ARTIKEL Teater_Matahari

   
 

 



S E N I   &   H I B U R A N

 

 

 

 Kalau Edi ”Terlalu Asyik” dengan si Juru Kunci…
 

Jakarta, Sinar Harapan
Edi Sutardi menenggak botol berisi minuman keras yang mahal dan langka didapatkannya. Ini adalah bagian dari perannya sebagai juru kunci di pementasan. Edi sedang memainkan karya Rene Yves Duvalier yang berjudul Juru Kunci. Kisah seorang penjaga kuburan yang sepuluh tahun mengabdi di profesinya, yang juga seorang veteran divisi artileri pada staf perbekalan dan amunisi di masa mudanya.
Edi memainkannya dengan penghayatan yang maksimal. Seorang juru kunci, barangkali terlalu pintar berkisah tentang masa lalunya. Namun, juru kunci yang veteran, tentu saja punya referensi yang cukup untuk itu. Dimulai dari tebaran tanah yang dibuat silang di atas areal lantai Sanggar Baru Taman Ismail Marzuki (7/10) yang terbuka, dengan latar batang dan ranting pohon kering, ditambah lilin juga meja yang diletakkan telepon di atasnya, Edi pun mulai bercerita dari meja dan terap yang seolah menjadi gardu seorang juru kunci.
Dia pun mulai berkisah tentang kondisi dan alasan sehingga dia menjadi seorang tentara. Lalu berkisah tentang kondisi tiap warga yang karena beban ekonomi akhirnya mempunyai watak korupsi. ”Ya, hanya ini yang bisa kunikmati, minum sampai mabuk, merokok sampai puas dan berdialog dengan para arwah,” ujarnya.
Ini diucapkannya sambil terus berkeliling di sepanjang makam para orang-orang yang disebutnya ”borjuis” itu. Seorang juru kunci, dalam karya Rene ini, ternyata telah menjadikan ”arwah-arwah” yang ada di areal pekuburan ini sebagai teman dialognya, sekaligus terkadang memaki si arwah terutama tentang perbuatan buruknya semasa hidup.
Si Juru Kunci yang berkeliling, seolah areal tanah itu adalah makam-makam, terlihat cukup baik bergumam, berdialog dengan ”arwah”, membeberkan kisah hidup masing-masing arwah, mulai dari si arwah ”nona borjuis” yang dulunya dikenal pemabuk, suka berselingkuh bahkan dengan seorang imam agama di lantai atas rumah ibadah, hingga si imam melompat dari rumah ibadah itu dan mati, lalu si nona menjadi gila dan mati. Juga tentang seorang pemungut pajak dan tukang korup.
Yang menarik adalah dalam dialog-dialognya, terlihat Rene Yves Duvalier sangat mempertanyakan tentang agama bahkan Tuhan. Ketika Rene mengatakan bahwa manusia kerap menyerahkan hidupnya pada nasib dan tak mau berusaha, juga tentang agama yang hanya menawarkan keindahan, yang sangat jauh dari kenyataan. Juga ungkapan filosofisnya bahwa mengapa Tuhan sebagai sutradara agung tak menghadirkan saja para ”aktor baik” dalam sebuah pentas kehidupan.
Secara umum, pementasan yang dilakukan Edi lumayan kuat terutama dengan gestur, vokal, ekspresi, bloking bahkan gerak yang selalu dengan tujuan dan cermat diperhitungkan. Ketika dia menggaris tanah dengan cangkul (lampu di pementasan langsung mati, menyerahkan imajinasi penonton bahwa si Juru Kunci sedang menggali). Saat cahaya menyala lagi, wajah Edi tampak kelelahan dan terbatuk lalu meletakkan cangkul di makam yang lain. Mabuk terhuyung dan berniat membanting botol lalu meninggalkannya. Berjalan gontai dengan benda yang hanya lampu di tangannya.
Pementasan yang diproduksi oleh Teater Matahari Bandung kali ini memang mengangkat naskah dari seorang penulis, Rene Yves Duvalier yang dalam hidupnya tak kalah suram dari naskah yang dia tulis. Rene, kelahiran Paris 30 April 1903, penulis antologi sajak, esai dan jurnal politik. Kumpulan cerpennya berjudul Omne Solum Forti Patriest memenangkan hadiah sastra 1930 di Perancis, namun ditolaknya sehingga menggegerkan pers dan kritikus.
Pada tahun 1930 ini, dia sempat bergaul akrab dengan Albert Camus, Emmanuel Levinas, Jan Paul Sartre, Andre Malraux, Marcel Pagnon. Rene termasuk penulis dan pemikir penganut ekstrem aliran kiri dan garis paling keras di sastra Perancis. Seperti eksistensialisme Sartre, dia menyebut gaya penulisannya dengan ”Substansialisme Populis”.
Pada awal Perang Dunia II, Rene masuk wajib militer dan terjun ke front depan melawan tentara Jerman dan Rusia. Tahun 1945, dia meninggalkan negeri kelahiran, melakukan desersi dan membelot ke Rusia dan mendapatkan suaka politik. Banyak karyanya yang diberangus oleh Charles de Gaule. Rene mati dalam usia 52 tahun saat berlibur di villanya di Vladivostcok karena ditembak kaum teroris dari golongan Anglican Orthodox fanatik.

Akting dan Artikulasi
Setelah pementasan, diadakan juga diskusi dengan pembicara Andi Bersama, didampingi aktornya Edi Sutardi, dimoderatori oleh Yusuf Susilo Hartono, wartawan senior yang juga dikenal sebagai pelukis.
Edi, diungkapkan Yusuf Susilo, mampu berpindah dari penceritaan sebagai ”aku” (Juru Kunci), kita (yang lebih pada narator), dengan lugas dan tidak mengganggu konsentrasi penonton pada pemahaman teks.
Edi, juga sempat dikomentari oleh salah seorang peserta diskusi ini, bahwa di awal pementasannya kurang bisa menghadirkan aura imaji. Begitu pun menjelang akhir. Penghayatannya lebih kuat justru terasa pada suasana di areal pemakaman, namun kurang kuat saat berada di meja yang berfungsi sebagai ”pos gardu” si Juru Kunci. Selain itu, ada beberapa artikulasi yang terlalu cepat diungkapkannya dalam pentas ini.
Andi Bersama kemudian menanggapinya bahwa itu adalah satu koridor. Dia justru melihat bahwa yang kurang adalah justru sepertiga pementasannya yang terakhir. Soal akting, dia melihat cukup baik, hanya Edi agak terlalu asyik pada permainannya sendiri terutama di akhir cerita.
Haris Priadie Bah dari Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, yang juga hadir di pementasan ”tujuh”-an itu (diadakan tiap bulan pada tanggal tujuh), mengatakan bahwa permainan monolog yang dilakukan Edi sudah cukup baik, apalagi bila dikaji secara teknis. Hanya, dia bilang bagaimana pun teks bisa dijadikan elemen yang lebih mendalam lagi, inner. Menanggapi itu, Edi bilang apa pun tanggapan penonton, itu bisa menjadi bahan kajian buat dirinya.
(SH/sihar ramses simatupang)
 

 

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003


 

 

 

 

 

Bottom of Form

English Edition | Tempo Interaktif | Koran Tempo | PDAT | Photostock | U-Mag | Ruang Baca | Blog | Jurnalisme Publik | iTempo | Video | Audio | Infografis | Arsip

Dari Nietzsche sampai Hugo

Dua monolog dimainkan di Utan Kayu. Satu diinspirasikan oleh Nietzsche, satu lagi berdasarkan terjemahan Victor Hugo.

My mind is clear now… If you strip away, the myth from the man We cant see where we all soon will be Jesussssss……

TIBA-TIBA calon pastor itu menyanyikan petilan lagu Jesus Christ Superstar. Belum berhenti kata ”Jesusss”, ia memotong dengan cemooh, ”Ahhh… proyek spiritual instan….” Demikianlah Whani Darmawan, aktor Yogya, mementaskan Meta Nietzsche, karyanya sendiri, yang berkisah tentang seorang frater yang mengalami depresi, bergulat dengan masalah ketuhanan.

Mulanya lampu temaram. Ketika penonton masuk, ia teronggok di kursi roda (sedikit mengingatkan kita pada sosok Jumena Kartawangsa, tokoh Arifin C. Noer dalam Sumur tanpa Dasar). Serpihan sebuah lagu Richard Wagner, komponis favorit Nietzsche, mengalun, juga dentang lonceng gereja. Tubuhnya berkedut-kedut mengigal. Ia lalu menjalankan maju-mundur kursi rodanya. Ruang sempit, diisi dengan kapstok seperti salib dan sebuah meja kecil penuh tumpukan buku, mengirim atmosfer traumatis.

Sang frater membuat tanda salib di depan gantungan baju. Kadang meludahkan riak dan lendirnya ke tempolong bila mengatakan Yesus. Adegan menarik saat ia melukiskan kerutinan harian seorang biarawan. Whani, dengan pakaian pastor, memutar-mutar sembari menceracaukan kata-kata ”lonceng, bangun pagi, berdoa, kuliah, makan siang, baca koran, bobok, silentium magnum, silentium magnum….” Lalu di saat lain mengobrak-abrik meja, melempar-lempar pil. Makin frustrasi karena menemukan buku-buku yang itu-itu juga—entah kitab suci atau justru kitab Nietzsche: Also Sprach Zarathustra. Tapi kemudian tenang kembali mendendangkan semacam mazmur: ”Tidak kutinggalkan engkau sebagai yatim piatu…. Aku akan kembali padamu.”

Ketika ia mendemonstrasikan bagaimana pikiran sang frater mengembara dalam perdebatan syariat versus makrifat dalam serat Darmogandul dan Gatholoco, dengan cara mendalang gaya Tegal, tampaklah keaktoran Whani yang cukup kaya. Logat medhok dan improvisasi ala Tegal yang biasanya trademark dalang Slamet Gundono bisa ditampilkannya. Mungkin yang terasa mengganggu sepanjang pertunjukan adalah kalimat-kalimatnya yang berpretensi filosofis. Mengaburkan sendiri kebimbangan sang frater. Bila Whani menata naskahnya dengan lebih terfokus, termasuk segala pertanyaan kepada Tuhan tentang pembunuhan, mungkin monolognya lebih menggetarkan. Apa pun, ini sebuah monolog dengan tema Katolik yang jarang digarap. Ini mengingatkan bahwa naskah semacam Murder in the Cathedral karya Thomas Elliot mendapat konteks bila kita merefleksikan soal Timor atau Papua.

Pada hari berbeda, Teater Utan Kayu memperingati 200 tahun kematian Victor Hugo dengan menampilkan seorang aktor Prancis dan Indonesia memainkan monolog Hari Terakhir Seorang Terpidana Mati (Le dernier jour d’un condamne) karya Victor Hugo. Kita dapat menyaksikan bagaimana penafsiran keduanya berbeda. Naskah ini bercerita tentang kenangan seorang narapidana menjelang ajal, tentang keluarganya, situasi selnya, dosa-dosanya. Kedua aktor sama sekali tak menggunakan prop. Pangggung kosong melompong. Hanya cahaya, gelap, dan tubuh.

Patrick Reynard, yang pernah belajar dengan Tapa Sudana, aktor Indonesia yang tinggal di Prancis, dari awal telah menciptakan sugesti. Aktor ini mendemonstrasikan cara untuk membangun suasana ngeri: irit gerak, lebih banyak dengan posisi berbaring miring di lantai, dengan kain putih menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Matanya seperti nanar. Meski sama sekali tak tahu bahasa Prancis, para penonton dapat menangkap-merasakan kalimat-kalimat menunggu maut. Gelap-terang cahaya yang kontras sangat membantu. Ketika ia berdiri dan kainnya tersingkap menunjukkan sebagian tubuhnya, imaji kita terbang ke tubuh kurus pesakitan yang digelandang ke guillotine.

Adapun Edi Sutardi, aktor lulusan Sekolah Tinggi Seni Bandung, lewat naskah yang diterjemahkan M. Lady Lesmana, sengaja memilih bagian-bagian yang tampak bisa diilustrasikan. Misalnya, saat adegan pesakitan teringat kepada anaknya, ia lalu berpura-pura mengelus-elus bayi, atau saat berfantasi kabur, kaki-kakinya menirukan gerakan lari. Pilihannya yang cenderung ingin memudahkan pengertian penonton berkesan terlalu tipikal (kecuali untuk memetaforkan jam yang kian dekat—ia melepas kaus dan memutar-mutarkannya di atas). ”Selamat tinggal istriku, selamat tinggal,” di akhir pertunjukan, ia berkata serak. Agaknya Edi harus menggedor lagi kekuatan sukmanya untuk mampu di akhir teriakan ”arkhhhh…” itu benar-benar menghunjam penonton.

Seno Joko Suyono

   
 

 



 

S E N I   &   H I B U R A N

 

 
 

 

Festival Monolog CCF De Bandung
Saatnya Konsistensi, Saatnya Rutinitas


Matdon
Aktor Edi Sutardi memainkan naskah monolog Juru Kunci karya Rene Yves Duvalier.

Oleh Matdon

BANDUNG – Kerensa Dewantoro, aktris monolog asal Australia yang sudah lama tinggal di Bandung, terbata-bata memainkan naskah Kamar Merah di aula Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung, Jumat malam (3/9). Tanpa improvisasi yang berarti, dingin tanpa greget, nyinyir tanpa akhir, pun hingga kegelisahannya ia akhiri.

Catat saja ketika tiba-tiba mulutnya berteriak, ”Dan sel nomor satu!”, beberapa jenak ia terdiam lalu meralatnya dengan kalimat ”Dan sel nomor empat!” atau beberapa adegan ingar-bingar tarian dan nyanyian yang tak terdengar jelas, berkali-kali ia terjebak pada naskah.
Padahal, ia mengakui sudah tiga tahun melakukan eksperimen untuk gerak dan suaranya itu, dan tiga kali pula mementaskan naskah yang sama. ”Saat menciptakan naskah ini, saya marah dan benci pada dunia ini,” katanya. Kamar Merah ini akan terasa greget kalau Kerensa memainkanya dengan bahasa Inggris atau belajar bahasa Indonesia beberapa bulan lagi, karena naskah ini merupakan kesatuan gerak, nyanyian dan kumpulan teks yang eksis dan penuh penghayatan tinggi.
Saya membaca mimik Kerensa begitu gugup menghadapi penonton, sehingga karakter seorang perempuan yang diperankannya yang tengah terkurung persoalan hidup tampak seperti dieja, sehingga pikiran-pikiran tokohnya tidak tampak. Andai saja ia mau mengakhirinya dengan melakukan interaksi dengan penonton dan membebaskan kegugupannya, maka monolog ini akan berakhir lain. ”Saya memang ragu membawakan naskah ini dalam bahasa Indonesia,” begitu ia mengakui kelemahannya ini.
Seminggu kemudian di tempat yang sama tepatnya 10 September 2004, aktor Edi Sutardi memainkan naskah monolog Juru Kunci karya Rene Yves Duvalier. Naskah ini berkisah tentang kesenjangan antara borjuis dan kaum tersisihkan, sebagai juru kunci pada sebuah pemakaman. Edi berhasil mewakili ungkapan kegelisahan dan ketidakadilan terhadap situasi poltik. Keputusan untuk lebih bersahabat dengan para arwah, bayangan Tuhan dan malaikat menjadi wadah dalam naskah ini, Edi Sutardi dengan kekuatan akting dan suaranya mampu mengaduk-aduk perasaan penonton. Ketidakaktifannya di atas panggung selama ini tidak membuat Edi gerah, bahkan begitu menghayati peran sang juru kunci.
Pada Jumat malam berikutnya (17/9), giliran aktor gaek Ismet Majalaya. Meski energi vokalnya agak menurun dibanding waktu muda, aktor berusia lebih setengah abad ini mampu menutup kekurangannya. Gerak tubuh yang sudah agak rapuh tertolong dengan akting primanya, sehingga tokoh pria yang membenci sorot mata sahabatnya dalam naskah Ingin Kucongkel Matamu ini, nyaris sempurna
Naskah Ingin Kucongkel Matamu merupakan naskah perenungan Ismet, sebuah penafsiran atas cerpen ”Hati Yang Meracau” karya Edgar Allan Poe. Ismet memerankan tokoh yang membenci sorot mata pria sahabatnya yang tajam seperti sorot mata burung pemangsa, kecintaannya pada sang sahabat kalah dengan kebenciannya pada sorot mata itu, sehingga mempermisikan nafsu membunuhnya.
Yang harus diacungi dari Ismet, selain penghayatan dan aktingnya yang apik, adalah mengakhiri aksi panggung dengan sempurna, sepercik air yang ia siramkan pada tubuhnya telah membuat ia sadar dan segar lagi, meskipun ia tetap dikejar dosa akibat tindak kriminalnya itu.
Sementara Wawan Sofwan pada pementasan terakhir Jumat kemarin (24/9), membawakan naskah Kontrabass, sesuatu yang pada awalnya kurang diperhatikan, bisa menjadi begitu penting ketika ia diberi makna. Begitulah yang dilakukan oleh Patrik Sucfkin, sang penulis naskah. Kontrabass, sesuatu yang dalam orkestra tidak begitu diperhatikan karena tidak terdengar berbunyi, menjadi sebuah pertunjukan sendiri. Bagi Patrik, Kontrabass sungguh satu intstrumen orkestra yang paling penting, walau sering tidak dianggap seperti itu oleh orang-orang.
Walau bukan Patrick sendiri yang memainkannya, Wawan, pemain drama lulusan IKIP Bandung, yang telah berpengalaman pentas di dalam dan luar negeri, seperti: Jakarta, Bandung, Australia, Jerman, Kuala Lumpur, dan Rusia, menjadi lain. Monolog ini mengisahkan virtuositas seorang pemain Kontrabass yang bercerita tentang sejarah musik, musisi dunia dan juga tentang cinta platoniknya pada seorang penyanyi mezzosopran. Jarang sekali sebuah naskah monolog bertemakan musik dan Wawan telah sempurna memainkannya, ”Tuntutan untuk bisa memainkan instrumen kontrabass, bagi seorang aktor adalah sebuah tantangan, saya sangat menyukai tantangan ini,” ujarnya.

Rutinlah Wahai Festival
Empat aktor monolog Bandung itu telah turut serta dalam empat naskah pada Festival Monolog di Pusat Kebupadaayan Perancis (CCF) Bandung, yang digelar sepanjang bulan September 2004. Ternyata energi semangat para pekerja teater di Bandung masih ada, setelah aktor senior Iman Soleh yang diharapkan tetap konsisten, malah aktif di dunia politik dan lebih senang menjadi tim sukses Susilo Bambang Yudoyono (SBY) khusus untuk orasi berbentuk pembacaan puisi di mana-mana. Tentu saja ini bukan sesuatu yang haram, tapi patut disesalkan. Diam-diam saya mengagumi kehadiran aktor Muhammad Sunjaya yang mau mengapresiasi festival ini, sebuah pertanda baik sebagai suntikan darah semangat bagi kehidupan teater di kota Bandung.
Yang pasti perkembangan teater di Tanah Air, Indonesia Raya, sedang terus-menerus memainkan berbagai gagasan besar, kreativitas para pekerja atau pelakon teater, seakan-akan tidak mau kalah dengan inovasi sinetron, infotainment dan news lainnya. Sebut saja pernah ada Festival Teater yang dijanjikan akan berlangsung satu tahun sekali, tapi kandas di tengah jalan. Janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi, tak ada lagi festival teater yang langgeng dikakukan, kecuali pada musim-musim tertentu.
Lalu lahir festival teater alternatif, itu pun lenyap ditelan angin, karena hanya sekali dilaksanakan. Lalu masih banyak lagi festival sejenis yang intinya berniat memuliakan teater, dan akhirnya tenggelam ditelan waktu, hanya tinggal nama, masih beruntung kalau festival itu berlangsung sampai dua kali, ada yang baru sekali langsung mati, regulitas pun hanya ada dalam cerita.
Dan kemudian setahun lalu, Pusat Kebudayaan Perancis di Bandung, menyelenggarakan Festival Monolog yang pertama, menampilkan aktor-aktor monolog Ayi Kurnia, Alit Wrachma, Wawan Sofwan dan Asep Budiman. Keempat aktor itu membuka pintu bagi akan langgengnya festival jenis teater di kota Bandung. Ini dibuktikan dengan hadirnya kembali festival monolog kedua sepanjang bulan September 2004, masih di Pusat Kebuadayan Prancis Bandung. Sesuatu yang sempat saya khawatirkan tidak akan pernah ada lagi.
Para pekerja teater di Bandung saat ini sedang menyenangi memainkan gagasan-gagasan besar, misalnya memporakporandakan naskah seorang penulis dengan penafsiran sendiri dan itu menjadi sebuah gagasan segar apalagi kesempatan ini dipersilakan kepada para aktor yang jarang pentas. Kesempatan ini biasanya akan digunakan mereka dan (biasanya) cenderung mempertanyakan eksistensi manusia di hadapan Tuhan atau malah menggugat eksistensi Tuhan; tentang situasi sosial dan politik kontemporer di Tanah Air yang begitu kompleks; atau bahkan tentang kejamnya pemilu dan ledakan bom kemarin***

Penulis adalah seniman,
tinggal di Bandung
 

 

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003


 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s