SAKSI MATI

 

S A K S I   M A T I

Karya

Erhammudin, S.H.

 

 

 

 

HANYA TELINGA SETAJAM KESUNYIAN

YANG MAMPU MENDENGAR SUARANYA

HANYA TELINGA SETAJAM KESUNYIAN

YANG MAMPU MENDENGAR GUGATANNYA

 

Cerita naskah ini Berangkat dari  Cerpen  “ Percakapan Patung-Patung “, dalam Antologi Cerpen  “ Iblis Ngambek “ karya Indra Tranggono. Dinaskahkan dalam bentuk teater oleh R. Gendel Mayev.

 

Indra Tranggono,

                          

          Banjarmasin, 24 November 2003

Repro. By M. Zakir M

 

 

 

S A K S I   M A T I

 

R. GENDEL MAYEV

 

 

Pentas SAKSI MATI  : Sebuah proses yang sarat pembelajaran, kesakitan, kenekadan dan persahabatan. Tidak ada yang lebih indah selain kebersamaan memikul SAKSI MATI. Tidak ada senior dan junior karena kami berupaya untuk bisa lebur. Lewat proses ini kami berharap dapat memberikan yang berbeda, dari sisi artistik maupun nilai-nilai di dalamnya. Kami berharap dapat menampilkan sesuatu yang baru untuk dapat “berbicara” dalam festival ini, sekaligus menepis pandangan negatif mengenai lesunya teater kampus.

Baik buruknya sebuah pementasan adalah penilaian anda, namun kami senantiasa berusaha menampilkan yang terbaik. Semoga dimasa yang akan datang kami dapat lebih meningkat, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

 

 

Pemain           :

 

–       Syaiful                        :

–       Burhan                       :

–       Sidik                           :

–       Ramli                          :

–       Imah                           :

–       Mami                          :

–       Birokrat                     :

–       Assisten Birokrat     :

–       Petugas I                    :

–       Petugas II                  :

–       Petugas IV                 :

–       Petugas V                  :

–       Orang I                       :

–       Orang II                     :

–       Orang III                    :

–       Orang IV                    :

 

 

BULAN SEBESAR SEMANGKA TERSAPUH PERAK, TERGAN-TUNG DI LANGIT KOTA DINI HARI. CAHAYANYA YANG LEMBUT, TIPIS BERSELAPUT KABUT, MENERPA LIMA SOSOK PATUNG YANG BERDIRI DI ATAS  MONUMEN JUANG YANG TAK TERAWAT DAN MENJADI SARANG GELANDANGAN. CAHAYA BULAN ITU SEPERTI MEMBERI TENAGA KEPADA  MEREKA UNTUK BERGERAK-GERAK, DARI POSISI MEREKA YANG BERDIRI TEGAK. MEREKA SEPERTI MENCURI KE-SEMPATAN DARI GENGGAMAN WARGA KOTA YANG TER-LELAP DIRAJAM KANTUK DALAM RINGKUS SELIMUT. LIMA PATUNG YANG TERIDIRI DARI EMPAT ORANG LELAKI DAN  SEORANG PEREMPUAN ITU, MENGOYANG-GOYANGKAN KAKI, MENGGERAKKAN TANGAN, KEMUDIAN DUDUK BAHKAN ADA YANG TIDURAN. WAJAH MEREKA TAMPAK LETIH KARENA SELAMA LEBIH DARI EMPAT PULUH TAHUN BERDIRI DI SITU. WAJAH MEREKA YANG KAKU, DENGAN LIPATAN-LIPATAN COR SEMEN BEKUPUN KERAP BERGERAK-GERAK SEPERTI ORANG MENGADUH, MENGELUH, MENJERIT DAN BER-TERIAK.

 

Syaiful              Dulu… ketika jasad kita terbujur di sini, kota ini sangat sunyi. Hanya beberapa lampu berpendar bagai belasan kunang-kunang yang membangunkan malam, kini… lihatlah… puluhan bahkan ratusan lampu ber-pendar-pendar seterang siang… kota ini benar-benar megah….

 

Burhan             Tapi lihatlah  di sana Bung Syaiful… puluhan gelan-dangan tumpang tindih  bagai jutaan cendol,  sedang makan bangkai anjing dengan lahapnya… dan coba lihatlah di sana.. lihatlah.. perhatikan deretan gubug-gubug reyot menyatu dengan gelandangan yang berjejal bagai benalu yang menempel digedung-gedung megah… mulut mereka menganga menyem-burkan bau busuk serupa aroma mayat.. mengundang jutaan lalat terjebak di dalamnya.. dan lihatlah… lihatlah.. ya Tuhan.. mereka mengunyah lalat-lalat itu…

 

Ramli               Itu biasa rekan Burhan.. dalam negeri yang gemerlap selalu dirawat kemiskianan sebagai ilham bagi kemajuan.. seharusnya kita mesti bangga… negeri ini sangat kaya.. coba lihatlah di sana… deretan rumah mewah menyimpan jutaan keluarga-keluarga bahagia ada mobil-mobil mewah.. ada lapangan golf pribadi… bahkan ada pesawat terbang  yang dijadikan milik pribadi… dan lihatlah disana.. orang-orang berdansa-dansi sampai pagi, ya ampun, malah ada yang sampai orgi…

 

Sidik                Ternyata mereka hanya sanggup mengurus perut dan kelamin mereka sendiri… aku jadi menyesal.. kenapa turut memerdekan negeri ini…

 

Burhan             Akupun jadi tidak lagi bangga sebagai pahlawan… selama lebih dari empat puluh tahun kita berdiri di sini .. kita tak lebih dari hantu sawah… ternyata mereka tak sungkan apalagi hormat kepada kita… buktinya.. mereka menggaruk apa saja… dasar manusia-manusia serakah.. manusia tidak tau ber-terima kasih..

 

Syaiful              Kamu jadi orang jangan terlalu sentimentil begitulah Bur… aku rasa mereka tetap hormat kepada kita… buktinya.. mereka membangunkan kita monumen yang sangat megah… apakah itu bukan suatu peng-hargaan yang  sangat besar bagi kita…

 

Imah                Tapi kenapa kita hanya dilletakkan di sini… di tempat sempit seperti ini, masak monumen pahlawan harus terjepit di sini…

 

PARA PATUNG KEMUDIAN KEMBALI KETEMPATNYA. TIBA-TIBA PARA GELANDANGAN YANG TIDUR MELINGKAR DI KAKI MONUMEN MENGGELIAT TERBANGUN, MULUT MEREKA MENGUAP KOMPAK. KEMUDIAN MENGOREK BAK SAMPAH MENCARI SISA MAKANAN UNTUK PENGGANJAL PERUT YANG LAPAR. MUNCUL SEORANG WANITA SETENGAH TUA DIIRINGI OLEH BEBERAPA ORANG YANG MENBUNTUTINYA DARI BELAKANG. MEREKA BERJALAN MENGELILINGI MONUMEN SAMBIL MEMBACA MANTRA. LALU MEREKA DUDUK TAKZIM DI KAKI MONUMEN. TANGANNYA DI ANGKAT DI ATAS KEPALA, LALU MEREKA MELAKUKAN SEBUAH PROSESI UPACARA, SAMBIL TERUS MENERUS MULUT MEREA MENG-UCAPKAN MANTRA-MANTRA.

 

Syaiful              Aku mendengar ada banyak orang mendoakan kita… mereka  memberi kita sesaji, ada bunga-bunga, ada jajan pasar, ada juga rokok sigaret…

 

Burhan             Kurang ajar… kita dianggap dhemit.. malah ada yang minta nomer buntut segala… ini apa-apaan Syaiful…

 

Syaiful              Sssstt… tenanglah.. apa susahnya kita membikin mereka sedikit gembira…anggap saja ini intermezzo dalam perjalanan panjang kita menuju jagat ke-abadian..

 

Imah                Tapi kalau pahlawan sudah disuruh mengurusi togel, ini sudah betul-betul keterlaluan…

 

Ramli               Hidup mereka gelap rekan Imah… mereka hanya bisa mengadu kepada kita… karena yang hidup tak pernah mengurusi nasib mereka… justru menghardik mereka…

 

ORANG-ORANG TERSEBUT TERUS MENGUCAKAN MANTRA-MANTRA DENGAN IRAMA  CEPAT. SETELAH ITU DIAM DAN KEADAAN MENJADI HENING. PEREMPUAN YANG MEMIMPIN PROSESI ITU KEMUDIAN BERBALIK.

 

Org I                Mii… saya ada satu permintaan kepada Datu Syaiful, tolong katakan kepada beliau akhir-akhir ini rejeki saya tidak selancar dulu… jarang sekali tamu-tamu yang  mau ngamar dengan saya… bagaimana caranya bisa seramai seperti dulu.. apapun syaratnya akan saya penuhi… dan ada satu lagi mi.. bagaimana cara-nya agar saya waktu jualan di pinggir jalan tidak kena tangkap petugas…

 

Mami               Wah… kalau pahlawan disuruh mengurusi garukan pelacur itu sangat sulit sekali… kalau bisa perminta-an itu yang wajar-wajar saja, yang sopan begitu lho….

Org I                Habis… saya selalu kena garuk.. jadinya dagangan saya menjadi sepi… eh siapa tahu para petugas ketertiban  kota itu menjadi takut dengan datu syaiful dan semua pahlawan di sini… tolong ya mi… ini ada uang sedikit untuk mami…

 

Mami               Yaah… akan saya usahakan. Semoga datu syaiful dan rekan bisa mempertimbangkannya….

Org II               Saya juga ada permohonan kepada mereka mi…

 

Mami               Kamu mau memohon apa kepada para datu pahlawan ini…

 

Org II               Begini mi… akhir-akhir ini tembakan nomor saya selalu lepas, jadi tolong mintakan kepada para beliau-beliau ini agar bisa memberikan nomor yang jitu…. Kalau tidak empat angka ya minimal dua angkalah..

 

Mami               Baiklah kalau begitu, sesajen yang kalian bawa letak-kanlah di dekat kaki para pahlawan itu… Sekarang kalian boleh pergi. Saya akan melakukan tapa lebih dahulu… agar bisa berkomunikasi dengan ruh para datu di sini.. mudah-mudahan permintaan kalian bisa dikabulkan… pergilah kalian semua…

 

GELANDAGAN, PELACUR DAN ORANG-ORANG MENINGGALAN TEMPAT TERSEBUT, SEMENTARA PEREMPUAN TUA DUDUK MENGHADAP PARA PATUNG DAN MELAKUKAN SEMEDI.

 

Burhan             Mereka ini payah… garuk menggaruk inikan bukan urusan kita.. mestinya mereka mengadu ke anggota dewan…

 

Sidik                Ah.. anggota dewan kan lebih senang kasak kusuk untuk saling menjatuhkan…

 

Syaiful              Tampung saja keluhan itu…

 

Burhan  Tapi  urusan kita masih banyak bung.. kita masih harus mempertang- gung  jawabkan seluruh perbuatan kita selama hidup.. jujur saja, waktu berjuang dulu.. aku menembaki musuh tanpa ampun seperti aku mem-basmi tikus…

 

Syaiful              Perang memungkinkan segalanya bung… kita tidak mungkin bersikap lemah lembut terhadap musuh yang mengincar nyawa kita.. kita membunuh bukan demi sebuah kepuasan melihat mayat-mayat mengerjat-ngerjat karena nyawanya meloncat.. kita hanya mempertahankan hak yang harus digenggam…

 

Ramli               Kita yakin saja… malaikat penghitung pahala pasti mencatat seluruh kebaikan kita…

 

Syaiful              (MELIHAT HERAN KEARAH IMAH) Saudari Imah… dari tadi aku melihat kau selalu diam saja.. apa yang kau dapat dari koran itu…

 

Imah                Di halaman utama koran ini tempat kita disebut-sebut.. coba kalian dengar… (MEMBACA KORAN) Monumen juang untuk mengenang lima pahlawan yang gugur dalam pertempuran untuk memper-tahankan kota ini karena melawan pasukan Belanda akan dipugar, status merekapun sedang diusulkan untuk ditingkatkan dari pahlawan  kota menjadi pahlawan nasional, dan pihak pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar lima milyar…

 

TIBA-TIBA SYAIFUL MELONCAT-LONCAT KEGIRANGAN, SEDANGKAN RAMLI  IKUT MENARI-NARI.

 

Syaiful              Ini namanya kemerdekaan.. hidup kemerdekaan.. hidup kemerdekaan… hidup kemerdekaan.. hei.. hei.. kenapa kalian hanya diam.. hai Sidik kenapa kau berdiri mematung seperti itu… meskipun kau sudah lama hidup menjadi patung… berita ini mesti kita rayakan… hidup kemerdekaan (MERAIH TANGAN SIDIK MENGAJAK)  Hid…

 

Sidik                (MELEPASKAN PEGANGAN TANGAN SYAIFUL) Aakh… Untuk apa.. aku sendiri tidak begitu bangga menjadi pahlawan..  karena ternyata Negeri yang kumerdekakan ini akhirnya hanya menjadi meja prasmanan besar bagi segelintir orang.. sedang jutaan mulut yang lain hanya menjadi tong sampah yang mengunyah sisa-sisa pesta…

 

Syaiful              Itu bukan urusan kita bung.. tugas kita sudah selesai.. kita tinggal ber-syukur melihat anak cucu kita hidup bahagia…

 

Sidik                Tapi jutaan orang-orang bernasib gelap itu terus menjerit… jeritan mereka memukul-mukul rongga batinku…

 

Syaiful              Ah… sudah jadi arwah kok masih perasa…

 

Sidik                Tapi perasaanku masih hidup…

 

Ramli               Untuk apa memikirkan semua itu… kalau masih ada yang kurang beruntung itu biasa… hidup itu per-lombaan, ada pemenang ada juga pecundang,  jangan- jangan kamu kurang ikhlas berjuang bung Sidik..

 

Sidik                kurang ikhlas bagaimana… Ramli.. hati-hati kalau kau bicara.. demi Tuhan.. lihatlah kakiku yang pengkor ini telah kuberikan kepada hidup.. bahkan jantungku telah menjadi sarang peluru-peluru musuh mereka memberondongku tanpa ampun hingga tubuhku luluh lantak bagai dendeng…

 

Syaiful              Oooo..  kalau soal itu.. penderitaanku lebih dahsyat.. kalian tahu.. ketika aku merebut kota yang dikuasai oleh musuh.. puluhan peluru me rejamku.. tapi aku puas… karena berkat keberanianku, nyali kawan-kawan kita terpompa… dan akhirnya berhasil memenangkan pertempuran.. ini semua berkat aku…

 

Burhan             Enak saja kau bilang.. Aku…. dalam pertempuran merebut kota ini… aku dan Sidik yang berdiri paling depan, mengahadapi musuh satu lawan satu, kau sendiri.. lari terbirit-birit kehutan dan kegunung… dan tanpa malu menyebut sedang bergerilya…

Syaiful              Tapi akulah yang punya ide untuk menyerang… aku juga yang memimpin serangan fajar itu…

 

Burhan             Siapa yang mengangkatmu jadi pemimpin Syaiful… siapa.. waktu itu kita tak lebih dari pemuda yang bermodal nyali.. tak ada jabatan.. tak ada hirarki… apalagi pimpinan produksi perang…

 

Syaiful              Tapi perang tidak hanya pakai otot bung… perang juga pakai otak… pakai strategi…

 

Burhan             Tapi strategi tanpa nyali bagai kepala tanpa kaki….

 

Sidik                Bung Syaiful.. kenapa kamu menghitung-hitung jasa yang sesungguh- nya hampa…

 

Syaiful              Sidik… belajarlah kamu mengahargai jasa orang lain… jangan anggap kamu paling pahlawan diantara para pahlawan…

 

Sidik                Kapan aku membangga-banggakan diri.. kapan.. kamu ingat, waktu berjuang dulu.. aku justru menghilang ketika ada panglima mengunjungi kawan-kawan kita yang berhasil menggempur musuh, kalau aku mau… bisa saja aku mencatatkan diri sebagai prajurit resmi… dan aku yakin ketika negeri ini merdeka, aku mampu jadi petinggi yang bisa menangani proyek-proyek besar.. tapi Maha Besar Tuhan.. maut keburu menjemputku…

 

Burhan             Begitu juga aku… aku berpesan kepada anak-anakku.. kepada seluruh keturunanku.. untuk tidak mengungkit-ungkit jasa kepahlawananku, demi uang tunjangan yang tak seberapa banyak… itupun masih banyak potongan…

 

Syaiful              Munafik… Kalian ini munafik…

 

TIBA-TIBA SUASANA MENJADI SANGAT HENING. PATUNG-PATUNG KETEMPATNYA MASING-MASING. KEMUDIAN MUNCUL BEBERAPA ORANG GELANDANGAN DAN PELACUR KETEMPAT TERSEBUT.

 

Org III              Mii.. Mami.. permisi sebentar mi… saya minta maaf kalau mengganggu semedi sampeyan… ada suatu berita yang sangat penting yang harus se- gera saya sampaikan…

 

Mami               Berita apakah itu min…

 

Org III              Begini mi….. para petinggi pejabat di kota ini berencana memugar monumen tempat tinggal kita ini… dan saya yakin…. kalau monumen ini jadi dipugar… kita akan kehilangan tempat..

 

Mami               Baiklah… kita harus turun kejalan.. kita kerahkan semua pelacur dan gelandangan di kota ini… kita demo besar-besaran…

 

SUASANA SEKETIKA MENJADI RIUH, PEMBICARAAN MEREKA TERHENTI DENGAN MUNCULNYA SEORANG GELANDANGAN.

 

Org II               Kabar gembira..kabar gembira..kabar gembira teman-teman.. kesedihan  kita berubah menjadi kebaha-giaan.. saya baru lewat dari balai kota.. dan men-dengar pembicaraan orang-orang di sana.. katanya bapak walikota membatalkan rencana pemugaran meonumen juang ini…Dan menurut mereka juga….. proyek itu mubazir….bertentangan dengan asas kemanfaatan publik… apalagi pengajuan perubahan status menjadi pahlawan nasional… masih menurut mereka….ditolak oleh tim pakar sejarah nasional… dan dana sebesar lima milyar dialihkan untuk memberikan bantuan pangan kepada masyarakat miskin seperti kita…

 

SELURUH GELANDANGAN PELACUR BERSORAK SORAI GEMBIRA, MEREKA MERAYAKAN DENGAN CARANYA MASING-MASING.

 

Mami               Tenang.. tenang saudara-saudara… saudara-saudara sekalian, kita memang layak merayakan kemenangan kita ini… tapi perlu saudara-saudara ketahui.. semua ini berkat pertolongan pahlawan-pahlawan kita ini..  aku yakin ruh-ruh..  yang bersemayam pada patung ini telah mem -pengaruhi para petinggi kota ini… sehingga pikiran mereka berubah… untuk itu kita harus lebih sering memberikan sesajen dan peng-hormatan kepada pahlawan-pahlawan kita ini…

 

SELURUH GELANDANGAN DAN PELACUR LALU DUDUK DENGAN KHIDMAT MENGELILINGI MONUMEN ITU. LALU MEREKA MELAKUKAN PROSESI UPACARA SERTA MEMBACA MANTRA-MANTRA.

 

   Mami            Datu-datu yang bersemayam, di tubuh patung-patung pahlawan ini.. serta ruh-ruh yang mengelilinginya, terimalah sesajen dan sesembahan kami ini… terima kasih atas pertolongan kalian.. terima kasih datu syaiful sebagai pimpinan patung-patung pahlawan di sini.. yang telah sudi  memimpin rekan-rekan sekalian untuk menyadarkan para petinggi kota ini, terima kasih datu burhan.. terima kasih datu sidik.. terima kasih datu ramli… terima kasih datu imah.. terima kasih kami ucapkan kepada kalian semua.. pahlawan-pahlawanku.. yang telah sudi memberikan pertolongan kepada kami para kaum tidak mampu ini…

 

TERDENGAR SUARA RAUNGAN MESIN, PROSESI ITUPUN TERHENTI

 

  Mami             Suara-suara apakah itu.. coba kau syah.. lihat dan cari tahu suara apa yang ada di balik tombok sana…

 

SEORANG GELANDANGAN MENINGGALKAN TEMPAT ITU

 

  Mami             Saudara-saudara kita tetap tenang… kita tetap melakukan penghormatan kepada pahlawan kita ini… hal apapun tidak ada yang boleh mengganggu konsentrasi kita…

MEREKA MELANJUTKAN PROSESI, TIDAK BEGITU LAMA MASUK GELANDANGAN  DENGAN TERGOPOH-GOPOH.

 

Org IV              Kiamat… kiamat saudara-saudara.. bencana itu datang lebih cepat dari yang kita perkirakan..

 

Org I                Maksudmu apa…

 

Org IV              Buldoser… buldoser  dan orang-orang berseragam itu mereka datang menuju ketempat kita.. untuk meng-hancurkan tempat ini…

 

Mami               Apa katamu…

 

Org IV              Sumpah.. demi Tuhan mereka datang untuk meng-hancurkan tempat ini..

 

PARA GELANDANGAN DAN PELACUR ITU PANIK, MEREKA LARI DAN SEMBUNYI DIBELAKANG PATUNG-PATUNG.

 

Syaiful              Culas… licik… dan sombong… penghianat…penguasa demi penguasa datang, ternyata hanya bertukar rupa. Mereka tetap saja menikamkan penghianatan demi penghianatan di tubuh kita…

 

Ramli               Mereka menganggap kita sekedar bongkahan batu yang beku… mereka hendak menggerus kita menjadi butiran-butiran masa silam yang kelam

 

Syaiful              Kenapa kalian hanya diam… kita ini hendak diluluh lantakkan.. lihatlah buldoser-buldoser itu datang berderap-derap.. kita harus bertahan.. bertahan…

 

Mami               Kita harus bertahan…! Kita lawan buldoser-buldoser itu.. Mansyah.. Minah..  Mian.. di mana kalian…

 

Koor                 Kami di sini di belakangmu…

 

Mami               Kita lawan mereka… kita pertahankan liang-liang kita.. lebih baik mati daripada selamanya dikutuk menjadi kecoa…

Syaiful              Lihatlah… mereka yang hanya gelandangan saja membela kita.. mesti- nya kalian malu…

 

Sidik                Syaiful….kalau kami akhirnya melawan mereka, itu bukan untuk membela kepongahan kita sebagai pahlawan.. tapi membela mereka yang juga punya hak hidup…

 

Syaiful              Aku tak butuh penjelasan… tapi butuh kejelasan sikap kalian untuk melawan mereka.. Ramli… meloncatlah kamu, dan masuklah keruang kemudi.. cekik leher sopir-sopir itu.. Imah.. tahan moncong buldoser itu.. ganjal dengan tubuhmu… Sidik dan kamu Burhan… hancurkan mesin dan buldoser-buldoser  itu… cepaaat…

 

TIBA-TIBA MASUK PARA GELANDANGAN, PELACUR DAN MAMI

 

Mami               Hei.. kenapa kalian mundur semua… kalian benar-benar pengecut….

 

Org I                Sia-sia melawan mereka… mereka ternyata banyak sekali…

 

Org II               Kita menyingkir saja.. pahlawan saja ingin mereka gilas.. apalagi kecoa macam kita… menyingkir… menyingkir saja…

 

PARA GELANDANGAN DAN PELACUR TERSEBUT MENCOBA UNTUK MENGAJAK PIMPINANNYA, TETAPI  DIA TETAP BERTAHAN DI TEMPAT ITU SENDIRIAN, SEDANGKAN PARA GELANDANGAN ITU MENINGGALKAN TEMPAT TERSEBUT.

 

Mami               Kalian memang pengecut semua… demi tempatku dan pahlawanku.. aku harus mempertahankan tempat ini walaupun aku harus melawan dengan caraku sendiri…

 

KEMUDIAN DIA PERGI DARI TEMPAT  TERSEBUT.

 

Imah                Lihatlah… apa yang dilakukan oleh wanita itu… dia berjuang sendirian untuk mempertahankan tempat kita….. Lihat….. dengan mantapnya dia berjalan menghadang laju rangkak buldoser… tiada rasa takut maupun gentar sedikitpun.. dialah pahlawan sejati… menghadapi musuh yang pasti….. hei apa yang dilakukannya….. dia melepas kain dan baju yang membungkus tubuhnya..  dan oh tidak… ya Tuhan… dia melepas kutang dan celana dalamnya.. lihatlah… demi kita sekarang dia telanjang bulat sambil mengibar-ngibarkan kain dan kutangnya… dia berdiri di tengah jalan..  dan buldoser-buldoser itu semakin bergairah ingin melumat tubuhnya…

 

Sidik                Bu.. menyingkirlah dari tempat jahanam itu… cepat menyingkir bu, menyingkir, menyingkir, menyingkir..

 

Patung             (Koor) Tidaaaakk……

 

Ramli               Tidak…tidak.. aku melihatnya.. tubuh wanita itu… tubuh wanita itu… buldoser-buldoser itu derngan bergairahnya menggilas tubuhnya…

 

Burhan             Biadab.. jahanam kalian.. dasar binatang… buang saja seragam kalian itu… tampakkan wujud kalian yang berlindung baju  kemanusiaan…

 

BULAN DIANGKASA MENGERJAP ANGIN MATI. PATUNG-PATUNG KEMBALI KETEMPATNYA SEMULA. BEBERAPA ORANG PETUGAS DAN BIROKRAT MASUK KE-TEMPAT ITU.

 

Birokrat           Monumen usang ini sudah tidak lagi berharga… harus diganti dengan sesuatu yang lebih meng-untungkan dan akan membuat orang selalu ingat padaku.. hancurkan patung-patung tak berguna itu..

SETELAH MENDAPAT PERINTAH DARI BIROKRAT, MEREKA DGN GARANG MENGHANCURKAN MONUMEN JUANG DAN MENANCAPKAN PAPAN BERTULISKAN “BERKAT DO’A RESTU KITA SEMUA, DI SINI AKAN DIBANGUN HOTEL BINTANG TUJUH BERTARAP INTERNASIONAL”.

Birokrat           Demi suatu kemajuan dan cita-cita kejayaan harus mereka sadari bahwa  selalu akan ada korban.. siapa yang jadi korban bukan masalah,  karena  hukum alam telah menggariskan..  yang kuat berkuasa dan  yang lemah akan tertindas… (BERDIRI GAGAH DI TENGAH MONUMEN).

 

BIROKRAT ITU TERTAWA, TAWANYA  BERGEMA KESOMBONG-AN SEOLAH-OLAH TANDA BAHWA DIA TELAH MENDAPATKAN KEMENANGAN DARI MAKSUDNYA.

 

BULAN SEBESAR SEMANGKA TERSEPUH PERAK, TERGAN-TUNG DI LANGIT KOTA DINI HARI. CAHAYANYA YANG LEMBUT TIPIS BERSELAPUT KABUT, MENERPA SERPIHAN LIMA SOSOK PATUNG PAHLAWAN YANG TERKUBUR DI-RERUNTUHAN MONUMEN, CAHAYA BULAN ITU SEPERTI INGIN MENGHIDUPKANNYA LAGI. TAPI YANG TERDENGAR HANYA SUARA-SUARA YANG BERGEMA TIADA PUTUSNYA       “ KALIAN TELAH MEMBUNUH KAMI UNTUK YANG KEDUA KALINYA ”. SUARA ITU TERUS SAJA BERGEMA MENEMBUS DINDING-DINDING WAKTU.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s