fOtO PeRtUnJuKaN

POTO PERTUNJUKAN TOKEK KARYA Predi Kastam Martha

Sutradara; Rine Sundari

Aktor; Bayu Mastari & Putri Yunita

Artistik : M.S Arif

Dramatur ; Edi sutardi

TENTANG NASKAH

Tokek karya Vredi Kastam Martha, mencoba mengangkat masalah social dalam masyarakat. Masalah social yang pertama adalah mengenai mitos atau kepercayaan masyarakat akan suatu hal yang sifatnya tabu. Seperti halnya suara tokek yang dipercaya mampu menebak suatu pilihan yang masih diragukan dan dipercayai kebenarannya jika pilihan itu jatuh pada suara tokek yang terakhir. Dalam naskah Tokek ini sang istri sibuk menebak-nebak jenis kelamin sang jabang bayi ketika suara tokek tiba-tiba muncul di ruangan. Juga mitos tentang orang hamil bahwa orang-orang terdekatnya tidak boleh menyakiti mahkluk hidup terlebih lagi membunuhnya. Hal ini terjadi ketika sang suami merasa kesal terhadap suara tokek, ia memburu dan membunuhnya padahal sang istri sudah mencoba mengingatkan bahwa apa yang dilakukannya bisa pamali atau kualat. Namun masalah yang lebih menonjol atau inti dari cerita yang ingin diangkat dalam naskah Tokek karya Vredi kastam Martha adalah masalah social yang selama ini menjadi penyakit yang mengerikan di negeri tercinta kita ini…

Kemiskinan sebuah kata yang terdengar amat nyaring dan setiap hari didengung-dengungkan baik di surat kabar maupun acara-acara berita di TV, bahkan pemerintah menjadikannya sebagai prioritas utama sebagai suatu hal yang perlu ditanggulangi. Namun pada kenyataannya adalah nol besar, kemiskinan tetap ada dan makin bertambah. Kemiskinan adalah suatu keadaan yang menghimpit mereka pada keterbatasan materi yang ada, ketidak berdayaan menghadapi kehidupan yang telah serba diperjual belikan, juga keterbatasan menggunakan fasilitas yang ada karena terbentur masalah biaya.

Itulah masalah yang dihadapi sepasang suami istri dalam naskah yang berjudul Tokek karya Vredi Kastam Martha ini. Ketika sang istri dalam kemarahannya mengancam sang suami bahwa kalau dia mati, dia meminta kepada sang suami untuk membelikannya kain balacu dan menguburkannya, sang suami serta merta merogoh saku celananya yang kosong melompong. Juga ketika sang istri dalam kekesalannya mengancam sang suami bahwa ia hendak bunuh diri namun tak ada satu benda pun yang dapat ia gunakan untuk bunuh diri. Dan yang paling sulit adalah ketika sang istri hendak melahirkan, untuk bisa sampai di rumah sakit bersalin tak satupun kendaraan yang bisa mereka gunakan bahkan sebuah gerobak sampah pun tak bisa membantu mereka. Terlebih lagi tak ada satupun rumah sakit bersalin yang mau menerima dan menolong mereka karena tak ada borg atau uang muka, bahkan demi sebuah alasan kemanusiaan.

Tokek mengisahkan kehidupan tragis sepasang suami istri yang bergulat dengan nasibnya sendiri. Mereka bermimpi dapat melahirkan sang jabang bayi di rumah sakit yang mereka anggap layak.

 

 

 

toke2toke-1

tok12tok10tokek8tokek7tokek6tokek5tokek4toke3

POTO PERTUNJUKAN TIDAK GERAK karya Emanuel Darley

Aktor: Patrick Reynard & Edi Sutardi

Sutradara; Irwan Jamal

Artistik; Iwan Ridwansyah

TIDAK GERAK

Teater_Matahari lebih memilih dan tertarik pada permasalahan-permasalahan yang selalu bersangkut-pautan dengan sisi manusia, cerita sederhana, esensial dan universal, seperti halnya dalam naskah Tidak Gerak.

Tidak Gerak adalah karikatural yang lucu, mengharukan, dengan kemanusiaan yang dalam sekali. Naskah tersebut menceritakan bagaimana, diatas semua perbedaan, dua dunia disekap di dalam kebiasaan mereka, bisa bertemu dan menjadikannya kaya.

Premis cerita berada dalam pengertian individu yang dinamis. Optimisme dan tindakan bagi kebebasan mutlak versus kondisi absurd yang dihadapi. Kondisi absurd dalam cerita ini bertumpu pada dua hal; pesan sebagai kekuasaan orang lain pada dirinya dan kematian sebagi kepastian.

Teks yang ditulis Emmanuel Darley menghadirkan sebuah situasi kontara dalam kondisi absurd. Cerita dibungkus oleh dialog dan aksi kontradiktif diantara dua tokoh yang kemudian menumbuhkan persoalan tentang humanisme, kesejarahan dan takdir sebagai hukum alam.Tokoh A masuk kedalam cerita dengan membawa muatan keyakinan tentang berjalan lurus untuk bertemu dengan seorang pengendara sepeda. Tokoh B masuk disepanjang jalan cerita menjadi impact character bagi tokoh A dan menciptakan perkara dalam cerita dengan membawa pula muatan keyakinannya tentang kondisi “ Aku Tidak Bergerak “ Dua muatan keyakinan bertubrukan menciptakan muatan baru. Cerita kemudian bergerak membangun paradigma alternative. Pada moment yang menentukan keyakinan lama bertemu dengan tandingannya disatu simpang jalan.

 Mereka yang masing-masing sedang menunggu sesuatu, tanda –nya. Untuk ganti. Akhirnya menjadi. Lurus dan tidak gerak? To be or not to be? That is the question? Sedikit demi sedikit, orang-orang absurd, badut dan puitis ini, berkenalan, bertengkar, berusaha saling membantu, berbagi pengalaman mereka.

Dan pada ujung cerita menggambarkan jalan baru yang ditempuh. Kondisi absurd yang dihadapi dan mencengkram dua tokoh menyeret mereka menuju ujung cerita.

 

 

1

6

8

tdk4tdk241tdk24tdk21tdk10tdk2tdkcopy-of-10dk1279

sabat1

 

POTO DARI PERTUNJUKAN HARI TERAKHIR SEORANG TERPIDANA MATI karya Victor Huugo

Aktor; Edi Sutardi

graphic12

pidana22

pidana31

pidana41

pidana51

pidana7

pidana9

 

Tentang Naskah Juru Kunci

 

            Selalu sulit untuk bisa saya mengerti, kenapa naskah yang sudah lama menghantui saya pada akhirnya memaksa saya untuk memainkan pada saat yang tepat dalam hidup saya. Saya pernah menemukan dan membaca bahkan sempat memainkannya beberapa kali di beberapa kota pada beberapa tahun silam kebelakang, dan saya tahu akan memainkannya lagi suatu saat nanti. Tapi kenapa saat ini ? Disini ? Siapa yang tahu ? Saya suka cerita sederhana esensial dan universal tentang manusia, seperti halnya dalam naskah JURU KUNCI.

            Yang merupakan sebuah gambaran kesenjangan antara kaum borjuis dengan kaum yang tersisihkan. Sungguh malang orang – orang yang diselamatkan  oleh kesempatan tapi dilupakan sejarah. Seperti halnya seorang peteran perang dari difisi Alteleri pada stap perbekalan dan amunisi, pernah juga ia diterjunkan dalam kancah peperangan yang paling keras. Sudah sepuluh tahun ia bekerja sebagai juru kunci di pemakaman orang – orang borjuis, bukan sesuatu yang menyenangkan ia bekerja disana, tapi melainkan hanyalah pelarian karena merasa sudah tersisihkan dan terlupakan dari sejarah, dan karena sesuatu yang memaksa harus tetap bekerja sebagai juru kunci, yaitu karena wanita ( istri yang dicintainya, dan putra tunggalnya yang hidup hanya sepuluh hari karena terkena peluru yang tersasar).

            Itu pula yang menyebabkan untuk masuk wajib militer dan terjun kedalam kancah peperangan serta dengan misi membalas dendam atas kematian anaknya. Tapi ia pun semakin lama semakin bertahan dalam pekerjaannya, sebagai juru kunci. Ia berpikir dengan hidup seperti ini ia bisa melupakan ketersisihannya dan merasa mendapatkan kebebasan untuk mengungkapkan kekesalan, kebencian terhadap situasi politik, ia merasa bebas bercengkrama dengan arwah – arwah disekitar dimana ia bekerja. Ia berpikir disanalah bias mendapatkan kebebasan dalam segala “hal”.

Karena nasib baginya tak lebih hanyalah bayangan dari ketidak mampuannya sendiri, ketika kemampuanya untuk memilih, menentukan, lalu melakukan karena padamulanya sudah kehilangan diri akhirnya hanya pasrah dan menyerahkan segalanya pada nasib. Itu pulalah yang membuat orang tidak mau susah menghayati hidupnya.

Maka tidaklah heran kalau dimuka bumi ini banyak orang yang berwajah alim tapi berhati keropos. Hidup yang tidak meyakinkan dan penuh kepalsuan yang terselubung dibalik jas-jas  mereka yang mahal dan pakaian mereka yang indah – indah, padahal hidup ini sendiri adalah sandiwara panjang yang murni. Tanpa kepalsuan dan tipu daya terselubung yang mengatasnamakan  kemanusiaan tapi justru mengabaikan nilai – nilai Humanisme itu sendiri. Dan agama hanyalah mengajarkan pada kita untuk berbuat baik , sabar, tawakal, prihatin yang hanya merupakan dongengan pengantar tidur yang membuat kita terlelap, terlena seperti anggur penghibur untuk sementara.

            Dikomplek itulah ia bisa bebas bercengkrama dengan mereka, dengan Tuhan, dengan Malaikat dan mengutarakan isi hatinya tanpa ragu – ragu. Tapi diluar komplek tersebut ada tatacara kaku yang memaksanya untuk tidak berkata – kata. Romantika  kehidupan dan harapan – harapan telah terkuburkan sejak dia menyadari bahwa dinegerinya tak ada lagi keakraban yang wajar, dia tak ingin dikasihani Tuhan, tapi dia hanya ingin diberikan peran yang cocok didalam bagian sandiwara-Nya yang maha besar itu.   

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kalender

    • Desember 2016
      S S R K J S M
      « Jun    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari