah-betahan, coba betah siapa?

SLENTEM                              :  Aku yang nggak betah kalau begini terus.

SUMIRAH                             :  Apa siasatmu kemudian.

SLENTEM                              :  Aku akan mendatangi rumahnya.

ATI + SUMIRAH                  :  Gila! Kamu mau menyerbu kesana?

                                                   Jangan Tem ! Kamu merusak segala-galanya.

                                                   Tommy kalau tahu soal ini pasti kamu digantungnya.

                                                   Jangan.

SLENTEM                              :  Tiada jalan lain.

ATI + SUMIRAH                  :  Jangan Tem, Cukup sampai disini.

SLENTEM                              :  Tak akan kulepaskan.

ATI + SUMIRAH                  :  Kamu sudah gila Tem.

SLENTEM                              :  Tiada maaf bagimu.

ATI + SUMIRAH                  :  Cari cara lain Tem.

SLENTEM                              :  Hanya satu jalan.

ATI + SUMIRAH                  :  Kamu ini memang sinting.

SLENTEM                              :  Cinta dibatas peron.

ATI + SUMIRAH                  :  Engkau sungguh-sungguh?

SLENTEM                              :  Catatan harian seorang gadis, lima jahanam. Si Doel Anak Betawi. Ratapan Anak Tiri….

                                                   (SLENTEM BERANGKAT)

                                                   ATI DAN SUMIRAH MERONTA SEPERTI DITINGGAL KEKASIH- DRAMATIS. SLENTEM MENGELILINGI STAGE SEKALI, SAMPAI DI RUMAH PROFESOR.

SLENTEM                              :  Selamat siang professor, selamat siang Ibu.

PROFESOR+NY. PROF       :  Selamat siang….

SLENTEM                              :  Minggu-minggu nggak kemana-mana ni prof….

PROFESOR+NY. PROF       :  Nggak….

ATI + SUMIRAH                  :  O, alaah… mbok ya sudah ti Tem, Tem.

SLENTEM                              :  Nggak berlibur ke tempat-tempat dingin….

PROFESOR+NY. PROF       :  Nggak….

ATI + SUMIRAH                  :  Cari gara-gara saja….

SLENTEM                              :  Kaliurang, Tawangmangu, Sriwedari….

PROFESOR+NY. PROF       :  Nggak…..

ATI + SUMIRAH                  :  Maunya apa sih……

SLENTEM                              :  Apa……..

PROFESOR+NY. PROF       :  Saudara siapa sih….

SLENTEM                              :  Saya orang tua murid…

PROFESOR+NY. PROF       :  O, ……….siapa itu…..

SLENTEM                              :  Saya orang tua Joko….

ATI + SUMIRAH                  :  Bikin puyeng saja….

PROFESOR                           :  JOKO SIAPA, YANG MANA….

SLENTEM                              :  Joko yang tinggi-tinggi itu lho prof.

PROFESOR                           :  Yang tinggi-tinggi yang mana…

SLENTEM                              :  alah mook professor pangling.

PROFESOR                           :  O,… yang kumisan….

SLENTEM                              :  Hah… Yang barusan kumisnya dicukur?

PROFESOR                           :  Nah…

SLENTEM                              :  Ada keparluan apa?

PROFESOR                           :  Sebenarnya aya nggak ada keperluan apa-apa. Cuma main-main saja.

PROFESOR+NY. PROF       :  Ooooo….

ATI + SUMIRAH                  :  Neko-neko saja….

SLENTEM                              :  anu professor….

PROFESOR                           :  Ya….

ATI + SUMIRAH                  :  Apa dirumah nggak punya cermin, apa….

SLENTEM                              :  Punya saja…

PROFESOR                           :  Apa?

SLENTEM                              :  O… Nggak….. anu…..

PROFESOR                           :  Bagaimana?

SLENTEM                              :  Apa, apa , selama ini nggak ada apa-apa yang datang.

PROFESOR                           :  Apa maksud saudara?

SLENTEM                              :  Nggak ada sesuatu yang datang?

PROFESOR                           :  Apa ya? Apa yang datang, Mam?

NY. PROFESOR                   :  Yang datang? Perasaan nggak ada yang datang.

PROFESOR                           :  Coba ingat-ingat, Mam.

SLENTEM                              :  Bener, coba diingat-ingat dulu bu….

ATI + SUMIRAH                  :  Alah….

NY. PROFESOR                   :  Ya, ada kiriman dendeng dari eyang di Malang.

SLENTEM                              :  Yang lainnya nggak ada? Majalah umpamanya

NY.PROFESOR                    :  Majalah? Kita nggak pernah langganan.

PROFESOR                           :  Selalu beli eceran.

SLENTEM                              :  Ooooo…. Yang lainnya e  e  e  …. Misalnya surat-surat apa nggak pernah ada yang datang?

PROFESOR                           :  Surat? Ya ada surat undangan rapat dari rector yang baru.

SLENTEM                              :  (GEMES, JENGKEL, GONDOK, PANAS, TAPI TETAP DI TAHAN) Jadi selama ini nggak pernah ada surat-surat yang aneh sifatnya?

PROFESOR+ NY.PROF       :  Surat aneh bagaimana?

                                                   Perasaan nggak pernah datang surat yang aneh-aneh.

SLENTEM                              :  (NAIK PITAM MELEDAK)

                                                   Seminggu yang lalu saya kirim surat kaleng yang isinya penuh ancaman untuk professor!

                                                   Dasar Profesor mbandel!….. (NGGEBRAK)

PROFESOR                           :  (MELEDAK)

                                                   o…….. Jadi kamu to yang namanya Slentem! Kamu termasuk gang mereka ya! (MNGEJAR LENTEM)

                                                   SLENTEM MELONCAT TERUS LARI MASUK PINTU KIRI, TERUS DIKEJAR PROFESOR. LALU KELUAR PINTU KANAN SAMPAI DI PASAR KEMBALI, ATI DAN SUMIRAH MELONGO MELIHAT SLENTEM DIKEJAR PROFESOR.

                                                   SLENTEM MASUK PINTU KIRI LAGI, DIKEJAR TERUS OLEH PROFESOR.

                                                   NY. PROFESOR TERIAK-TERIAK: Sudah Pap! Sudah Pap! Stop!

                                                   TAPI PROFESOR TERUS MENGEJAR. SLENTEM KELUAR PINTU KANAN, KEMBALI SAMPAI DI PASAR, ATI DAN SUMIRAH GELENG-GELENG MLONGO. MASUK LAGI PINTU KIRI DIIKUTI TERUS OLEH PROFESOR YANG TERENGAH-ENGAH.

                                                   LAMPU MATI.

                                                   ISTIRAHAT 15 MENIT, UNTUK MAKE – UP MENJADI TUA, KECUALI SLENTEM. STAGE DIBERSIHKAN DARI BATIK-BATIK DAN KURSI-KURSI

                                                   TOMMY DIAPIT SUMIRAH DAN KUSNINGTYAS DI TEMPATNYA. NY. PROFESOR DI TEMPATNYA. KOSTUM LEBIH SEDERHANA. KELIHATAN PROFESOR MENGEJAR SLENTEM KETUKA LAMPU REMANG-REMANG DI NYALAKAN. MASUK PINTU KIRI KELUAR PINTU KANAN, AKHIRNYA PROFESOR KTINGGALAN JAUH, DAN WAKTU MEMASUKI STAGE LAMPU MENYALA TERANG. PROFESOR TERENGAH-ENGAH, SLENTEM BERSIUL-SIUL. PROFESOR SUDAH TERBONGKOK-BONGKOK JALANNYA DAN TERBATUK-BATUK DISAMBUT ISTRINYA YANG SUDAH BONGKOK JUGA.

                                                   KECUALI SLENTEM, SELURYH PEMAIN BERDIRI KAYAK MAU DI POTRET.

PROFESOR                           :  Aku mengejar dia terus, tapi ia ketinggalan jauh di belakang (TERENGAH-ENGAH)

NY. POFESOR                      :  Jarak kita sudah jauh dengan dia.

TOMMY + SUMIRAH + KUSNINGTYAS : Kita lari terus ke depan, tetapi dia kebalikannya.

ATI                                         :  Ayolah Tem, ikuti kami

SLENTEM                              :  Ogah…. (BERSIUL)

                                                   SLENTEM YANG BERDIRI DI TEPI MEMANDANGI MEREKA DENGAN ACUH TAK ACUH, JALAN MONDAR MANDIR DI DEPANNYA MELIRIK MEREKA LAGI, SEPERTI SEORANG KOMANDAN BARISAN.

                                                   SUASANA JADI LENGANG. MEREKA YANG BERBARIS ITU TETAP TAK MERUBAH SIKAPNYA SEOLAH-OLAH ADA KAMERA FOTODI DEPANNYA.

SLENTEM                              :  Siap!  (TERIAK)

                                                   YANG BERBARIS ITU SERTA MERTA TEGAK DAN MERAPIKAN BARIANNYA. SLENTEM MENGONTROL BARISANNYA. TIBA-TIBA MAUKLAH TUKANG NGAMEN JUGA BERJALAN TERBONGKOK-BONGKOK.

                                                   SARIYEM, WARTI DENGAN CASSETTE TAPE RECORDERNYA, TUKANG KENDANG, TUKANG SULING, TUKANG CLEMPUNG. KELIMA ORANG INI MEMBERI SALAM ATU PERSATU KEPADA YANG SEDANG BERBARIS, SEBELUM BERBARIS MEREKA DIPANGGIL SLENTEM UNTUK NGAMEN KECUALAI WARTI.

                                                   MEREKA MULAI DUDUK, MEMUKUL INSTRUMENNYA DAN MULAILAH. SARIYEM MULAI NEMBANG. TAPI HANYA MULUTNYA YANG KELIHATAN CUMA MENGANGA DAN MENUTUP, TANPA ADA SUARA YANG KELUAR.

SLENTEM                              :  Kenapa mulutmu, Yem? (GEMELAN BERHENTI)

TUKANG KENDANG         :  Karena sudah terlalu tua, suaranya nggak ada lagi.

                                                   SLENTEM MEMBERI ISYARAT UPAYA MEREKA IKUT BERBARI. KEMUDIAN MEREKA IKUT BERJAJAR.

SLENTEM                              :  Para penonton semuanya, inilah mereka yang senantiasa bergerak maju terus: MAs Tommy, Yu Sumirah, Kusningtyas, Ati, Profesor, Nyonya Profesor,  sariyem, Warti, Tukang kendang, Tukang Suling, Tukang clemung.

                                                   TApi aku sendiri yang nggak mau. Sementara mereka bertambah terus tiap 1 januari, sedang aku nggak mau, aku selalu meloncat kembali ke desember yang silam dan akhirnya kuputuskan untuk berhenti sama sekali.

                                                   Bagi mereka, aku adalah masa silam mereka, sedang mereka bagiku adalah masa akan datangku yang enggan aku jalani.

                                                   Koq mau-maunya mereka itu menjadi tua. Sedang masa kini ada di mana-mana. Begitu mungkin para penonton bertanya.

                                                   Masa kini sebenarnya ada pada parapenonton. Tentu saja professor menjadi orang  yang berbahagia. Beliau lepas dari surat kaleng saya ditambah lima orang cucu, tiga dari Mbakyu Sumirah, dan dua dari Kusningtyas.

                                                   Semuanya sudah menta, dan ada yang masih getol study terus. Ada di Akademi Atom di Jerman, Akademi Senirupa di Perancis, Kedokteran di London.

                                                   Dari ke lima cucu unu, lahir dua puluh tiga buyut yang gagah-gagah dan manis-manis dan lucu-lucu, yang tidak mungkin dihadirkan emuanya di sini untuk di tonton. Stagenya ini bisa njomplang. Sedang Ati sebenarnya ada rasa dengan saya, tetapi saya menolak.

ATI                                         :  Nggak usah ya…

SLENTEM                              :  Kemudian tukang-tukang ngamen masih terus ngamen tapi karena undang-undang yang saya ciptakan, mereka bisa berdampingan secara damai. Sariyem yang sudah tidak punya suara lagi, kabarnya mau beli cassette tape recorder

                                                   Nah, para penonton yang baik, cukup sekian malam ini, selamat besok boleh saja kalau mau nonton lagi. Selamat malam.

 

——–

  • Kalender

    • Desember 2016
      S S R K J S M
      « Jun    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari