PETA TEATER

MENYUSURI JEJAK TEATER KAL-SEL 2008

MENYELUSURI jejak pertunjukan teater sepanjang tahun 2008, bukan perkara mudah. Persoalannya, membicarakan teater tidak hanya membicarakan pertunjukan. Tetapi juga membicarakan wilayah kerja seni di dalam dan di luar panggung. Walau pada saat menyuguhkannya ke pelataran budaya yang lebih luas, kedua wilayah ini bekerja secara berkelin dan tak bertapal batas satu sama lain. Sepanjang tahun 2008 tercatat kurang lebihnya di atas 80 pertunjukan teater di KalSel kalau digolongkan antara pertunjukan teater dari teater kota/teater sanggar, teater kampus dan teater sekolahan dalam ajang festipal atau pertunjukan independennya. Tapi kalau kita melihat pertunjukan yang indevenden saja barangkali kurang lebihnya tidak jauh dari 15 pertunjukan. Jumlah ini memang bukan satu-satunya parameter untuk melihat perjalanan teater. Sebab  hal ini tidak koheren dengan semangat seniman teater dalam berkarya. Tapi persoalannya terkait dengan kondisi ekonomi yang nampaknya masih erat membelit. Sebab bagaimanapun, kerja sebuah produksi tidak terlepas dana sebagai roda penggerak organisasi. “Kalaupun ada produksi, umumnya sangat capek dan harus jual ini-itu,” Ini hanya sebuah barangkali, agar iklim teater terbentuk harus ditopang 6 (enam) faktor. Di antaranya adanya perhatian dari pemerintah/swasta dan tersedianya dana. Untuk itu, nampak jelas diharapkan adanya sebuah lembaga –apapun namanya– yang menjembatani pejabat pemerintah (birokrasi) dengan seniman. Lembaga ini harus terdiri dari orang-orang jujur, junun, kreatif, dan dapat meyakinkan pemerintahan/swasta tentang kegiatan-kegiatan budaya yang pantas. Sehingga dana yang tersedia di pemerintah dapat digunakan untuk kemaslahatan seni.

Kecenderungan naskah

Naskah-naskah teater yang dipentaskan sepanjang 2008 umumnya tidak mengarah pada satu tema tertentu. Meskipun peta politik Indonesia sepanjang 2008 cenderung memanas dan alam seringkali merintih bahkan menggeram. Pemilihan naskah justru sangat bergantung pada selera kelompok dan sangat beragam. Satu sisi kita bisa melihat keanekaragaman yang menjadi nilai plus (tidak terjebak dalam satu permasalahan), tapi satu sisi terlihat kemalasan dalam memilih naskah atau barang kali dalam penggarapan karya yang baru, ini nampak terlihat terutama dalam pergolakan teater kampus dan teater sekolahan (SMA), selalu memainkan naskah yang sering berulang-ulang, kalau bicara di banua ini masih kurangnya naskah itu bukan alasan yang tepat, dalam jagat modern sebetulnya kita sudah dimanjakan dengan fasilitas, kita perlu apa? Kita tinggal datang kedunia maya (internet) maka di sana kita bisa menemukan apa saja yang dinginkan, atau bertanya pada orang teater lainnya! Pasti ada yang memiliki kumpulan naskah yang belum atau tidak terlalu banyak dimainkan di daerah kita ini. Barang kali di sini perlunya keterbukaan saling berkomunikasi untuk mempermudah dalam mengkoordinir keperluan dan bahkan lebihnya untuk memacu dan memancing wacana-wacana yang selalu segar.   Tentang belum lahirnya sosok baru dalam teater, dapat terlihat pada persoalan konsistensi. “Secara individu, banyak pemain dan bibit-bibit yang andal dan bagus. Tetapi ketokohan itu diuji oleh konsistensi. Sedangkan menggumpalnya kemampuan, harus diuji manakala dihadapkan pada kenyataan realitas. Sehingga memang harus selalu ada martir dalam dunia teater.” Sedangkan, aktor-aktor saat ini tumbuh sebagai seniman berproses. Mereka berkecenderungan punya kegelisahan sendiri. Hal ini dapat terbaca pada pertunjukan-pertunjukan monolog, one man show ataupun story telling. Yang secara personel, aktor tidak lagi selalu bergantung pada sutradara. Tetapi ia seorang kreator yang mengekspresikan kegelisahannya.

Perjalanan gaya

Untuk gaya teater, setelah terjadi perkembangan yang sangat bebas selama beberapa dekade di Indonesia dan mengimbas ke setiap daerah hingga mendorong munculnya pencarian-pencarian bentuk atau gaya, ada kecenderungan kerinduan pada back to basic. Bahwa teater itu harus diletakkan pada prinsip-prinsipnya yang semuanya ada dalam lakon naskah drama realis. Jika dilihat dari tuntutan kultur sosial, basic ini harus kuat, tapi penjelajahannya belum kuat. Ini terbukti saat berlangsung Festival Teater kampus ataupun teater SMA sepanjang tahun 2008,  atau pada parade monolog yang diselenggaran teater Lawang, atau beberapa pertunjukan independen yang dilakukan oleh beberap kelompok, seperti Sanggar Budaya, Teater Wasi Putih, Teater Ulun dari Balik Papan, Teater_Matahari, teater Banjarmasin, teater Banjar Baru dll, teater mendapat sambutan penonton yang bagus tapi  sayang tidak diikuti wacana-wacana kritik yang memadai. Sebuah kelompok yang kemudian memilih nonrealis, bukan berarti tiba-tiba. Rahman Sabur dan Benny Yohanes, misalnya. Kalaupun sekarang cenderung nonrealis, mereka tetap telah menempuh realismenya dulu. “Orang biasanya tidak mau tahu bahwa pilihan realis itu sebagai sebuah perjalanan. Putu juga belajar dulu pada Rendra. Dindon, Budi S Otong, Marhamang merekapun tidak lepas pada besik realis pada mulanya. Kalau basic-nya tidak kuat, kan bisa gawat. Orang bisa jumpalitan gak karuan. Semua orang langsung mengikuti kredo-kredo tokoh non-realis. Mereka lupa, bahwa itu berangkat dari perjalanan sejarah realis.” Dalam sejarah dunia seni peran, realis memang pernah bercokol sangat kokoh. Realisme berpaling muka dari idealisme romantisme dan neoklasisisme pada abad 19. Aliran/gaya ini ingin menunjukkan manusia apa adanya dengan kompleksitas persoalan yang tak terduga dan mencengangkan. Melawan fantasi-fantasi idealistik dari romantisme dengan petualangan heroiknya yang jauh dari realitas kehidupan. Realisme menggiring manusia ke persoalan-persoalan aktual, di sini dan kini. Dasar-dasar filosofinya seperti dari Aristoteles yang menyatakan, “Seni adalah imitasi kehidupan”, Shakespeare, “Seniman mesti berpegang kepada cermin alam,” Charles Darwin, “Natural selection, survival of the fittest (yang kuat yang menang),” Auguste Comte, “Positivisme yang melahirkan materialisme,” atau “Persoalan hidup manusia muncul dari faktor keturunan dan lingkungan.”  Varian realisme tahun 1920-an juga begitu banyak, ada realisme penggayaan (selected realism), stylized realism. Sedangkan tahun 1930-an sampai 1970-an ada abstract realism, oriental realism (memadukan unsur-unsur Timur), dan epic realism. “Dalam sejarahnya, realis mencuri banyak teknik-teknik nonrealistik seperti simbolisme, abstraksionisme, selain yang paling utama impressionisme (dalam seni rupa). Karena kaum realis sadar bahwa kehidupan real sepenuhnya tidak bisa diangkat ke pentas keseluruhan, maka mereka menyeleksi dan menafsirkannya dari sudut pandang tertentu.” Sampai saat ini masih terjadi usaha-usaha ke arah pengembangan. Tapi memang, teater realis yang dijumpai di Indonesia berbeda bentuknya dengan teater yang dijumpai di Malaysia dan Singapura. Sebab basic teater di dua negara tersebut sudah lebih mengarah pada teater barat. Sedangkan di Indonesia lebih mengarah ke teater timur.

“Saat ini memang banyak kerinduan pada teater realis, tetapi pembelajarannya belum sempurna dan sulit. Tapi bukan tidak mungkin, hanya proses pembelajarannya harus lama. Kalaupun ada, hanya semacam usaha pencampuran (fusion) antara teater realis dan non-realis.” Sedangkan teater nonrealias berakar pada tradisi wayang, ketoprak, teater rakyat yang lebih gampang, ekspresinya lebih bebas. Tapi ketika diajak ke realis, geraknya jadi sangat terbatas. “Membuat teater realis itu, tidak mudah. Yang banyak terjadi, bahan-bahan naskahnya banyak dari barat. Maka ketika dimainkan secara barat, kondisinya tidak memungkinkan. Berbeda dengan di Malaysia dan Singapura karena sejak awal sudah berguru dari barat, maka penguasaan realisnya ngelotok sekali.”  Periode realisme di Banjarmasin barangkali bisa dilihat pada teater Sanggar Budaya, asuhan Bapak Ajim Ariyadi, “pada beberapa periode kebelakang. Sekarang seperti itu, tapi siapa yang tahu bagaimana 5 tahuh ke depan. Apakah akan masih seperti itu?” Kecenderungan ini sulit dilihat dari tahun ke tahun. Paling sulit lagi membuat periodisasi teater. Harus ada peneliti dan pengkaji dan mengamati sehingga pertumbuhan teater dapat terbaca. Seperti periode  Pak Ajim dan sanggar Budayanya, teater Lawang yang sedang menghimpun energy untuk  produksi barunya yang lebih menggebrak, dan beberapa teater lainnya yang berada di Kal-Sel umumnya. Tapi nampaknya untuk kesempatan kali ini penulis sekaligus pelaku seni teater, melihat di bumi banua ini masih bisa dikata teater transisi, kenapa demikian; terlihat dari beberapa pergelaran garapan dari beberapa kelompok tetaer yang ada dengan keberadaannya masih mencampur baurkan antara pakem tradisi dan modern, dalam segi penataan artistic juga dalam cara atau gaya bermainnya.

Wacana kritik

Menggaris bawahi, potret teater di Kal-Sel kurang diikuti oleh adanya perkembangan wacana kritik. “Persoalan mendasar teater di Indonesia umumnya sekalipun, tidak adanya pasar dan kritik teater. Sehingga pencapaian-pencapaiannya tidak pernah tercatat, pengulangan-pengulangan yang terjadi juga tidak pernah ada yang mengawasi. Sehingga kita tidak tahu peta teater saat ini. Yang ada hanya usaha memaki-maki atau memuji-muji yang sebetulnya tidak bertanggung jawab dan tidak bisa dipercaya. Bukan hanya di teater, kelemahan ini terjadi juga di seluruh bidang. Di mana kritik hanya dilakukan oleh media massa yang justru membuat review yang tidak kontinyu. Karena kritik di media massa lebih sekadar kritik reporting yang dilakukan wartawan-wartawan yang keberadaannya digilir (floating) dan terkadang tidak punya keahlian yang benar-benar sehingga tidak mendorong kondisi sebuah kritik. Kalau saja ada kritik dan hidup, akan sangat menolong perkembangan kehidupan teater di kal-Sel ini. Dan pelakupun harus siap untuk dikritik, jangan …ketika kritik datang dalam bentuk tulisan atau  usai pertunjukan saat diskusi, membuat minder untuk berbuat lagi atau menganggap bahwa orang yang melemparkan kritikan tidak menghargai upaya pelaku. Salah satu bekal atau ciri dari untuk menjadi seniman teater yang kreatif harus tahan banting, tidak salah juga kalau ditiru oleh lembaga-lembaga lain demi kemajuan lembaganya. Karena manusia yang tidak siap dikritik bisa dilambangkan manusia yang siap mematikan dirinya. Kalaupun ada kritik, sangat lemah dan dilematis. Juru kritik kurang memahami semua aspek teater. Selain itu, selalu ada anggapan bahwa kritik yang absah itu yang ada di media masaa. Padahal, media massa merupakan wilayah redaktur dan wartawan, yang notabene tidak semua wartawan mengerti. Lagi pula, redaktur dan wartawan bukan kritikus. Karenanya, perkembangan teater di bumi kita ini perlu didampingi dengan wacana kritik.

 

 

Edi Sutardi

Pelaku Teater

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kalender

    • Desember 2016
      S S R K J S M
      « Jun    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari